Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Cerminan Diri


__ADS_3

...Jangan Pernah melepas mutiara dari gengaman hanya karna tergoda kilauan berlian dari kejauhan. Sebab ayaman itu bukan tentang fisik, tapi siapa yang mampu memperlakukan dan menerima kita dengan baik....


Sebuah note yang Gibran tulis sesaat setelah mengabadikan kebersamaan Almeera dengan para santriwati ponpes Al-Khautsar.


Almeera sudah berada di antara kerumunan para santriwati, sedangkan Gibran duduk di pojok yang lumayan berjarak dengan mereka semua.


Almeera Nampak sedang berbincang santai dengan para santriwati, ada tawa kecil yang menghiasi obrolan mereka.


“masih ada yang mau di tanya???”


“Ustazah.. ada yang menyatakan Jodoh adalah Cerminan Diri, itu bagaimana??”


Almeera tersenyum lalu membacakan salah satu dalil yang artinya “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, Laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, Laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An-Nur : 26)


“Berarti baik dengan yang baik begitu pun sebaliknya, kaya dengan yang kaya, ganteng dengan yang cantik donk Ustazah, seperti ustazah dan suami” ujar salah satu santriwati


“kasihan kami donk ustazah yang wajah nya pas-pasan, gak bias punya suami ganteng,” ujar santriwati lainnya


Almeera terkekeh kecil mendengar penuturan para santriwati itu, begitupun Gibran yang juga ikut mendengar pembahasan mereka.


“Tapi Ustazah ada juga yang istri nya sabar, suami nya pemarah, suami rajin istri nya malas.. gimana donk???” tanya santriwati lain nya lagi


“boleh ustazah jawab…??” tanya Almeera dan di balas anggukan oleh para santriwati.


“Jodoh Cerminan Diri… sekarang ustazah mau tanya?? Pernah bercermin gak??”


“ya pernah donk ustazah.. gak ada cermin pakai jilbab nya bisa berantakan, bedak nya bisa belepotan” jawab salah satu santriwati


“Apa setiap cermin itu menghasilkan hasil yang sama persis??”


“Maksud nya ustazah…???”


“Murnikah pantulan cermin itu seratus persen sama??”


“Gak ustazah, beda cermin kadang beda hasil, kadang saya pakai cermin nya yang di lemari Nampak agak hitam wajah saya, pakai cermin yang ada di bedak wajah Nampak lebih cerah, kadang ada juga sih ustazah yang hasil nya sama persis, seperti di kaca spion..” jawab salah satu santriwati


“Betul banget, setiap cermin itu punya kapasitas nya tersendiri, ada yang memantulkan lebih baik dari asli nya, ada yang memantulkan kurang baik dari asli nya, dan ada juga yang memantulkan sama dengan asli nya, tapi itu sangat jarang apa lagi sampai seratus persen, pasti akan tetap ada celah nya, tapi tak terlihat”


“Jodoh kita adalah cerminan diri, Jika pantulan itu lebih baik, berarti kita sebagai yang asli harus memperbaiki diri kita, jodoh kita punya tugas besar untuk membimbing kita agar kita dan jodoh kita bisa sama-sama baik"

__ADS_1


“Jika Pantulan Itu kurang baik, berarti kita sebagai jodoh punya tugas besar, yaitu membimbing jodoh kita itu untuk menjadi lebih baik lagi,”


“Jika pantulan itu sama dengan asli nya, sebagaiman suri tauladan Kita yaitu Rasullullah SAW. Kisah Cinta Rasulullah dengan Khadijah ataupun kisah Cinta Rasulullah dengan Siti Aisyah.. mereka adalah kisah cinta yang tiada duanya, saling menjaga, saling mengisi, saling beriringan… tak ada keburukan sedikitpun tentang mereka, tapi mereka tetap selalu belajar untuk menjadi lebih baik, padahal mereka sudah di jamin surga nya oleh Allah”


“Intinya jodoh yang Allah berikan itu semua baik, tapi kita semua punya jalan yang berbeda-beda, perjuangan yang harus di jalani setiap pasangan itu berbeda-beda”


“Terus perbaiki diri… karna kita tak pernah tahu, ujian apa yang sedang menanti kita”


“Dimana pun posisi kita nanti, di perbaiki ataupun memperbaiki, tetaplah di jalan Allah…”


"seperti kata salah satu santriwati tadi,gak ada cermin pakai jilbab nya bisa berantakan, bedak nya bisa belepotan, itulah peran kita dan juga jodoh kita"


“Gimana…??? Udah jelas belum???” tanya Almeera Nampak para santriwati yang sedang menganggukan kepala nya.


