Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Dua Pasang


__ADS_3

Hari bersejarah untuk Twins nya Abi Alvian dan Umma Fatimah, Dua puluh dua tahun lalu lahir di hari yang sama, tanggal yang sama tahun yang sama, hanya berselisih beberapa menit saja, dan saat ini mereka juga akan melangsungkan pernikahan secara bersamaan pula.


Rumah Abi sudah di dekorasi dengan nuansa serba putih, rangkaian bunga mawar berwana putih.


Acara Ijab Kabul Bukan disebuah gedung, melainkan di sebuah masjid yang di hadiri hanya sebagian keluarga besar saja, sisa nya mereka menunggu di rumah.


Dua pengantin wanita sudah berada di salah satu ruangan masjid yang memisahkan dua pengantin pria yang sudah duduk di dua meja berbeda dengan jarak hanya satu meter.


Abi duduk di tengah-tengah meja tersebut dan sudah ada ketua penghulu serta asistennya dan juga saksi di dua meja tersebut.


Pak penghulu memberikan sedikit wejangan untuk kedua mempelai pria.


"Rasulullah SAW ketika akan menikahkan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra berkata begini kepada Ali..."


"Ali.... Jangan kau sakiti anakku, Bila kau sakiti dia berarti kau menyakiti aku.."


Satu pesan yang sangat menohok untuk setiap para lelaki,. terutama untuk Gibran.


"Calon mertuamu terhadap calon istrimu tidak pernah marah-marah beliau kepada putrinya, tidak pernah kurang dalam melimpah kasih sayang kepada putrinya, dan dalam hitungan menit, sayang Ibu dan Ayah nya akan di minta untuk kau sambung, untuk kau teruskan..."


"pertanyaan saya.... sanggup kah kalian anak-anak ku...??" tanya Pak penghulu sembari melihat Azzam dan Gibran secara bergantian


"In Syaa Allah sanggup..." balas Azzam dan Gibran bersamaan


"Alhamdulillah...."


Entah kenapa ada rasa perih mendengar apa yang di tanyakan pak penghulu itu, rasa perih yang sulit untuk Gibran artikan.


"Baiklah kita akan mulai ijab kabul nya, di mulai dari nak Azzam dulu... Tidak lupa kita awali dengan membaca Basmalah..."


"Bismillahirrahmanirrahim...." ucap bersamaan


Wali hakim dari Dilara pun mengucapkan Ijab.. dan di sahut pula dengan kabul oleh Azzam


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Dilara Febrika binti Bambang dengan maskawinnya yang tersebut, tunai” Balas Azzam dengan satu tarikan napas


"Bagaimana saksi SAH..."

__ADS_1


"SAH...."


Dan di menit berikutnya Gibran pula yang harus segera membalas Ijab yang Abi Alvian sendirilah yang langsung menikahkan mereka, Abi sempat tersendat dan mengulang, suara serak menandakan Abi yang sedang Manahan agar tidak menangis membuat semua yang ada ikut ingin menangis. tapi Pak penghulu berusaha menenangkan, dan akhirnya Abi pun mampu mengucap Ijab itu dengan lantang, yang bersahut Kabul dari Gibran.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Almeera Az-Zahra Alfianisya binti Alvian Dharmawan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai” balas Gibran


"SAH......"


Kata sah pun menggema, pak penghulu melantunkan doa untuk dua pasang pengantin itu.


Dua pengantin wanita itu pun keluar bersama berbalut gaun berwarna putih, dengan mahkota kecil di kepala mereka yang terbalut hijab.


Dilara di dudukan di samping Azzam, begitupun Almeera yang duduk di samping Gibran.


Pak penghulu meminta Sang istri mencium tangan sang suami dan sang suami mencium kening sang istri.


Untuk Azzam dan Dilara tidak ada hambatan, berjalan dengan lancar, bahkan saat Dilara selesai mencium tangan Azzam, Azzam langsung menyentuh ubun-ubun Dilara melafalkan doa, lalu mencium ubun-ubun Dilara.


