
Pagi ini Arsya dan Raisa tengah bersiap-siap untuk pulang kembali ke Jakarta.
Nek Uti dan Mama Maya pun tidak ketinggalan mereka dengan senang hati membuatkan cemilan kesukaan Arsya yaitu donat, ya Arsya suka sekali dengan donat apalagi donat buatan nek Uti yang rasanya sangat enak melebihi donat yang ada di toko-toko kue lainnya menurut Arsya.
Setelah semuanya siap Arsya membawa dua buah koper berwarna hitam keluar dari kamar menuju ruang depan.
Setibanya diruang depan semua telah berkumpul, begitu juga dengan Rania dan Reno yang hari ini sengaja mengambil cuti.
"enggak ada yang ketinggalan kan sya?" tanya mama Maya, Arsya menggeleng dan mendudukan bobot tubuh nya disamping nek Uti.
"kamu mau bawa mobil sendiri sya?" tanya papa Andre.
" iya pa Arsya bawa mobil sendiri aja, kasihan kalau minta pak Tarmin buat supirin nanti dia bolak balik lagi entar kecapean" jawab Arsya sembari mencomot donat yang telah tersaji diatas meja.
" eeummm, lezatos sekali, emang donat buatan nenek enggak ada tandingannya" puji Arsya dengan mulut yang penuh dengan donat, nek Uti pun hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala.
" kamu ini sya mulut penuh kayak gitu malah ngomong, entar kesedek donat baru tahu rasa" ucap Rania mencomot donat dan mengunyahnya.
" uhuk uhuk uhuk" baru saja Rania berbicara Arsya sudah terbatuk-batuk gara-gara kesedek donat yang dimakannya.
" tuh kan baru juga dibilangin Abang sih, ini minum dulu" Raisa memberikan segelas air putih kepada Arsya, yang langsung disambar oleh Arsya, dan diminumnya sampai tandas.
"Alhamdulillah" ucap Arsya setelah tenggorokan nya merasa lebih baik.
"kamu nggak apa-apa sya?" tanya nek Uti khawatir, Arsya pu. menggeleng cepat.
" Arsya enggak apa-apa nenek ku sayang," uacp Arsya memeluk nek Uti dengan erat dan mencium lembut pipi nek Uti.
" ehem" deheman dari Rania membuat Arsya berhenti menciumi pipi nek Uti.
"kakak kenapa ham hem gitu, mau aku cium juga?" tanya Arsya tersenyum miring, Rania pun sontak membulatkan matanya.
__ADS_1
" enak aja kamu bilang, ogah kakak minta cium sama kamu nanti raibesan lagi, mendingan kakak minta cium sama mas Reno aja" ucap Rania jengkel, Arsya pun langsung menatap nyalang Rania.
"enak aja kakak bilang rabiesan emangnya aku anjing apa, Dek masa suami kamu yang ganteng ini dibilang rabiesan sih" adu Arsya manja, Raisa pun hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala.
" dasar manja, sukanya ngadu sama bini" ejek Rania tersenyum sinis.
"biarin aja, mendingan aku manja, lah kakak sama kak Reno Raja dan Ratu bucin, hahaha"
" apa kamu bilang, mau tuh mulut kakak jahit terus kakak iris-iris pake silet mau?" ancam Rania menatap nyalang Arsya, namun yang ditatap hanya acuh saja.
"sudah-sudah, pusing ni kepala kit dengar kalian ribut melulu, enggak malu apa udah pada tua, masih kayak bocah aja" ucap papa Andre menengahi perdebatan itu, Arsya dan Rania pun menatap tajam papa Andre.
" enak aja papa bilang tua, Arsya masih muda ya, tuh kak Rania yang udah tua" sela Arsya tak terima dibilang tua oleh papa Andre.
" enak aja kamu, kakak juga masih muda ya, om Andre aja tuh yang udah tua, aku mah enggak masih cantik kayak gini" Ucap Rania kesal.
