Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Pernyataan Gibran


__ADS_3

"mas, kok jutek amat sich..??" tanya Soraya saat sudah di ruangan Gibran


"bukan jutek, kan mas kamu yang ini memang gitu...." Bimo yang menjawab


"gak usah banyak omong... buruan laporan kemaren mana...??" tanya Gibran, Bimo pun keluar untuk ke ruangan nya


"mas.. beneran kata mas Bimo ,kalau kak Almeera inceran mas..??" tanya Soraya sembari duduk di sofa


"ngomong apa aja tuh si nyamuk...??"


"di tanya balik tanya....jawab aja pertanyaan Raya..."


"mas...kalau menurut Raya nih ya.. kak Almeera cantik, Sholeha lagi, jika ada wanita baik, paham agama, berilmu, kenapa harus ragu untuk memperistri nya??"


"mulai ya kayak si Bimo..."


"mas Bimo cerita loh latar belakang pendidikan kak Almeera tadi.... Ingat mas kata mama, ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, jadi jika sudah jelas dia madrasah yang baik, apa yang membuat kita ragu untuk memilih madrasah itu??"


"bener tuch..." sahut Bimo yang tiba-tiba masuk


"Ray... gak usah bawa-bawa mama ya, bagusan kamu keluar aja, keliling sana..."


"dan Lo Bim.... sekali lagi banyak omong ke mana-mana, gue bungkem tu mulut.."


"mas Gibran kaya cewek lagi PMS... Raya keluar aja dech..." ujar Soraya sambil berlalu


"oh ya mas Bim... kios kak Almeera di lantai berapa??" tanya nya sebelum keluar


"di lantai dua... nama nya FaZah Butik" jawab Bimo santai sedangkan Gibran malah geleng geleng.


"Lo ngomong apa aja sama Raya...??" tanya Gibran sambil memeriksa berkasnya


"gue cuma jawab apa yang dia tanya..." jawab nya santai


"kalau Lo gak berminat untuk meminangnya, gue yang bakal maju, dan kalau Lo main-main, gue yang bakal ngajar Lo..."


"maksud lo apa...??" tanya nya dengan tatapan tajam


"Lo tahu maksud gue Gibran Manggala Putra"


Gibran langsung berdiri, ingin rasa nya meninju mulut Bimo yang sedari kemaren bagai kompo untuk nya, tapi tiba-tiba pintu di ketuk.


Almeera, Bella dan Soraya lah yang ada di depan pintu, ternyata tadi mereka tidak sengaja berpapasan.


"Masuk...." titah Gibran


"Assalamualaikum..." salam Almeera

__ADS_1


"waallaikumusallam..." balas Gibran dan Bimo


"eh Bu Almeera ada yang bisa di bantu..??" tanya Bimo


"saya mau menyerahkan laporan penjualan butik ke pak Bimo...tadi saya sudah ke ruangan pak Bimo, tapi kata sekertaris bapak, bapak sedang di ruangan pak Gibran.."


"oh ya Bu kalau begitu biar saya periksa.." jawab Bimo ramah, tapi tidak dengan Gibran, ada rasa panah di hati nya melihat perbincangan mereka


"kalau begitu saya permisi, mungkin beberapa hari kedepan saya tidak ke Sky, pak Bimo jika ada yang kurang jelas bisa langsung tanyakan ke Bella, saya sedang ada pekerjaan di butik.."


"oh begitu baik..."


"dan pak Gibran, soal desain saya sudah jelaskan ke Bella, kedepannya bapak bisa tanyakan ke Bella" kali ini Almeera melihat ke arah Gibran yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan antara dirinya dan juga Bimo


"Saya tidak biasa bicara pakai perwakilan dan sepertinya Bu Almeera sudah tahu itu..." jawab Gibran sedikit ketus


"Maaf pak, saya tidak bisa berbicara dengan yang bukan mahram Tampa ada yang menemani, bapak bisa sampaikan ke Bella, jika nanti memang ada yang harus saya jelaskan langsung in Syaa Allah saya akan jelaskan" jawab Almeera dengan tegas


Jika mereka nampak bertahan dengan pendirian mereka, yang lain hanya bisa saling pandang.


