Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Almeera Demam


__ADS_3

Saat hari dimana umma pergi, di saat Abi harus mengantar Umma ke peristirahatan terakhir, tak ada air mata, Abi tampak begitu tegar, tapi tidak dengan secarik surat itu,apa isi surat ini membuat air mata yang Abi tahan tumpah.


Almeera berlari keluar menuju kamar nya, Gibran dengan cepat mengejar nya, Almeera nampak duduk di sudut ranjang dengan kaki yang di rangkul nya, duduk meringkuk, tak terdengar suara tangisan tapi suara sesenggukan.


“Sayang…’’ ujar Gibran lembut sembari mengelus puncak kepala Almeera


“Hei…. Umma sudah bahagia sebagaimana apa yang Umma harapkan, kita harus Bahagia juga, Mas tahu ini gak mudah, tapi dengan kamu yang seperti ini, jika Umma bisa melihat Kita, Mas bisa jamin Umma pasti sangat terluka..’’ Ujar Gibran dengan lembut


Almeera mengangkat kepala, menatap sendu pada Gibran, mata nya nampak bengkak, dan hidung nya merah merona karna tangis nya


‘’Bukan ini yang Umma mau…’’tambah Gibran sembari mengusap air mata Almeera dengan ibu jari nya.


‘’Gimana kalua besok pagi kita Ziarah ke makam Umma..??’’ usul Gibran


Dan Almeera hanya membalas dengan anggukan


‘’Ya sudah, kita ke kamar Abi ya, abi pasti khawatir, kita sampaikan rencana kita..’’


Isi surat ini Kembali membuat Susana sendu, tapi mereka semua berusaha tegar, Umma sudah Bahagia dan mereka yakin, Umma di tempat kan di tempat tebaik.


Selepas sholat magrib mereka mengaji bersama, berdoa untuk Umma di mushola rumah.


Sesuai rencana pagi ini sebelum Almeera dan Gibran kembali ke kediaman mereka, mereka sekeluarga menyempatkan berziarah ke makam Umma dan Aisyah.


Membersihkan rumput yang ada di sekitaran makam, Bunga segar mereka tabur, bukan sebuah makam yang berdinding keramik, atau nisan dari batu marmer, sebuah makam sederhana berbalut rumput hijau, dengan nisan kayu dari hasil ukuran Aki Aditya, sang abi dari Umma Fatimah.


Selesai ziarah, Almeera dan Gibran langsung menuju kediaman mereka, karna Gibran pun harus bergegas ke SKY, begitupun Almeera harus ke butik, karna mendapat telfon dari Dea, bahwa ada calon pegawai yang akan di interview.


…..


Sepulang nya dari Butik Almeera merasa tengkuk nya sangat berat, mungkin karna seharian kepala tertunduk di depan laptop.


“biar bibik aja non yang masak…’’ ujar bik atun


‘’tapi bik…’’


‘’non bilang aja kita mau masak apa, biar bibik yang masak, non istirahat saja…’’


‘’ya sudah bik, terserah bibik aja, mas Gibran gak ada request kok, kalau gitu Meera ke atas dulu ya bik…’’

__ADS_1


‘’siap non…’’


Almeera pun menuju kamar, sesampainya di kamar,dibuka nya hijab nya, dan Almeera langsung merebahkan tubuh nya, rasa Lelah sangat dominan, dan itu membuat mata nya mudah untuk terpejam.


Gibran yang baru saja pulang dari kantor pun langsung menuju kamar, kening nya mengerut karna melihat Almeera yang sedang tertidur pulas, karna itu benar-benar buka kebiasaan dari sang istri.


Di letakan nya tas kerja, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya, selesai rutinitas di kamar mandi, Gibran langsung mengenakan pakaian santai nya, Almeera masih pulas.


Didekatinya sang istri, di tarik nya rambut yang menutup wajah Almeera ke belakang telinga,dan tampa sengaja tangan Gibran menyentuh kening Almeera, mata nya membulat karna di rasa suhu tubuh Almeera tak seperti biasa nya.


Disentuh nya kening Almeera berulang kali, dan benar saja Almeera sedang demam, suhu tubuh nya cukup panas. Di buka nya laci nakas mencari alas thermometer, di arahkan nya thermometer ke kening Almeera, dan itu menimbulkan bunyi.


Nampak dari layar digital suhu tubuh Almeera yang mencapai 39°c, mata Gibran membulat.