" emang om udah tua kok, siap juga yang bilang om masih muda, tapi kalau menurut kamu om masih muda ya udah om sih berterima kasih sekali karena om bisa mencari daun muda lagi" canda papa Andre, Mama Maya pun langsung menatap tajam ke arah suaminya.
" hehe, becanda mama sayang mana berani papa berbuat yang tidak-tidak dibelakang mama, cuma mama tau wanita satu-satunya dan Ratu dihati papa" ucap papa Andre sembari tersenyum manis dan menunjukkan kedua jarinya yang membentuk huruf V.
" udah ih dek, kamu ini sukanya ribut melulu sama Arsya, mas sampe pusing ni liat kalian ribut Mulu setiap ketemu, coba aja kalo lagi jauhan bilangnya rindu lah" ucap Reno.
"wah ternyata selama ini kak Rania rindu toh sama adik nya yang tampan ini, kirain enggak pernah rindu, sama kok aku juga rindu sama kakak" ucap Arsya memeluk Raisa.
" isss apaan sih peluk-peluk" Rania mendorong tubuh Arsya lembut karena risih, Arsya pun hanya cengar-cengir tidak jelas.
"kalian udah mau berangkat Arsya?" tanya nek Uti yang sedari tadi diam.
" iya nek ini mau berangkat sekarang, nenek jaga kesehatan ya, jangan sakit lagi, Arsya sedih loh kalo liat nenek sakit kayak gini, ohya satu lagi nenek harus rindu terus loh sama cucu nenek yang ganteng ini, jangan lupa kalau mau makan dan tidur nenek harus selalu mengingat wajah Arsya yang ganteng ini" ucap Arsya memeluk nek Uti.
" loh apa hubungannya sama kamu sya masa nenek kalo mau makan dan tidur harus ingat kamu sih?" tanya Rania bingung.
__ADS_1
" iya biar nenek tambah sehat," jawab Arsya tersenyum manis.
" ck, aku kira apaan soplak-soplak" Rania mengacak-acak rambut Arsya gemas.
" ahhh kak Rania kan rambut aku jadi berantakan nih, suka banget sih iseng sama adek sendiri" Arsya mengerucutkan bibirnya gemes
" abis kamu sih bikin kakak gregetan," ucap Rania santai.
"Mama, papa, nenek, kak Rania, kak Reno Raisa pamit pulang ya, nenek cepat sehat lagi, doakan kami semoga selamat sampai tujuan" ucap Raisa menyalimi satu persatu orang dirumah itu.
" iya sayang kamu juga jaga kesehatan, jangan kecapean, makan makanan yang bergizi" peringat mama Maya mengelus lembut kepala Raisa,
" iya ma" ucap Raisa patuh
" Raisa kalau udah sampai kabarin kakak ya" ucap Rania memeluk erat Raisa
" iya kak pasti Raisa kabarin"
" kak Reno, awas loh hati-hati" celetuk Arsya.
" emangnya kenapa sya?" tanya Reno bingung.
" hati-hati sama tuh singa betina, jangan sampai kakak mengalami nasib kayak aku kak Rania kan suka marah-marah aduhh aww" ucap Arsya kesakitan karena telinganya dijewer oleh Rania.
" ihh kak Rania suka banget jewer telinga aku, entar kalo telinga aku putus gimana? kadar kegantengan ku bisa kurang dong?" Rengek Arsya.
" bodo amet, itu sih DL bukan DG" ucap Rania tersenyum miring, Arsya pun mencebikan bibir kesal.
"kak Rania kapan-kapan main ya ke Jakarta, Raisa pasti bakalan rindu banget sama kakak"
" iya Raisa In Sha Allah kalau ada waktu senggang, kakak pasti akan main ke Jakarta." jawab Rania tersenyum manis.
__ADS_1
" yuadah semuanya kita pamit ya" Arsya menarik dua buah koper dan memasukkannya kedalam bagasi mobil.
" kami pamit ya, assalamualaikum" pamit Raisa dari dalam mobil dan Arsya pun mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah nek Uti.