
Sebuah pesan berupa gambar screenshot yang dikirimkan Ratna masuk ke ponsel Raja. Pesan seseorang yang menjelekkan Mayang, serta kekhawatiran Ratna akan kabar tersebut.
"Ada apa? Ibu kirim pesan apa?" tanya Mayang ingin tahu. Pasalnya sikap Ratna sedikit berbeda saat ia hendak pergi ke kantor tadi.
Raja menghela napas, ia memberikan ponselnya kepada Mayang agar wanita itu membacanya sendiri.
"Ada yang kirim pesan ini sama Ibu tadi pagi." Laki-laki itu menghela napas lagi, melirik istrinya yang seketika berubah sendu.
"Pantes tadi Ibu agak beda waktu aku pamit mau ke sini. Kirain ada masalah apa, nggak tahunya ini," keluh Mayang menyerahkan ponsel suaminya lagi.
Membuang napas panjang demi mengurangi beban berat yang bergelayut di pundak. Raja mengernyitkan dahi mendengar ucapan Mayang.
"Beda gimana?" tanyanya penasaran.
"Yah, mmm ... gimana, ya?" Mayang menghela napas seraya melanjutkan, "semua orang mengira aku yang mandul. Ibu pasti takut aku nggak bisa hamil, makanya beliau sedikit dingin tadi sama aku mungkin karena pesan itu."
Mayang membalik tubuh menghadap suaminya. Ditatapnya manik hitam itu mencari kejujuran.
"Jujur, kalo aku emang mandul apa kamu juga akan membuang aku? Karena kekuranganku itu, mas Amir berselingkuh berharap akan mendapatkan keturunan dari perempuan lain. Apa kamu akan melakukan hal yang sama?" tanya Mayang sembari menatap lekat-lekat kedua mata Raja.
Hening. Beberapa saat lamanya mereka hanya saling menatap satu sama lain. Mayang tertawa kemudian, semua laki-laki itu sama.
"Aku tahu ini sulit buat kamu, 'kan? Mungkin untuk saat ini kamu akan bilang nggak, tapi aku nggak tahu esok atau lusa. Kamu akan melakukan apa?" Mayang menghendikan bahu sambil tersenyum mencibir dirinya sendiri.
"Kalo kamu udah nggak bisa nerima aku, udah bosan sama aku, jangan main belakang. Jujur aja maka, aku akan memutuskan pergi dari hidup kamu," sambung Mayang sambil tersenyum lebih tenang.
Ia sama sekali tidak terlihat khawatir, apalagi ketakutan seperti halnya orang-orang yang apabila rahasianya terbongkar dan menjadi konsumsi publik. Akan tetapi, Mayang bersikap biasa saja.
Raja masih belum bisa menjawab pertanyaan dari sang istri. Hatinya gamang, rasa gelisah terus datang merundung. Apa yang harus dia ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Mau bertaruh?" tantang Mayang dengan berani.
Raja terhenyak, meneguk saliva karena terkejut. Sungguh hal yang tak terduga Mayang akan mengajaknya bertaruh.
__ADS_1
"Bertaruh apa?" tanyanya gugup.
Mayang menepuk-nepuk perutnya, mengusapnya secara melingkar sambil tersenyum menantang Raja.
"Nggak usah, nggak jadi. Diamnya kamu sudah menjawab pertanyaan aku bahwa semua laki-laki itu sama saja. Hanya merasa dirinya paling sempurna dan menganggap pasangannya terlalu hina. Aku nggak bisa menyalahkan kamu untuk ini. Itu memang sudah fitrah manusia menikah karena ingin memiliki keturunan, tapi berpura-pura menerima yang sebenarnya hanya menyakiti pasangan itupun nggak dibenarkan." Mayang tetap tersenyum pada suaminya itu.
Ia menghela napas, menatap jam di dinding berniat untuk pergi dari kantor Raja. Rasa nyaman sudah tidak bisa dirasakannya lagi di tempat itu, melihat Raja yang hanya diam dan ragu untuk memutuskan.
"Udah siang. Aku mau pulang dulu, ya." Mayang beranjak, tanpa bersalaman ia melawati suaminya dan melangkah tanpa ragu. Tak berniat kembali hanya untuk memelas pada laki-laki itu.
Namun, tak dinyana, Raja justru menarik tangan Mayang dan merebahkannya di sofa. Napasnya memburu, kedua matanya memerah menatap wajah Mayang. Peluh bermunculan di dahi, berkali-kali juga Raja meneguk ludah sendiri.
"Ke-kenapa?" Mayang tergagap, kedua tangan menahan dada Raja yang menindih tubuhnya.
