Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Dia sudah mempersiapkan semua nya


__ADS_3

Pagi ini sebelum pergi untuk dinas ke tugas masing-masing semua sedang bersiap untuk ziarah kubur ke makam Aisyah sesuai permintaan Umma. Semua sudah rapi, senyuman terpancar dari semua.


“Abi umma mana..??” Tanya Almeera kepada sang Abi


“Loh emang umma belum turun, kan Abi barusan dari luar..???” Abi balik bertanya


“Ya udah biar Meera bangunkan dulu..” Balas Almeera dan segera bergegas menaiki tangga


Sesampainya di depan pintu kamar Almeera mengetuk nya tapi tidak ada jawaban, Almeera pun memutuskan untuk membuka pintu.


Dibukanya pintu perlahan, Nampak Umma yang masih terlelap dengan posisi miring menghadap ke kanan.


“Tumben umma pagi pules banget tidur nya” Lirih Almeera sambal mendekati sang Umma, Almeera berjongkok di bawah samping ranjang, dilihat nya wajah Umma yang tersenyum sangat cantik, terpancar binar kebahagiian di wajah Umma.


“umma… yuk bersiap, kan kita mau ke makam Aisyah…semua udah nunggu di bawah” Ujar Almeera sambal mengelus bahu Umma, tapi Umma tak merespon


“umma…” panggil Almeera lagi, tapi tetap tidak ada respon


“umma bangun umma…” kali ini Almeera dengan nada khawatir, jantung nya berdetak sangat kencang, di balikan tubuh Umma sehingga terlentang, Umma hanya diam dak ada balas.


“Umma jangan bercanda, ayo bangun umma kita udah siap loh..” kali ini Almeera dengan menepuk nepuk pipi umma.


“Umma… umma bercanda kan..??” air mata Almeera kali ini menetes, dada nya begitu sesak.


“Abi…..”teriak Almeera setelah beberapa detik kemudian dan itu membuat semua yang ada di bawah kaget dan berhambur menuju ke kamar Umma


“Ya Allah itu Almeera kenapa..??” tanya Dilara


Semua langsung masuk, terlihat Almeera yang sedang memeluk sang Umma dengan tangis yang sulit dia bendung


Abi langsung naik ke ranjang, Dada abi ikut sesak, dilihatnya wajah cantik dan berseri milik umma, lalu Abi mengambil pergelangan tangan Umma dan mengecek nadi nya, Gibran menarik Almeera ke dalam pelukan nya.


Abi hanya diam, dipejamkan nya mata abi dengan air mata yang mengalir. Azzam yang melihat itu pun ikut mendekat dan memeriksa denyut nadi Umma.

__ADS_1


Azzam langsung tersungkur, di bekap nya mulut nya sendiri agar tidak mengeluarkan suara tangisan


“Umma,,,mas Umma..mas…” Lirih Almeera sembari terisak dalam pelukan Gibran, air mata Gibran pun ikut menetes hanya tak bersuara, Dilara merangkul Azzam yang sedang terduduk tak berdaya


“Zam… hubungi semua nya, kabarkan berika kematian Umma..” Ujar Abi dengan tegas sembari menghapus air matanya


“Abi bercanda kan..??” tanya Almeera tapi dengan nada tinggi


“Seperti permintaan Umma, hari ini kita alan mengantarkan Umma , dengan penuh kebahagian” Balas Abi


Tangis Almeera pecah sejadi jadi nya, dilepaskn nya pelukan Gibran , Berhampur memeluk sang Umma


“Umma jangan bercanda, bangun Umma, Umma harus bangun” sambil menggoyang-goyangkan tubuh Umma, Abi menarik tubuh Almeera, di peluk nya sang putri tercinta.


“Yang Hidup pasti akan Mati, hanya kita tak tahu kapan giliran kita,Lihat lah senyuman manis Umma, rona kebahagian yang terpancar dari wajah Umma, Umma sudah mempersiapkan semua nya, maka kita juga harus siap…” Ujar Abi berusaha Tegar walaupun dia lah sebenarnya yang paling terguncang


Sang kekasih halal nya ternyata harus meninggalkan nya terlebih dahulu, sakit, sesak, sedih itu sudah pasti. Tapi kata-kata Umma yang selalu berpesan antarkan dia dengan kebahagian.


Impian nya masih Panjang Bersama sang kekasih, menua Bersama, melihat tumbuh kembang keluarga kecil anak-anak mereka, menimang cucu, bahkan jika perlu bisa sampai menjadi buyut.


Maut tak memilih usia, bahkan bayi yang belum terlahir saja jika Allah hanya membirikanyan waktu singkat, maka kita bisa apa.


Almeera menangis dalam pelukan sang Abi, Dilara berusa menguatkan Azzam.


Di elus pipi sang istri tampa melepaskan pelukan Almeera.


“Cantik… dari pertama kali cadar itu di buka, wajah ini tak berubah sedikitpun, selalu cantik, selalu teduk, begitpun hari ini, Umma pergi dengan cantik, teduh dan Bahagia… “ Ujar Abi dengan senyuman sekalipu perih


Gibran membawa Almeera dalam pelukan nya, Abi pun membawa kepala Umma dalam pelukan nya. Berkali-kali ke kecup nya puncak kepala Umma.


