Keteguhan Almeera

Keteguhan Almeera
Jadikan Goresan itu menjadi Karya Indah


__ADS_3

Dua pekan berlalu, hubungan Almeera dan Gibran semakin membaik, walaupun masih terbentang jarak, hanya jarak itu sudah berkurang.


"mas mau di bawakan bekal gak??"


"gak usah.. kamu ke Sky kan?? nanti kita makan di luar aja"


"tapi belum tahu juga jam berapa ke sana nya..."


"saya antar, nanti siang saya jemput di butik, kebetulan saya ada meeting di luar.."


"bolak balik loh kalau ngantar Meera..."


"gak papa...ya udah sarapan dulu kita" ujar Gibran sambil melangkahkan keluar kamar yang diikuti oleh Almeera


Nasi goreng udang kesukaan Gibran menjadi menu sarapan pagi ini.


"emang kenyang cuma sarapan buah dan kurma gitu..??" tanya Gibran


"Alhamdulillah kenyang mas, tadi subuh juga udah ngulum madu... sudah terbiasa seperti ini dari kecil.. sesekali mas coba dech"


"yang ada cuma nyangkut di tenggorokan..." balas Gibran dan itu membuat Almeera terkekeh


"karna belum terbiasa,.nanti bisa makan rebusan, seperti ubi rebus, pisang rebus, jagung rebus.. pengganti sarapan"


"kalau gak di coba, gak akan tahu rasa nya, badan itu terasa lebih ringan, bab juga lancar, karna serat kita tercukupi.."


"Rasullullah aja sarapannya hanya kurma, jika ada susu kambing, beliau akan sarapan dengan kurma dan susu kambing, dan waktu nya setelah subuh menjelang fajar" sambil menujuk ke arah kurma dan susu kambing nya.


bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Pada kurma ajwa yang tumbuh di 'Aliyah yang dimakan di awal pagi terdapat obat dari semua penyakit sihir dan racun,"HR. Ahmad


"makan siang nya sebelum Dzuhur yaitu dengan roti gandum dan zaitun, makan malam sesudah magrib sebelum isya, dengan menu kurma, roti Gandum dan susu kambing"


"Rasulullah adalah suri tauladan kita semua, beliau sudah mencontohkan cara hidup sehat, terbukti beliau selama hidup hanya sakit dua kali, bahkan ada yang mengisahkan nabi sakit karena di racun..."


"berbeda dengan para hamba nya sekarang, minta nya sehat terus, tapi pola makan gak di jaga, malah makan secara berlebihan..."


"nyindir..??"


"gak Nyindir mas,.Meera bicara apa ada nya, rata-rata sekarang kan seperti itu, makan lauk nya yang bersantan, nasi nya mengandung glukosa tinggi, belum lagi suka nya yang asin-asin, suka nya yang di goreng-goreng, menumpuk lemak jahat, di tambah bab gak lancar.."


"kebayang gak, setiap hari makan berkarbohidrat, bab dua hari sekali, makan nya sehari tiga kali, belum lagi camilan nya, bagaimana organ pencernaan tubuh ini ektra bekerja, masuk terus, keluar jarang, kira-kira seberapa kotor pencernaan kita???" ujar Almeera sambil berdiri membereskan sarapan mereka


Gibran menggigit bibir bawah nya sembari mangguk-mangguk mencerna apa yang Almeera jabarkan.


"ajarin saya seperti itu bisa...??" tanya Gibran saat Almeera sedang berjalan menuju dapur, membuat Almeera menoleh dengan senyuman mengembang


"ok.. kita mulai besok ya.." Balas Almeera dan Gibran membalas dengan anggukan


:::


Siang ini Gibran pulang meeting dengan client nya langsung menuju FaZah Butik.


"Assalamualaikum pak Gibran..." sapa salah satu pegawai butik

__ADS_1


"Bu Almeera nya ada..??"


