
Arsya meredakan pergerakan, ia pun membuka matanya.
Mata Arsya berbinar terang saat melihat sang istri yang telah sadar dari tidur panjang nya.
Sekitar 1 bulan lamanya Raisa dalam kondisi koma, akhirnya ia pun terbangun juga dari tidur panjang nya itu.
Arsya langsung memeluk erat tubuh sang istri tak hentinya ia mengucapkan syukur kepada sang pencipta.
Arsya pun dengan cepat menekan tombol yang ada didekat Raisa.
Tak berselang lama pun seorang dokter dan dua orang perawat pun datang menghampiri.
Mereka terkejut melihat Raisa yang telah sadar dari koma nya.
Dokter Angga pun menghampiri Raisa dan melakukan pemeriksaan.
Dokter Angga tersenyum manis.
" Alhamdulillah ibu Raisa sekarang dalam keadaan stabil, ini merupakan Rahmat Allah sang maha pencipta, saya pun tidak menyangka jika ibu Raisa akan sadar, selamat ya pak Arsya, Sekarang kita hanya perlu memperhatikan kesehatan Bu Raisa dan mental nya agar dalam keadaan stabil terus." terang dokter Angga, Arsya yang mendengar nya pun mengangguk kecil, dan tersenyum manis.
" Alhamdulillah, terima kasih dok" ucap Arsya, dokter Angga mengangguk kecil dan permisi pergi.
Rasa bahagia tak dapat disembunyikan oleh Arsya senyum manis terus terpampang diwajah tampan nya.
" Alhamdulillah dek akhirnya kamu sadar, terima kasih sudah berjuang untuk kami sayang, Abang takut kehilangan kamu dek, sampai-sampai satu detik pun Abang tak pernah pergi dari sisi mu dek, terima kasih ya Allah terima kasih engkau telah mendengar doa hamba" Arsya mengecup lembut kening Raisa yang duduk bersender di bantal yang ditumpuk dua.
Raisa yang baru saja siuman hanya memandang lurus kedepan, air matanya mengalir tanpa diminta.
Semua hal yang ia lihat saat koma terasa nyata, bagi Raisa itu bukan mimpi, ia melihat sendiri tubuhnya yang telah terbujur kaku, dan Arsya yang sangat terpukul karena kepergian nya.
Arsya yang melihat Raisa hanya diam dengan pandangan kosong pun menjadi bingung.
" kamu kenapa dek? ada yang sakit? mau Abang panggilkan dokter?" tanya Arsya lembut, Raisa tak merespon ia sibuk dengan pikirannya.
Melihat Raisa yang tak ada respon pun membuat Arsya tersenyum tipis, mungkin Raisa tak ingin berbicara karena baru siuman, Arsya pun memaklumi nya dan memilih untuk pergi keruangan anak mereka.
" dek Abang pergi sebentar ya, mau nengok anak kita, nanti Abang kesini lagi oke" Arsya mencium lembut kening Raisa, dan berlalu pergi.
__ADS_1
Lagi-lagi Raisa tak merespon, air matanya kembali mengalir saat teringat mimpi buruk yang ia alami itu, bagaimana Raisa bisa mengatakan itu mimpi tidak itu bukan mimpi, tetapi itu hal yang terasa nyata.
Ia bisa merasakan jika itu nyata dan bukan lah mimpi buruk, Raisa terus menangis.
Kritt..
Pintu ruangan terbuka muncul lah sosok yang telah melahirkan Raisa kedunia ini ya orang itu adalah ibu Anisah.
Ibu Anisah terkejut melihat putri nya yang telah sadar dari koma nya dan kini tengah menangis, dilangkahkan nya kaki mendekat kearah sang putri.
"Raisaaaaaa, Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar nak" ucap ibu Anisah penuh syukur, ia memeluk erat tubuh sang putri.
Raisa hanya diam tak merespon, air matanya terus mengalir deras, ibu Anisah yang tak mendapat respon dari Raisa pun melepaskan pelukannya.
Ditatap nya wajah Raisa yang pucat itu, " kamu kenapa nak?" tanya ibu Anisah menyekah lembut air mata Raisa.
Raisa menggeleng kecil, ibu Anisah pun menjadi bingung melihat keadaan sang putri.
