
Matahari muncul di ufuk timur, bunga-bunga bermekaran indah, menebarkan wangi yang semerbak, mengundang para kumbang dan kupu-kupu untuk mereguk manis madunya. Menari-nari di atas sang bunga, diiringi irama kicau burung yang mempesona. Menebarkan benih cinta, menyusun asa.
Seperti halnya wajah dua insan di dalam kamar mereka, wajah berseri jelas tercetak. Pada senyumnya, mereka akan tahu arti berbahagia.
"Mas, aku mau nengok Zalfa ke sekolahnya. Katanya hari ini ada acara ulang tahun sekolah dan setiap orang tua diminta datang. Nggak apa-apa, 'kan, aku pergi? Nenek Zalfa lagi sakit, jadi nggak bisa ke mana-mana," ucap Mayang sembari memakaikan dasi Raja.
Laki-laki itu sigap menggenggam tangan sang istri, mengecupnya dengan mesra.
"Jam berapa mulai acaranya?" tanya Raja sembari membenarkan anak rambut Mayang ke telinga.
"Jam sepuluh, nanti aku pergi sendiri aja," jawab Mayang sambil tersenyum merayu.
Raja menggelengkan kepala tegas, menolak memberi izin untuk pergi seorang diri. Mayang mengernyitkan dahi bingung.
"Ingat, di sana ada Rani. Mas khawatir kamu kenapa-napa, soalnya Mas curiga dia yang mengirim pesan teror itu sama Ibu. Pergi sama aku, ya, tapi kita ke kantor dulu. Ada hal yang harus Mas bereskan. Cuma sebentar, dari sana kita langsung ke sekolah Zalfa," ucap Raja disetujui langsung oleh Mayang.
"Ya udah, kita sarapan. Mas laper, semenjak kamu jadi istri Mas bawaannya pengen makan mulu. Lama-lama bisa gendut perut Mas," seloroh Raja diakhiri tawa bersama Mayang.
"Mas duluan, ya. Aku siap-siap dulu, cuma bentar. Tinggal pake kerudung aja, kok," ujar Mayang seraya melepaskan diri dari pelukan sang suami dan mengambil hijab yang telah disediakan.
"Nggak. Mas tunggu kamu aja di sini," ujar Raja seraya duduk di tepi ranjang sambil mengetik pesan untuk sang asisten di kantor.
Sesekali akan melirik Mayang yang tengah sibuk membalut kepalanya menggunakan pashmina. Ia menghampiri Raja dan mengajaknya keluar bersama.
"Lho, Chu? Kamu mau ke mana rapi banget?" tanya Ambu ketika melihat Mayang turun dengan penampilannya yang rapi.
"Mau ke sekolah Zalfa, Ambu. Ada acara katanya, sekalian ketemu teman-teman di sana," jawab Mayang seraya duduk di samping suaminya.
"Hati-hati. Ibu khawatir anaknya Lina itu masih dendam sama kamu," ujar Ratna mewanti-wanti Mayang.
Wanita itu tersenyum, tangannya sibuk meletakkan nasi dan lauk pauk di atas piring.
"Sama Mas Raja ke sananya, Bu. Mayang nggak sendirian," ucap Mayang disambut helaan napas oleh Ratna dan Ambu.
"Syukur kalo gitu, Ibu lega dengernya."
****
__ADS_1
"Persiapkan semuanya, jangan sampai ada kesalahan. Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan saat menyambut CEO kita, bukan? Jangan membuat kesalahan sekecil apapun!" ujar sang direktur kepada pegawai di lobi gedung.
Sesuai arahan dari asisten Raja, yang tak perlu membuat sambutan. Cukup persiapkan tempat yang nyaman untuk istri CEO menunggu.
"Mengerti, Pak!" sahut mereka serentak, sementara yang lain sibuk bekerja dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Begitu pula dengan Amir, yang asyik masyuk di ruangannya bersama sang sekretaris. Sungguh memalukan. Terlena oleh kesenangan sehingga membuatnya lengah dan lupa bahwa kehancuran kapan saja bisa datang.
"Mas, kamu janji mau belikan aku cincin berlian itu. Kapan, Mas? Aku udah terlanjur ngomong sama teman-teman aku, lho." Wanita itu bergelayut manja di pangkuan Amir, sengaja membuka kancing kemeja bagian atas untuk menggoda sang atasan.
"Yah, asalkan setimpal dengan kepuasan yang kamu kasih. Apapun akan aku berikan," sahut Amir dengan pasti.
Wanita tersebut menantang dengan membusungkan dadanya. Kedua mata Amir menjegil penuh napsu, air liurnya terus berkumpul dan hampir menetes. Jika saja tak ingat sedang berada di kantor, mungkin mereka telah terbuai dalam kubangan lumpur yang kotor. Menjijikkan.
