
"sudah sampai mana penyelidikan nya..??" tanya Gibran ke Reno yang sedang duduk di sofa, sedangkan Gibran di kursi nya.
"RSH menutup akses pihak luar untuk mengetahui data pasien, hanya pihak keluarga yang bisa.., cuma Lo yang bisa membuka data nya lagi"
"gak mungkin lah gue ke sana... cari perkara nama nya"
"tapi memang seperti itu prosedurnya Bos..."
"Lo bayar pekerjaan kan bisa..."
"RSH gak bisa main sogok bos, mereka sangat ketat. dan yang gue tahu, RSH itu rumah sakit yang memang di dedikasikan untuk membantu, orang-orangnya pun sangat menjaga semua nya"
"saran dari gue, Lo jujur tanya langsung sana Abi Alvian.. Biar semua jelas Bran...dan Lo gak menyakiti banyak pihak" ujar Bimo yang baru masuk
"gue setuju... apalagi Lo sampai melibatkan istri Lo sekarang"
"Istri...??" batin seorang wanita yang baru saja datang, akan mengetuk pintu ruangan tapi di urungkan, karna pintu ruangan itu tidak tertutup rapat membuatnya bisa mendengar pembicaraan mereka.
wanita itu adalah Almeera... Almeera memundurkan langkahnya, berdiri di samping pintu ruangan Gibran, ada rasa penasaran tentang pembahasan mereka.
"kenapa sich Lo gak belajar ikhlas, bukankah gagal dan berhasil dalam operasi itu hal wajar....??" tanya Reno
"sebagai seorang dokter seharusnya dia menjelaskan jika memang kemungkinan sangat kecil, jadi kami tahu, tapi apa??? mereka mengatakan jika dilihat dari hasil rekap medis papa, besar kemungkinan berhasil" balas Gibran sambil berjalan menuju arah jendela
"tapi Almeera tidak tahu menahu mengenal itu Bran.. Lo ingat kata-kata gue, jikapun dr.Alvian bersalah saat melakukan operasi, ingat Almeera tidak ada hubungannya, Lo udah nyakitin dia Bran..." berang Bimo tangannya mengepal menahan emosi
Almeera yang mendengar itu mata nya berkaca-kaca, dada nya sesak, apa sebenarnya yang terjadi pertanyaan besar menyelimuti nya.
"Bimo bener bos...jika pun dr. Alvian melakukan kesalahan, tapi Almeera bukan sasaran yang tepat jika Lo merasa ingin balas dendam..."
Mata Almeera membulat, kaki nya gemetar..
"balas dendam" lirih Almeera, air mata nya tumpah, tangan nya bergetar
Prang....
Rantang yang berisikan makan siang untuk sang suami yang sengaja dia siapkan, berusaha lebih dekat dengan sang suami tapi membuat nya mendengar hal yang sulit dia pahami, Almeera membekap mulut nya menahan tangis, kaki nya berjalan mundur sembari menapak ke bekal makan siang lalu menatap ke arah pintu.
Gibran dan dua sahabat nya yang mendengar ada benda terjatuh di depan pintu membuat mereka bergegas keluar dan betapa kaget nya Gibran, mata nya awalnya tertuju pada rantang yang berisi bekal makanan itu berserakan, lalu di detik berikutnya mata nya tertuju pada Almeera yang terus berjalan mundur menjauh.
__ADS_1
Bimo dan Reno saling menatap, mereka Bingung harus bagaimana.
"Bran kejar..." ujar Bimo sambil mendorong tubuh Gibran, sedangkan Almeera membalikkan tubuh nya, lalu berlari ke arah lift.
"Meera tunggu" teriak Gibran, tapi Almeera tidak memperdulikan panggilan Gibran, dia masuk ke dalam lift, Saat pintu lift akan tertutup tapi di halangi Gibran dengan kaki nya, membuat pintu lift kembali terbuka.
