Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Sisi lain Gibran


__ADS_3

Gibran melajukan mobil dengan cepat , berhenti tepat di masjid pertama kali melihat Almeera. Teringat bagaimana akan jawab Almeera tadi, teringat perlakuan hangat Abi Alvian, ada rasa sesak di dada nya.


"Andai dia bukan anak dari Dr.Alvian, kenapa?? kenapa harus anak dari Dr. Alvian, sebenarnya bagaimana perasaan ini pada nya ya Allah....kenapa begitu sulit melupakan kejadian tujuh tahun lalu.." runtut nya


Kata-kata Bimo selalu mengusiknya, bahwa Almeera tidak ada sangkut pautnya, bahwa Almeera wanita baik-baik, tak pantas untuk di sakiti.


"Hah...." kesal nya dengan memukul stir lalu kembali melajukan mobil nya


Jika Gibran bingung akan perasaan, tapi dia juga tidak mau melepas Almeera, entah karna sakit hati yang tak di ketahui banyak orang itu, entah karna memang dia telah jatuh hati pada Almeera.


Berbeda dengan Almeera, dia duduk di balkon, memandang indahnya malam tak berbintang apalagi rembukan.


Sebenarnya sejak kejadian sebulan yang lalu Almeera sudah melakukan istikharah, tapi entak kenapa ada rasa ragu dan takut, merasa Gibran belum bisa meyakinkan nya.


"Ya Allah... sejati nya yang buruk itu datangnya dari hamba, dan yang baik itu dari Engkau ya Allah... mampukan hamba membuat keputusan yang baik menurut Engkau ya Allah...." doa nya sembari memejamkan mata,.dengan hembusan angin yang semilir.


🍃🍃🍃


Tiga hari berlalu, rencana untuk melamar Dilara juga sudah di siapkan, siang ini mereka akan ke panti, kebetulan akhir pekan, jadi Dilara tidak masuk kerja.


Almeera cukup sibuk hari ini, program diskon serta sedekah yang dia buat cukup berhasil, bukan hanya yang belanja di Sky, yang. langsung ke butik dan online pun banyak yang berpartisipasi.


Tok..tok..tok...


"masuk..."


"Kak Meera ada yang nyariin tuch"


"siapa Din...??"


"gak kenal kak,baru pertama kali lihat.. laki-laki..."


"laki-laki?? ya udah suruh tunggu di lobby aja, sebentar lagi kakak keluar"


Dini pun keluar dari ruangan Almeera lalu menyampaikan pesan Almeera ke laki-laki itu. Seperti yang Almeera sampaikan, dia akan menemui nya di lobby butik.


"Pak Gibran...??" guman Almeera sambil berjalan saat mengetahui siapa tamu itu.


"Assalamualaikum..." Salam Almeera

__ADS_1


"waallaikumusallam...." balas Gibran


"silahkan duduk pak, maaf sebelumnya ada yang bisa saya bantu??" tanya Almeera dengan Formal


"tidak perlu terlalu formal,. saya kesini bukan sebagai pimpinan Sky, melainkan sebagai seorang pria yang melamar kamu" balas Gibran


Mendengar penuturan Gibran membuat Almeera tersenyum kecut


"saya tahu,mungkin agak canggung, tapi maaf sebelumnya kalau saya harus ke sini.."


"gak apa-apa pak,trus tujuan pak Gibran ke sini apa??"


"mau tanya nomer handphone.."


Almeera cukup terkejut dengan jawaban itu, ingin tertawa tapi di tahan, malah saat ini memilih untuk mengerutkan dahi nya


"kenapa?? bagaimana saya bisa tahu kamu akan bari Jawab dari lamaran saya jika saya saja tidak punya nomer kamu" ujar Gibran sebagai jawaban ekspresi yang Almeera berikan.


"kan bisa tanya ke Bella.. atau dengan pak Bimo..."