" Raisa cerita sama ibu? Raisa kenapa?" tanya ibu Anisah bingung, lagi Raisa hanya menggeleng.
" huftt, ya sudah kalau kamu enggak mau cerita sekarang kamu istirahat ya sayang, kan kamu baru sadar" ucap ibu Anisah lembut, Raisa pun menurut dan kembali berbaring di ranjang.
Ibu Anisah pun mengusap lembut pucuk kepala Raisa, ia sangat bersyukur karena sang putri telah sadar dari koma nya, namun ia juga merasa khawatir melihat Raisa yang menangis tadi.
Arsya memasuki ruangan Raisa, ia terkejut melihat sang mertua yang sedang duduk dikursi samping ranjang Raisa, Arsya berjalan mendekat kearah sang mertua.
" assalamualaikum Bu?" sapa Arsya, ibu Anisah pun menoleh kesamping dan tersenyum tipis.
" waalaikumsalam" jawab ibu Anisah tersenyum ramah, Arsya menyalimi tangan sang mertua.
" ibu sudah lama disini?" tanya Arsya
"belum terlalu lama kok, ohya kamu dari mana kok ibu datang kamu enggak ada?" tanya ibu Anisah.
"Arsya dari ruangan Rhasya Bu," Arsya mendudukan tubuh nya disofa, ibu Anisah mengangguk kecil.
"ohya ibu sama siapa kesini?" tanya Arsya
__ADS_1
" ibu kesini sama Mela, tapi Mela lagi nemenin Raka kekantin katanya laper" jawab ibu Anisah duduk disamping Arsya.
"ohya nak Arsya bagaimana perkembangan Rhasya?" tanya ibu Anisah.
" Alhamdulillah Bu, Rhasya sudah semakin kuat dan sehat, In Sya Allah dalam jangka waktu beberapa hari jika perkembangan nya semakin meningkat Rhasya akan segera keluar dari inkubator" ibu Anisah tersenyum senang mendengar kabar baik dari sang menantu.
" Alhamdulillah semoga Rhasya cepat membaik, ibu udah enggak sabar pengen gendong dia, begitupun dengan Raisa pasti ia tak sabar deh pengen merawat dan menggendong bayi nya" ujar ibu Anisah tersenyum manis, Arsya mengangguk kecil dan tersenyum tipis.
Dilain tempat Tika duduk meringkuk dilantai dengan kepala tertunduk.
Hawa dingin menyergap seluruh tubuhnya saat lantai dingin jeruji besi bersatu dengan tubuh nya.
Ya saat ini Tika sedang dipenjara atas kekerasan yang ia lakukan terhadap Raisa.
Arsya meminta pihak kepolisian untuk menghukum Tika seberat-beratnya, jika perlu sampai ia dihukum mati.
Namun pihak kepolisian tak dapat mewujudkan nya, dan sekarang Tika sedang menjalani hukuman penjara selama 15 tahun.
" heiii kau yang duduk, sini cepatan pijatin gue!!!" teriak salah satu narapidana menunjuk kearah Tika.
" saya??" tanya Tika mengangkat kepalanya, dan menunjuk dirinya sendiri.
" ya iyalah lu siapa lagi, lu kira jin setan hah?' teriaknya.
"ogah pijat sendiri, emang gue babu lo hah?" ucap Tika santai.
Mendengar jawaban Tika Narapidana itu pun bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Tika.
Raut wajah yang penuh emosi pun terpancarkan, Tika yang melihat nya pun hanya bisa menelan ludah kasar.
" berani sekali ya lu!!!" teriak narapidana itu, ia menjambak kuat rambut Tika.
" akhhh" teriak Tika sembari memegangi tangan narapidana itu.
" kenapa? sakit ya?" tanya nya dengan senyuman menyeringai, Tika mengangguk cepat.
" maka nya jangan sok hebat lu jadi orang, disini yang berkuasa gue bukan lu, sok mau melawan segala, dasar wanita tak tau diri" cibir narapidana itu, ia melepaskan jambakan nya dari rambut Tika.
__ADS_1
Tika pun menangis bukan karena rasa sakit akibat jambakan dirambut nya, tapi ia menangis karena tak mengira bahwa ia bisa berada ditempat ini, tempat dimana para pelaku kejahatan, dan kriminalitas.