
Almeera dan Gibran sudah dalam perjalanan menuju pasti asuhan mereka memilih langsung menuju panti, tidak ke rumah Abi dulu agar tidak perlu putar balik lagi.
Saat Mereka sampai mobil Abi dan mobil Azzam sudah terparkir, begitu Almeera keluar dari mobil dia langsung di serbu dengan anak-anak panti.
"kak Almeera...." teriak mereka,. Almeera merentangkan tangan nya, dan mereka langsung mengelilingi Almeera, Gibran hanya tersenyum tipis melihat interaksi mereka, berjalan ke arah bagasi dan membuka bagasi mobil nya.
"udah masuk ajaran baru kan...?? yuk kak Meera bawakan AtK... yuk di bawa masuk.."
"makasih kak Meera..."
Almeera jalan beriringan bersama anak-anak membawa belanjaan yang Almeera beli tadi sebelum ke panti, dan Gibran mengekori mereka.
"Kak.. kakak ganteng, lebih ganteng lagi kalau senyum lebar..." ujar salah satu anak panti, Gibran membalas dengan mengacak rambut anak itu
Saat sudah di dalam, mereka langsung bergabung dengan keluarga besar nya, nampak Dilara yang sedang gelendotan dengan ibu panti. sedangkan Almeera langsung merangkul Umma..
"iih gak malu udah nikah kok malah gelendotan sama Umma.." goda Azzam
"biarin ya kan Meer, di peluk suami sama ibu itu beda rasa ya..." Dilara yang menjawab karna dia pun sedang melepas rindu dengan ibu panti
"Di peluk suami?? di genggam tangan aja gak pernah" batin Almeera
"tapi biasanya pelukan suami lebih berasa hangat loh..." ujar ibu panti
"Bu panti bisa aja ya, ya dimaklumi masih pengantin baru, biasa masih lengket-lengket nya, walau kadang malu-malu kucing.." balas Umma
"umma.. andai Umma tahu, jangan kan di peluk, tidur satu ranjang aja Meera belum pernah" lagi-lagi batin nya yang berbicara
"gak apa-apa kan udah halal..." balas Abi
Cukup lama mereka di panti ada beberapa panti yang mereka berikan donasi. pembahasan di panti tadi membuat Almeera dan Gibran semakin membisu di dalam mobil, kini mereka dalam perjalanan menuju rumah Abi.
Sesampainya di rumah Abi mereka sudah di sambut oleh Ayah Hafidz beserta keluarga.
Almeera dan Gibran mencium takzim tangan Ayah Hafidz dan bunda Bunga.
"ada acara apa Bi...??" tanya Gibran karna melihat banyak perlengkapan di taman
"pada ngajak barbeque an mereka, kalian nginep kan??"
"Gibran gak bawa baju ganti Bi..."
"ada baju Abi atau baju Azzam.. jadi aman, malam ini Aki dan Uti juga datang" balas Abi dan mau tak mau Gibran harus menuruti keinginan Abi
Almeera dan Gibran sudah di kamar, masih seperti biasa tak banyak Obrolan.
tok...tok..tok...
"Meer...Meera" panggil Umma
__ADS_1
"iya sebentar Umma..." balas Almeera sambil berjalan menuju pintu
"iya kenapa Umma...?" tanya Almeera saat pintu sudah terbuka
"ini ada beberapa pakaian Abi yang belum pernah dipakai, dalaman nya juga masih baru kok, jadi bisa Gibran pakai"
"oh ya makasih Umma.." ujar Almeera sembari menerima beberapa pakaian untuk Gibran.
"ya sudah Umma mau ke bawah dulu" Almeera membalas dengan anggukan
Gibran nampak sedang berdiskusi dengan seseorang dengan benda pipih nya.
"Ok...Lo atur aja kapan waktu dan tempat nya,. nanti kita bahas lebih lanjut" ujar Gibran lalu mematikan sambungan telefon nya
"Mas ini ada beberapa baju Abi, belum pernah Abi pakai kok semua nya, jika mas berkenan untuk memakainya" ujar Almeera sembari meletakkan pakaian itu di atas ranjang. lalu Almeera menuju lemari nya, mengambil handuk dan juga pakaian ganti lalu menuju kamar mandi.
Gibran menatap pakaian itu, Gibran paham akan maksud perkataan Almeera, yang Almeera tahu sang suami membenci sang Abi.
Almeera sudah selesai mandi, sudah keluar dengan pakaian lengkapnya, dan gantian Gibran yang menuju kamar mandi, tak lupa membawa pakaian ganti nya.
Postur tubuh Mereka tak terlalu jauh perbedaannya, walau masih lebih berisi Abi jadi pakai Abi masih bisa Gimban pakai.
Ada rasa syukur yang Almeera ucapkan dalam hati karna sang suami mau memakai pakaian sang Abi, ya walaupun sebenarnya itu pakaian baru, tapi biasanya jika seseorang sudah membenci hingga mendarah daging, dia pasti tidak akan Sudi untuk suatu hal yang berhubungan dengan orang itu. tapi tidak dengan Gibran, malah terkadang Almeera melihat mereka cukup dekat.
