Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 100


__ADS_3

Cinta, satu kata yang bisa merubah seseorang menjadi lebih hidup. Juga bisa menjadikan seseorang terpuruk. Dalam ruang yang gelap gulita, tanpa cahaya lampu. Sebuah lilin sangatlah berharga.


Cinta mengukir senyum di bibir setiap orang, tapi juga mampu melenyapkannya.


Seperti halnya dia, kebahagiaan jelas terpancar di kedua manik kecoklatan milik seorang wanita di dalam sebuah ruangan. Ia ditemani wanita lainnya yang berusia lebih tua.


"Kamu bahagia, Chu?" tanya Ambu sambil menyentuh tangan anaknya. Tangan tua itu mengusap-usap permukaan kulit tangan Mayang, sembari memperhatikan wajahnya yang dipoles make-up.


"Alhamdulillah, Mayang bahagia, Ambu? Ambu juga bahagia, 'kan?" Mayang balik bertanya, menatap lekat manik berkabut di hadapannya dengan sejuta rasa yang ia miliki.


"Ambu selalu merasa bahagia setiap kali kamu tersenyum, tertawa, dan bercerita." Ambu tersenyum, gadis kecilnya yang nakal telah dewasa dan kini akan menikah untuk yang kedua kalinya.


Mayang merengkuh tubuh ringkih Ambu, menumpahkan rasa cinta yang tiada bertepi. Kebahagiaan yang ia rasakan saat ini, semua itu tak akan lepas dari peran Ambu sebagai Ibunya.


Ia melepas pelukan, senyum terukir di kedua bibir mereka. Berselang, pintu ruangan tempat Mayang berada terbuka. Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan pelan. Tersenyum melihat Mayang yang tampak cantik dengan balutan kebaya putih melekat di tubuhnya.


Ia berdiri di belakang kursi Mayang, menatap pantulan wanita itu dari cermin. Mengusap pundak Mayang dengan lembut, dia salah satu saksi betapa hidup Mayang penuh perjuangan sejak kecil.


"Kamu harus bahagia, Chu. Ibu cuma bisa kasih doa yang terbaik buat kamu. Jangan lupa sesekali main ke desa," ujarnya sedikit meremas bahu Mayang.


"Aamiin. Makasih, Bu. Insya Allah, Mayang nggak akan lupa sama desa Mayang sendiri." Mayang menyentuh tangan wanita itu di pundaknya. Tersenyum saat mata mereka bertemu di dalam cermin.


"Akadnya udah dimulai," bisik wanita yang tak lain adalah istri pak Tohir. Ketiganya diam mendengarkan, suara lantang sang paman yang bersahutan dengan suara Raja kala mengucap ijab dan qabul, menguar ke dalam rungu mereka.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!"


"Sah!"


"SAH!"

__ADS_1


Sebuah teriakan yang sengaja dilakukan sahabatnya, Tsabit agar Mayang dapat mendengar. Tangis haru kebahagiaan menyelimuti hati mereka. Kedua wanita yang bersama Mayang memeluknya, dan mengecup kedua pipi wanita itu.


Tak ada kebahagiaan yang sempurna, selain dapat berkumpul bersama keluarga dalam satu ruang yang dipenuhi senyuman. Berselang, pintu tersebut terbuka lebar. Risya dan Zalfa berlari memasuki ruangan dan memeluk Mayang.


Mereka membawa sang pengantin wanita menuju tempat diadakannya acara sakral itu. Di dalam, Raja dan Ratna berdiri menyambut, didampingi pak Tohir selaku wali dari Mayang juga Tsabit dan istrinya.


"Ini dia!" bisik Tsabit di telinga sang istri. Genggaman tangannya menguat pada tangan wanita yang dinikahinya belum lama ini. Menandakan bahwa Tsabit ikut merasa bahagia atas pernikahan sahabatnya.


"Aku mau lihat secara langsung sahabat kamu itu," timpal sang istri berbisik pula di telinga Tsabit.


Keduanya memasang senyum, menunggu pintu ballroom terbuka. Di sanalah Mayang, bak seorang putri Raja nan cantik dengan balutan kebaya modern juga siger yang menghiasi kepalanya.


Dia diapit Ambu dan istri pak Tohir, diiringi Risya bersama Zalfa. Senyum keduanya bertemu kala pandang beradu. Mayang menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Dia cantik, tinggi semampai. Nggak kayak perempuan lain yang tingginya standar. Kayak model-model di tv," bisik istri Tsabit pada suaminya.


