
Gibran Tak henti hentinya nya menghembuskan napas panjang, dan tangan Almeera pun juga tak henti mengelus tangan Gibran, seperti sedang menyalurkan kekuatan untuk sang suami.
tab...tak..tab...
Terdengar langkah kaki saling bertautan, wajar namanya juga restoran kan, sudah jelas banyak pengunjung.
ceklek
Pintu private room yang ada Gibran dan Almeera pun di buka.
"silahkan pak,. di sini ruangan nya" ujar salah satu pramusaji mempersilahkan Abi Alvian dan Azzam masuk ke ruangan.
"Abi..." sapa Almeera sambil beranjak dari duduknya lalu mencium takzim tangan Abi, di susul oleh Gibran
"silahkan Duduk Bi, sebentar lagi pesanan datang.." ujar Gibran mempersiapkan Abi dan Azzam duduk
"kenapa harus makan di luar, kenapa gak di rumah aja..??"
"sebenarnya bukan hanya makan siang Bi, ada yang mau Gibran bahas dengan Abi.. tapi nanti setelah kita makan siang ya Bi.."
Abi mengerutkan kening nya mendengar penuturan Gibran, tapi di detik berikutnya mengangguk kan kepalanya.
Hidangan makan siang pun datang.
"Meera tadi yang pesan kan Bi..." ujar Almeera saat sang Abi melihat menu favorit nya tersedia, Rawon dengan sambal plus telur asin.
"gak tahu sich sesuai selera apa gak menu di sini, semoga sesuai ya Bi..." ujar Gibran
"In Syaa Allah enak, tapi tetap gak ada yang bisa mengalahkan enak nya masakan Umma dan anak Abi satu ini" puji Abi
Almeera memilih membuka cadar nya, karna ini memang private room, jadi aman untuk Almeera.
Menikmati hidangan makan siang dengan diam,hanya suara sendok yang terdengar, ada pun obrolan hanya sesekali saja, dan tak jauh dari membahas menu hidangan yang tersedia.
Makan siang pun selesai, dan meja juga sudah di bereskan oleh pramusaji, hanya tersedia buah dan minuman saja.
"tadi kata nya ada yang mau di bahas... apa itu??" tanya Abi Alvian
Gibran dan Almeera saling pandang, tangan Gibran tak lepas dari genggaman Almeera. Tiba-tiba tenggorokan nya seakan kering, mulut nya terkunci, otak nya ngebleng, seperti kata Almeera, perbanyak istighfar, itulah yang sedang Gibran lakukan.
__ADS_1
"Bi..." ujar Gibran membuka suara, tapi terhenti
"kenapa kok kayaknya ada hak yang sangat serius..??"
"kalian baik-baik saja kan??"
"kami baik Bi..." jawab Almeera, tangan kiri nya di genggaman oleh Gibran, dan tangan kanan nya meraih tangan kiri Abi lalu di genggaman nya.
"Bi...Gibran mau meminta maaf sebelumnya..."Ujar Gibran lalu di lanjutkan dengan menceritakan niat awal nya mendekati Almeera, hingga memutuskan mengkhitbah Almeera, bahkan hingga kondisi mereka saat ini.
Mata Abi terpejam mendengar semua pengakuan Gibran, tangan nya menggenggam tangan Almeera begitu kuat, hati nya sakit bagai di sayat,ingin marah tapi ada hati yang sang Abi jaga,.hati sang buat hati nya.
Air mata Abi menetes, bagaimana bisa apa yang menjadi kecurigaan nya sejak Almeera membahas hasil operasi, di tambah nama Manggala di ada di nama Gibran, membuat Abi harus membuka masa lalu.
"Gibran siap menerima kemarahan Abi, tapi Gibran mohon jangan ambil Almeera..." mohon Gibran setelah selesai menceritakan semua nya
Abi hanya bisa diam, di usapnya wajah nya perlahan, di hembuskan nya napas panjang, lalu tiba-tiba mata Abi melihat ke arah Almeera, di tatapnya mata sang putri tercinta.
Sakit... bagaimana mungkin putri kecil nya itu menanggung semua itu sendirian, dan dia nampak begitu tenang. itu lah yang Abi pikirkan tentang jalan hidup sang putri kecil nya.