“Hubbiy ridho, kembalilah dengan membawa banyak kebahagian, karna Hubbiy percaya bekal istri hubbiy ini sudah lebih dari cukup..” ujar Abi dengan terus mengelus wajah Umma, ternyata air mata itu tetap tak bisa Abi hentika, mengalir dengan sendiri nya.


Azzam berdiri, melepakan pelukan Dilara, meraih hanphone nya, memberik kabar ke pengurus masjid, memberika kabar ke keluarga besar, Kerumah sakit melalui chat grup, Gibran pun ikut memberikabar ke Soraya dan juga SKY Grup tentang kabar kematian Umma setelah Almeera Lebih tenang.

__ADS_1


Kaget sudah pasti, semua kaget, semua langsung bersiap, Uti bahkan langsun tersungkur, tapi lagi-lagi semua harus kuat harus ikhlas.


Semua yang jauh langsung bergegas melajukan kendaraan nya, tetangga terdekat langsung memenuhi kediaman rumah Abi Alvian.


Para tetangga langsung membereskan ruang tengan, agar bis menaruh jenazah Umma, setelah semua siap, Jenazah Umma pun di bawa ke ruang tengah yang sudah beralaskan karpet, menunggu anggota keluarga yang lain nya untuk memandikan jenazah Umma.


Almeera duduk tepat di samping Jenazah Umma, Suara lantunan ayat-ayat Allah terdengar walau lirih, Suasana yang mulai tenang tiba-tiba di penuhi lagi dengan tangisan saat Uti dan kelurga yang lain mulai datang.


Hafidz Sang kakak laki-laki nya terpaku melihat jenazah adik kesayangan nya. Umma Kianara dan Bunda Syafitri menangis memeluk jenazah Putri mereka dan itu lagi-lagi membuat Almeera menangis dan Gibran dengan cepat merangkulnya.


“Andai kata kenapa itu boleh Umma ucapkan, sebagai perwakilan pertanyaan Umma, sangat ini umma utarakan kepada Allah, tapi Umma tidak bisa melawan kehendak Allah, jika boleh memilih, Umma ikhlas menggantikan posisi kamu sayang, tapi umma gak bisa egois, tapi umma juga bisa membohongi diri umma..” ujar Umma Kianara sambal mencium puncak kepala sang putri, Umma Fatimah


“Sayang, jika boleh meminta bunda akan meminta waktu sehari lagi, kalau tidak bisa sehari sejampun boleh, rasa rindu umma belum pun terobati, kamu diam seperti ini mengingatkan bunda pada kejadian lampau, bedanya dulu kami masih punya harapan, tapi tidak hari ini…” Ujar Bunda Syafitri


Sang Abi,, abi Aditya menghampiri jenazah sang putri terkecil nya, berada tepat di atas kepala sang putri, tak ada kata hanya sebuah kecupan tepat di ubun-ubun sang putri, kecupan yang sangat lama.


Hafidz merangkul Bunga, sang istri yang menangis tersedu-sedu, masih belum percaya jika kemarin adalah kebersamaan terakhir mereka, tak ada pesan yang di sampaikan sang adik, hanya sebuah senyuman kebahagian yang dia pancarkan.


“Senyuman terakhir yang bisa aku lihat malam itu masih membekas, jadi itu senyuman terakhir kamu dek…” Lirih Hafidz saat melihat Abi Alvian, Hafidz pun melepas pelukan bunga, melangkahkan kaki nya mendekati Abi Alvian.


“ Memandikannya nunggu Arafah sampai , sang kakak ingin memandikan adik nya bu, di persiapkan saja semua nya, begitu sampai bisa langsung di mandikan” Ujar Abi kepada ibu-ibu pengurus jenazah


Hafidz langsung memeluk sang sahabat plus adik ipar nya itu. Bukan Ayah Hafidz yang menenangkan, malah Abi Alvian lah yang menepuk nepuk punggung Ayah Hafidz.


“Seperti pesan Fatimah, dia ingin kita mengantarkannya dengan penuh kebahagian..” Ujar Abi Alvian


“Kenapa lo bisa setegar ini??” tanya Ayah Hafidz melepas pelukanya


“Gue harus tegar Fidz, lo lihat betapa terpuruknya mereka, lalu jika bukan gue siapa yang harus memberikan contoh, Gue gak mau Fatimah malah tersiksa karna ke tidak Keikhlasan kita.. dia sudah mempersiapkan semuanya, dia pergi dalam keadaan menjaga wudhu, dia pergi dengan beribadah puasa sunah, dia pergi dengan menghadap kanan, dan dia pergi meninggalkan kebagaian yang terpancar dari raut wajah nya.. gue gak mau merusak itu semua, walau jujur hati gue sakit… tapi anak-anak gue, ibu-ibu gue butuh di kuatkan…” ujar Abi Alvian sembari menatap para Wanita hebat yang mengelilingi sang istri.


🍃🍃🍃


Jazaakumullah khairon untuk semua sudah bersedia mampir dan membaca coretan demi coretan saya.... walau kadang gak jelas arah tujuan nya kemana..🤭

__ADS_1


Jazaakumullah khairon untuk dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰 Like, Komen, Vote, Gift , Tips...


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah --Al-Qur'an


__ADS_2