Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Masa lalu


__ADS_3

Almeera mengangkat ransel nya dan bergegas beranjak ke depan pintu.


"mas mana kunci pintu nya, taxi Meera udah nunggu di depan.."


"saya gak izinkan kamu keluar, tidak ada tawar menawar" balas Gibran


Tok...tok..tok...


"Non,.ada taxi di depan kata pak Yusep, kata nya non Meera yang pesan"


"Bilang sama supir nya batal bik... dan tolong kasih uang kompensasi" balas Gibran cepat tak memberikan kesempatan Almeera untuk menjawab, membuat Almeera mengerutkan keningnya.


"Bik suruh tunggu sebentar lagi" ujar Almeera


"Bui dengar kan apa kata saya..." balas Gibran penuh penegasan


Bik Atun yang di balik pintu hanya bisa geleng-geleng dengan sikap dua majikan nya itu..tapi menentang Gibran juga akan percuma.


"baik den..." balas Bik Atun


"Mas mau nya apa sich, Meera cuma mau ke pondok hanya dua hari.. apa masalah nya??" tanya Almeera dengan nada sedikit kesal tapi di detik berikutnya Almeera menepuk bibir nya, karna telah berkata dengan nada yang tak seharusnya kepada sang suami.


"maaf..." sesal Almeera sembari tertunduk


"Meera gak tahu apa salah Abi, kesalahan apa yang Abi lakukan di masa lalu, Meera gak tahu kenapa mas mau menikahi Meera, Meera juga gak tahu kenapa Meera menerima lamaran mas, padahal mas gak pernah meyakinkan Meera, Meera gak tahu kenapa mas selalu dingin dengan Meera, Meera gak tahu itu semua..." ujar Almeera dengan air mata mengalir sembari tertunduk


"Tapi jika memang Abi telah melakukan kesalahan, dan Meera sebagai penebus kesalahan itu Meera ikhlas, lalukan sepuas mas, tapi jika memang Abi bersalah"


"tapi satu pertanyaan Meera,apa benar kesalahan itu sepenuhnya kesalahan Abi, mas Gibran pernah kah mencari kebenaran?? mas Gibran pernah bertanya kepada Abi...???"


Gibran tak menjawab, kaki nya di langkahkan menuju kaca kamar yang menghadap ke balkon.

__ADS_1


"kurang lebih tujuh tahun lalu... Papa menerima surat rujukan operasi jantung ke RSH, dari pihak rumah sakit sebelum menyatakan semua akan aman di tangani di RSH, tapi apa??? Papa meninggal di tangan seorang dokter yang bernama Dr. Alvian.." Ujar Gibran mengingat kejadian dulu


"marah... wajar kan???" tanya Gibran


"Mas Abi hanya manusia biasa, hidup mati Allah yang menentukan, Meera yakin Abi dan team nya pasti sudah berusaha..."


"kamu bisa berkata seperti itu, karna bukan kamu yang di posisi itu.. pihak RSH menyatakan kemungkin berhasil besar, tapi apa..???"


"qadarullah....semua tidak lepas dari kehendak Allah..."


"Kepergian Papa meninggalkan lupa dalam untuk mama, satu-satu nya harapan kami untuk kuat, tapi apa mama meninggal menahan sakit di hati nya, kamu tahu bagaimana sakit nya itu.. aku harus berjuang sendirian untuk Soraya, berupa melupakan rasa sakit, rasa dingin untuk bertahan" sambil memukul tangannya ke dinding berkali-kali dan itu membuat tangan Gibran terluka


"Mas hentikan..." teriak Almeera sembari mendekat dan meraih tangan Gibran


"kamu tahu sakit nya semua itu?? jika Abi tidak memberikan harapan besar, kami tidak akan terlalu terluka....kenapa Abi harus memberikan harapan??"


