Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Pulang bareng


__ADS_3

Senyuman yang sempat terukir itu kembali hilang, mata nya menerawang, seakan sedang mengingat akan sesuatu. Bukan tak ingin menepis itu semua, tapi kadang hati dan pikiran susah untuk di satukan.


"Ustadzah Sari mau tanya..."


"iya apa itu sari..??"


"Bukankah shalat itu mencegah perbuatan keji dan Munkar? Seperti ditegaskan Allah SWT dalam Alquran Surah Al-Ankabut ayat 45, yang artinya, Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar."


"iya betul benget... terus??"


"kenapa orang yang shalat masih melakukan dosa...??"


Almeera tersenyum di balik cadar nya..


"mengapa orang yang shalat kok masih berdusta? Shalat kok pemarah? Shalat kok ngerumpi? Shalat kok sombong? Shalat kok buka aurat? Shalat kok mabuk? Shalat kok berzina? ada yang tahu gak kenapa??" tanya Almeera kembali


Mendengar menurunkan Almeera, jantung Gibran seakan tertusuk. sulit untuk mengekpresikan diri nya saat ini.


"bukan shalatnya yang salah, melainkan pelaku shalatnya yang salah. Bukan shalatnya yang salah, tetapi pangamal shalatnya yang salah,” jawab Almeera dengan lembut


"orang yang shalat tapi maksiat, berarti shalatnya masih lalai, belum faham bacaan dan makna bacaan shalat. Surah An-Nisa ayat 43, yang artinya, "Janganlah kamu mendirikan shalat ketika engkau mabuk, hingga engkau faham apa yang engkau baca dalam shalat."


"Jadi mendirikan shalat tapi maksiat, itu sama saja shalat dalam keadaan mabuk, begitulah manusia, syaitan punya banyak cara dan jurus dalam menggoda kita, maka kita harus terus belajar memperbaiki diri, perbaiki shalat nya, dan jangan lupa perbanyak istighfar..."


Gibran berdiri dari tempatnya, ada rasa sesak, penuturan Almeera seakan menembus jantung nya. memilih kembali ke kamar nya.


Tak lama sejak kembali, Bimo juga kembali..


"Lo kemana aja tadi..??"


"keliling aja.. kenapa??" tanya Gibran balik


"Gak apa-apa, kirain nyamperin Bu Almeera gitu, dia kan lagi ngisi kajian.. pengen denger tapi sayang nya khusus santriwati"


"Jam berapa kita balik...??" tambah Bimo


"bada Ashar deh.. gue mau tidur dulu.." jawab nya..


"nanggung, bentar lagi masuk Dzuhur.."


"Bentaran aja, rada Pusing ni kepala"


-

__ADS_1


Selesai bada Ashar Gibran dan Bimo pun bersiap kembali sebelum nya mereka menuju kediaman Abah Fatih dahulu, dan saat sampai di sana nampak Almeera dan Anisya juga sudah bersiap.


"Assalamualaikum..." salam Gibran dan Bimo


"Waallaikumusallam..." jawab semua yang ada di rumah Abah Fatih bersamaan.


"hmmm.. Abah dan semua kami mau pamit, dan terima kasih sebelumnya sudah menerima kami dan maaf kami banyak merepotkan.." ujar Gibran ramah


"tidak ada yang di repotkan, malah kami senang loh, lain waktu mampir lagi, anak-anak Tahfizd juga senang kalian bergabung"


"In Syaa Allah Bah.. rutinitas di kantor kadang buat bos kita ini susah kemana-mana, tapi gak tahu kok kali ini waktu cukup santai" balas Bimo tapi sedikit menyindir Gibran


"yang penting shalat nya jangan sampai lalai, dan tilawah nya juga, walau sehari hanya selembar.." nasihat Abah Fatih


"loh ini Bu Almeera sudah datang jemputan nya..??" tanya Bimo


"saya yang antar, kebetulan tadi Azzam ada pasien Emergency" balas Adam


"loh dari pada bolak-balik kenapa gak sekalian sama kita aja, ya gak Bos...??" Ujar Bimo memberi saran ,lalu memastikan ke arah Gibran


