Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 91


__ADS_3

Di teras rumah sederhananya, Ambu sedang duduk menunggu Mayang yang pergi membeli beras. Sambil memisahkan daun-daun singkong dari batangnya yang ia petik sendiri di belakang rumah.


Wajah tuanya yang menunduk seketika menengadah disaat sebuah mobil menderu memasuki halaman. Ambu mengernyit, tak tahu siapa yang datang? Apakah calon menantunya? Karena yang ada dalam pandangan, hanya kabut putih saja.


Suara pintu mobil yang ditutup dengan kencang turut mengusik telinga Ambu. Wanita tua itu beranjak turun, kemudian berdiri di teras rumah menyambut tamu yang datang. Bibirnya tersenyum meskipun belum terlihat jelas sosok yang keluar dari dalam mobil.


Dia Rani, dengan gayanya yang arogan berjalan mendekati rumah Mayang. Berhenti beberapa jengkal dari posisi Ambu berdiri, menelisik wanita tua itu dari kepala hingga kaki. Ia melipat kedua tangan di perut, menatap sekitar rumah Mayang yang tak layak huni menurutnya.


Rani mencibirkan bibir, merendahkan keadaan Mayang juga tempat tinggalnya yang jauh dari kata layak.


"Ternyata begini keadaan Mayang di desanya. Pantes aja kayak orang kelaparan waktu tinggal di rumahku. Rupanya dia emang orang miskin yang rumah aja mau roboh kayak gini," celoteh Rani membuat senyum Ambu menghilang.


"Bener kata orang tua dulu, kucing kalo disuguhi ikan pasti akan disergap dengan rakus. Mungkin itu gambaran yang pas buat si Mayang," ejeknya terus menertawakan rumah Mayang.


Ambu meneguk ludah basi, hati tuanya tidak terima sang anak dihina-hina. Apalagi dia sama sekali tidak mengenal siapa yang sudah menghina Mayang.


"Maaf, siapa anak ini? Kenapa datang-datang terus langsung menghina orang lain?" ucap Ambu dengan suaranya yang khas seorang wanita tua.


Rani mengalihkan pandangan pada Ambu, menilik tubuh wanita ringkih itu dengan tajam.


"Di mana Mayang? Saya mau ngomong sama dia," ucap Rani dengan ketus. Ia enggan menjawab pertanyaan Ambu mengenai siapa dirinya.


"Mayang nggak ada di rumah. Kalo mau ngomong, sama saya aja. Saya ibunya, nanti saya sampaikan sama Mayang," ujar Ambu dengan segala kebingungan yang melanda hatinya.


Rani membeliak, tertawa kecil sembari menutup mulutnya.


"Oh, jadi ini ibunya Mayang. Kasihan banget udah punya ibu tua juga masih aja bikin susah. Ya udah, aku bilang aja sekalian sama Ibu kalo Mayang itu udah ngerebut calon suami aku. Dia deketin aku, deketin mamah aku, dia ambil apa yang seharusnya jadi milikku," sengit Rani menatap nyalang pada wanita tua itu.


Ambu menggeleng-gelengkan kepala, teringat akan ucapan Ratna tempo hari bahwa apapun yang dikatakan orang lain jangan pernah mempercayainya. Kini, Ambu mengerti dengan siapa sedang berhadapan. Dia manusia egois yang segalanya harus dia dapatkan.

__ADS_1


"Maaf, Nak. Setahu saya Mayang itu nggak ngerebut calon suami siapa-siapa. Mungkin kamu salah orang, bukan Mayang yang kamu maksud," ujar Ambu tetap bersikap tenang, bahkan tersenyum kepada Rani.


Gadis itu menurunkan tangannya kesal, memburu udara dengan rakus karena emosi yang tiba-tiba membuncah.


"Kamu itu nggak tahu, 'kan, apa yang dilakukan Mayang di Jakarta sana? Dia itu penggoda suami orang. Kelihatannya aja alim dan baik, padahal rusak. Kasihan banget ibunya yang udah tua ini, harus menanggung dosanya," ujar Rani mengejek kedua penghuni gubuk itu.


Ambu menggelengkan kepala lagi, dia sangat mengenal Mayang dan percaya anaknya itu tidak akan melakukan hal diluar batasan.


