Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 105


__ADS_3

Senja menjelang, awan-awan berwarna jingga bermunculan menghiasi langit desa Cikate. Perlahan mulai menggelap saat mobil Amir tiba di halaman rumah Mayang. Teras yang tak pernah gelap itu kini tak diterangi cahaya lampu. Tampak sepi seperti tak berpenghuni.


Ia keluar dari mobil, menatap lama rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu. Kepalanya berputar melilau ke segala arah. Masih sama seperti dulu saat ia baru pertama kali menginjakkan kaki di desa tersebut. Sepi saat menjelang Maghrib.


Amir melangkah ragu mendekati rumah tersebut. Rumah itu seolah-olah terpencil, terkucilkan lantaran jarak yang berjauhan dengan rumah-rumah warga yang lainnya. Aroma mencekam membuat tubuh Amir meremang. Seperti rumah-rumah para penyihir di negeri dongeng. Gelap dan sunyi.


Nyanyian binatang malam terdengar lebih nyaring dari biasanya yang dia dengar. Amir berhenti di halaman, sejengkal sebelum memasuki teras. Kembali melilau mencari warga yang melintas atau duduk-duduk di depan rumah. Tak satupun.


Desa itu seperti desa mati, semua penduduknya berada di dalam rumah tak berani keluar saat menjelang Maghrib. Amir menghela napas, meniti langkah lagi mendekati pintu rumah Mayang.


Tok-tok-tok!


"Assalamu'alaikum! Mayang! Ambu!" panggil Amir tak berani meninggikan suaranya.


Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, khawatir ada hal yang akan membuatnya terkejut.


"Assalamu'alaikum, Mayang!" Amir kembali memanggil mantan istrinya.


Ia tersentak, matanya membesar saat sebuah suara tertangkap telinganya. Suara yang semakin lama semakin dekat. Amir terpojok, ingin berlari ke mobilnya terasa sangat jauh. Ia menempelkan punggung di dinding bambu rumah Mayang. Menengadah sambil berdoa untuk keselamatan dirinya.


Suara yang datang dari belakang rumah Mayang semakin nyata terdengar. Amir membuka mata, membayangkan jarak mobil dengan posisinya saat ini sangatlah dekat. Ia meyakinkan diri untuk berlari dan masuk ke dalam benda itu.


Suara itu semakin dekat lagi, di telinga Amir terdengar seperti seseorang yang sedang memukul-mukul tanah dengan benda pipih. Ia meneguk saliva, memandangi mobilnya. Amir beranjak dan berlari, tapi secara kebetulan dia menabrak sesuatu.


"Argh!"


"Duh!"

__ADS_1


Amir tertegun saat mendengar seseorang mengaduh. Rupanya, dia menabrak seorang warga yang melintas di depan rumah Mayang. Amir tidak mengenalnya, tapi cukup merasa lega karena akhirnya seseorang yang diharapakan muncul di depan mata.


Ia beranjak berdiri dan menghampiri orang tersebut. Membantunya untuk beranjak sambil tersenyum ramah.


"Maaf, Pak. Saya nggak sengaja," ucap Amir tak enak.


Laki-laki itu menepuk-nepuk tanah yang menempel di bajunya. Menatap Amir dengan kerutan di dahi.


"Mobil ini punya Bapak?" tanyanya sambil menunjuk mobil Amir.


"Iya, Pak. Saya baru aja dateng dari Jakarta. Tadinya mau jemput istri sama ibu mertua saja di sini, tapi rumah mereka sepi. Saya salam nggak ada yang jawab. Bapak tahu ke mana mereka?" ungkap Amir berharap warga tersebut akan memberitahunya perihal Mayang dan Ambu.


"Oh, Mayang sama mak Leni? Kayaknya udah lama rumah ini kosong, Pak. Saya juga nggak tahu mereka pergi ke mana, soalnya saya baru datang juga. Kayaknya mereka semua pergi, Pak. Rumah pak Tohir juga sepi," ujarnya tak memberikan informasi pasti kepada Amir.


Amir tercenung, berpikir ke mana mereka pergi. Berselang, adzan Maghrib berkumandang. Warga tersebut berpamitan kepada Amir. Ia mengangkat kepala, menatap bangunan yang pernah ditinggalinya bersama sang mantan istri beberapa waktu lamanya.