Tanpa menjawab, Raja menarik kerudung Mayang dan melemparnya sembarangan. Dengan kasar memagut bibir itu dan melahapnya rakus. Mayang terhimpit, tapi membiarkan Raja melakukan apa yang ingin dia lakukan.
Laki-laki itu bahkan secara paksa menarik kedua sisi kemeja Mayang sehingga kancingnya terlepas dan berhamburan. Lupa bahwa mereka berada di kantor, Raja bermain dengan liar. Sampai seluruh penutup tubuh mereka terlepas tanpa sadar. Mayang menitikan air mata, pasrah akan hidupnya.
Raja mengangkat tubuh sang istri usai menuntaskan keinginannya. Mendudukkannya di pangkuan, membalut tubuh polos Mayang menggunakan jas miliknya.
Raja memeluk tubuh yang tak tertutup itu penuh penyesalan. Mayang bergeming, membiarkan Raja berbuat semaunya. Bisa saja dia melawan, tapi Mayang lebih memilih diam.
"Aku sudah memutuskan menikahi kamu. Itu artinya aku siap menerima apa yang ada di dalam diri kamu. Bukan cuma kelebihan kamu, tapi semua kekurangan kamu. Sejatinya, nggak ada manusia yang sempurna. Untuk itulah mereka menikah, memiliki pasangan untuk saling menerima, saling menyempurnakan satu sama lain."
Mayang menitikan air mata mendengar kalimat yang menguar dari lisan suaminya.
"Semua yang terjadi di dunia ini, adalah atas kehendak Yang Kuasa. Nabi Zakaria dan istrinya saja dikaruniai Allah nabi Yahya di usia senja mereka. Nggak apa-apa, kita hanya harus berikhtiar untuk meminta belas kasih Sang Kuasa. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Mayang, apalagi sampai mengkhianati pernikahan kita," ungkap Raja mengeratkan pelukannya di tubuh Mayang.
Wanita itu terenyuh, pelan-pelan tangannya terangkat membalas pelukan sang suami. Dikecupnya kepala Raja dengan penuh cinta. Biarlah saat ini ia merasa bahagia, meski esok tak tahu apa yang akan terjadi.
"Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan sama kamu," ucap Mayang lirih di telinga Raja. Ia menyusut air matanya saat menjauhkan tubuh dari kepala sang suami.
"Apa?" Raja menengadah menatap wajah Mayang yang memerah.
__ADS_1
Wanita itu mengambil tas yang teronggok di meja nyaris terjatuh karena aksi brutal Raja. Mengambil sesuatu dari dalamnya, dan menyerahkan sebuah kertas kepada Raja.
"Apa ini?" Raja menerima surat itu dengan bingung.
"Itu hasil tes kesuburan kami, aku sengaja menyimpannya dan nggak ngasih tahu mas Amir tentang itu karena nggak mau dia kecewa. Coba aja kamu lihat," ucap Mayang membuka rahasia yang selama ini ia simpan sendiri.
Penasaran, Raja membuka kertas tersebut dan membacanya dengan teliti setiap detail huruf yang tertuang di dalamnya.
"Jadi, yang sebenarnya mandul itu dia?" Ia menatap istrinya dengan lekat.
Mayang menghela napas hingga membuat dadanya naik dan turun menggoda Raja.
"Yah, itu adalah hasilnya. Aku membiarkan ibunya terus menghinaku, mengatakan aku mandul semata-mata karena nggak mau mereka kecewa dengan kenyataan yang sebenarnya. Bisa aja aku kasih surat itu untuk membela diri, tapi buat apa? Kalo akhirnya aku yang akan tetap disalahkan dan dianggap menipu karena pada dasarnya, ibu mas Amir emang nggak suka sama aku. Sekarang terserah kamu, apa perlu kita melakukan tes itu lagi?" ungkap Mayang menyerahkan semua keputusan kepada suaminya.
Bibir Raja tersenyum, kedua pipinya merona. Ia merapatkan wajah pada dada Mayang tanpa memindahkan pandangan dari wajah cantik itu.
"Nggak perlu. Aku mau lagi, sekali aja nggak cukup," kata Raja sembari bermain-main dengan benda di depannya.
Mayang meringis, merasakan perih di bagian tersebut.
"Kenapa?"
"Perih, coba kamu lihat kenapa? Itu tadi kamu yang buat," ucap Mayang lirih.
Raja memeriksa, ada memar di bagian tersebut karena gigitannya.
"Astaghfirullah! Maafin aku, Yang. Apa sakit?" Raja menatap Mayang penuh sesal.
Ia menganggukkan kepala seraya menjawab, "Sedikit."
Direngkuhnya tubuh Mayang, menyesal karena tak dapat mengendalikan diri sehingga tanpa sadar telah menyakitinya.
"Maaf."
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa."