
"kami para dokter akan punya perang batin tersendiri saat pasien gagal untuk kami selamatkan, ada rasa sakit yang kami rasakan dan itu hanya dokterlah yang tahu rasa nya, walaupun kami diam, bahkan tak jarang kami di caci, di pukul saat hasil tak sesuai harapan" ujar Ayah Hafidz
"Di ruang operasi itu antara hidup dan mati, tak jarang terkadang ada kondisi pasien yang tidak terdeteksi dan itu baru di ketahui saat di ruang operasi, itu salah satu faktor prediksi dokter meleset" Ujar Abi
"Terkadang pasien rujukan yang kurangnya penjelasan ke pada pihak ke dua juga bisa jadi problem, karna perkiraan doker A dan Dokter B kadang berbeda, tapi terlepas dari semua itu, para dokter hanya bisa berusaha, tak ada seorang dokter yang mau gagal dalam menyelamatkan pasien nya" Tambah Abi sambil mengelus kepala Almeera
"Bahkan ada yang orang tua nya sudah di infokan operasi ini beresiko dengan kondisi si anak, ngotot minta di operasi, di lakukan operasi, hasil tidak memuaskan, dokter juga yang dipersalahkan" ujar Ayah Hafidz
"Intinya yang terjadi di ruang operasi, semua team dokter pasti ingin semua berhasil, tapi ketetapan hidup dan mati ini di tangan Allah.." Ujar Abi
"Bahkan ada pasien yang dinyatakan kemungkin selama sangat kecil, sangat-sangat kecil, jika pun selamat resiko lumpuh, lupa ingatan , semua kemungkinan terburuk, tapi jika Allah berkehendak dia selamat, pulih dalam keadaan baik, maka itu semua akan terjadi, Umma kamu bukti nyata nya, walau harus koma tiga bulan" ujar Aki yang tiba-tiba datang
"Uti kamu juga, di tembak pas di bagian arah jantung, hanya kurang berapa inci ke jantung, sudah di pastikan jika terkena jantung maka tak akan selamat. di tambah Uti kamu sedang hamil muda, resiko bayi tidak selama, tapi Allah berkehendak dia selamat.." tambah Aki lagi
Almeera tersenyum ke arah sang Abi lalu merangkulnya dengan erat.. Sedangkan Gibran berusaha mengendalikan diri.
"ini pembahasan kok serius amat jadi nya ya... udah mau magrib Bi..." ujar Azzam
"yuk..yuk....kita bersiap ke mushola...." balas Abi
"Gibran ya yang jadi imam..." ujar Aki sambil menepuk pundak Gibran
"tapi Gibran merasa belum pantas Ki.."
"jangan merendah... pasti bisa.. cucu Aki In Syaa Allah gak salah pilih suami" balas Aki dan Gibran hanya bisa menganggukan kepalanya
Selesai sholat magrib, dengan Gibran yang menjadi imam, kini semua sudah berkumpul di taman samping rumah. arang pun mulai di bakar.. ada Ikan, daging yang sudah di buat menjadi sate, dan udang menjadi menu yang akan di bakar.
Selesai sholat magrib tadi Gibran masih di kamar. di tatap langit yang sudah mulai gelap itu.
"mas di tunggu sama yang lain.." ujar Almeera tiba-tiba,. tapi Gibran masih terdiam
"ya sudah Meera ke bawah duluan, nanti Meera sampaikan ke yang lain mas agak lelah" ujar Almeera seakan tahu sang suami sedang dalam keadaan tidak cukup baik, Almeera melangkahkan kaki nya, tapi tiba-tiba terhenti karna pergelangan tangan nya di raih oleh Gibran
Almeera menatap tangan Gibran yang menggenggam tangan nya.. pertama kali Gibran melakukan hal ini.
__ADS_1
"kenapa?? butuh sesuatu??" tanya Almeera
"kita turun bareng..." balas Gibran sambil menarik tangan Almeera untuk mengikuti langkahnya.