‘’ya Allah sayang kamu demam’’ ujar Gibran sembari menepuk-nepuk pelan pipi Almeera, tapi Almeera tak merespon


Gibran pun menghubungi Azzam, menceritakan kondisi Almeera.


“dia gak terbiasa minum obat Bran, sekarang kamu seduhkan madu, dan sediakan juga kurma, kompres kepala nya dengan air hangat, biarkan dia istirahat, jika setelah melakukan penanganan itu dia tidak membaik, baru kabarin aku lagi, nanti aku langsung ke sana..’’


“yakin gak perlu penurun panas Zam..??’’ tanya Gibran memastikan ulang


‘’gak perlu, karna dia akan menolak, di itu anti obat, kecuali udah gak mempan dengan madu, tapi In syaa Allah mempan bran, itu sudah penangan yang biasa di jalani’’


Gibran pun turun menuju dapur, meminta bik Atun menyiapkan apa yang dia minta, lalu kembali bergegas ke kamar lagi disaat semua sudah siap.


Membangunkan Almeera,dengan lemas Almeera berusaha bangun lalu memakan kurma dan juga minum madu hangat, lalu Kembali berbaring, dan Gibran pun mengompresnya.


Tak ada komentar, karna itu sudah biasa Almeera lakukan saat dirinya jatuh sakit.


Gibran dengan setia mengompres kepala Almeera, saat adzan magrib berkumandang pun Gibran membangunkan Almeera, walau masih lemas Almeera tetap memenuhi panggilan Allah.


Selesai sholat Magrib, tiba-tiba Almeera menjadikan paha Gibran yang masih bersila menjadi bantal nya, Gibran tak menolak sedikitpun.


‘’gimana..??’’ sambil mengecek suhu tubuh Almeera dengan punggung tangannya yang di letak kan di atas kening Almeera.


‘’Masih pusing, tapi udah gak sepusing tadi mas, mas tahu dari mana Meera kalau sakit minum madu dan makan kurma??’’


“mas nelfon Azzam tadi…’’ jawab Gibran

__ADS_1


‘’Meera boleh minta sesuatu gak..??’’ tanya Almeera


‘’Apa..???’’ balas Gibran lembut


‘’pijitin pelipis Meera…’’ pinta nya manja “Tapi kalau mas gak mau gak apa kok, nanti juga enakan…’’


‘’Jangan kan pelipis, seluruh badan pun mas sanggup kok..’’ balas Gibran dengan senyum sumringah dan ibu jari nya mulai memijat pelipis Almeera


‘’kalau seluruh badan udah bukan mas Gibran lagi..’’ ujar Almeera sambil terpejam, menikmati pijatan yang Gibran berikan


‘’Kok bukan mas, terus siapa donk..??’’ tanya Gibran


‘’Tukang kusuk…’’


‘’emang biasa di kusuk gitu..??’’ tanya Gibran penasaran


‘’gak sich, geli.. kecuali Umma yang ngusuk’’


‘’kalau mas yang ngusuk di jamin gak geli..’’ ujar Gibran dengan senyum super sumringah dan itu bisa Almeera lihat, karna Almeera langsung membuka mata nya lebar-lebar saat mendengar penuturan Gibran


‘’Mas mah beda tujuan kusuk nya..’’ balas nya sambil manyun


Dan itu membuat Gibran mencium singkat bibir Almeera


‘’Ihh..meera lagi kurang fit mas, gak boleh cium-cium, nanti kalau Meera ternyata flu, mas bisa ketularan loh..’’ protes Almeera


‘’ gak apa, biar bisa manja manja sama kamu sayang..’’ balas Gibran dan mengulang ciuman lagi


‘’maaas… mana enak manja-manja saat sakit… awas kata-kata itu doa..’’


Sebuah moment kebersamaan yang cukup sederhana, tapi mampu mengalihkan dunia mereka, semakin hari Gibran semakin memanjakan Almeera, bukan dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk perhatian. Soal materi Almeera lebih paham lagi.


🍃🍃🍃🍃


Lanjut…???


Kira-kira kita buat konflik apa ya..??? hehee


Sebelum lanjut ingat jangan lupa tinggalkan jejak dukungan nya ya. Apapun bentuknya akan di terima, Like, vote, gift dan komen nya.

__ADS_1


Yang belum meninggalkan jejak dukungan nya, semoga dilembutkan hati nya..aamiin


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah –Al’Quran


__ADS_2