
Tamu undang sudah kembali ke kediaman masing-masing, tersisa beberapa kerabat dekat yang masih stay, sedangkan para pengantin wanita sudah berada di kamar masing-masing, Azzam dan Gibran masih duduk berbincang dengan keluarga.
"kalian naik aja dulu, berbersih nanti kita sholat jamaah di mushola rumah saja" ujar Abi
Dan dua pengantin pria itu malah saling pandang.
"masih pada malu di Al..." goda Hafidz
"kalian ini kayak gak pernah pengantin baru aja, awal-awal kan pasti malu..." goda Aki Aditya, setiap kata yang keluar seperti di tujukan untuk menggoda para pengantin baru itu.
"apalagi Almeera tadi,Aki jadi ingat waktu baru selesai ijab kabul dengan Uti...persis seperti itu,. beda nya dulu waktu selesai ijab kabul Aki memakai cadar untuk Uti kalian, tapi kali ini berbeda Gibran malah baru mau membuka cadar cucunya Aki nanti di kamar" ujar Aki sambil menepuk pundak Gibran sembari mengenang masa lalu.
"Aki bersyukur, kalian semua bisa menjalankan pernikahan dengan istilah pacaran halal, semoga Azzam dan Gibran juga bisa menjalani semua dengan niat ibadah, pertempuran kalian baru akan di mulai, jadi harus sama-sama saling berjalan beriringan.. jika ada permasalahan segera selesaikan" nasihat Aki
"Jangan mudah berkata kasar apalagi membentak, karna apa, wanita itu sanggup mengerjakan apapun, masak ambil nyuci, sambil ngurus anak, bahkan dia bisa menjadi seorang ayah untuk anak-anak nya, beban berat sanggup dia pikul, tapi satu bentakan saja bisa membuat mereka bagai tak bertulang"
Almeera yang berada di kamar baru selesai membersihkan diri nya, sudah nampak fres dan cantik dengan balutan gamis berwarna army dan dengan hijab yang senada.
Gibran melangkahkan kaki nya menuju kamar Almeera, ada rasa ragu, tapi dia mau kemana? tidak ada pilihan kan? lagi pula dia juga harus mandi, sebentar lagi waktu magrib pun akan datang.
Dibukanya pintu kamar perlahan, dan saat memasuki kamar itu mata nya terpaku pada sosok wanita yang nampak asing pasti nya, wanita yang sedang duduk di sofa dengan Al-Qur'an di tangan nya.
walau jauh, tapi ukiran sang maha pencipta dapat dia lihat dengan jelas, perpaduan yang indah, hidung mungil dan terbilang mancung walau tak seperti prosotan, pipi yang nampak chubby dan kemerahan-merahan seperti nya efek make up, walau tipis karna kulit nya yang putih jadi nampak terlihat jelas, bibir tipis merah muda, yang tak henti melafazkan ayat-ayat Allah, lirih tapi masih bisa Gibran dengan, begitu merdu di pendengaran Gibran.
Pintu yang belum sempat Gibran tutup karna terlepas dari genggaman nya membuat nya tertutup dengan sendirinya, dan suara yang di timbulkan membuat dua insan itu kaget.
membuat dua pasang manik itu saling menatap, kan sudah halal jadi lebih dari sepuluh detik gak dosa kan.
"hmmm...." dehem Gibran berusaha mengurai ke gugupan nya
Almeera bingung harus bagaimana, Jantung tak karuan, Bagaimana tidak, kali pertama satu kamar dengan pria yang baru dia kenal, ya sekalipun sudah halal, gugup, Canggung, grogi sudah pasti kan.
"shadaqallahul adzim..." ucap nya sambil menutup Al-Qur'an nya lalu di letakkan di atas meja
"masyaallah.. cantik" puji Gibran namun sayang hanya di dalam hati
__ADS_1
"hmmm.. mas mau mandi pakai air hangat atau air biasa, biar Meera siapkan??" tanya Almeera mencoba memberanikan diri, Berusaha mengurai rasa gugup nya
"pakai air biasa aja.." balas Gibran sambil berlalu menuju kamar mandi
Sesampai nya kamar mandi Gibran mengelus dada nya, membuang nafas nya kasar, begitupun Almeera.