"ada pak di ruangan nya..." Gibran pun langsung menuju ruangan Almeera di mana ada Dilara juga di dalam nya.


ceklek


pintu Gibran buka tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.


"kita pergi sekarang..??" tanya Gibran tiba-tiba


"mas udah sampai..?? sebentar ya,.mas tunggu aja dulu di lobby.." Gibran membalas dengan anggukan.


"Kak Lara,.Meera mau makan diluar sama mas Gibran, nanti lanjut ke Sky.."


"ok...."


Sebuah warung dengan nuansa gubuk bambu menjadi pilihan mereka..


"dulu mas paling sering kesini waktu papa dan mama masih ada..." ujar Gibran melihat sekeliling, seakan mengenal masa lalu


"kangen ya...??"


"kalau di tanya kangen sudah pasti lah.. tapi setidaknya sekarang udah ada tempat melepas kangen..."


"maksud nya..??"


"iya kan ada Abi dan Umma..." alih Gibran


"Saya gak tahu bagaimana sebenarnya kondisi hati saya, tapi sedang belajar untuk ikhlas, walaupun sebenernya ada pertanyaan besar di dalam semua itu, tapi rasa nya sulit untuk bertanya ke Abi.."


"kita makan dulu aja ya..." lanjut Gibran dan Almeera menganggukan kepalanya karna makanan yang mereka pesan sudah datang.


"aaak..." ujar Gibran menyuap kan ikan bakar yang sudah di cocol dengan sambal


"untuk Meera...??" tanya Almeera sedikit bingung


"jadi buat siapa?? buat mbak pramusajinya, boleh saya nyuapin mbak pramusajinya??"


Almeera terkekeh sejenak lalu membuka mulut nya, disibakannya cadar Almeera dengan tangan kiri nya, dan tangan kanan nya menarik tangan Gibran agar lebih dekat dengan mulut nya, melihat Almeera menerima suapannya, membuat senyum mengembang.


"enak kan...??" Almeera menjawab dengan anggukan, entah angin apa, hari ini mereka sesekali bergantian saling memberikannya suapan. Kini mereka sudah selesai, Almeera sedang menikmati es jeruk kasturi yang dia pesan tadi .


Tiba-tiba tangan Gibran meraih tangan Almeera, di genggaman dengan erat, mata nya menatap mata Almeera lekat .


"kenapa mas...??"


"Jujur saya belum sepenuhnya lupa akan kejadian masa lalu.. masih ada yang mengganjal di hati saya, kamu mau kan bersabar...??"


Almeera menatap lekat pada mata Gibran, Almeera bisa melihat ketulusan dari mata Gibran


"Maaf jika niat awal pernikahan ini sangat membuat kamu terluka, tapi saya ingin memperbaiki semua nya, saya ingin membawa pernikahan kita sebagaimana pernikahan sebenarnya, walau jujur saya masih butuh waktu.."


"apa kamu bersedia menerima saya, bersedia memaafkan saya, bersedia bersabar untuk saya..??" tanya Gibran namun kali ini ke dua tangan nya menggenggam ke dua tangan Almeera

__ADS_1


"Jujur saya terluka, saya sakit, apalagi Abi adalah sasaran utama, tapi saya memiliki keyakinan, Allah membuat saya menjawab iya akan khitbah mas Gibran itu pasti ada alasannya.. salah satu nya jalan agar mas Gibran bisa ikhlas menjalani ketentuan Allah, sekalipun jalan nya menyakitkan" ujar Almeera sambil melepas genggaman tangan Gibran, lalu mencari sesuatu di dalam tas nya.


"Mas lihat kertas dan pensil ini???" tunjuk Almeera, Gibran menjawab dengan anggukan


"Masalah itu seperti kertas ini, saat dia di remas ,bagaikan masalah yang datang, tapi jika kita berniat memperbaiki, merapikan, dia bisa kembali rapi, tapi butuh kesabaran di dalam nya, ke ikhlas.."


