
Saat mobil sampai di area rumah sang adik tercinta, Ummi Arafah langsung berlari menerobos keramaian, Abah Fatih ingin meminta Ummi untuk bersabar, tapi sepertinya itu percuma.
Tubuh nya seakan membeku saat sudah berada di ruang tengah melihat sekeliling banyak yang sedang mengaji di dekat jenazah yang tertutup kain itu. Dada nya sesak, bibir nya gemetar, kaki nya berat untuk dia langkahkan.
“Ummi…” suara Khadijah terdengar sangat lembut sembari mengelus Pundak sang Ummi, tak lama kemudian disusul kedatangan Adam, Abah Fatih, Bilqis, dan juga anak-anak pondok, tapi anak-anak pondok mereka semua menunggu di luar, karna ruangan sudah cukup ramai.
Tidak ada yang tak mengeluarkan air mata, Umma Fatimah adalah sosok Wanita yang baik, banyak menolong orang-orang di sekitanya, bahkan orang yang baru dia kenal, saksi nya adalah para Pegawai Fazah Butik, yang sekarang mereka semua sudah punya usaha mandiri berkat bantuan Allah melalui tangan seorang Wanita yang Bernama Fatimah Azahra.
Dilangkah kaki nya perlahan, tiba-tiba tubuh nya terkulai lemas tak berdaya saat membuka kain yang menutupi wajah cantik sang adik tercinta.
“Jadi ini inti dari pesan kamu malam itu, kamu sudah mempersiapkan semua nya, kamu sudah sadar akan kondisi kamu dek, tapi kenapa secepat ini, bahkan kakak baru saja meninggalkan rumah ini kemarin”
“Ikhlaskan, Fatimah ingin kita mengantarnya dengan penuh kebahagiaan, sudah waktu nya untuk memandikannya, agar prosesi lain nya bisa segera kita laksanakan juga” Ujar Abi Alvian berusaha tegar
……
Semua sudah berada di area pemakaman, peristirahatan terakhir untuk setiap hamba Allah yang bernyawa. begitu banyak yang menghadiri prosesi pemakaman Umma Fatimah, sepertinya itu tanda bahwa Umma Fatimah banyak yang menyayangi nya.
Abi Alvian, Aki Aditya dan Azzam sudah berada di liang lahat bersiap menyambut jenazah Umma Fatimah. Membaringkan jenazah umma dengan sangat hati-hati.
Almeera kaki nya gemetar, lemah tak berdaya, tubuhnya bertopang pada tubuh Gibran, semua saling menguatkan. Berusaha menahan air mata, berusaha menerbitkan sebuah senyuman. Umma di makamkan tepat di samping makam Aisyah , bidadari surga Umma.
Abi Alvian mengumandangkan adzan dengan suara serak menahan tangisan. Tampak sangat jelas Abi sedang berusa kuat dan Ikhlas.
Seiring dengan Abi, Aki dan juga Azzam naik ke atas, tanah pun mulai di masukan Kembali ke linang lahat, menutup rapat . Sebuah Papan nisan yang terukir indah, dan itu hasil dari ukiran sang Abi untuk sang putri tercinta, Bunga pun di tabur, doa dan doa di ucapkan, berusaha melepas dengan senyuman. Tiba-tiba tubuh Uti Kianara ambruk, Uti pun pingsan.
……
Cukup lama Uti pingsan, dan mereka semua sudah berada di kediaman Abi Alvian.
__ADS_1
“Fa…Fatimah…” terdengar suara Uti yang mengigau memanggil nama sang putri
Aki pun mendekat, berusaha membangunkan Uti.. dan Uti pun mulai membuka mata nya perlahan, Aki menarik tangan Uti, di cium nya cukup lama.
“Fatimah akan sangat terluka melihat umma nya terpuruk seperti ini… Umma lihat senyum yang terbit di bibir nya, dia sangat Bahagia, maka kita juga bisa Ikhlas” ujar Abi
“Umma ingat.... dulu umma menjadi kekuatan untuk Fatimah saat harus kehilangan Aisyah, bahkan dia tak sempat melihat,apalagi mencium atau memeluknya, Menyentuh pun tidak, tapi kita diberikan waktu yang Panjang bisa bersamanya, melihat nya tumbuh, menikah, bahkan sampai anak-anak nya juga menikah…”
“Waktu yang Allah berikan untuk kita sudah cukup lama,maka seharusnya kita harus bisa lebih ikhlas…”
“Ingat…Orang yang sudah meninggal akan disiksa karena tangisan orang yang dia tinggalkan, Umma mau Fatimah di siksa karna kita yang tidak ikhlas…??”
