
Beberapa hari berlalu sejak kejadian Dilara menginap di kediaman Abi Alvian.
Malam ini seperti biasa semua berkumpul di ruang tengah, sudah menjadi rutinitas , duduk bersama walau hanya sekedar bercerita apa yang terjadi hari ini, karna itu salah satu cara keharmonisan, kekompakan keluarga ini.
"Abi,Umma ada yang mau Azzam bicarakan..." ujar Azzam sesaat setelah mereka membahas promo yang Almeera adakan untuk butik.
"buat Abi penasaran aja.... apa itu..??" tanya Abi
"hmm.... Bi..." ragu untuk mengutarakan
"kenapa....?? masalah study??" tanya Abi lagi dan Azzam menggeleng
"Azzam berniat mengkhitbah Dilara..." ujar Azzam dengan cepat
Abi dan Umma saling melihat tak percaya, sedangkan Almeera terbatuk-batuk
"apa Zam... coba ulang, jangan buru-buru..kamu kayak di kejar sama kecoak aja" ujar Abi, karna Azzam memang anti sama kecoak
"Azzam berniat mengkhitbah Dilara.." Ulang Azzam kali ini dengan tenang
Umma tersenyum sembari beranjak mendekati Azzam... "Kapan...??" tanya Umma sambil merangkul sang putra kesayangannya
"Abi dan Umma setuju...??" tanya Azzam tak percaya
"Umma dan Abi bisa Lihat, dia wanita baik, dan Sholeha, buktikan saat menginap di sini, dia begitu menjaga jarak sama kamu... sejak pertama kali Umma kenal Dilara, Umma sudah suka sama dia" ujar Umma dengan senyum mengembang
"Abi sebenarnya pernah membicarakan ini sama Umma, tapi kami tidak mau ada istilah jodoh atau menjodohkan, kami hanya berdoa, jika kalian berjodoh pasti ada saja jalan nya.." ujar Abi
"Alhamdulillah, Syukron doa dan restu Abi dan Umma" sambil merangkul sang Umma lalu mencium tangan Umma
"kamu gak suka dek??" tanya Azzam di menit berikutnya
"suka banget...." balas Almeera sembari menghambur memeluk sang kakak
"Meera cuma kaget aja..." tambah nya.
"Jadi kapan rencananya...??" tanya Abi
"menurut Abi??"
"Umma akan bicarakan dulu dengan ibu panti, biar kita bisa atur nanti waktu..." balas Umma
Azzam berkali kali mencium tangan sang Umma sebagai ungkapan terima kasih nya.
"Yee.. punya kakak ipar sebentar lagi..." goda Almeera sambil memainkan mata nya, berkedip-kedip menggoda sang kakak
"belum, kan baru rencana, doain aja ya dek."
"di doain selalu lah kak...."
"anak-anak kita udah pada gedek ya Bi.. hari ini Azzam berencana melamar, sebentar lagi Almeera yang di lamar..." ujar Umma sambil mencolek dagu Almeera.
Almeera tersenyum kecut, mereka gak tahu saja sudah sebulan lalu Almeera di Lamar, tapi sayang bukan di hadapan orang tua nya.
Mereka pun membahas sedikit tentang rencana Azzam lalu tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk.
"Biar Azzam aja yang buka..." ujar Azzam sambil beranjak menuju pintu depan,.dan saat pintu terbuka, betapa kagetnya Azzam
"Gibran..."
"Assalamualaikum..." salam Gibran
"waallaikumusallam.. masuk-masuk..." balas Azzam mempersilahkan Gibran untuk masuk dan duduk di sofa ruang tamu
"Cari Almeera...??" tebak Azzam
"Abi dan Umma ada??"
"Ada... mau ketemu sama Abi dan Umma??" tanya Azzam dengan nada sedikit heran dan bingung
"Iya...."
__ADS_1
"ya sudah, sebentar aku panggil dulu.." balas Azzam, tapi belum sempat beranjak, Abi dan Umma sudah keluar menuju ruang tamu.
"eh nak Gibran..." sapa Abi
"Assalamualaikum Abi, Umma..."dalam Gibran
"waallaikumusallam..." balas Abi dan Umma bersama lalu mengambil posisi duduk di sofa .