"Dia guru olahraga di sekolahku mengajar. Jago bela diri, dan olahraga lainnya." Tsabit memberitahu.


"Kenapa ketawa?" Ia mencubit pinggang Tsabit gemas.


"Udah kelewat, sayang. Sekarang bukan lagi masa pertumbuhan, tapi masa produksi. Kita bisa menghasilkan anak-anak berkualitas kelak."


Tersipu wanita itu, terlebih saat tangan Tsabit mengusap perutnya. Tak hanya Mayang yang berbahagia, tapi juga sepasang suami istri itu. Mereka tengah menunggu hadirnya seorang bayi dalam rumah tangga mereka.


Raja mengulurkan tangan kepada Mayang, bergandengan duduk di meja akad untuk mendengarkan tsighat ta'liq yang dibacakan oleh suaminya.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan jalannya acara. Manik yang memancarkan api dendam juga kebencian yang tiada tara terhadap mempelai wanita di sana. Dia Rani, yang datang menyelinap ke dalam acara.


Kalo Mamah nggak ngelarang aku buat bikin onar, aku ingin pesta ini hancur. Sayangnya, aku udah janji sama Mamah.


Hatinya bergumam jahat, rasa iri bersarang membentuk gumpalan dendam yang tak terurai. Rani, sudah jauh dari jalan yang seharusnya ditempuh. Hatinya sekeras batu, tak dapat menerima nasihat kecuali dengan sebuah teguran.

__ADS_1


Ia menatap iri sepasang pengantin yang kini berada di pelaminan. Menjalankan serangkaian adat istiadat yang berlaku di masyarakat tanah air. Berlanjut dengan menyambut para tamu undangan yang datang silih berganti.


"Kamu cantik," bisik Raja di telinga Mayang. Tak peduli tatapan semua orang, ia tetap menempelkan bibirnya di pipi wanita itu.


"Malu, dilihatin banyak orang." Mayang mencubit pinggang Raja, seperti kebanyakan para wanita yang suka menegur dengan cubitan.


Raja melengos sembari menggigit bibir, menjatuhkan kepala pada pundak sang ibu dengan manja. Memeluk tubuh ringkih itu, mengecup pipinya pula. Sebagai luapan rasa bahagia yang membuncah di hatinya.


Para tamu terus berdatangan ke tempat acara, rekan-rekan Ratna juga Raja bahkan teman-teman Risya bersama keluarga yang sengaja diundang. Kemeriahan pesta pernikahan, meski terkesan sederhana untuk ukuran seorang pengusaha. Akan tetapi, bagi Mayang itu sudah sesuai impiannya.


"Tsabit! Maaf, ya. Aku nggak datang waktu kamu nikah," ucap Mayang ketika sahabatnya itu datang untuk memberikan doa restu.


"Ah, nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin, doanya aja mudah-mudahan kita semua terus bahagia," sahut Tsabit sambil melirik Raja.


"Aamiin."


Pesta berlanjut hingga malam hari, semakin banyak tamu yang datang. Mayang terlihat tidak nyaman, rasa pegal sudah menggelayut di kedua kakinya.


"Kenapa?" bisik Raja di telinganya.


"Pegel. Kaki aku pegel banget," sahut Mayang mencoba untuk tidak menyentuh kakinya.


Raja terkekeh, mengajak Mayang untuk duduk di pelaminan. Pesta meriah masih berlanjut, bahkan terus berlanjut pada pesta dansa di mana hampir semua tamu undangan turun untuk memeriahkannya.


"Mau berdansa?" ajak Raja sembari mengulurkan tangan.


Mayang melirik gaunnya sendiri, seperti para putri di negeri dongeng. Apakah ia bisa berdansa dengan gaun seperti itu?


Raja menggerakkan jemarinya, meminta Mayang segera menyambut. Tanpa dapat menolak, tangannya terulur dan berpaut dengan milik sang suami. Keduanya turun ke lantai dansa, bergabung dengan para tamu yang ada.


Hanyut dalam kebahagiaan, Risya mengajak Zalfa untuk turut andil dalam dansa. Keduanya terlihat bahagia, seperti adik dan kakak. Namun, tidak bagi Rani, ia mengurung diri di dalam kamar sepulangnya dari pesta Mayang. Menangis seorang diri, meratapi nasibnya. Sang papah belum juga kembali, bahkan kabar pun tak kunjung mereka dapati.

__ADS_1


__ADS_2