"kalau saya sich gak jadi masalah, kembali ke Bu Almeera nya sekarang.." balas Gibran


"Gimana Meer...??" tanya Abah Fatih


"menurut Abah dan ummi gimana??" tanya Almeera


"Kamu sampai disini dengan keadaan baik, dan Abah lihat nak Gibran dan nak Bimo tahu adab, jadi Abah rasa Abah bisa percayalah kalian dengan mereka" balas Abah Fatih


"kalau kak Adam kembali ke kamu nya aja, gimana baik nya.." ujar Adam


Dengan beberapa pertimbangan akhirnya Almeera dan Anisya kembali pulang bersama Gibran dan Bimo. Susana masih seperti kemaren, sunyi senyap.


Dan saat masjid mulai terdengar suara tilawah Almeera sampai di depan pintu rumah nya, dan disaat bersamaan ada Abi Alvian dan juga Azzam yang keluar untuk ke masjid.


Almeera turun dari Mobil, mengucapkan salam lalu mencium takzim Abi dan kakak nya.


Gibran dan Bimo juga ikut turun. Azzam yang sudah pernah bertemu dengan Gibran pun langsung menyapa.


"Maaf, jadi merepotkan nich..." ujar Azzam sambil menepuk pundak Gibran, Gibran melihat Abi Alvian sesaat, ada rasa tak karuan menyelimuti hati dan pikiran, Bimo menyadari itu, dia langsung menyenggol pundak Gibran


Dengan rasa berat hati Gibran menyalami Abi Alvian.. dan memperkenalkan diri, dan disusuk oleh Bimo


"Sudah mau magrib, lebih baik kita ke masjid dulu..." ujar Abi Alvian ramah

__ADS_1


Entah apa yang membuat Gibran dengan mudah menganggukan kepala. dan sesuai arahan Abi Alvian, mobil nya di parkirkan di dalam teras rumah. merekapun pergi ke masjid bersama, Almeera dan Anisya masuk ke dalam rumah.


Kepulangan mereka di sambut Umma, dan merekapun bersiap melaksanakan sholat berjamaah di mushola rumah.


"Suruh mereka makan dulu nanti..." ujar Umma setelah mereka selesai melaksanakan sholat magrib


"Males lah Umma..."


"males apa males, kakak perhatian pak Gibran itu selalu merhatiin kamu loh dek..." ujar Anisya


"gak usah ngaco dech.."


"sudah-sudah kita siapkan saja dulu makan malam nya, soal mereka mau makan bersama atau tidak, itu urusan nanti" ujar Umma


Dan tak lama setelah semua makanan tersaji, empat lelaki itu masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum..."


"waallaikumusallam..." balas Umma karna Almeera dan Anisya sedang di atas


"Kalau begitu kami pamit dulu om.." ujar Gibran


"gak makan dulu, udah di siapkan loh" ujar Umma Fatimah


"gak usah Tante, kami pamit saja, gak enak.." balas Gibran


"jangan panggil om atau Tante, gak enak di dengar Abi sama Umma aja.." ujar Abi Alvian


"gak enak kenapa?? anggap aja Ucapan terimakasih karna udah antar Almeera selamat sampai rumah, seharusnya tadi aku yang jemput" ujar Azzam


"iya...hanya makanan sederhana ala rumahan kok.." Umma menambahkan


Gibran menoleh ke arah Bimo dan Bimo hanya menjawab dengan mengangkat kedua pundak nya, menyerahkan keputusan di tangan Gibran.


"Sudah jangan kebanyak mikir nya, keburu cacing yang di perut meronta loh.." ujar Azzam sambil merangkul pundak Gibran, membawa nya ke meja makan.


Mau tidak mau Gibran dan Bimo pun menurut, dan segera duduk di kursi yang tersedia, tak lama kemudian Almeera dan Anisya ikut bergabung.


🍃🍃🍃


Lanjut???


Jazaakumullah khairon untuk Dukungan nya..

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2