Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Ketakutan Gibran


__ADS_3

Almeera yang tadi nya duduk kini beranjak mendekat ke arah Gibran yang sedang termenung di balkon.


"besok Meera temenin ya.." ujar Almeera saat sudah berdiri tepat di samping Gibran


"gak usah, biar saya sendiri aja..." balas Gibran memutar badan nya hingga menghadap ke Almeera


"maaf atas sikap kak Azzam..." Gibran kembali memutar badan nya menatap gelap nya langit malam ini Tampa bintang maupun bulan.


"Azzam gak salah sama sekali, reaksi dia sangatlah wajar, hal sama pun akan saya lakukan jika itu terjadi pada Soraya, bahkan mungkin saya gak akan segan untuk menghajar pria itu"


"saya malah gak bisa ngebayangin jika Abi tahu semua nya..." tambah nya sambil memijat pangkal hidung nya


Almeera merangkul lengan Gibran.. "Meera percaya Abi bukanlah sosok yang akan menghakimi seseorang.."


Gibran kembali memutar tubuhnya, dan kini malah membawa Almeera dalam pelukan.


"bagaimana jika Abi mengambil kamu lagi dari sisi saya... seperti yang Azzam ucapkan, akan membebaskan kamu dari pemikiran ini,. apa lagi..." ucapan Gibran terhenti, berat untuk mengungkapkan nya


"apa lagi apa...??" tanya Almeera sambil mendoakan kepalanya, membuat kedua manik mereka saling menatap


"huuft....apalagi saya belum bisa menunaikan kewajiban saya.."


"mas.. bisa sampai di titik saat ini saja Meera udah bersyukur banget, In Syaa Allah kedepannya kita bisa lebih baik lagi.." Gibran merangkul Almeera.


:::


Sesuai permintaan Azzam siang ini Gibran sudah berada di parkiran RSH bersama Almeera, karna beberapa jam lalu Azzam sempat menghubungi Almeera untuk ikut ke RSH.


Gibran dan Almeera langsung menuju ruangannya Azzam. Azzam pun sudah menunggu mereka berdua di ruangan, sesampainya di ruangan mereka langsung duduk di sofa ruangan Azzam, dan Azzam juga sudah menginfokan ke Perawat, tugas nya hari ini di gantikan oleh dokter lain.


Azzam menyodorkan sebuah map berwarna biru.


"apa ini??" tanya Gibran


"Ini rekap kesehatan papa kamu Bran, pak Manggala, saya udah coba pelajari dari tadi pagi.. dan yang paling mengejutkan bahwa Abi Beberapa hari lalu juga baru saja menarik berkas ini"

__ADS_1


"maksud kak Azzam..??"


"Meer....Abi bukan lah seorang ayah yang tidak peka terhadap anak nya, menurut kakak, Abi sudah curiga mengenai nama Manggala yang ada di belakang nama Gibran, di tambah dengan pertanyaan kamu beberapa waktu lalu, mengenai hasil di meja operasi" ujar Azzam dan itu membuat Almeera dan Gibran saling menatap, tangan Gibran menggenggam tangan Almeera erat.


"Bran... jujur saya masih kecewa sama kamu, tapi apapun pilihan adik saya, saya hanya bisa mendukung, tapi jika adik saya terluka saya juga tidak akan tinggal diam"


"Saya sangat paham dengan sikap kamu Zam, jika saya di posisi kamu, hal sama bahkan mungkin lebih pun akan saya lakukan untuk melindungi adik saya"


"saya cuma berharap dengan melihat hasil ini, kamu lebih bisa menghargai hubungan kalian.."


Azzam membuka lembar demi lembar laporan medis milik papa dari Gibran.


"saya bukan mau membela Abi, tapi jika dari rekap medis ini, Pak Manggala sudah mengalami komplikasi di jantung nya, dan ternyata sebelum nya, pak Manggala sudah melakukan operasi di rumah sakit A, dan sangat di sayangkan kondisi itu tidak di jelaskan di rekap medis sebelum nya, disaat pasien di rujuk"


"maksud kak Azzam ada nya kurang informasi dari pihak rumah sakit A??"


