Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 102


__ADS_3

"Kakak! Bu, Kakak datang!" pekik Risya berjingkrak di depan rumah.


Kedatangan Raja dan Mayang telah ditunggu Ratna dan keluarganya. Ada banyak sanak saudara yang masih menunggu untuk berbincang lebih banyak dengan anggota baru di keluarga mereka, bahkan pak Tohir dan keluarga pun masih ada di rumah itu.


Ratna dan yang lainnya berhamburan keluar, menyambut kedatangan pengantin baru.


"Apa masih banyak orang di rumah?" bisik Mayang sembari terus melangkah mendekati teras rumah.


Mayang tersenyum saat beberapa pasang mata tertuju padanya. Canggung dan malu tentunya.


"Masih. Mereka nungguin kita sekalian mau pamitan karena harus kembali ke rumah masing-masing," jawab Raja berbisik pula.


"Assalamu'alaikum!" sapa keduanya pada semua orang.


"Wa'alaikumussalaam!" Disambut serentak oleh orang-orang yang menunggu mereka.


"Mari! Semua orang udah nungguin kalian," ajak Ratna menggandeng tangan Mayang masuk ke dalam rumah diapit oleh Risya. Sementara Raja, dibiarkan berjalan sendiri.


Laki-laki itu mendengus, menyeret tas yang dibawanya dari hotel. Keluarga mereka menyambut meriah anak Ambu itu. Ia dikelilingi anggota keluarga, satu per satu memberikan hadiah kepada Mayang tak lupa pula memeluk dan mencium pipi wanita itu.


Mayang terenyuh, ia diterima dengan baik oleh keluarga besar suaminya. Berbanding terbalik saat dulu, saat ia menikah dengan Amir. Jangankan memeluk dan mencium, bertegur sapa saja sepertinya enggan.


Raja menggeleng ketika melihat wajah Mayang yang meringis hendak menangis. Rasa haru membuncah di dalam hati. Kini, kehidupannya berbalik secara drastis.


"Selamat datang, di keluarga besar Cokro Abdinegoro. Kamu diterima dengan baik di rumah ini," ujar salah satu anggota keluarga dengan logat yang tidak pasih.


"Terima kasih, Uncle. Saya terharu," sahut Mayang bergetar ingin menangis.


****


Di sore hari, mereka semua berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing termasuk pak Tohir dan keluarganya. Tuntas sudah tugasnya hari itu sebagai wali dari Mayang. Ia menepuk bahu keponakannya, menghela napas, dan memeluknya.


"Kamu harus bahagia, Chu. Jangan lagi ada cerita sedih." Pak Tohir menepuk-nepuk punggung Mayang.


Betapa ia menyayangi Mayang seperti anaknya sendiri.


"Aamiin." Mayang membalas pelukan itu. Sepeninggal amaknya, pak Tohir-lah yang menggantikan peran ayah untuk Mayang.

__ADS_1


Pak Tohir melepas pelukan, berhadapan dengan Raja.


"Saya titip keponakan saya. Tolong jangan disakitin lagi. Kalo kamu udah nggak bisa nerima kekurangannya, kembalikan dia sama saya secara baik-baik. Jangan membuangnya seperti yang sudah-sudah," ucap pak Tohir sembari menepuk bahu Raja.


"Insya Allah. Mayang akan saya buat bahagia semampu saya. Dia nggak akan menangis kecuali karena bahagia," janji Raja.


Pak Tohir menganggukkan kepala, berpamitan pada Ambu dan juga Ratna. Mereka pun pergi meninggalkan kota Jakarta dan kembali ke desa.


Mayang menjatuhkan kepala di pelukan suaminya, menatap kepergian mobil sang paman. Rumah kembali menjadi sepi, hening tanpa ada celoteh dari anak-anak.


"Sepi, ya," celetuk Mayang tanpa sadar.


Ia menatap sekeliling ruang keluarga yang baru saja dipenuhi banyak orang. Kini, hanya ada mereka saja. Duduk berkumpul sambil menikmati hari.


"Apalagi dulu, sebelum ada kamu sama Ambu. Rumah ini sepi banget, yang kedengaran cuma suara Risya aja. Duh, emang. Sekarang aku nggak akan kesepian lagi karena udah ada kamu," ucap Raja sembari menelusupkan wajah ke dalam ketiak Mayang.


