
Kemesraan di antara mereka kian kental, membuat siapa saja yang melihat merasakan keirian. Mayang bingung sendiri dengan pakaiannya yang sudah tak layak pakai. Pasalnya hampir semua kancing kemeja itu terlepas dari tempatnya.
Raja memperhatikan sambil tersenyum-senyum sendiri, beruntungnya dia membangun kamar mandi di ruangan tersebut. Ia tidak membiarkan siapapun mengganggunya, bahkan berkali-kali menolak para bawahan yang datang membawa laporan.
"Ini gimana? Masa aku pakai baju kayak gini keluar?" Mayang membalik tubuh menghadap suaminya.
Raja terkekeh lebih keras lantaran bagian perut sang istri terbuka dengan sangat jelas. Mayang mendengus, menutupkan kemejanya dan memeluk tubuh sendiri.
"Ini, 'kan, ulah kamu. Tanggung jawab gimana ini? Aku malu mau keluar," rengek Mayang seraya membanting tubuh di sofa.
Raja menggeleng-gelengkan kepala, baru saja selesai memeriksa sisa laporan. Ia beranjak dari meja kerja menghampiri sang istri di sofa. Dipeluknya tubuh Mayang, diendusnya aroma yang membuat dia mabuk kepayang.
"Nggak usah bingung, pakai jas aku juga bisa. Tunggu bentar, ya. Aku masih ada kerjaan. Nanti kita pulang sama-sama," bisik Raja di telinga sang istri.
Mayang mendesah lega. Laki-laki itu mengambil jas miliknya dan mengenakannya pada tubuh Mayang.
"Gimana? Beres, 'kan?" ucap Raja sembari memperhatikan tubuh istrinya.
"Iya, sih. Coba aja nggak ada kerudung, pasti masih keliatan," sahut Mayang sambil tersenyum lega.
"Ya udah, aku lanjutin kerja, ya. Jangan ganggu aku," ingat Raja seraya beranjak ke mejanya kembali.
Mayang duduk tenang di sofa sambil memainkan ponselnya, memeriksa sosial media menjelajah dunia yang jarang sekali ia kunjungi. Dahi Mayang mengernyit saat sebuah akun meminta pertemanan padanya.
Ia datang memeriksa, membuka profil akun tersebut.
Melina?
Hatinya bergumam ketika mengenali sosok pada foto tersebut. Mayang memeriksa lebih banyak postingan, tak satupun foto yang diunggahnya bersama sang suami. Kebanyakan dia sendiri ataupun bersama teman-temannya.
Satu foto dirinya berada di sebuah jendela, dengan pemandangan danau yang indah.
Jika dia bisa berbuat semaunya. Kenapa aku tidak? Aku bebas terbang ke mana saja yang aku mau. Pada akhirnya, aku memilih pergi.
Seperti itu tulisan yang dituangkan Melina pada fotonya. Hati Mayang bertanya-tanya, tapi kemudian tak mengacuhkannya, bahkan permintaan pertemanan Melina tak digubris Mayang. Rasa sakit karena dulu dia pernah menghancurkan hidupnya, masih terasa di hati.
__ADS_1
Mayang melanjutkan memeriksa akun Risya yang sejak pernikahan tak usai memasang gambar kebersamaan mereka. Gambar-gambar yang dipenuhi senyum kebahagiaan. Tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum.
Mayang menggigit bibir sambil berpikir untuk mengganti foto profilnya yang bergambar tulisan saja menjadi foto pernikahan mereka. Ia melirik Raja yang tampak serius, ragu meminta izin laki-laki itu untuk hal tersebut.
"Mmm ... Mas!" panggil Mayang lirih dan ragu.
"Mas!" panggilnya lagi masih membuat Raja tidak berpaling padanya.
"Mas, aku mau pakai foto pernikahan kita di profil media sosial aku, ya? Boleh nggak?" tanya Mayang menepis rasa ragu untuk bertanya.
Gerakan tangan Raja yang sedang membubuhkan tanda tangan berhenti secara spontan, tubuhnya menegang, alisnya bertaut nyaris menyatu. Jantungnya berdegup-degup kencang, rasa aneh perlahan menghangatkan hatinya. Ia mendongak menatap Mayang dari balik layar laptop di depan matanya.
"Kamu panggil aku?" tanya Raja rasa tak percaya.
Mayang mengangguk malu-malu, menunduk untuk menutupi wajahnya yang merona.