"ikut saya..." ujar Gibran dengan tangan yang berniat meraih tangan Almeera tapi dengan cepat di tepis oleh Almeera
"ikut saya..." kesal Gibran
"Saya mau pulang..." balas Almeera sesegukan menahan tangis nya,. Gibran menapak mata Almeera.
"Ikut saya dulu, nanti saya antar kamu pulang..."
"saya bisa pulang sendiri..." balas Almeera dengan suara serak, Gibran pun mengalah memilih ikut masuk ke lift, dan pintu lift pun tertutup.
Bimo dan Reno saling tatap melihat kepergian mereka.
"Lo bisa ngebayangin gak rasanya jadi Almeera, belum sepekan menikah, harus mendengar kenyataan pahit seperti ini??" tanya Reno
"jika boleh memilih, gue akan memiliki dia tidak mengetahui semua ini, tapi sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai, cepat atau lambat pasti akan tercium juga bau nya" balas Bimo
sesampainya di lantai dasar, Gibran meraih tangan Almeera tapi lagi-lagi di tepis nya
"ikut saya.."
"saya bisa naik taxi..."
"ikut saya..." ujar Gibran penuh penekanan, dan mau tidak mau Almeera menuruti nya, dan merekapun pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah,. Almeera langsung berlari menuju kamar, dan dengan cepat di kunci nya pintu kamar itu.
Meera terduduk di lantai, menyandar tubuh nya di dinding bawah ranjang, dengan tangan yang merangkul kedua kaki nya, air mata nya tumpah, air mata yang dia tahan sedari tadi tumpah, Seakan tak ingin menyisakan nya lagi.
beberapa menit kemudian Gibran sampai di depan pintu kamar, Gibran memutar kenop pintu tapi ternyata Almeera kunci.
"Meera buka pintu nya..." teriak Gibran dari luar tapi Almeera tak merespon
"Meera buka pintu nya..." ulangnya,.dan itu cukup membuat buk Atun kaget.
__ADS_1
"ya Allah den, ada apa?? bukannya tadi non Meera ke SKy untuk mengantarkan makan siang, non Meera kepikiran karna tadi sarapan Aden gak habis karna di gangguan den Bimo
"Bik... Carikan kunci serep nya..." titah Gibran dan bik Atun pun menuju laci penyimpanan kunci.
setelah beberapa menit Bi Atun kembali dengan membawa kunci yang di minta Gibran, dengan cepat Gibran membuka pintu kamar nya, dan saat pintu kamar terbuka Gibran pun bergegas masuk, di tatap sosok wanita dengan mukena yang menutup tubuh nya sedang rukuk...
Gibran pun mengunci pintu kamar nya, lalu kunci itu di kantongi nya,tak ingin ambil resiko Almeera lari keluar. lalu Gibran berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil Wudhu.
Gibran membentang sajadah di sisi lain, lalu melaksanakan sholat Dzuhur, selesai dengan salam nya Gibran menatap ke langit-langit, hatinya gundah, lalu memutar tubuh nya, mata nya membulat saat melihat Almeera sedang memasukan pakaian ke dalam ransel.
Gibran langsung beranjak Tampa melipat sajadahnya.
"kamu mau kemana??" tanya Gibran
"Saya izin mau ke pondok dulu, dua hari ini sebelum kembali bekerja" balas Almeera Tampa menoleh
"tidak saya izinkan..."
Almeera tidak menjawab hanya menatap kedua manik Gibran.
"maaf, saya harus pergi, lagi pula saya sudah pesan taxi online" ujar Almeera menurut Ransel nya lalu beranjak.
"kamu lupa, selangkah kamu keluar tapa izin suami apa konsekuensi nya??"
"Suami...?? apa pernah mas anggap saya sebagai istri??" tanya Almeera
"mas menikahi saya untuk balas dendam kan?? dendam mas saya terima dengan Ikhlas jika memang Abi bersalah saya siap menerima kepedihan ini untuk menggantikan Abi..." ujar Almeera lembut tapi menyayat hati
"jujur saya tidak paham akan semua ini, tapi saya siap menggantikan Abi"
🍃🍃🍃
Lanjut...???
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an
__ADS_1