
prang...
bunyi suara piring jatuh, Raisa pun segera berlalu menuju dapur, setiba didapur Raisa dikagetkan dengan bi Sumi yang sudah tergeletak dilantai dapur.
" Abang, Abang Arsya tolong" teriak Raisa dengan panik.
tak lama Arsya pun datang dengan tergesa-gesa dari lantai atas.
" astagfirullahaladzim bi Sumi kenapa dek? tanya Arsya yang nampak panik, saat melihat bi Sumi yang tergeletak dilantai.
" aku nggak tau bang, tadi waktu adek menata makanan di meja tiba-tiba bunyi piring jatuh, eh pas adek liat kebelakang bi Sumi udah tergeletak di lantai." jelas Raisa dengan panik.
" Ya Allah bi sumi" ucap Arsya sembari menggendong tubuh bi Sumi ke kamarnya.
" bi Sumi bangun, bi Sumi" ucap Raisa sembari meletakkan minyak angin ke batang hidung bi sumi agar beliau lekas sadar, namun hasilnya nihil.
" bang gimana ini bi Sumi masih belum sadar- sadar juga" panik Raisa
" kita bawa ke rumah sakit aja ya bang" usul Raisa
" iya dek bentar Abang siapin mobil dulu."
ucapArsya sembari berlalu kedepan untuk menyiapkan mobil,
" iya bang" ucap Raisa sembari mengelus tangan bi Sumi.
***
" yok dek mobilnya udah Abang siapin?" panggil Arsya yang baru tiba.
" iya bang, tapi abangkan harus berangkat kerja?" tanya Raisa
" udah nggak apa-apa lagian kan Abang bos disana jadi sah-sah saja Abang mau masuk atau nggak" jawab Arsya yang dibalas Raisa dengan anggukan kepala
" Ya sudah kamu duluan aja ke mobil Abang mau gendong bi Sumi"
" iya bang " jawab Raisa patuh.
setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit perjalanan mereka pun tiba dirumah sakit Harapan Bunda yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.
" sus suster tolong sus" teriak Raisa memasuki rumah sakit.
tak lama beberapa perawat datang membawa brangkar, dan Arsya pun bergegas meletakkan bi Sumi ke atas brangkar.
kemudian bi Sumi pun dibawa menuju ruang UGD.
" maaf mas dan mbak silahkan tunggu disini ya" ucap perawat tersebut dengan sopan.
__ADS_1
" Biak sus, tolong selamatkan bi Sumi sus" pinta Raisa
" In Sha Allah mba, mba dan mas nya banyak-banyak berdoa saja semoga pasien tidak kenapa-kenapa" ucapnya sembari menutup pintu UGD.
Raisa dan Arsya pun terpaksa harus menunggu dan duduk di kursi yang telah disediakan.
Arsya yang sedari tadi sudah terlihat panik sekali hanya mondar mandir kesana kemari, karena bagi Arsya bi Sumi adalah ibu keduanya setelah mama Maya
Dulu sewaktu Arsya masih bayi Arsya diasuh oleh bi Sumi, karena mama Maya dan papa Andre sering pergi ke luar kota bahkan luar negeri.
Karena Arsya yang masih kecil mama Maya dan papa Andre pun tidak bisa membawa Arsya untuk melakukan perjalanan jauh, akhirnya Arsya pun diasuh oleh bi Sumi asisten rumah tangga dirumah mereka.
Sedari kecil Arsya lebih dekat dengan bi Sumi dibandingkan kedua orang tuanya.
Bahkan Arsya kecil pun selalu menangis jika ditinggal bi Sumi untuk pulang kampung.
Seiring berjalannya waktu Arsya tumbuh menjadi seorang laki-laki yang baik, mempunyai akhlak yang baik, serta paham akan ilmu-ilmu agama, itu karena didikan dari bi Sumi.
