
Abi Alvian menjamu para tamu nya dengan baik, nampak kehangatan dari keluarga ini, Gibran tiba-tiba menghentikan suapannya dan itu membuat Abi Alvian heran.
"kok berhenti, apa ada nak Gibran, apa masakan Umma kurang pas di lidah nak Gibran..??" tanya Abi Alvian
Pertanyaan Abi membuat semua melihat ke arah Gibran.
"Eh.. tidak Bi...masakan Umma enak kok,.saya cuma teringat sama Mama dan Papa saja, udah lama gak makan bersama seperti ini" jawab Gibran jujur
"memang Meraka dimana saat ini...??" tanya Abi Alvian
Gibran terdiam, hati nya terasa panas mendengar pertanyaan itu.
"Mereka sudah Allah Panggil.." jawab Gibran datar
Abi Alvian dan yang lain cukup tercengang, apalagi Almeera.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un...jadi sekarang tinggal dengan siapa??" tanya Abi Alvian
"Tinggal berdua sama adek, tapi dia juga sedang kuliah di luar kota, jadi jarang pulang juga."
Azzam menepuk pundak Gibran.. "kita lanjut aja makan nya, gak bagus juga kan bahas yang mellow-mellow.. kita ini kan saudara se iman, jadi kamu gak sendiri kok.." ujar Azzam
"kalau nak Bimo...??" tanya Abi Alvian
"kalau saya ini asisten plus teman berantem Bi..."
"tinggal bareng sama nak Gibran..??"
"kadang-kadang Bi..."
Makan malam berlanjut walau sebenarnya hati Gibran tak nyaman, ingin teriak tapi tak mampun.. selesai makan Abi mengajaknya sholat Isya di mushola rumah mereka, dan selesai sholat Gibran dan Bimo pun pamit, dan kebetulan Soraya juga sudah menelfon nya.
"kalau gitu Gibran dan Bimo pamit dulu,makasih banyak untuk jamuran nya" pamit Gibran
"Abi juga makasih banyak nak Gibran dan Bimo sudah mengantarkan anak-anak Abi dengan selamat dan utuh sampai rumah" balas Abi Alvian sembari menepuk pundak Gibran
Gibran kaget dengan sentuhan yang Abi Alvian berikan, cukup membuat nya menghangat, Tapi hati dan pikiran masih tidak sinkron, Gibran menatap ke dalam sekilas, sebuah rumah yang sangat hangat dan nyaman.
"Umma ,Almeera dan Anisya sudah masuk.." ujar Azzam tiba-tiba, seperti Azzam salah mengartikan pandangan mata Gibran
"eh.. iya kami pamit, assalamualaikum"
"waallaikumusallam..."
Bimo pun segera melajukan mobil nya, fokus pada jalanan yang sudah mulai malam, sedangkan Gibran malah termenung melihat ke arah luar jendela, lalu beberapa menit kemudian Gibran menyandarkan kepalanya dengan mata yang terpejam.
__ADS_1
"kenapa...apa yang Lo rasakan berada dalam keluarga Almeera..??"
"biasa aja.." jawab nya dengan mata terpejam
"bohong... Lo merasakan kehangatan kan di keluarga itu??"
"gak usah banyak omong.."
Siiit.....
tiba-tiba Bimo mengerem mendadak.
membuat tubuh Gibran condong kedepan karna kaget dengan rem mendadak yang Bimo lakukan
"Lo gila bim...??kenapa malah berhenti....buruan Soraya udah chat aja dari tadi..."
"Bran.. gue tu tahu Lo laki-laki baik, dan alasan Lo membenci dr. Alvian itu gak masuk di akal, Lo bisa lihat bagaimana beliau terhadap kita, bagaimana keluarga nya.. jika memang ini mengenai om Manggala, coba Lo cari tahu mengenai insiden om Manggala??"
"dan jika alasan Lo mendekati Almeera untuk urusan itu, gue menentang itu Bran... jikapun memang dr. Alvian bersalah, Almeera tidak ada hubungannya dengan semua ini" ujar Bimo dengan tegas dan penuh penekanan
Gibran mengusap wajah nya kasar..