"Semoga Allah melembutkan hati mu mas..." doa Almeera dalam hati.
Mereka menuruni anak tangga.. sore ini suasana sudah sangat ramai, tak terbayangkan jika nanti sudah ada cucu Abi Alvian pasti akan bertambah ramai keluarga ini.
"Ada di pendopo taman samping sayang..."
"Meera kesana dulu ya..." Umma membalas dengan anggukan
Merangkul tangan sang Abi saat dirinya sudah duduk tepat di samping sang Abi, menyandarkan kepalanya ke pundak sang Abi.
Ini adalah pundak pertama saat dia butuh sandaran, pundak kedua nya adalah Azzam sang kembaran.
"Bi.... akankah pundak ke tiga itu akan senyaman ini?? akankah pundak itu bisa menjadi tujuan Almeera nanti nya di saat Meera butuh sandaran" pertanyaan yang membuat hati nya tersayat, namun hanya mampu dia Utarakan di dalam hati
"kenapa...hmmm...." tanya Abi sembari melepaskan rangkulan tangan Almeera, kini Abi menangkup wajah putri kesayangannya, di tatapnya manik Almeera dengan penuh kehangatan, Punuh sayang.
Almeera membalasnya dengan gelengan dan senyuman yang sejujurnya membuat perih di hati nya.
"yakin....??" tanya Abi meyakinkan
"Yakin..." balas Almeera dengan senyum mengembang
"Ingat, jika ada hal yang ingin kamu utarakan, maka utarakan..jangan kamu pendam, sekalipun kamu sudah menikah, kami tetap orang tua yang akan selalu memikirkan anak-anak nya.. jika ada problem dalam keluarga, cari solusinya dengan kepala dingin"
Romansa anak dan ayah itu membuat Gibran ingin mendekati mereka, kaki nya melangkah perlahan.
__ADS_1
"Abi... Almeera mau tanya sesuatu.."
"apa itu??" kali ini posisi Almeera kembali merangkul lengan sang Abi
"biasanya di saat akan melakukan operasi, persentase keberhasilan apakan di jelaskan??" tanya Almeera
"ada angin apa nich tanya-tanya tetang sistem medis..??"
"pengan tahu aja..hehehe..."
Gibran yang mendengar pertanyaan itu menghentikan langkah nya, tapi tiba-tiba pundak nya di tepuk oleh ayah Hafidz.
"kenapa kok berhenti, jangan Cemburu ya sama anak dan Abi yang satu itu.." ujar ayah Hafidz
"hehe... gak lah yah..."
"ya udah yuk gabung..." ajak ayah Hafidz
"Lagi bahas apa sich, ayah boleh gabung gak....??" tanya ayah Hafidz yang sudah ikut duduk di pendopo yang ada di taman.
Almeera cukup terkejut karna ada Gibran juga di belakang ayah hafidz.
"boleh lah....sini-sini" balas Abi Alvian, Gibran pun ikut duduk bersila di samping Ayah Hafidz berhadapan dengan Almeera
"lagi bahas apa sich...??"
"ini anak kita ini tiba-tiba bahas sistem medis..."
"wah jangan bilang mau belajar medis juga mau ngalahin kakak kamu ya...??" tanya Ayah Hafidz
"gak lah yah... Udah bukan waktu nya belajar akademis, tapi belajar agama harus terus, hanya sekedar obrolan kecil aja,. pengen tahu aja"
"Semua prosedur operasi setiap dokter akan menyampaikan segala kemungkinan, bahkan kemungkinan terburuk pun harus di Sampaikan seandainya keadaan pasien yang memang kemungkinan berhasil kecil, maka dari itu keputusan di kembalikan ke pihak keluarga pasien" ujar Abi membuka jawaban dari pertanyaan Almeera
"terus jika ada pasien yang kemungkinan besar selamat tapi hasilnya malah sebaiknya bagaimana..???" tanya Almeera lagi, Gibran mendengar pertanyaan itu membuat nya menatap Almeera tajam tapi sayangnya Almeera tidak melihat itu.
"Qadarullah... kami para dokter Hanya Manusia biasa, hidup dan mati itu ketentuan Allah..tapi tak jarang dokter selalu di wajibkan menyelamatkan pasien, banyak keluarga yang tak terima, dan itu sudah biasa kami hadapi"
"Dokter bukan Tuhan... dokter pun sama seperti profesi-profesi lain, semua ada konsekuensi nya dari setiap profesi.." kali ini Azzam yang menjawab, dan ikut duduk di pendopo
"kami para dokter akan punya perang batin tersendiri saat pasien gagal untuk kami selamatkan, ada rasa sakit yang kami rasakan dan itu hanya dokterlah yang tahu rasa nya, walaupun kami diam, bahkan tak jarang kami di caci, di pukul saat hasil tak sesuai harapan" ujar Ayah Hafidz
🍃🍃🍃
Lanjut... apa Lanjut???🤭
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
__ADS_1
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an