"dari mana nich, malam-malam...??" tanya Abi
"Dari rumah Bi, maaf kemalaman, tadi sempat macet karna ada pohon tumbang.." jawab Gibran jujur
"Zam... minta bibik buatkan minuman ya.." ujar Umma dan Azzam menganggukan kepalanya
Saat sampai di dapur bukan bibik,tapi Almeera yang sedang membuat kopi untuk tamu nya.
"Dek.. kira-kira ada apa yaGibran ke sini malam-malam??"
"tanya ke orang nya aja lah kak.. kok tanya ke Meera... nich(sambil memberikan tiga gelas kopi kepada Azzam) Meera mau ke atas ya" sambil beranjak menuju tangga
Almeera tak kalah kaget nya, tapi berusaha bersikap biasa saja, ada pertanyaan di dalam hati ini, apa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian sebulan lalu??
Azzam keluar dengan tiga gelas kopi dan beberapa toples camilan.
"Cepat banget...??" tanya Umma?
"Meera tadi yang buat..." balas Azzam
"trus sekarang mana adek kamu itu...??"
"naik yah... "
"ayo nak Gibram di minum kopi nya.. oh ya ngomong-ngomong ada keperluan apa nich, main atau mungkin ada yang mau di bahas dengan Meera..??" tanya Abi setelah mempersilahkan Gibran untuk meminum kopi nya.
Gibran pun menyeruput kopi nya.. lalu menatap Abi sesaat.
"Tujuan Gibran ke sini untuk bertemu dengan Abi dan Umma, ada yang mau Gibran bicarakan..."
"Sebelum Gibran mohon maaf sudah datang Tampa undangan, mengganggu waktu malam Abi dan keluarga..."
"sama sekali tidak, kami sedang bersantai kok"
"begini Abi, Umma, dan Azzam juga, kedatangan saya kesini untuk suatu hal.."
Abi dan Umma saling tatap.
"Gibran datang kesini berniat untuk..." ucapan nya terputus
"untuk?? untuk apa??" tanya Abi penasaran
"untuk mengkhitbah Putri Abi dan Umma.." Jawab Gibran dengan penuh keyakinan
"Gibran tahu, Abi dan keluarga pasti heran, selain kedatangn yang tiba-tiba, Gibran juga hanya sendiri saja, Tidak ada wali, tapi Gibran menang yatim piatu, itulah keadaan Gibran, maka dari itu Gibran memberanikan diri datang kesini sendirian.."
Abi tersenyum mendengar kejujuran Gibran, Abi teringat akan waktu dimana Abi dulu mengkhitbah Umma, bedanya Abi masih ada sang bunda yang menemani, memberikan semangat, menguatkan.
Tapi tidak dengan Gibran, dia sendiri tidak ada seorang pun yang menggenggam tangan nya untuk memberikan kekuatan, seperti Abi dulu.. ada genggaman tangan bunda, ada rasa iba , tapi Abi coba tersenyum.
"Masyaallah... Abi salut dengan keberanian nak Gibran.. untuk masalah khitbah untuk Abi sendiri tidak bisa memutuskan, karna keputusan ada di tangan Almeera sendiri, kalau untuk Umma gimana??"
"Kalau untuk Umma sama seperti kata Abi, keputusan ada di tangan Almeera... jika Almeera tidak menolak, In Syaa Allah Umma akan merestui.."
"Sebenarnya Gibran sudah pernah utarakan niatan ini ke Almeera sekitar sebulan lalu.. tapi Almeera menjawab jika ingin mengkhitbah, maka sampai ke pada Abi dan Umma..." jujur Gibran
"sebulan lalu...??" tanya Abi, Umma dan Azzam bersamaan, karna Almeera memang tidak pernah menceritakan tentang semua ini
"iya..." jawab Gibran dengan disertai anggukan
"Meera gak pernah cerita ke Umma.."
"ya sudah di panggil aja anak nya ya..." ujar Abi, Umma pun beranjak untuk memanggil Almeera
__ADS_1
Sesampainya di kamar Almeera, Umma pun menyampaikan niatan Gibran ,bahkan bertanya apa benar niat itu sudah di sampaikan Gibran sebulan lalu
"iya Umma..." jujur Almeera
"kenapa gak Cerita...??"
"karna Meera sendiri gak yakin dengan niat pak Gibran Umma, bahkan selama sebulan ini dia tidak menunjukan keseriusan, makanya Meera memilih diam, siapa tahu itu hanya keinginan pak Gibran sesaat.."
