
Berbisik dibumi terdengar di Langit, itulah yang sedang Almeera lakukan.
Jangan banyak mengeluh kepada Allah, bersyukur... tapi kemana lagi tempat nya berkeluh kesah jika bukan kepada sang pemilik seutuh nya.
Suka Duka, Tangis Tawa, Sehat Sakit, Semua adalah milik Allah...mengadu memohon pertolongan, memohon kekuatan, memohon ketegaran,memohon kesabaran.
Tidak ada yang namanya Takdir Baik ataupun Takdir Buruk, karna sejatinya Kebaikan itu datangnya dari Allah, tapi keburukan itu dari diri kita sendiri.
Kematian pasti akan datang, tapi cara nya akan berbeda-beda, semoga jika waktu itu tiba kematian itu akan datang dengan cara yang baik pula.
"Ya Allah... Tunjukkan kebenaran itu, karna apa yang terjadi tak luput dari pandangan Mu ya Allah... Jika ini jalan yang engkau pilihkan, Hamba memohon kuatkan hamba, ikhlas hamba dalam menjalaninya, hamba ridho ya Allah.. hamba ridho..."
"Ya Allah engkau pemilik hati kami, Lembut kan hati suami hamba, bantu dia agar bisa lebih ikhlas dalam menjalani jalan kehidupan nya"
"Ya Allah.. jaga Abi, jika memang Abi bersalah, hamba mohon ampun kan ya Allah, hamba percaya Abi tak akan mungkin sengaja melukai orang lain, hamba percaya semua tak akan terjadi jika engkau tak berkehendak"
Tangis Almeera dalam doa di atas sajadah di sepertiga malam nya, Tampa dia sadari Gibran mendengar semua doa-doa itu. Gibran mengurungkan niat nya untuk ke masuk kekamar, di tutup nya kembali pintu kamar itu.
Selesai dengan tahajud nya mata nya sulit untuk dia pejamkan, Al Qur'an lah yang menjadi teman setia nya.
Waktu subuh tiba, suasana kamar yang luas ini masih sepi seperti biasanya, Almeera melaksanakan sholat subuh sendirian, lalu menuju dapur.
"mau buat sarapan apa bik...??"
"Mie goreng aja non.."
"ya udah biar Meera yang masak, bibik kerjakan yang lain aja"
"mas Gibran gak kasar sama non kan...??" tanya bi Atun tiba-tiba, dan Almeera menjawab dengan gelengan
"non gak bohong kan sama bibik, bibik takut pas lihat tangan den Gibran.."
"Gak bik... Alhamdulillah mas Gibran gak kasar kok, bibik tenang aja ya" balas Almeera sembari mengelus pundak bik Atun, berusah menenangkan bik Atun,. membuang ke khawatiran bik Atun
Tab...Tab..Tab
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga, Gibran sudah turun dengan stelan santai nya, kaus putih oblong dengan celana panjang selutut. Almeera lebih memilih fokus pada bahan-bahan masakannya.
Dikenakan nya Apron berwana cream, melindungi pakaiannya agar tidak langsung terkesan minyak atau bahan masakan lain nya.
__ADS_1
Di rebus nya mie , di bagi menjadi dua bagian dan ternyata yang satu nya lagi di gunakan nya untuk menggulung udang, di kulkas selalu ada seafood karna Gibran pecinta yang nama nya seafood.
Di potong nya bawang bombai, bawang putih cacah halus sebagai campuran untuk saos, pagi ini Almeera memasak Mie Goreng tapi agak sedikit berbeda karna Almeera menambahkan menu lain, yaitu sebuah soas yang dia buat sendiri, menunya seperti spaghetti tapi ala dapur pribadi bukan ala Italia.. dan ada udang goreng gulung mie sebagai pelengkap.
Semua aktifitas dapur Almeera tak luput dari pandangan Gibran, tapi Almeera tetap memiliki fokus. menu sarapan pun selesai dan mulai Almeera hidangkan.
Selesai dengan menu sarapan, Almeera memotong Buah Apel yang telah dia cuci. Di letakkan nya di satu piring kecil.
"Mas mau minum teh, kopi atau susu???" tanya Almeera tiba-tiba
"Kopi aja..."
"biasa manis apa pahit...??" tanya Almeera sembari menakar kopi
"standar aja, manis-manis pahit" balas Gibran
Secangkir kopi pun selesai, di pinggir piring kecil lepek kopi ada dua sachet gula.