Berbeda dengan Almeera tangan nya sedikit bergetar saat akan meraih tangan Gibran, dan itu membuat yang menyaksikan mereka terkekeh.


Soraya yang tidak sabar pun langsung menyatukan tangan mereka..


Gibran sedikit mengangkat tubuh nya, menyentuk ubun-ubun Almeera, melakukan hal serupa dengan yang Azzam lakukan, mencium ubun-ubun Almeera dengan lembut.


"Ya Allah.. jadikan ibadah hamba ini dalam keridhoan Mu... Bimbing hamba bisa menjadi istri baik untuk suami hamba" doa Almeera dalam hati dengan air mata yang menetes merasakan hangat saat Gibran mencium ubun-ubun lalu berlanjut mencium kening nya.


Setelah semua prosesi selesai, sungkem dan semua selesai mereka pun bergegas untuk menuju kediaman Abi Alvian, para tamu undangan sudah menunggu kedatangan mereka, rombongan anak-anak pondok yang membawakan sholawat juga sudah membuat suasana ruangan itu mengharu.


Rombongan mobil pun sampai di depan gerbang masuk. Azzam membantu Dilara keluar dari mobil, begitu pun Gibran juga membantu Almeera.


Dua pasang pengantin itu berjalan beriringan, barisan depan ada Azzam dan Dilara, dan di belakang ada Almeera dan Gibran, disusul oleh orang tua dan rombongan lain.


Dua singgasana tersedia untuk dua pasang pengantin itu, moments demi moments pun di abadikan, Bukan hanya mereka yang bahagia, banyak yang merasakan kebahagiaan mereka, anak yatim bahkan para pedagang kaki lima. Abi juga sudah menyiapkan kotak nasi yang akan di bagikan di luar siang ini juga.


Berjuta doa untuk dua pasar pengantin baru itu.. bahkan ada tamu jauh juga yang ikut hadir.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir... semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah...mampu berjalan beriringan, saling mengisi, dan diberikan keturunan Sholeh dan Sholeha..." Ujar Syafeera memberikan selamat sembari menggenggam tangan Almeera

__ADS_1


Aydan pun tak ketinggalan mengalami Gibran dan juga Azzam...


"Jazaakumullah khairon atas kedatangan pak Aydan dan juga Syafeera... oh ya untuk Syahdan juga.. udah datang di acara pernikahan om Azzam ya...makasih kasep..


" ujar Azzam sambil mencubit dagu Syahdan


"celamat om talah... " karna nama mereka sama-sama ada Atthallah nya, jadi Syahdan lebih suka memanggil Azzam dengan panggilan Atthallah


"om talah...??" tanya Dilara


"iya....nama kami bertiga punya kesamaan ada Atthallah di akhir nama, dan Syahdan kalau manggil ya gitu, om talah... maksudnya om Atthallah..." balas Azzam menjawab keheranan Dilara


"syahdan sini aja sama om, biar ayah sama mommy makan dulu ya..."


"Ndak ah,.lame olang mau calam cama om..."


"onti Mila, antik..(cantik)"


"om ini (tunjuk ke arah Gibran) ndak oleh nakal ya Ama inti Mila..." Mendengar apa yang Syahdan ucapakan membuat mereka terkekeh


"om ini (menunjuk dada nya sendiri) nama nya om Gibran... Syahdan mau gak temenan sama om Gibran...??" balas Gibran


"boleh, acal gak nakal..." lagi-lagi semua terkekeh


Mereka pun menyempatkan foto bersama, Syafeera tak lupa menyapa Umma Fatimah dan juga Ummi Arafah.


Syahdan yang aktif dan cerdas memang membuat semua begitu gemas dengan tingkah dan ocehannya itu.


Kebagian mereka menjadi sedikit berbeda dengan kericuhan yang Syahdan buat. rasanya dimana ada syahdan di sana ada keceriaan...


🍃🍃🍃


Lanjut...???


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2