"Tapi hati itu seperti pensil ini.." sambil Almeera mematahkan pensil itu menjadi dua, membuat Gibran mengerutkan kening nya


"saat dia patah, dia tak akan bisa di kembalik seperti. sedia kala, sekalipun dia di lem, di plaster, dia akan tetap meninggal bekas, bahkan mudah patah..dia akan lebih rentan.."


"apa hati kamu sudah patah seperti pensil ini?? dan apakah saya sudah tidak bisa memperbaiki nya??" tanya Gibran dengan wajah yang berubah begitu sendu, lalu tertunduk.


"Hati saya sakit, sangat sakit, karna apa?? karna mas adalah Sandaran untuk Meera setelah Abi, dan dua sandaran itu salah satu nya menyimpan luka yang dalam..mana yang harus saya dahulukan??? mana yang harus saya utamakan...???"


"Seseorang anak perempuan saat kecil menjadi pembuka pintu surga untuk ayah nya, saat dia dewasa menjadi jalan penyempurnaan agama untuk suaminya, itu artinya dua laki-laki itu begitu berharga, lalu mana yah harus saya lebih jaga..??"


Gibran terdiam, teringat akan story' yang Almeera buat...


"Sakit mas..hati saya sakit... tapi saya bersyukur, Allah memberikan saya hati yang begitu Teguh, hati yang begitu kuat, sehingga rasa sakit itu hanya membuat goresan, belum membuat nya patah.." ujar Almeera dengan senyum mengembang


"Almeera berharap, bagian hati yang tergores itu, perlahan bisa mas Gibran ukir atau mas lukis dengan indah, sehingga bukan lah luka yang terlihat, melainkan hasil karya yang mampu membuat dunia tersenyum melihatnya.." ujar Almeera dengan lembut dengan senyum indah di balik cadar nya...Gibran malah terdiam, membisu.


"Almeera mau kita berjuang bersama menghasilkan karya yang indah dari goresan itu...apa mas bersedia..??" mata Gibran membuat tak percaya, Gibran dia beranjak dari duduk nya, membuat Almeera bingung..


Di detik berikutnya Gibran berjalan mendekat ke arah Almeera, dengan cepat Gibran berjongkok lalu memelukl tubuh Almeera, pelukan pertama setelah hampir satu bulan pernikahan mereka.


"mas sesak..." lirih Almeera karna pelukan Gibran membuat nya merasa sesak, dan membuat Gibran langsung melonggarkan pelukannya,.kini mata Gibran menatap mata Almeera dengan begitu dalam.


"ini di tempat umum, kok main peluk sih..??"


"makasih,makasih untuk semua nya,.dan seharusnya yang yang bertanya kepada kamu, masih bersediakah kamu menjalani bahtera rumah tangga bersama saya,.?? bukan malah kamu yang bertanya ke saya.." ujar Gibran Tampa menjawab pertanyaan Almeria mengenai pelukannya.


"dulu mas udah pernah bertanya, maukan saya jadi istri mas, sekarang saatnya Meera bertanya, maukah mas berjalan beriringan dengan Meera ?? maukah kah mas merubah goresan itu menjadi karya yang indah??gak peduli siapa dulu yang bertanya, inti tujuan nya sama kan??"


Gibran menjawab dengan anggukan, lalu ingin memeluk Almeera kembali tapi dada Gibran di tahan dengan tangan Almeera.


"di tempat umum..." ujar Almeera


"ya udah... kita ke Sky sekarang ya... masih ada kerjaan yang harus saya urus" Almeera menjawab dengan Anggukan.


🍃🍃🍃


Kumaha, Gimana dengan bab kali ini??


🍃🍃🍃🍃


Lanjut... kita Lanjut???🤭


Jazaakumullah khairon untuk semua dukungan nya, dalam bentuk apapun itu.,🥰


Like, Komen, Vote, Gift , Tips...


Sebaik-baik nya Bacaan itu adalah Al-Qur'an

__ADS_1


__ADS_2