"manis nya mas takar sendiri ya, kmren Meera belikan gula sinergi dari tebu Tampa glukosa, mas kan hobi makan makanan seafood dan berkarbohidrat, jadi harus di imbangi juga gula yang seimbangan" ujar Almeera sembari memberikan secangkir kopi ke Gibran. Dan Gibran hanya membalas dengan angguk.
Ada rasa bersalah menyelimuti hati Gibran, ada rasa yang sulit untuk dia utarakan. sedangkan Almeera nampak berusaha bersikap biasa, walau ada luka yang tak berdarah.
"non udah sarapan aja dulu, biar piring bibik yang nyuci"
"ya udah kalau gitu bik... makasih ya bik, Meera ke atas dulu" Balas Meera sambil beranjak meninggalkan dapur dan meja makan, Menuju kamar,. melewati Gibran yang sedang membuka gula yang akan dia tuang ke dalam kopi.
Bik Atun yang melihat pemandangan pagi ini menjadi ikut sendu, ada senyuman yang selalu terpancar di bibir Almeera, namun ada luka yang sedang menganga pula, sayang nya luka itu tak nampak, jika harus di perban, tak tahu bagian mana kah yang harus di perban.
"Den... bibik gak tahu permasalahan apa yah Aden dan non Almeera hadapi, Aden udah seperti anak bibik, jika bibik boleh memberikan nasihat, segera selesaikan, jangan berlarut-larut"
"bibik pernah dengar... Wanita itu cepat Sayang, Wanita itu Cepat Rindu, Wanita itu Cepat cemburu, wanita itu cepat tersenyum, tapi wanita itu tidak cepat melupakan sesuatu yang membuat nya kecewa"
Gibran terteguk mendengar penuturan Bik Atun.
"bibik dapat kata-kata dari mana..??" tanya Gibran kemudian
"pernah dengar di sosmed nya anak gadis bibik...hehehe, tapi kata-kata itu memang bener banget loh den.."
"Jangan pernah menyimpan banyak pilihan di hati, banyak prasangka, Fisik bisa berubah, Materi bisa di cari, tapi Orang yang tulus mencintaimu tak akan datang dua kali" Ujar Bimo yang lagi-lagi udah seperti Casper yang datang Tampa di undang dan pulangnya selalu nunggu di usir.
__ADS_1
"Lo ya, udah di bilang jangan masuk tiba-tiba, takutkannya Meera lagi di bawah gak pakai cadar, nanti dia gak nyaman"
"bilang aja ko cemburu kalau ada laki-laki lain melihatnya... hahaha"
"Lo kalau mau sarapan duluan aja, tapi buah dan susu itu jangan di makan, itu sarapan Almeera.. gue mau ke atas" ujar nya sambil beranjak dan bergegas untuk menuju kamar, tak mau ambil pusing dengan sahabat nya itu.
Sesampainya di depan pintu kamar, dengan cepat Gibran membuka pintu, nampak Almeera yang sedang ngobrol dengan seseorang di telfon.
"Alhamdulillah Umma... semua sehat kan?? Meera kangen..."
"iya Meera tahu walaupun jarak sekarang bisa di tempuh dengan hitungan tak sampai satu jam, berbeda saat di Tarim dulu, tapi tetap aja Meera kangen"
"Alhamdulillah semua baik, orang-orang di rumah mas Gibran juga baik semua..."
"In Syaa Allah nanti Meera izin mas Gibran dulu, jika diizinkan Meera ikut, kalau mas Gibran gak sibuk nanti Meera ajak"
perbincangan Ibu dan anak, Almeera menggambarkan semua seakan baik-baik saja.
"siapa?? Umma..??" tanya Gibran yang tiba-tiba ikut duduk di sofa,.mata Meera membulat, kaget dengan kedatangan Gibran yang tiba-tiba
"itu suara Gibran kan Meer...??" tanya Umma di balik telfon
"eh iya Umma ini mas Gibran..." balas Almeera
"mas udah selesai sarapan nya...??" tanya Almeera
"belum.. nungguin kamu, itu di bawah ada Bimo, mau kasih tahu kamu aja, takut kaget karna turun gak pakai cadar.."
Umma yang mendengar kata-kata Gibran tersenyum bahagia di sana, hati Umma sempat gelisah, tapi entah kenapa mendengar kata-kata Gibran barusan membuat hati Umma sedikit lebih tenang, walau tak dapat di pungkiri, insting seorang ibu.
🍃🍃🍃
Lanjut...???
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an
__ADS_1