"Reno yang cerita sama Lo...??"
"gue bukan orang bodoh, bahkan karna gue cerdas makanya bisa mendampingi Lo.. jadi Tampa Reno cerita pun gue bisa menyimpulkan nya.."
"pusing kepala gue dengerin ocehan Lo Bim....bisa gak cepat sampai rumah!!" ujar Gibran dengan tatapan tajam nya
Hampir jam sepuluh malam mereka sampai di rumah,.karna perdebatan tadi cukup memakan waktu.
"Lo nginep aja,.mobil Lo kan di Sky.. besok berangkat bareng" ujar Gibran sambil berlalu ingin segera sampai di kamar nya
"ck...ck..ck... mas-mas gantengku ini, udah kayak pasangan kekasih ya, pacaran dulu baru pulang.. dari mana aja??" tanya Soraya yang tiba-tiba nongol dari dapur
"besok aja ya dek.... mas lagi pusing..." jawab Gibran sambil berlalu meninggalkan Soraya
"mas Gibran kenapa lagi mas Bim...??" tanya Soraya sambil menyodorkan air mineral
"kayak nya sih masalah wanita, coba besok tanya langsung aja..." jawab Bimo sambil mencolek dagu Soraya lalu berlalu meninggalkan nya,menuju kamar yang biasa dia pakai untuk menginap.
"iih pada nyebelin banget sich..."omel Soraya
"makasih air minumnya..." teriak Soraya lagi saat Bimo sudah mau masuk kamar..
"eh iya.. sama-sama adek cantik..." balas Bimo dengan santai nya, lalu terkekeh
__ADS_1
Soraya sudah seperti adik nya sendiri, bahkan rumah Gibran juga bagai rumah nya sendiri, maka dari itu Bimo tidak akan pernah sungkan menegur bos sekaligus sahabat rasa saudaranya itu.
Gibran membandingkan tubuh nya di ranjang , ingatan nya kembali ke masa lalu, Dimana sang mama mengalami depresi sejak sang papa meninggal.. dan hingga membuat mama pun ikut menyusul sang papa.
Gibran menutup telinganya, menjerit dalam hati setiap mengingat semua yang terjadi tujuh tahun lalu, yang membuat harus berjuang sendirian, bertahan untuk sang adik. bersyukur ada Bimo dan Reno yang setia bersama.
teringat kata-kata Azzam.. "kita ini kan saudara se iman, jadi kamu gak sendiri kok"
haruskah dia bersyukur, ada rasa hangat dan nyaman dengan perlakuan keluarga Almeera terhadap, tapi rasa marah juga. mana yang harus dia ikuti, rasa nyaman atau amarah.
tok..tok..tok
"mas..udah tidur...??" panggil Soraya
Rasa enggan untuk beranjak dan membuka pintu... tapi sebenernya dia paling tidak bisa mengabaikan adik satu-satunya itu.
cekrek...
Gibran membuka pintu kamarnya
"raya bawakan air mineral, biasa kan mas paling gak bisa tidur kalau gak stay air mineral.." ujar nya lembut saat pintu kamar terbuka sambil menyodorkan satu gelas air mineral, Gibran pun menerima nya.
"mas ada masalah...??" tanyanya setelah melihat penampilan Gibran karna belum juga mengganti pakaiannya
"gak apa-apa... kelelahan aja, males mau ganti baju" sambil mengacak rambut Soraya Seakan tahu arah dari pertanyaan Soraya.
"bohong... itu tuch bukan mas Gibran banget loh.." sambil menaik naikan Alis nya
"udah malam buruan tidur, ni mas mau ganti baju..."
"kalau ada sesuatu jangan suka di pendam sendiri mas....mas itu gak sendirian, ingat ada raya.."
Gibran mencium kening Soraya, Soraya lah alasan dia kuat, tak ingin sang adik merasakan kekurangan sedikitpun.
🌠🌠ðŸŒ
Lanjut...???
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Ingat ini hanya coretan renyah saya yang mungkin kadang suka gak jelas.. jadi kalau gak nyambung, ya di sambung sambungin ajaðŸ¤
Karna....
__ADS_1
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an