“In Syaa Allah sangat jelas ustazah…” jawab salah satu santriwati


Selesai dengan kajian hari ini Almeera pun menghampiri Gibran yang sedang Nampak asik dengan kameranya.


“Mas…” panggil Almeera sambil duduk tepat di depan Gibran


“Udah kan… yuk kita balik ke kediaman Ummi” balas Gibran dan diangguki oleh Almeera


Paras Gibran yang memang tak setampan aktor korea, tapi tetap mampu memikat para wanita. Di Tambah dengan Fashion style nya yang menunjang, semua pun tahu dia adalah laki-laki ber uang.


Dan Untuk Almeera jika dilihat dari kulit tangan dan pancaran mata nya, semua pun bisa menebak jika dia memili wajah yang juga cukup memikat, walau tak secantik aktris korea.


Tiba-Tiba Gibran merangkul Pundak Almeera dan itu membuat Almeera menghentikan langkah nya.


“mas ini tempat umum loh…”


“abis dari tadi banyak santriwan dan juga ustadz yang melihat ke arah kita… mas mau tunjukan aja kamu itu milik mas, biar mereka gak ngelihatin kamu mulu…”


“mengumbar kemesraan di depan umum itu juga gak baik… di takutkan akan membuat mereka yang belum memiliki pasangan halal meniru nya, mas mau jadi alasan mereka melakukan hal yang haram..???”


“ya udah dech…” sambil melepas rangkulan nya dan itu membuat Almeera tersenyum sumringah di balik cadar nya, merasa geli dengan tingkah dan ekspresi sang suami


“Udah siap aja kajian nya…padahal kakak masih mau dengar loh” ujar Adam saat mereka sudah sampai di dalam rumah


“Kak Adam aja yang lanjutin…” Balas Almeera sambil duduk di sebelah Gibran

__ADS_1


“Tapi pembahasan seperti itu Cuma kamu yang mampu menjabarkan nya dek..” balas Adam


“itulah nilai plus Almeera dalam menjawab pertanyaan para santriwati nya” Ujar Ummi yang baru datang sambil membawa camilan


“Maka nya kedatangan dia selalu di nanti-nanti” ujar Khadijah


“Sering-sering lah ke pondok, Gibran Juga, anak-anak Tahfiz pada nanyain kamu loh..” ujar Abah Fatih


“ In Syaa Allah bah… kerjaan di kantor kadang gak bisa di tinggal lama-lama” balas Gibran


“jadi jam berapa balik??” tanya Adam


“Bada magrib aja kalau takut kemalaman…” usul Ummi Arafah


“In Syaa Allah bada Isya saja Ummi, jadi gak perlu berhenti untuk sholat di jalan…” balas Gibran


“Kalau Ummi sich mau nya kalian itu nginep..”


Almeera mendekati Ummi Arafah lalu merangkulnya… “ In Syaa Allah lain waktu meera atur untuk ke pondok lagi..”


“Ummi kangen loh sama masakan kamu..” ujar ummi Arafah


“Perlu Meera masakin sekarang??”


“Gak usah lah… nanti kamu masih harus menempuh perjalanan malam, ummi gak mau kamu kelelahan, apalagi besok juga udah kembali kerja kan…??"


Ponpes adalah rumah ke dua sebelum dia menikah, jadi wajar mereka cukup dekat, di tambah lagi Almeera juga menjadi salah satu ustazah favorit para santriwati, hanya saya dia memang tidak bisa fokus untuk pondok, jarak pondok dan rumah abi juga cukup jauh, memakan waktu dua jam perjalanan.


Tepat setelah sholat Isya dan juga sudah selesai makan malam, Almeera dan Gibran pun pamit untuk pulang, bahkan para santriwati juga ikut mengantar.


“ustazah kami tunggu kedatangan nya lagi…” ujar salah satu santriwati


“In Syaa Allah…” balas Almeera


🍃🍃🍃


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah --Al-Qur'an


__ADS_2