Wanita itu membelalak, terkejut dengan aksi spontan suaminya.


"Dih, bucin. Baru tahu enaknya nikah, sosor terus!" ejek Risya disambut tawa kedua wanita tua di sana.


"Biarin. Yang, ke kamar, yuk. Kalo di sini aku takut ada yang kepanasan," ajak Raja seraya menarik tangan Mayang untuk pergi ke kamar mereka.


"Biarin aja, kakak kamu itu, 'kan, masih pengantin baru. Masih pengen berduaan, biar bisa cepat punya anak. Ibu juga udah kangen gendong bayi," ucap Ratna meminta pemakluman Risya.


****


Di tempat lain, kedua istri Amir yang tinggal satu atap sering berselisih paham. Sikap Amir yang berat sebelah terhadap keduanya, seringkali membuat Melina kecewa. Juga sang ibu mertua yang kini lebih menyayangi istri baru Amir daripada dirinya.


Melina berniat pergi mengunjungi orang tuanya, berdandan seperti biasa, menenteng tas kecil di tangan. Ia menuruni anak tangga, pergi lantai satu. Tak acuh pada kedua wanita yang sedang asik berbincang di ruang tamu.


"Heh, mau ke mana kamu?" tegur ibunya Amir menyentak langkah Melina.


Ia tak acuh, dan terus melanjutkan langkahnya keluar.


"Melina!"


"MELINA!"

__ADS_1


Teriakan wanita itu tak dihiraukan Melina, terus masuk ke dalam mobil dan pergi sendiri mengendarai benda tersebut.


"Kalian pikir, kalian itu udah menang dari aku? Jangan harap!" geram Melina sambil memukul kemudi kesal.


Di rumah, wanita tua itu menghela napas sambil duduk di kursinya semula.


"Udah, Bu. Biarin aja perempuan itu pergi, saya juga sebenarnya nggak mau tinggal satu atap sama dia di rumah ini. Kenapa nggak diceraikan aja sama mas Amir. Cum jadi beban aja," ucap Alin menyarankan.


Ibu Amir tercenung, membenarkan ucapan Alin soal Melina yang hanya menjadi benalu di rumah itu.


"Kamu bener, nanti Ibu ngomong sama Amir supaya nyerein dia."


Alin tersenyum sinis, ia akan merasa puas bila Melina pergi meninggalkan rumah itu. Wanita itu pengganggu dan tidak ada manfaatnya sama sekali.


"Bu, aku permisi ke kamar mandi sebentar," pamit Alin seraya membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Berselang, suara jeritan dari kamar mandi menggema menggegerkan seisi rumah besar itu. Satu per satu berdatangan dan darah sudah bersimbah di lantai.


"Astaga!" Ibu Amir jatuh tak sadarkan diri di tempat. Tinggallah asisten rumah tangga mereka yang sibuk karena dua majikannya membutuhkan pertolongan segera.


****


Amir berjalan bolak-balik di depan ruang IGD, dia diberitahu salah atau pembantu di rumahnya bahwa ibu juga sang istri dilarikan ke rumah sakit.


"Kenapa bisa sampai kayak gini?" bentak Amir pada mereka semua.


"Ma-maaf, Pak. Kami juga nggak tahu, tahu-tahu ibu udah jatuh di kamar mandi." Takut-takut mereka menceritakannya karena tak ada saksi persisnya kejadian tadi.


Amir mengusap wajahnya gelisah, berdecak lidah kesal. Satu yang dia minta semoga anak dalam kandungan Alin baik-baik saja.


Pintu ruangan terbuka dan dokter keluar disusul Amir yang menyerbu mendekat.


"Gimana kandungan istri saya, Dok? Baik-baik aja, 'kan?" cecar Amir tak sabar.


Dokter tersebut menghela napas, sesuatu harus disampaikan meksipun pahit.


"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kandungan istri Bapak tidak tertolong. Maafkan kami. Untuk Ibu Anda, kemungkinan beliau akan mengalami stroke ringan."

__ADS_1


Terhenyak Amir mendengarnya, tubuhnya mundur secara otomatis dan jatuh di kursi. Napas Amir memburu berat, rasa sesak di hatinya terus saja bertumpuk. Dia menangis, tergugu sendirian.


__ADS_2