Ia menghela napas, berbalik dan masuk ke dalam mobilnya. Melaju meninggalkan desa Mayang dengan hati yang hampa. Merenung sepanjang perjalanan, jalanan yang gelap dan sepi, dan dia sendirian.


Ia berdecak, kesal sendiri karena rencananya gagal total. Tak ada warga yang dijumpainya untuk sekedar bertanya mencari jawaban. Ia menghela napas lagi, menyadari sendirian di jalan raya dan dikelilingi hutan, Amir meneguk saliva.


Keadaan mencekam, darah dalam tubuh Amir berdesir membangkitkan halusinasi yang tak nyata.


"Sial!" Dia menginjak pedal gas lebih dalam lagi, melaju dengan kecepatan tinggi menaklukan tikungan tajam, juga kelokan curam. Amir benar-benar ingin segera tiba di Jakarta dengan banyak lampu yang menerangi jalanan.


"Argh! Aku lupa jalanan di sini sepi." Dia menyesali tindakannya yang pergi begitu saja dari desa Mayang. Seharusnya dia menginap saja di rumah kepala desa atau di balai desa.


Amir harus melawan rasa takutnya sendiri, tubuh yang menegang, bulu-bulu berdiri meremang. Amir berlomba dengan jantungnya yang berpacu kencang.

__ADS_1


Meninggalkan Amir yang berjuang melawan ketakutan. Di Jakarta, Rani baru saja tiba di rumahnya. Ia ambruk di sofa, wajahnya kuyu terlihat lelah, padahal dia hanya dari butik seperti biasanya.


"Minum, Nak. Kamu kelihatannya capek banget," ucap Lina sembari memberikan segelas jus segar kepada Rani.


"Makasih, Mah." Gadis itu menerima dan segera menenggaknya.


Lina memperhatikan wajah sang anak, hatinya meringis sedih. Dia masih belum bisa melepaskan perasaannya terhadap Raja.


"Kamu nggak apa-apa, Ran?" tanya Lina. Bukan bertanya tentang keadaan fisiknya, tapi tentang keadaan hati Rani akan kabar pernikahan Mayang dan Raja.


"Kenapa emang, Mah? Mamah pikir aku ini sakit? Aku sehat, Mah. Cuma capek aja," sahut Rani sembari memutar bola mata dengan malas.


"Bukan begitu. Kamu udah denger kabar kalo Mayang sekarang tinggal di rumah Ratna sama ibunya." Lina memastikan raut wajah Rani yang seketika kaku.


Gadis itu kembali meneguk jus, mencoba bersikap biasa saja padahal hati nyeri rasa teriris.


"Ya udah, biarin aja, Mah. Emang mau ngapain gitu?" sahut Rani tak acuh dan terus memainkan ponselnya.


Lina menghela napas, masalah yang terjadi di hidupnya seolah-olah tak pernah usai. Suami yang pergi belum juga kembali ataupun menghubungi hanya sekedar memberi kabar bahwa dia baik-baik saja.


Ingin rasanya menjerit, menumpahkan segala gundah dalam hati. Menangis pun percuma, karena sang suami tak kunjung kembali.


"Udah ada kabar dari papah, Mah?" tanya Rani dari sela-sela aktivitasnya menjelajah dunia Maya.


Lina menghela napas, saking beratnya sampai-sampai Rani dapat mendengar dengan jelas.


"Belum. Mamah udah telpon saudaranya juga, tapi katanya papah nggak pernah datang ke sana. Kira-kira ke mana papah kamu, Ran?" sahut Lina sembari menahan hatinya yang perih.

__ADS_1


Rani menghela napas, tak lagi membahas masalah laki-laki itu. Ia pun tak ingin melihat wajah sedih sang mamah. Sampai wanita ini beranjak dengan meninggalkan ponselnya di sofa. Ponsel yang semenjak kepergian sang suami tak pernah jauh darinya apalagi tertinggal.


Rani melirik, ada sebuah panggilan tak terjawab di layar benda pipih itu. Ia mengambilnya, dan memeriksa si Penelpon.


__ADS_2