
🌠Jauh dari Al'quran\=Rapuh & Hampa🌠
*****************
Bik Atun dan pak Yusep yang melihat kembalinya sang majikan dengan selamat pun tak bisa untuk tidak meneteskan air mata.
Gibran dan Soraya sudah seperti anak mereka, mereka sudah bekerja jauh sebelum orang tua Gibran meninggal, merekalah yang ada untuk menemani Gibran saat Gibran harus berjuang sendirian.
Pak Yusep langsung merangkul Gibran.
"Ya Allah den, kami menanti kepulangan Aden sampai gak bisa tidur, malam begitu lama rasa nya.." ujar pak Yusep
"Alhamdulillah pak, berkat doa semua nya, Allah menolong kami..." balas Gibran
Bik Atun bukan merangkul, bik Atun malam mencubit perut Gibran
"sakit bik..." ujar Gibran sambil mengaduk
"hati bibik lebih sakit mendengar berita itu, hati bibik sakit memikirkan kondisi non Meera... " ujar Bik Atun setelah mencubit perut Gibran lalu beranjak mendekat ke arah Almeera.
"Sudah, kita ngobrol nya di dalam aja ya, Meera masih butuh istirahat..." Ujar Abi
Gibran bukan lagi memapah Almeera, melainkan Almeera langsung dia gendong.
"mas...malu ih banyak orang yang lihat.." ujar Almeera
"kami gak lihat non,.cuma ngintip aja kok..." ujar Bik Atun dan itu membuat yang lain terkekeh
"sayang, kayaknya diet kamu gagal deh..." goda Gibran
"mas iih... "
Gibran terkekeh melihat ekspresi kesal Almeera.
Bik Atun sudah menyiapkan menu untuk makan siang mereka,. dan setelah melaksanakan sholat Dzuhur, Abi , Gibran dan Pak Yusep sholat di masjid dan tiga wanita itu dirumah.
Kini mereka pun berkumpul di meja makan, kecuali pak Yusep.
"pak Yusep kenapa gak gabung sekalian..??" tanya Abi
"bapak mah gak mau kalau di ajak gabung , malu katanya, makan nya banyak..." Jawab Bi Atun dengan sedikit terkekeh
__ADS_1
"Bukannya pak Yusep dan Bik Atun sudah seperti orang tua untuk Gibran...???" tanya Abi lagi
"lebih nyaman sendiri Pak... gak papa, bapak nanti saja, lauk juga sudah di pisahkan kok pak... " jawab Bi Atun
"iya Bi...Meera juga udah bilang, jika memang gak mau gabung,. makan nya gak perlu nunggu lauk sisa, jika memang mau makan duluan langsung di sisihkan saja.." jawab Almeera
Abi menatap bangga pada sang putri, sifat sang Umma yang tak pernah memandang rendah orang lain, menganggap pegawai sebagai keluarga, bahkan banyak pegawai nya yang juga sudah membuka usaha sendiri, dan itu tak lepas dari bimbingan Umma.
Ada yang mulai membuka jasa jahit sendiri, ada juga yang buka butik dengan kerja sama dengan Butik Umma.
Ada juga yang buka usaha lain dari hasil menabung selama bekerja dengan Umma.
"Abi kenapa lihat Meera kayak gitu...??" tanya Almeera
"Abi bahagia, Abi bangga, Abi melihat diri Umma di dalam diri kamu..." ujar Abi dengan mata berkaca-kaca
"Abi sore ini harus langsung balik ke rumah ya, kan kakak kamu hari ini juga pulang, hari ke Tujuh nanti kita Tasyakuran Aqiqah, baby Reeina dan Reeisya ..." tambah sang Abi
"ngundang anak Yatin juga kan Bi..?? Gibran mau berbagi sebagai rasa syukur Gibran masih bisa berkumpul lagi .."
"sudah jadi rutinitas kita Bran, anak Yatim dan rumah singgah akan hadir juga..." balas Abi
"Salam buat Dilara dan baby R, Gibran belum sempat lihat Bi.." ujar Gibran
🍃
Malam ini seakan tak ingin lepas, Almeera selalu mengikuti kemana langkah sang suami.
"sayang.... Kok ngekor aja sih, nanti kaki nya sakit loh..." ujar Gibran
"kan ada mas yang setia mijitin kaki Meera...." jawab Almeera dengan santainya
Gibran malah mengacak rambut sang istri.
"mas mau ke kamar mandi, sayang mas ini rebahan aja ya di ranjang..." ujar Gibran sambil membawa Almeera ke ranjang
"jangan lama-lama..."
Gibran pun mengecup singkat kening Almeera lalu beranjak ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, nampak wajah Almeera yang ngambek.
__ADS_1
"kok gitu ekspresi nya ..??" tanya Gibran sambil mengambil posisi duduk tepat di samping Almeera
"lama banget..."
"mas mules sayang... masa di suruh cepat-cepat kalau belum tuntas..." balas Gibran
Almeera langsung merangkul Gibran, menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"kenapa....??" tanya Gibran sambil mengusap-usap rambut Almeera dengan lembut
"masih takut kalau ini mimpi..." jawab Almeera
"sini tidur dalam pelukan mas, biar kita mimpi indah... mimpi buruk kemarin kita ganti dengan mimpi indah malam ini.." balas Gibran
"Meera jadi takut kalau mas harus dinas ke luar kota lagi..."
"istri mas ini adalah wanita shalihah, dia tidak akan mungkin meragukan ketentuan Allah..." balas Gibran
" bukan kah kematian itu pasti akan tiba, kita tinggal menunggu giliran saja...kapan nya kita gak pernah tahu..." ujar Gibran
" tapi kita harus mempersiapkan nya dari sekarang, agar kita siap saat sudah tiba giliran kita nanti memenuhi panggilan itu.." tambah Gibran
"astagfirullah... Meera begitu takut mas,. sampaikan lupa ini semua gak lepas dari campur tangan Allah..." balas Almeera
"udah ya, sekarang kita jalani yang harus di jalani, karna Allah lah yang menentukan.." balas Gibran
"Aku pun tak kalah takutnya sayang, aku baru melewati masa terberat ku, dan Allah tunjukkan sebuah keajaiban dari sebuah musibah, tapi kamu baru akan menjalani masa terberat Mu, berjuang untuk melahirkan anak-anak kita nanti, dan itu antara hidup dan mati..." batin Gibran sambil mengecup kening Almeera
Ya... perjuangan Almeera masih dalam proses, ada jihad besar yang akan segera dia hadapi sebentar lagi.
Jihad nya seorang wanita adalah saat melahirkan, dan hanya wanita yang mampu menahan rasa sakit itu, antara hidup dan mati..
🍃🍃🍃🍃
Lanjut…???
Yang ingin tahu jadwal UP langsung Follow IG kak Ajeng ya.. @cerita_ajengkirana
Dan Sebelum lanjut ingat jangan lupa tinggalkan jejak dukungannya ya. Apapun bentuknya akan di terima, Like, vote, gift dan komen nya.
Yang belum meninggalkan jejak dukungannya, semoga dilembutkan hati nya..
__ADS_1
Jazaakumullah khairon...🙏🥰
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah –Al’Quran