Almeera membuka koper Gibran, ada baju Koko dan juga sarung, itu jadi pilihan yang Almeera ambil, dan di letakkan nya di atas ranjang.
Kurang lebih sepuluh menit Gibran membersihkan diri nya, dan saat sudah selesai, tiba-tiba dia menepuk keningnya..
"handuk...lupa bawa handuk lagi..." kesal Gibran, karna ke gugupannya membuat nya lupa membawa handuk dan juga pakaian ganti.
Almeera tahu Gibran lupa membawa handuk nya, karna masih terlipat rapi di dalam koper, tapi dia juga gak berani untuk mengetuk pintu.
Tapi Gibran mau tidak mau harus memanggil Almeera juga kan, mungkin jika kamar nya sendiri dia tidak akan ragu untuk berlari keluar, tapi ini dimana?? dan dia juga sedang bersama siapa??
"Meer...Meera bisa bantu saya..??" teriak Gibran dari balik pintu dengan sedikit terbuka
"hmmm... ini Handuk mas ketinggalan..."ujar Almeera Tampa membalas pertanyaan Gibran, sembari menyodorkan handuk dari sela-sela pintu yang terbuka.
Dan saat Gibran sudah keluar dia tidak melihat sosok sang istri, melainkan melihat pakaian sholat nya, lengkap dengan dalaman yang tertata rapi di atas ranjang.
Gibran tersenyum melihat itu semua, bagaimana tidak, Almeera begitu cekatan.. dan saat sudah memakai pakaian nya dia mencari keberadaan Almeera, dia baru sadar bahwa Almeera ada di balkon,tak lama kemudian adzan magrib berkumandang.
Almeera dan Gibran hampir saja tabrakan, Almeera akan masuk dan Gibran akan keluar, lagi-lagi dua pasang manik itu saling menatap.
Tapi semua terbuyarkan kan suara ketukan pintu.
tok...tok...tok
"Gibran, Meera, di tunggu sama Yang lain di mushola..." panggil Umma
"iya Umma sebentar..." balas Almeera sambil berlari kecil menuju tempat wudhu yang terpisah dari kamar mandi.
Selesai berwudhu merekapun menuruni tangga bersamaan, Almeera sudah lengkap dengan mukena dan cadar nya, Almeera memilih mengenakan cadar nya, karna yang dia tahu masih ada beberapa kerabat lain yang berada di rumah Abi.
__ADS_1
Sholat magrib pertama saat sudah berstatus halal untuk dua pasangan halal itu, sudah jadi kebiasaan Almeera selalu bertilawah saat selesai magrib, dan akan dia akhiri saat adzan isya berkumandang.
"Mau gabung sama yang lain??" tanya Azzam ke Gibran, Gibran tak menjawabnya malah melihat ke arah Almeera
"kalau Meera Jangan di tunggu, dia gak akan beranjak sebelum selesai solat isya"
Umma meminta yang akan makan di persilahkan makan terlebih dahulu karna meja makan tidak muat, sebenarnya Gibran sudah lapar tapi entah apa yang membuatnya memilih untuk menunggu Almeera.
"Mas mau makan duluan, biar Meera siapakan...??" tanya Almeera tiba-tiba
"nanti saja selesai sholat isya" balas Gibran
Dan benar saja mereka pun makan setelah selesai sholat isya, Almeera dengan sabar melayani Gibran, walau sebenarnya Almeera sendiri masih cukup canggung dengan status baru nya, tapi dia berusaha melakukan semampu yang dia bisa.
Entah mengapa Gibran merasa bahagia dengan perlakukan Almeera, serta kehangatan yang keluarga Almeera berikan.
"Soraya di rumah sendiri ya mas??" tanya Almeera saat makan malam mereka sudah selesai
"iya.. mau bagaimana lagi"
"kapan rencana mau pulang??" Gibran melihat Almeera mendengar pertanyaan itu
"secepatnya dan kapan kamu bisa..." balas Gibran
"kalau besok memang mas udah pengen balik Kerumah Meera siap ikut kok"
🍃🍃🍃
Lanjut...???
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an
__ADS_1