Arsya sangat sayang kepada bi Sumi bahkan saat bi Sumi dalam keadaan berduka saat ditinggal anak nya untuk selamanya karena kecelakaan, Arsya lah yang menjadi penyemangat bi Sumi untuk tetap semangat menjalani hari-harinya, karena bagi bi Sumi Arsya sudah seperti anak kandung nya sendiri, meskipun tidak lahir dari rahimnya namun bi Sumi sangat menyayangi Arsya melebihi dirinya sendiri.
" Ya Allah sadarkanlah bi Sumi, semoga bi Sumi baik-baik aja, aku nggak mau terjadi apa-apa sama bi sumi, karena bi Sumi sudah ku anggap seperti ibu kandung ku sendiri" lirih Arsya dengan suara bergetar kerena menahan tangis.
Raisa pun tak kuasa untuk tak menitikkan air mata, saat ia melihat betapa sayangnya Arsya kepada bi Sumi, Raisa pun menghampiri Arsya dan memeluknya berharap rasa cemas nya dapat berkurang, melihat Arsya sesedih ini rasanya hati Raisa bagai teiris- iris.
" bi Sumi dek, Abang takut terjadi apa-apa sama bi Sumi dek?" lirih Arsya di dalam pelukan Raisa.
" In Sha Allah nggak terjadi apa-apa bang sama bi Sumi, kita banyak-banyak berdoa saja semoga bi Sumi lekas siuman" ucap Raisa sembari mengelus lembut punggung Arsya.
Arsya pun hanya diam dan mengangguk patuh layaknya anak kecil, dan mengerat pelukannya.
'Betapa beruntungnya aku bang, bisa di peristri oleh mu merupakan kado terindah yang Allah berikan untukku' batin Raisa
Raisa hanya bisa berharap dan berdoa semoga Arsya tetap lah Arsya yang seperti sekarang ini, lemah lembut, tidak kasar, baik hati, pengertian, dan penyayang.
'Terima kasih Ya Allah enggkau telah menciptakan lelaki yang begitu baik, seperti bang Arsya, aku bersyukur karena engkau telah mengirimkan nya sebagai pelengkap untuk hamba mu ini' batin Raisa lagi.
****
30 menit kemudian pintu ruang UGD terbuka muncul lah sosok pria yang memakai jas putih.
" gimana dok keadaan bi Sumi" tanya Arsya saat dokter tersebut tiba dihadapan mereka.
" Alhamdulillah pasien sudah sadar, beliau cuma perlu istirahat aja, dikarenakan tekanan kolesterol nya tinggi, kalo begitu saya permisi dulu" ucap dokter Regan yang Raisa tahu namanya saat melihat name tag dibaju sang dokter.
" iya dok, terimakasih banyak" jawab Arsya yang dibalas anggukan kepala dari dokter Regan.
mereka pun melangkahkan kaki memasuki ruangan UGD, dan menemui bi Sumi.
__ADS_1
" Alhamdulillah bi Sumi sudah siuman, gimana bi apa masih ada yang sakit?" tanya Raisa
" Alhamdulillah non bibi udah baikan, nggak ada yang sakit kok" jawab bi Sumi dengan suara pelan.
" syukur lah kalau begitu, sekarang bibi istirahat aja ya, nggak usah banyak gerak oke" ucap Raisa pada bi Sumi sembari mengelus lembut tangannya.
" iya non Raisa den Arsya, makasih ya sudah bantuin bibi, makasih selama ini sudah baik dengan bibi, segoma Allah membalas kebaikan kalian" lirih bi Sumi dengan mata berkaca-kaca.
" bibi nggak usah bilang makasih sama Arsya, yang ada Arsya seharusnya berterima kasih sama bibi, karena bibi udah mau ngurus Arsya dari bayi sampai Arsya punya istri, Arsya nggak tau harus membalas kebaikan bibi dengan cara apa, tapi bagi Arsya bibi sudah seperti ibu kandung Arsya sendiri," ucap Arsya sembari memeluk bi Sumi, bi Sumi pun hanya menangis terharu.