Seketika Uti menutupi wajah nya, lalu di usapnya wajah itu hingga tak ada lagi terlihat ada air mata di pipi Uti.
“Menangis lah, tapi harus wajar, karna menangis di tinggalkan orang yang kita sayangi itu bukan kesalahan, itu manusiawi, itu sudak sifat nya manusia, itu tidaklah di larang dalam Agama kita, yang dilarang itu menangis secara berlebihan, meratapi nya, seakan kita tidak terima dengan ketentuan Allah..”
“Air mata itu Halal Uti…yang Haram itu adalah Ucapan seperti sabda Rasulullah”
“Sesungguhnya mata meneteskan air mata, dan hati bersedih, maka janganlah kita mengatakan sesuatu kecuali perkataan yang diridhai Allah SWT, dan sesungguhnya , kami semua umat islam bersedih atas kepergian Ibrahim” tambah Adam
Uti pun duduk lalu merangkul sang cucu laki-laki nya itu.
“Ada yang lebih sedih saat ini, Alvian, tapi dia berusaha tegar,bahkan mungkin air mata nya sudah tak mampu untuk keluar, dia yang paling terluka disini, tapi dia pula yang paling semangat mengurus semua nya.. maka kita juga harus bisa tegar” Ujar Hafidz yang baru saja masuk
“ya… Abi bisa lihat, jika diibaratkan cuaca, sangat mendung, bahkan gelap, air hujan seakan tak mampu dia bendung, tapi dia berusaha kuat..” Balas Aki Aditya
“Persiapan Takziah malam ini sudah di urus restoran kita, bahkan sudah banyak kue serta makanan yang dikirim kesini dari tetangga dan orang-orang yang mengenal Fatimah” Ujar Alif, paman dari Umma Fatimah, Kakak kandung dari Uti Kianara
“Dia begitu di sayangi banyak orang, maka kita harus berbahagia, kita harus bisa ikhlas..” Balas Aki Aditya
__ADS_1
…..
Dikamar lain Nampak Almeera yang sedang memeluk foto umma,sesekali di kecup nya. Gibran yang baru membuka pintu membuang napasnya kasar melihat pemandangan itu. Walau belum lama mengenal Umma, bahkan kebersamaan bersama umma cukup singkat, tapi dia sudah menyayangi umma, umma begitu hangat dengan nya, tak membedakan antara dia dan Azzam.
“Udah adzan, kita batalkan dulu ya..” ujar Gibran sambal duduk di samping Almeera, menyodorkan air hangat, dan ada juga kurma di atas piring kecil.
“emang udah adzan??” tanya Almeera
“Tadi mas denger kata kak Adam… jika kita boleh bersedih, tapi bukan meratapi, air mata itu halal, yang haram adalah ucapan kita, dan akan disiksa dia yang meninggal karna ke tidak keikhlasan kita, karna air mata kita… gak mau kan Umma merasakan itu semua???” tenyata tadi Gibran sempat mendengar perbincangan di kamar Uti
“Astagfirullah…” Almeera beristighfar
“Gak lupa kan pesan umma tadi malam, antara kan Umma dengan penuh kebahagian”
“ya meera tahu mas, tapi…” Gibran menutup mulut Almeera dengan jari telunjuknya
“jangan ada kata tapi, karna itu membuktikan kita tidak terima dengan ketentuan Allah… mas tahu ini gak mudah, tapi kita harus belajar..”
“Baru beberapa jam, meera udah kangen banget sama Umma..”
“umma butuh doa anak-anak nya, bukan air mata…” balas Gibran berusaha memberikan kekuatan untuk sang istri, walaupun sesungguhnya berat untuk mengatakan itu semua, bahkan dulu Gibran pun sangat terpuruk atas kematian orang tua nya, tapi dia banyak belajar sejak mengenal keluarga Almeera.
🍃🍃🍃
Jazaakumullah khairon untuk semua sudah bersedia mampir dan membaca coretan demi coretan saya.... walau kadang gak jelas arah tujuan nya kemana..🤭
Jazaakumullah khairon untuk dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰 Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah --Al-Qur'an
__ADS_1