"hiks...hiks....Meera gak tahu bagaimana rasa nya, tapi Meera tahu di tinggal kedua orangtua pasti sakit mas, tapi jalan setiap hamba menghadap sang Khalik itu berbeda-beda, semua tidak lepas dari kehendak Nya" ujar Almeera sembari menapak tangan Gibran yang berdarah


"ya aku tahu maut pasti akan datang, tapi harapan yang Abi berikan membuat kami berharap, tapi nyatanya kami di kecewakan"


"lakukan sepuas yang mas mau... jika memang Abi bersalah, Meera Ikhlas, jika orang tua bisa menahan sakit untuk anak nya, masa Meera sebagai anak Abi siap menahan sakit itu untuk Abi...tapi Meera mohon cari tahu kebenaran..." balas Almeera dengan membalas tatapan Gibran


Lama mata itu saling menatap, tapi Almeera lebih dulu mengalihkan pandangannya. melangkah mendekati nakas, mencari sesuatu tapi tidak dia temukan.


"dimana kotak P3K...??"


"tanya Bik Atun..."


"kunci kamar nya mana.. gimana Meera mau keluar, pintu mas kunci kan...!!!"


Gibran pun memberikan salah satu kunci ke Almeera, Almeera segera membuka pintu itu,..lalu mencari keberadaan Bik Atun, menanyakan kotak P3K, setelah kotak P3K itu dia dapatkan, Almeera pun bergegas kembali ke kamar.

__ADS_1


Almeera memposisikan duduk di samping Gibran, di taruh nya bantal yang sudah di alasi dengan handuk di paha nya, lalu tangan kanan Gibran di letakan nya di atas bantal, mereka hanya saling diam, Almeera dengan telaten dan lembut membersihkan luka Gibran, sesekali terdengar suara ringisan Gibran menahan perih.


"Ya Allah begitu sakitkah sampai meninggal luka di hati suami hamba, misteri apa ini ya Allah, apa ini alasan Engkau membuka hamba menerima lamaran nya??? apa yang harus hamba perbuat ya Allah... Abi...." berjuta pertanyaan yang hanya bisa di utarakan dalam hati, hatinya teriris mengingat raut wajah sang Abi..


"Apa yang akan terjadi jika Abi tahu semua ini??" lagi-lagi pertanyaan itu hanya di dalam hati


"Maaf... dulu niat awal diri ini memang untuk menyakiti Abi melalui kamu Meer... tapi entah kenapa Hati ini berkata lain, hati dan pikiran ini bertolak belakang, Aku diam tidak berniat menyakiti kamu, aku hanya belum siap, bayangan masa lalu itu sungguh masih membayangi ku, tapi jika harus bertanya kepada Abi saat ini aku takut, takut Abi akan mengambil kamu dari sisi ku" sebuah pengakuan besar seorang Gibran, sembari melihat Almeera yang telaten membalut luka nya, tapi pengakuan itu hanya di dalam hati, Gibran belum mampu untuk mengungkapkan nya.


"Sudah Selesai..." ujar Almeera sembari memasukan perlengkapan P3K lalu menyemprotkan Sanitizer ke tangan nya.


Dipindahkan tangan Gibran ke paha Gibran lalu Almeera bangkit tanpa menatap Gibran sedikit pun.


"kamu mau kemana??" tanya Gibran saat Almeera beranjak


"mau menaruh ini ke bawah, trus mau makan, Meera udah lapar, udah melewatkan jam makan siang..." balas nya sambil beranjak Tampa menatap Gibran.


Gibran mengikuti langkah Almeera, karna dia juga lapar, berdebat menguras tenaga, di tambah sarapan tadi pagi di ganggu oleh Bimo, emosi menguras tenaga, tapi saat emosi itu datang terkadang tenaga itu bertambah, tenaga akan terasa terkuras saat emosi itu sudah mereda. sungguh emosi hanya menggerogoti saja bagaikan Virus.


Hati Almeera bukan tidak sakit, tapi di lebih berusaha untuk tegar. itulah yang saat ini sedang dia lakukan.


"ya Allah den Gibran, itu tangan nya kenapa??" tanya Bik Atun saat melihat Gibran turun bersama Almeera dengan tangan yang di balut perban.


"gak papa bik..." balas Gibran sembari mengambil posisi duduk


"non Meera makan aja dulu, sini kotak P3K biar bibik yang simpan" pinta bik Atun dan Almeera hanya menjawab dengan anggukan.


🍃🍃🍃


Lanjut...???


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰

__ADS_1


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an


__ADS_2