"mas semoga hati kamu mulai bisa ikhlas mendengar penjelasan tadi" batin Almeera
Bahagia itu sederhana, tapi tidak untuk seorang Gibran, tujuh tahun, bahkan hampir delapan tahun tak pernah merasakannya kehangatan,tapi malam ini, hati nya benar-benar menghangat.
"Meera itu kurang suka yang sejenis seafood, jenis seafood yang di makan cuma udang dan kepiting, itupun gak seberapa" ujar Azzam saat sedang memanggang udang bersama Gibran
"Alergi atau gimana??"
"gak terlalu suka aja.. apalagi yang sejenis kerang, gak bakal dia sentuh"
"ada lagi yang gak dia suka selain jenis seafood??"
"Gak ada sich,. sejenis hewani dia makan nya memang ala kadar nya, lebih gemar ke buah dan sayuran.." Balas Azzam dan Gibran membalas dengan anggukan.
Suasana sudah seperti camping, duduk selonjoran di atas rumput, sambil menikmati hasil Bakaran mereka.
Gibran menusuk satu ekor udang dengan garpu, lalu di arahkan ke Almeera.
"Aaakk..." ulang Gibran
"Meera udah kenyang mas..."
"sekali aja, cicipin.. ini mas yang bakar loh" Almeera mengedip ngedipkan mata nya mendengar penuturan Gibran.
"suapa suami jangan di tolak atuh dek..." ujar Azzam
"bukan nolak tapi aneh aja"guman Almeera saat lirih
Dan akhirnya satu suapan masuk.
"gimana??"
__ADS_1
"enak,. manis pedas, tapi Meera gak begitu suka sama seafood mas"
Malam pun larut, semua sudah kembali ke kamar, Almeera masih duduk di balkon kamar nya, menikmati semilirnya angin berhembus.
"kenapa gak masuk??" tanya Gibran
"gak apa-apa, lagi pengen aja menikmati hembusan angin malam"
"soal pembicaraan tadi sore di pendopo Kenapa kamu tiba-tiba bahas itu??"
" sebenarnya itu pembahasan pribadi Meera, tapi gak tahu nya semu nya ikut bergabung"
"Umma pernah koma karna kecelakaan, di tabrak luka di bagian kepala, beberapa hari sebelum hari pernikahan dengan Abi, kemungkinan kecil untuk selamat saat tipis, resikonya pun besar, bahkan dokter spesialis otak mendiaknosa akan lupa ingatandan lumpuh" ujar Almeera menceritakan kisah perjuangan Abi dan Umma, melihat ekspresi Gibran tadi saat Aki membahas ini, membuatnya ingin menceritakan nya.
"tapi Allah izinkan Umma selama.."Ujar Almeera tiba-tiba seakan tahu rasa penasaran Gibran.
"mas, sebab kegagalan operasi papa mas Gibran memang belum terpecahkan keseluruhan nya, tapi percayalah Abi, atau pun dokter lain, tidak pernah ingin pasien nya gagal"
"semoga nantinya mas bisa ikhlas menerima semua jalan yang Allah tuliskan untuk setiap hamba nya.."
"In Syaa Allah, Meera udah ikhlas dengan jalan yang Allah berikan untuk kehidupan Almeera..."
Gibran berjalan ke depan, di genggaman nya pagar balkon, bingung harus menjawab apa. tapi adanya pembahasan tadi membuatnya lebih merasa plong, walau belum sepenuhnya plong
"udah malam masuk" ujar Gibran tiba-tiba sambil meraih tangan Almeera lalu membawanya masuk ke kamar.
"Tidur lah... saya masih mau ngecek email masuk"
"ya udah Meera tidur duluan, jangan kemalaman lembur nya, jangan tidur di sofa" balas Almeera sambil merebahkan tubuh nya di ranjang, sedangkan Gibran mengambil posisi duduk di sofa, membuka email dari handphone nya.
🍃🍃🍃
Lanjut... apa Lanjut???🤭
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
__ADS_1
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an