Meninggalkan Amir dan asistennya yang tak tahu malu, Mayang tersenyum di sepanjang perjalanan menuju kantor. Tangan mereka saling bertaut, saling melirik dan melempar senyum.
Jalanan ibukota yang tak pernah sepi, kemacetan menjadi pemandangan yang pasti, di setiap hari. Mayang menyempatkan diri pergi ke toko bunga, membeli sebuah buket bunga mawar putih untuk ia berikan kepada Zalfa.
Keningnya mengernyit ketika mobil Raja berhenti di depan sebuah gedung yang asing.
"Mas. Katanya mau ke kantor. Kok, ke sini? Ini bukan kantor kamu, 'kan?" tanya Mayang sembari menyelidik sekeliling lingkungan asing itu.
Mayang membulatkan bibir, manggut-manggut mengerti. Keduanya turun setelah pegawai di kantor tersebut membukakan pintu mobil mereka. dengan bergandengan tangan memasuki gedung, di dalam sang asisten sudah menunggu.
"Selamat datang, Pak, Bu, di kantor cabang!" sapa mereka sembari menundukkan kepala.
"Terima kasih." Raja balas menunduk diikuti oleh Mayang yang terlihat bingung.
"Mari!" Sang asisten menuntun keduanya untuk memasuki sebuah ruangan yang telah dipersiapkan oleh karyawan.
Raja mengibaskan tangan, mereka yang berada di ruangan keluar dengan patuh. Mayang menatap takjub. Sebegitu berkuasakah suaminya itu?
"Keren banget, sih. Cuma tinggal sat-set, sat-set, mereka nurut," celotehnya sambil mengibaskan tangan mempraktekkan cara mengusir Raja. Lalu, terkekeh.
"Itulah suami kamu." Raja ikut tertawa geli.
Ia mengajak Mayang untuk duduk di sofa dengan nyaman.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini, ya. Mas mau memeriksa setiap pekerja di kantor ini," titah Raja kepada istrinya itu.
Mayang mengangguk patuh, tanpa bertanya apalagi membantah. Raja berdiri setelah mendaratkan satu kecupan di dahi istrinya itu. Tinggallah Mayang sendiri, dan Raja mulai berkeliling bersama direktur juga asistennya.
Ia mendengarkan dengan baik laporan dari orang yang dipercayanya untuk mengembangkan perusahaan tersebut.
"Apa manager pemasaran ada di ruangannya?" tanya Raja sembari melirik ruangan Amir.
"Ada, Pak. Apa Anda mau memeriksa ke dalam?" sahut sang direktur.
Raja menggelengkan kepala, ia lanjut berkeliling memeriksa setiap bagian. Tak satupun luput dari sidak yang ia lakukan. Kecuali ruangan Amir yang enggan ia masuki.
Berselang, Amir keluar dari ruangannya, berniat pergi ke lantai bawah untuk mengambil sesuatu di mobil yang tertinggal.
Di lobi, Mayang mulai merasa jenuh ditinggal sendiri. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari teman berbincang. Wanita itu beranjak, berniat menghampiri gadis resepsionis untuk mengusir rasa jenuh.
"Bu! Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya gugup. Ia menoleh ke kanan, khawatir direktur ataupun asisten Raja tengah melihat.
Mayang tersipu tak biasanya dia dipanggil ibu oleh orang yang hampir seusia dengannya.
"Nggak ada apa-apa, kok. Kau cuma bosen aja nunggu sendirian," jawab Mayang apa adanya, "boleh nggak aku di sini ngobrol sama kamu?" lanjutnya bertanya membuat wanita tersebut semakin resah.
"I-iya, boleh, Bu." Ia melirik takut-takut.
"Kamu udah lama kerja di sini?" tanya Mayang mengawali.
"Udah hampir lima tahun, Bu, saya kerja di sini," jawab wanita itu mulai mengakrabkan diri karena sikap Mayang yang ramah.
"Udah lama juga, ya. Kamu senang kerja di sini?" lanjut Mayang bertanya.
"Alhamdulillah. Cuma saya nggak nyangka aja kalo CEO kami itu masih muda. Saya kira udah tua," katanya mulai tersenyum.
"Kamu nggak tahu atasan kamu sendiri? Kok, bisa?" pekik Mayang tak percaya.
"Karena kami nggak pernah lihat CEO. Selalu aja asistennya yang datang, hari ini untuk pertama kalinya pak Al datang ke kantor cabang ini," jawabnya terbata.
Mayang manggut-manggut mengerti. Ia melanjutkan perbincangan hingga tidak menyadari kedatangan seseorang.
__ADS_1
"Mayang?"