"iya dek... sedangkan pihak RSH memberanikan melalui operasi berdasarkan rekap medis yang di berikan pihak A..."


"dan yang menjadi dokter utama nya adalah dokter Gunawan, Abi membatu di saat sudah darurat, di saat keadaan pasien benar-benar sudah drop"


Gibran mengepal tangan nya erat. dan dia juga membenarkan jika sebelumnya memang sang papa sempat di operasi, tapi semakin hari Kondisi semakin menurun.


"di operasi sebelumnya ada kesalahan penangan Bran, itu lah penyebab kondisi papa kamu kondisinya menurun, itu menurut saya.."


"kalau boleh kakak kasih saran, kalian jujur lah dengan Abi, untuk tahu kronologis nya.."


"saya belum berani.." balas Gibran sambil menatap ke arah Almeera


"kenapa...?? kamu takut Abi akan mengambil kembali Almeera...??" tebak Azzam, Gibran memejamkan mata nya membuang napas panjang


"Bran.. percaya atau tidak, Abi sudah tahu tentang kamu, hanya Abi tidak mungkin menanyakannya, Abi bukanlah orang yang suka menghakimi, jika kamu serius, maka tunjuknya keseriusan kamu.."


Almeera mengelus punggung Gibran.


"Saya sudah kehilangan dua orang yang saya sayang Zam... Saya gak siap jika harus kehilangan lagi" balas Gibran

__ADS_1


"tapi kesalahan pahaman itu harus di luruskan, jika belum bisa sekarang gak papa, tapi tetap saya berharap kamu bisa jujur dengan Abi...saya tahu masa lalu tidak semua bisa di ungkapkan, tapi dengan saling terbuka, tapi untuk kasus kamu itu, jujur dengan Abi itu akan membuat kamu bisa lebih plong menjalani rumah tangga kalian"


"Saya yakin, kamu pasti masih merasakan ada yang mengganjal kan??"


"maka kamu harus bisa membuka pengganjal itu, agar jalan kamu bisa lebih lancar"


"saya marah, tapi saya berusaha sabar, mungkin benar kata Almeera, ini sudah jalannya yang akan menuntun kamu bisa mengetahui kebenarannya, lebih ikhlas menerima takdir Allah" ujar Azzam lagi sambil menatap Almeera


"kamu tahu dek, kakak marah pada diri kakak sendiri, dulu kakak orang pertama yang akan tahu apapun kondisi kamu, tapi saat ini kami harus menanggung semua ini sendirian, Kakak kecewa dengan apa yang kakak dengar, tapi kakak berusaha ambil hikmahnya, dengan mengetahui semua nya, setidaknya kakak bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan, kakak akan berusaha membatu kalian semampu kakak..."


"maafin Meera gak bisa jujur, karna Meera.."


"gak perlu di jelaskan, kakak paham kok, sekarang kalian kumpulan keberanian untuk jujur ke Abi, dan mencari tahu kronologis nya lebih jelas lagi.."


"makasih Zam... saya akan berusaha menjaga kepercayaan kamu, saya akan cari waktu yang tepat untuk jujur dengan Abi.. untuk saat ini saya masih takut, sangat takut.."


"ya...saya paham, titip Almeera, tolong jangan sakiti dia, jangan kecewakan dia..." menatap sendu pada Almeera


"In Syaa Allah..."


"Abi dimana kak??"


"Abi sedang ke rumah singgah memeriksa pasien di sana, makanan kakak berani minta kalian datang ke RSH..."


"berkas ini harus saya ambil lagi Bran, karna ini milik RSH.." Gibran menjawab dengan anggukan


Sepanjang jalan pulang Gibran tak melepaskan genggaman nya, Almeera saat paham, ada ketakutan yang sedang melanda Gibran.


🍃🍃🍃


Lanjut... kita Lanjut???🤭


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...

__ADS_1


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2