"Kurang Lebih hampir delapan tahun lalu...saat itu ada pasien yang baru saja di rujuk dari rumah sakit A, rekan Abi lah yang menangani, karna waktu itu Abi juga sedang ada operasi, sedangkan ayah Hafidz sedang di Semarang" ujar Abi memulai cerita
Flashback On
"Sus, tolong hubungi Dr. Alvian apakah bisa membantu saya di sini, ini darurat" ujar Dr. Gunawan
"baik dok..." ujar sang suster lalu mendatangi ruang operasi dr. Alvian, kebetulan dr. Alvian juga baru selesai melakukan operasi di ruang sebelah
Dr. Alvian pun langsung berlari menuju ruang operasi, mensterilkan diri lalu masuk ke ruang tindakan, Dr. Gunawan pun Memberi tahu kondisi pasien.
"Bagaimana bisa tidak tertera rekap medis soal tindakan sebelum...??" tanya Dr. Alvian
"tidak ada dok, dan ada luka yang tidak di tutup saat operasi pertama, itu yang menyebabkan kondisi pasien menurut dok, dan ini sudah sangat terlambat"
"Bismillah, kita akan berusaha, pertama lakukan tindakan di bagian luka lama yang terbuka, dan sterilkan dulu.." instruksi Dr. Alvian
Dua jam lebih di ruang operasi, berusaha melakukan yang terbaik, semaksimal mungkin. segala upaya di lakukan, tapi kondisi pasien semakin menurun, denyut nadi juga semakin lemah.
Hingga operasi selesai, dr. Alvian dan team hanya bisa berdoa, tapi apa yang terjadi, saat pasien sudah selesai dengan tindakan, dan juga sudsh siap akan di bawa ke ruang ICU.
__ADS_1
tiiiittttt....
Bunyi dari monitor yang membaca semua kondisi pasien.
"Dok pasien Anfal" ujar salah satu perawat, Dr. Alvian mencoba memacu jantung, mengeluarkan semua kemampuan, tapi jika Allah berkendak itu sudah cukup, maka itu cukup.
"catat waktu kematian nya sus" ujar dr. Gunawan
Dr.Alvian dan Dr.Gumunawan pun keluar ruangan dan dengan berat hati menyampaikan kabar duka. seorang wanita pun ambruk , dan tak lama kemudian sorang anak remaja datang memeluk sang mama, mencari tahu apa yang terjadi.
Flashback Off
"Anak remaja itu kamu kan Bran...?? anak remaja yang memukuli dada saya waktu ini, anak remaja yang menangis dalam pelukan saya kala itu..." ujar Abi
"Itulah kebenaran nya, Abi juga sudah menjelaskan kondisi papa kamu ke mama kamu beberapa hari setelah papa kamu di makamkan, saya,ayah Hafidz dan mama kamu juga sempat menuntut rumah sakit A atas keteledoran dalam bekerja"
"Abi dan mama menuntut rumah sakit??"
"ya..lebih tepatnya dokter nya...dan mama kamu adalah wanita yang hebat, dia bukan menuntut ingin memasukkan ke penjara, tapi menuntut ke jujuran sang dokter, dan Tampa mama kamu minta, pihak rumah sakit mencabut izin praktek sang dokter"
"sejak kejadian itu, baik kami pihak RSH dan mama kamu tidak pernah ada konsultasi lanjutan, yang saya dengar kalian pindah
"hanya satu pesan mama kamu sebelumnya, agar saya memaafkan tindakan kamu yang memukul-mukul dada saya waktu itu"
"kenapa mama gak pernah cerita...??" tanya Gibran
"waktu itu kamu masih labil,. jika kamu tahu kebenaran tentang rumah sakit A, mama kamu takut kamu akan melakukan hal lebih, itu yang Abi tahu"
"itulah kebenaran yang terjadi, tidak Abi kurang atau Abi tambah.."
"kami hanya pindah rumah Bi, karna rumah lama begitu banyak kenangan dari papa, sejak pindah mama seperti orang depresi dan kurang lebih setahun mama ikut menyusul papa" ujar Gibran
🍃🍃🍃
Lanjut... kita Lanjut???🤭
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
__ADS_1
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an