Raisa yang menyaksikan pemandangan haru tersebut pun juga ikut menitikkan air mata,
melihat betapa sayangnya Arsya kepada bi Sumi.
***
" bi Sumi pokonya harus istirahat total, jangan bekerja dulu, tunggu sampai bi Sumi benar-benar baikan, aku nggak mau kejadian kemarin terulang lagi" tegas Arsya, saat mereka baru saja tiba dirumah.
" tapi den kalo bibi istirahat total, nanti siapa yang akan beres-beres rumah, dan sebagainya, nggak mungkin juga non Raisa yang melakukan semuanya, bibi jadi nggak enak hati" lirih bi Sumi.
" bi udah turutin aja apa kata bang Arsya, lagian enggak apa-apa kok Raisa yang ngerjain tugas rumah dan sebagainya, bibi istirahat total aja ya, nanti kalo bibi udah sehat betul, baru deh bibi yang pegang tugas rumah dan sebagainya." ucap Raisa sembari mengelus lembut tangan bi Sumi.
" Ya Allah non nggak bisa gitu, yo itukan tugas nya bibi, jadi biar bibi aja yang mengerjakan nya, lagian non Raisa kan nggak boleh kecapean" tutur bi Sumi dengan mata berkaca-kaca, Raisa pun langsung memeluk bi Sumi , untuk menenangkan nya.
" Bukan Raisa bi yang akan gantiin bibi, tapi istri nya pak Tarmin yang akan menggantikan bibi untuk sementara waktu, lagian aku juga nggak mau kamu kecapean sayang."
" jadi istri pak Tarmin bang yang mau kerja disini gantiin bibi Sumi bang" tanya Raisa memastikan.
" iya sayang, tadi pak Tarmin bilang sama Abang kalo istrinya mau melamar pekerjaan disini, kebetulan bi Sumi lagi sakit ya udah Abang terima aja untuk sementara waktu buat gantiin bi Sumi." jawab Arsya, Raisa pun mangangguk paham.
" makasih den Arsya, bibi jadi terharu ternyata masih ada orang yang peduli dan sayang dengan bibi, padahal bibi hanya sebatang kara disini, tapi semenjak bekerja dirumah den Arsya bibi berasa punya keluarga lagi, dan bibi udah nganggap den Arsya dan non Raisa sebagai anak kandung bibi sendiri" tangis bi Sumi haru
" sama-sama bi, lagian apa yang aku lakukan belum bisa membalas jasa bi Sumi, terima kasih bi Sumi sudah mau merawat ku dari kecil, terima kasih juga Bu Sumi telah mendidik ku dengan baik, tanpa bi Sumi aku nggak tau bagaimana, sedangkan kedua orang tuaku sibuk, mereka hanya memen..."
" sssttt!!! nggak baik den ngomong kaya gitu, lagian pak Andre dan Bu Maya kan bekerja demi den Arsya, supaya den Arsya nggak hidup keterbatasan, nggak kekurangan, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak nya den, jadi jangan bicara begitu lagi ya" potong bi Sumi, yang di balas anggukan kepala oleh Arsya.
" makasih ya bi, aku sayang bibi" ucap Arsya tulus memeluk bi Sumi.
" iya den, bibi senang dengan kehadiran den Arsya bisa mengobati kepedihan bibi karena ditinggal anak bibi yang telah berpulang" lirih bi Sumi sembari menghapus buliran air mata yang berjatuhan dari kelopak mata tuanya.
Raisa pun merasa terharu, sekaligus bahagia melihat kedekatan Arsya dan bi Sumi,
semoga bi Sumi sehat selalu, dan dalam lindungan Allah.
" yasudah kalo gitu bi Sumi istirahat ya, kalo perlu apa-apa panggil Raisa aja, jangan sungkan ya bi" ucap Raisa sembari berlalu keluar dari kamar bi Sumi bersama Arsya.
Selanjutnya mereka pun melangkah menuju lantai atas untuk beristirahat melepaskan penat, karena seharian ini sudah menunggu bi Sumi dirumah sakit.
__ADS_1