"Kalian bisa keluar, saya harus bicara dengan Bu Almeera secara pribadi.." titah Gibran dan itu membuat mereka bingung, di satu sisa Almeera tidak akan setuju


"jika ada yang memang harus bapak tanyakan silahkan, biarkan Bella tetap disini, sedangkan pak Bimo dan Soraya silahkan keluar" balas Almeera dengan lembut tapi tegas


"Saya butuh bicara hanya berdua, tidak butuh mereka.." jawab Gibran tak ingin ada penolakan


"kenapa jadi berdebat gini sich, gini aja kak, Kakak bicara aja sama mas Gibran, kami akan tunggu di luar" Soraya angkat bicara


"iya Kak Meer... kami tunggu di luar..." Bella meyakinkan


Sebenarnya berat untuk bicara hanya berdua, tapi Almeera juga serba salah dengan sikap Gibran.


"baik lah.. tapi saya tidak bisa lama..."


Kini mereka hanya tinggal berdua, Gibran duduk di kursinya, dan Almeera lebih memilih di sofa.


"apa yang ingin pak Gibran bicarakan...??"


Gibran tak menjawab, dia malah berjalan menuju jendela, melihat cerahnya langit.


"jika tidak ada yang ingin di bicarakan, lebih baik saya keluar..."


"apa Bu Almeera selalu seperti ini dengan laki-laki...??"


"maksudnya...??"


"tidak berbicara hanya berdua...??" tanya nya tapi tidak melihat ke arah Almeera

__ADS_1


"pak Gibran pasti sudah tahu, adalah agama kita tidak di benarkan dua insan yang berbeda jenis, dan bukan mahram hanya berdua saja, sekalipun itu urusan pekerjaan, itu tidak di benarkan"


"jadi apa yang harus saya lakukan, agar bisa berbicara dengan Bu Almeera berdua tanpa melanggar aturan itu..??"


Deg..


Jantung Almeera berdetak kencang, pertanyaan macam apa itu. haruskah di jawab??


"maaf pak seperti pembicaraan bapak di luar pekerjaan, saya permisi...." Ujar Almeera sembari bangkit dari duduk nya


"saya memang tidak membicarakan pekerjaan, bukankah saya sudah bilang tadi di awal, saya ingin membicarakan hal pribadi.." sambil membalikkan badan


"saya di sini untuk urusan pekerjaan pak.. saya permisi assalamualaikum..."


"saya ingin menjadikan Bu Almeera menjadi mahram saya" ujar Gibran tiba-tiba saat Almeera sudah berada di depan pintu, tangan nya ingin meraih gagang pintu, tapi terhenti tiba-tiba


Tak ada suara Jawab, Almeera malah terdiam, apa ini?? apa dirinya sedang dilamar?? seperti ini kah cara nya??


pertanyaan demi pertanyaan menghampiri nya, tapi itu hanya di batin.


"Saya ingin menjadikan Bu Almeera menjadi mahram saya" ulang Gibran


Almeera membalikkan tubuhnya, tersenyum kecut di balik cadar nya


"pak Gibran sedang bercanda??"


"saya serius..."


"maaf jika pak Gibran serius maka utarakan niat itu kepada orang tua saya.. dan satu lagi yang saya bingung, kenapa pak Gibran tiba-tiba mengatakan itu???"


"harus di jawab..??"


"seharusnya harus..."


"karna saya yakin Bu Almeera wanita baik-baik, mampu menjadi madrasah untuk anak-anak saya nanti..." jawab Gibran , kali ini hati lah yang berbicara, soal urusan dendam nya, itu dia kubur untuk saat ini


Karna sejujurnya Gibran memang menaruh hati kepada Almeera, jatuh hati akan kepribadian nya walaupun baru dia kenal sesaat, jatuh hati akan semua yang ada pada Almeera... tapi rasa itu berusaha dia tepis.


Bagi nya saat ini yang terpenting dia bisa mendapatkan Almeera, tidak terima jika sampai Bimo mendahului nya, karna memang beneran kata Bimo, lelaki Normal mana yang tidak menginginkan Almeera.


🌠🌠🌠


Lanjut...???


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2