"Kamu panggil apa? Aku nggak jelas tadi dengernya," pinta Raja menutup laptop agar bisa melihat wajah sang istri dengan jelas.
Mayang melipat bibir, menahan senyum yang ingin terbentuk. Hatinya melompat-lompat tak karuan. Sungguh, debarannya membuat jantung serasa dipukul-pukul gada.
Bunga-bunga bertaburan seperti daun-daun yang berguguran di musim gugur. Raja tersenyum senang, telinganya ingin mendengar sekali lagi.
"Ulangi! Panggil aku dengan itu!" pintanya sambil memejamkan mata. Menghayati alunan suara merdu sang istri yang mendayu di telinga.
"Mas!" Mayang menatap wajah suaminya, bibir itu membentuk senyum lebar. Membuatnya terkekeh sendiri.
"Aku suka," katanya tanpa membuka mata.
Mayang beranjak dari duduk, menghampiri suaminya yang larut dalam khayalan. Ia sedikit membungkukkan tubuh, untuk berbisik di telinga Raja.
"Mas, boleh aku pasang foto kita di media sosial?" Mayang buru-buru menegakan tubuh, mundur sedikit menjauh ketika Raja membuka matanya dengan cepat.
Laki-laki itu menepuk-nepuk pahanya, meminta Mayang untuk duduk di sana. Ia menurut dan mendaratkan bokong di paha kiri suaminya.
"Diam di sini, kamu sudah mengganggu." Raja memeluk pinggang Mayang, sebelah tangannya yang lain bekerja menandatangani dokumen.
__ADS_1
"Itu apa? Apa cuma begini kerjaan kamu, Mas? Tanda tangan, tanda tangan, udah. Beres, selesai, pulang," celetuk Mayang dengan polosnya.
Raja terkekeh, tapi tidak menjawab. Ia membiarkan sang istri terus berceloteh bertanya tentang apa saja pekerjaan seorang atasan seperti dirinya.
"Selesai!" Raja meletakkan bolpoin di tempatnya, menutup dokumen dan menumpuknya dengan yang lain. Ia memandang Mayang yang berkedip-kedip gemas.
Wanita itu tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Melihat Raja dengan kedua mata yang bersinar.
"Udah. Gitu doang? Enteng banget kerjaan kamu, Mas," ejek Mayang masih menertawakan suaminya.
"Maksud kamu apa nganggep kerjaan aku enteng, hah? Kamu pikir cuma tinggal tanda tangan, tanda tangan, udah gitu aja beres?" Raja merasa gemas dengan kepolosan sang istri.
Mayang mengangguk-angguk kecil, persis anak kecil di mata Raja. Oh, dia lupa. Istri ibarat seorang anak kecil dan suami adalah tempat bermanjanya.
Raja menghela napas, menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.
"Kamu gemesin banget, sih. Aku jadi pengen makan kamu lagi." Ia mendekap tubuh Mayang, memainkan kepalanya di dada sang istri membuat Mayang tertawa kegelian.
"Mas, geli!" katanya sambil menahan kepala sang suami.
Raja mendongak, menatap bibir manis yang selalu menggodanya itu.
"Itu nggak seenteng yang kamu bayangin, sayang. Aku harus memeriksa dengan teliti, setiap angka, setiap huruf, nggak boleh ada yang salah. Kamu pikir nggak pusing begitu?" Raja menggigit gemas bagian depan tubuh Mayang.
"Ugh! Suka banget gigit-gigit, ih! Aku, 'kan, nggak tahu. Aku pikir cuma gitu aja, duduk anteng terus tanda tangan, udah beres," ucap Mayang sambil menangkup wajah Raja yang tak lepas dari menatapnya.
"Apa tuh?" Mayang menahan senyum ketika Raja memajukan bibirnya. Ia juga menggerak-gerakkannya agar Mayang menyambut dengan segera.
Malu-malu ia menyambar bibir sang suami, menyesapnya sebentar. Kemudian menjauh sambil berpaling muka.
"Masa cuma gitu aja? Nggak seru, ih!" rengek Raja tak merasa puas dengan pemberian sang istri.
"Ih, ini masih di kantor, Mas. Nantilah di rumah." Mayang menahan wajah suaminya agar tidak terus mendekat.
"Bener, ya. Aku tagih di rumah. Ayo, pulang!" Dengan semangat menggebu, Raja membereskan meja kerjanya.
__ADS_1
Menyambar kunci mobil, dan menggandengnya keluar ruangan. Ah, salah ucapkah Mayang? Ia pasrah.