
Dua mobil itu masih berada di jalanan, mobil Rani masih membuntuti mobil yang ditumpangi Mayang dalam jarak yang stabil. Dua kendaraan menjadi pembatas kuda besi yang mereka gunakan.
"Jangan sampai ketinggalan, Ran!" ingat rekan yang duduk di kursi samping kemudi.
"Nggak, tenang aja. Ini masih aman," ucap Rani percaya diri.
"Kira-kira mereka tahu nggak dibuntuti?" tanya rekannya itu dengan cemas.
"Ya, nggaklah. Buktinya mereka nggak nambah kecepatan. Kalo mereka tahu dibuntuti udah pasti mereka kabur," cetus Rani merasa pintar sendiri.
Beberapa saat membuntuti dengan aman, tiba-tiba dua buah mobil melesat menggamit mobil milik Rani. Dia terhimpit, terdesak bingung.
"Rani, kamu menyadari sesuatu nggak? Mobil itu aneh," ucap rekan Rani sambil menunjuk mobil di bagian kiri juga depan yang melaju seimbang dengan mobilnya.
Rani tidak menyadarinya karena sedang fokus pada mobil yang membawa Mayang di depan. Dahinya mengernyit melihat satu mobil yang sejajar dengannya dan yang lain menghalangi jalan.
"Siapa mereka?" Rani mempercepat laju mobilnya, menakan klakson sekencang-kencangnya untuk meminta jalan pada mereka, tapi dua mobil yang bersebrangan itu pun ikut menambah kecepatan mereka. Kini, Rani menyadari bahwa dua mobil itu ingin menghambat tujuannya.
"AWAS, RANI!"
Ban mobil berdecit cukup kuat hingga menimbulkan percikan api ketika bergesekan dengan aspal jalanan. Ia lengah sehingga tak menyadari mobil di depannya tiba-tiba melintang di jalan.
"Sial!" Rani mengumpat sembari memukul kemudi. Ia menoleh ke kiri mobil itu juga ikut berhenti menutup jalannya.
"Siapa mereka, Rani. Mamah jadi takut," rengek Lina sembari menarik-narik baju Rani.
"Aku nggak tahu, Mah. Kenapa mereka mengurung kita?" Rani mengumpat.
Ia menatap ke depan, mobil yang dibuntutinya telah menjauh.
"Sial! Gara-gara mereka aku jadi ketinggalan!" Rani menekan klakson sekencang-kencangnya. Meminta mereka menyingkir dari jalan. Akan tetapi, kedua mobil itu bergeming tak beranjak sedikitpun.
"Mundur, Ran! Coba kamu mundur, kayaknya di belakang nggak ada mobil," titah Lina begitu menemukan jalan keluar.
Baru saja menarik tuas, sebuah mobil lainnya melaju dengan pelan dan berhenti tepat di belakang mobil Rani. Memblokir jalan agar dia tidak dapat melarikan diri.
"Kurang ajar! Apa sebenarnya mau mereka?" kesal Rani membanting tubuh pada kursi.
__ADS_1
Lina gemetar ketakutan, matanya berair hendak menangis. Dia khawatir di dalam tiga mobil itu adalah para penjahat. Padahal, merekalah penjahatnya.
"Gimana ini, Ran? Gimana kalo mereka itu penjahat? Mamah nggak mau diculik sama penjahat. Terus ... ah, pokoknya kamu harus cari cara gimana bisa lolos dari sini." Lina terus saja merengek membuat Rani yang sudah kesal semakin frustasi.
"Mamah bisa diem nggak! Aku pusing tahu. Aku juga nggak tahu siapa mereka dan mau apa mereka?" bentak Rani tersulut.
Ia memburu udara untuk membuka saluran pernapasan yang tiba-tiba menyempit sehingga rongga dada terasa sesak. Dia membuka kaca mobil, mengeluarkan kepalanya dengan berani.
"Hei! Kalian mau apa? Minggir, aku mau lewat!" teriak Rani mencoba berdiskusi dengan pengemudi ketiga mobil itu.
Namun, tak satupun yang menanggapi. Ia masuk kembali dengan perasaan yang semakin kesal dibuatnya.
"Giring mobil itu sampai keluar kota! Buat mereka nggak bisa kembali dengan mudah!"
Sebuah perintah menggema di telinga ketiga pengemudi mobil itu.
"Siap, Pak!"
Mobil paling belakang membunyikan klakson dan menghidupkan mesin meminta Rani melaju mengikuti mobil di depannya.