"ya sudah... kamu kebawah, berikan dia jawabannya.. Abi dan Umma lihat dia laki-laki baik, tapi baik buruk kita juga tidak tahu, apapun keputusan Meera Kami mendukung..."
"harus di jawab malam ini juga??"
"gak... kalau masih butuh waktu, sampaikan, agak semua jelas..."
Almeera dan Umma pun turun, Menuju ruang tamu, nampak Tiga laki-laki itu asik dengan obrolannya.
"jadi om nak Gibran gak disini..??"
"gak Bi.. ada di Kalimantan, mereka merantau kesana... Gibran dan Soraya hanya berdua, dan ada juga sahabat dari kecil, mereka lah keluarga terdekat saat ini, Bimo nama nya, dia juga asisten Gibran dalam mengelola usaha papa"
Almeera dan Umma yang sudah berada di ruang tamu pun mengambil posisi duduk, tepat di tengah-tengah Abi dan Umma.
"Umma sudah sampaikan niatan nak Gibran ke Almeera Bi, dan benar kata Almeera nak Gibran sudah mengutarakan nya sebulan lalu.." ujar Umma
"kalau begitu, dari kamu sendiri gimana dek..??" tanya Azzam
Almeera terdiam bingung harus memberikan jawaban apa.
"Gak harus di jawab malam ini, saya hanya ingin menyampaikan niatan saya saja, saya siap kapan pun Jawab itu akan di berikan" ujar Gibran
"katakan jika memang butuh waktu.." ujar Abi dengan lembut sambil mengelus punggung Almeera
"Jujur Meera sendiri belum terfikir untuk ke arah sana , jadi Meera bingung harus jawab apa Abi..." ujar Almeera dengan menggenggam tangan Umma
"lakukan istikharah... jika nanti sudah ada jawaban, baru utarakan.." balas Abi
"Nak Gibran tidak keberatan menunggu jawaban dari Almeera...??" tanya Abi
"In Syaa Allah tidak Bi, yang terpenting Saya sudah berusaha menyampaikan niat saya, soal hasil nya , apapun itu akan saya terima" balas Gibran berusaha tenang, walau sejujurnya hari nya tak karuan.
Selesai perbincangan panjang itu pun Gibran pamit, Azzam mengantarkan Gibran sampai ke depan mobil.
Azzam menepuk-nepuk pundak Gibran.. "sama-sama lalukan istikharah, untuk lebih memantapkan hati.. semoga apapun keputusan Almeera nanti jika mengecewakan tidak akan merubah pertemanan kita, ya walaupun kita belum lama saling mengenal" ujar Azzam
Gibran hanya membalas dengan anggukan.
saat mobil Gibran telah keluar dari area rumah, Azzam pun masuk.
"Afwan ya Abi ,Umma , Meera gak cerita.." Almeera pun mulai menceritakan kejadian sebulan lalu, tidak di tambah dan tidak juga di kurang, berbicara apa ada nya.
"kalau kakak lihat, bukan dia tidak berniat meyakinkan kamu, dia itu sendirian, gak mudah pastikan melamar anak orang sendirian, butuh keberanian Ekstra.. kakak saja saat ingin menyampaikan niat ke Abi dsn Umma saja ada rasa takut, apalagi dia langsung ke orang tua si perempuan, sendirian lagi" ujar Azzam yang baru masuk
"ya.. Abi tahu dan Abi pernah merasakan, tapi beda nya Abi masih ada yang menemani, sedangkan Gibran dia sendirian"
"lakukan istikharah.." ujar Umma
Almeera berusa mencerna apa yang Abi dan Azzam ucapakan, apa benar itu yang membuatnya sebulan ini diam.
"jadi ceritanya malam ini itu Melamar dan Dilamar ya..." ujar Azzam dengan sedikit terkekeh mengingat beberapa jam lalu yang juga baru mengungkapkan niat nya Melamar Dilara
"tadi Azzam sok kuat pula tuch, menasihati Gibran, gak tahu dech gimana Azzam besok.." ujar nya mengomeli dirinya sendiri
🌠🌠ðŸŒ
Lanjut...???
Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰
Like, Komen, Vote, Gift , Tips...
Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an
__ADS_1