"Bimo punya nomer handphone kamu??" Almeera menjawab dengan anggukan dan itu membuat Gibran menggigit bibir bawah nya, bagaimana bisa Bimo punya nomer Almeera, sedangkan dia tidak punya, dan ternyata Bimo ngerjain dia, tadi di tanya jawaban gak ada.


"Siang ini saya harus mengantar kak Azzam untuk mengkhitbah seorang wanita, In Syaa Allah lusa saya akan berikan jawaban.."


"katanya pak Gibran akan menunggu kapan pun saya ada jawaban, dan apapun jawaban itu pak Gibran akan terima, itu kan kata pak Gibran beberapa hari lalu.."


Gibran hanya bisa menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal itu.


"ok...lusa saya akan datang..."


"silahkan.. ada lagi yang bisa saya bantu??"


"pertanyaan kamu terlalu formal,kan tadi saya udah bilang saya ke sini bukan sebagai pimpinan Sky..."


"sejauh ini hubungan kita sebatas rekan bisnis pak Gibran, dan soal niat pribadi pak Gibran ke saya, hanya berlaku di hadapan keluarga saya, terkecuali saya sudah memberikan jawaban.."


"baik lah, kalau begitu saya permisi, dan untuk nomer handphone??"


Almeera tak menjawab, hanya memberikan kartu nama nya. Gibran pun menerima nya lalu beranjak meninggalkan Butik.

__ADS_1


Ada senyum terukir di balik cadar nya, ada pertanyaan, apa jadinya dia jika menikah dengan Gibran, seorang pria yang terkesan cuek, jauh ekspektasi nya terhadang calon suami yang dia impian, sosial seperti yang Abi yang hangat.


Tak lama saat Gibran meninggalkan Butik Almeera juga meninggalkan butik, bersiap untuk pulang, tapi mengharuskan singgan ke Sky dahulu, karna ada pesanan baju yang ternyata kosong di sana.


Dan Tampa sengaja saat masuk ke Sky ada satu pemandangan yang membuatnya mengukir senyuman termanisnya.


"Udah jangan nangis ya, nanti di bantu sama pak satpam nya untuk cari bunda" ujar Gibran dengan lembut dan pada sosok anak perempuan yang sedang menangis memanggil bunda nya.


"langsung di bawa ke ruang informasi dan langsung di infokan ya pak Hendro" titah Gibran


"siap pak..."


Gibran menyerahkan anak perempuan itu yang serusia sekitar lima itu ke pak Hendro, tapi anak perempuan itu malah menarik tangan Gibran dan menggelengkan kepala.


"kenapa...?? adek harus ikut sama pak satpam, biar di bantu cari bunda"


"ta-kut..." ujar anak perempuan itu sambil terisak


"pak satpam baik kok, om jamin gak bakal nakal..." tapi anak perempuan itu tetap menggeleng


"ya udah yok, om yang akan antar ya.." ujar Gibran dengan lembut dan senyum mengembangkan, membawa anak itu dalam gendongan nya.


Sebuah senyuman yang teduh yang pertama kali Almeera lihat, Gibran nampak begitu sabar sungguh berbeda dari yang pernah Almeera lihat sebelumnya.


Gibran pun membawa anak itu menuju ruangan Informasi, dan Tampa sengaja melewati Almeera yang sedari tadi sudah melihatnya, Gibran melihat ke arah Almeera sesaat, lalu kembali fokus ke depan.


Gibran pun dengan setia menemani anak perempuan itu di ruangan Informasi, menunggu kedatangan orang tua dari anak itu, sedangkan Almeera sudah dalam perjalanan pulang.


"tenyata dia bisa hangat juga, dan nampak menenangkan.." guman Almeera dengan tetap fokus pada setir nya, walau tak bisa di pungkiri, kejadian tadi membuatnya bisa melihat sisi lain dari seorang Gibran.


🌠🌠🌠


Lanjut...???


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...


Ingat jadi pembaca yang Budiman ya, jika tak sesuai ekspektasi teman-teman pembaca, ingat ini hanya coretan yang jauh dari kata berbobot..

__ADS_1


karena...


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2