"Mamah bisa diem nggak? Aku jadi makin pusing denger suara Mamah. Bukannya bantu aku cari cara biar lolos, malah ngerengek kayak anak kecil!" hardik Rani membuat tubuh Lina tersentak.
Dengan terpaksa Rani mengikuti keinginan mereka, melaju mengikuti mobil di paling depan dengan diapit dua mobil lainnya.
"Mereka mau bawa kita ke mana, Rani? Mamah takut." Lagi-lagi Lina merengek.
Air matanya telah berjatuhan membayangkan mereka disergap di sebuah jalanan sepi, dibunuh, lalu dibuang ke dalam laut ataupun ke hutan dan menjadi santapan para binatang buas.
Ia bergidik ngeri, membayangkan hal buruk itu terjadi. Tangannya gemetar dimainkan, basah karena rasa takut yang tak mau pergi. Sementara Rani, sama gelisahnya seperti Lina. Hanya saja, dia bisa bersikap lebih tenang setelah menyadari sesuatu.
"Mereka pasti suruhan si Raja. Dia nggak mau kita mengikuti Mayang, Mah," cetus Rani dengan mata yang memicing tajam.
"Apa?" Mulut Lina terbuka, sungguh tak menduga jika semua itu adalah perbuatan Raja.
"Iya, Mah. Mereka tahu dibuntuti. Makanya melapor pada Raja," sahut Rani masuk akal.
Lina tercenung, mencerna ucapan anaknya dengan situasi yang mereka alami.
__ADS_1
"Kamu bener, tapi kita mau dibawa, Rani? Mamah nggak tahu ini ada di daerah mana?" Panik. Lina yang mulai tenang kembali panik, setelah menyadari tempat yang asing di matanya.
"Nggak tahu, Mah. Aku juga nggak tahu ini di mana? Tapi Mamah jangan panik, kita bisa kembali setelah mereka semua pergi. Buka ponsel Mamah, cari tahu di mana kita," perintah Rani sambil tersenyum sinis.
"Mereka pikir aku bodoh apa? Sekarang ada Mbah Google yang bisa ditanyai arah," gumam Rani tersenyum mencibir.
"Tanara? Ini di mana, Rani? Mamah nggak tahu ini di mana?" jerit Lina setelah mencari tahu keberadaan posisi mereka.
Tanpa mereka sadari, mobil mereka telah keluar jauh dari kota Jakarta. Memasuki wilayah Banten yang sangat asing bagi mereka. Entah jalan mana yang ditempuh ketiga mobil itu, Rani dan Lina tidak begitu memperhatikan.
"Tenang, Mah! Mamah bisa nggak, sih, nggak panik kayak gitu? Tunggu mereka pergi, kita pasti bisa pulang," sentak Rani tak habis pikir dengan wanita paruh baya di sampingnya.
Di jalanan kecil itu, ketiga mobil yang menggiring mobil Rani mulai meninggalkannya satu per satu. Rani tersenyum, ia mengeluarkan ponsel dan mengetik tujuannya kembali. Sayang, Rani bahkan tidak menyadari ponselnya telah disadap.
"Ayo, Mah!"
Peta yang seharusnya mengarah ke kota Jakarta, justru berbalik arah semakin menjauh. Dengan tenang Rani mengikuti arahan dari suara seorang wanita di dalam ponsel.
****
Di Jakarta, Mayang berkali-kali menoleh ke belakang memastikan mobil Rani tak lagi mengikuti.
"Syukurlah, mobil itu udah nggak ngikutin kita," ucap Mayang dengan perasan lega.
"Iya, Kak. Aku jadi mau tahu siapa yang ada di dalam mobil itu?" celetuk Risya masih penasaran dengan orang yang membuntuti mereka.
"Mereka digiring keluar kota, dan kayaknya sulit buat bisa kembali," ucap pengemudi mereka memberitahu.
"Hah ... leganya. Yang penting kita udah lepas darinya," ucap Risya sembari mengusap dada lega.
Ia kemudian memberitahu butik mana yang ingin didatangi. Tiba dengan selamat tanpa kurang suatu apapun jua. Raja telah tiba lebih dulu, ia berdiri di depan gedung menyambut kedatangan mereka.
"Katanya kakak kamu nanti nyusul, kenapa udah ada di sana?" tanya Mayang keheranan.
"Jangan heran. Kalo masalah keselamatan orang-orang yang disayanginya, Kakak selalu berada di paling depan. Apapun akan dia tinggalkan untuk memastikan keadaan orang-orang yang disayanginya."
Mayang terenyuh mendengar penuturan Risya. Hatinya semakin mengagumi sosok Raja.
__ADS_1