"Saya rasa bukan Mayang, tapi mungkin orang yang membicarakan Mayang begitu yang sebenarnya rusak. Dia anak yang baik, gadis penurut, tahu mana yang baik dan buruk buat dirinya sendiri. Jadi, maaf saja saya lebih percaya anak saya dari pada orang lain," ujar Ambu masih dengan senyum tersemat di bibir keriputnya.


Kurang ajar! Susah juga ngehasut wanita tua ini, tapi aku nggak boleh nyerah. Kalo aku nggak bisa bahagia, dia juga nggak boleh bahagia.


Rani menghela napas, mencoba untuk lebih tenang. Ia tertawa kecil, mengibaskan tangannya ke samping.


"Terserah Ibu, ya, tapi tolong bilang sama Mayang balikin calon suami aku. Dia udah ngerebutnya dari aku, padahal kami sebentar lagi mau nikah. Dia itu pelakor, sukanya ngerebut suami orang!" Rani memicingkan mata, memancarkan dendam yang mendalam.


"Maaf, Nak. Saya tegaskan sama kamu, kalo Raja itu calon suami Mayang. Kamu sebaiknya bisa menerima itu, jangan merusak kebahagiaan wanita lain kalo kamu nggak ingin kebahagiaan kamu sendiri rusak. Sebaiknya, kamu pergi dan biarkan anak saya bahagia dengan calon suaminya," ucap Ambu mulai tak senang dengan sikap Rani yang arogan dan egois.


"Kurang ajar! Dasar wanita tua nggak tahu diri, bukannya nasihati anaknya supaya nggak ngerebut calon suami orang, malah menyalahkan orang lain. Mayang itu nggak pantes buat Raja. Dia nggak sepadan, Raja nggak bisa punya istri yang nggak berpendidikan kayak Mayang. Cuma bikin malu aja," hardik Rani dengan kejamnya.


"Kami memang miskin harta, tapi nggak miskin hati juga pemikiran. Kami nggak pernah mengemis sama siapapun. Raja udah memilih Mayang buat jadi istrinya, buat apa kamu ngejar laki-laki yang jelas-jelas nggak cinta sama kamu. Itu cuma akan nyakitin hati kamu aja." Ambu menatapnya lekat-lekat, sedikit lebih jelas wajah Rani jika berhadapan secara langsung.


"Kurang ajar!" Rani mendorong tubuh Ambu hingga terjerembab di lantai teras, "ibu sama anak sama aja. Sama-sama nggak tahu diri!"


"RANI!" bentak Mayang yang tertegun sejenak melihat Ambu didorong Rani.


Ia berlari kemudian menarik tangan Rani untuk menjauh dari Ambu. Lalu ....


Plak!

__ADS_1


Satu tamparan Mayang mendarat di pipinya. Belum pernah Rani melihat Mayang semarah itu. Ia memegangi pipinya yang terasa ngilu, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan setetes darah dari sana.


"Kenapa kamu dorong Ambu? Kamu nggak lihat dia udah tua! Kamu buta!" bentak Mayang berapi-api.


Air matanya berjatuhan mengingat mereka adalah sahabat. Hatinya sakit, hanya karena seorang laki-laki Rani tega menyakiti ibunya.


"Ambu udah tua! Kalo mau, sakitin aku aja. Jangan Ambu!" lanjut Mayang masih dengan nada tinggi melengking.


Rani mengeraskan rahang, menahan ngilu sekaligus emosi yang memuncak.


"Kurang ajar!" Gadis itu mengangkat tangan hendak menampar balik Mayang.


Namun, tangan Mayang sigap menangkapnya. Mencengkeram dengan kuat tangan Rani hingga membuatnya meringis.


"Aku bisa aja patahin tangan kamu ini karena udah lancang nyakitin Ambu. Aku nyesel pernah jadi sahabat kamu, Rani. Aku nyesel kenal sama kamu. Kamu egois, Raja itu bukan calon suami kamu, tapi calon suami aku! Jangan pernah mengaku-ngaku sesuatu yang bukan punya kamu. Jangan pernah!"


Mayang menghempaskan tangan Rani cukup kuat hingga membuatnya termundur beberapa langkah. Ia kembali meringis sambil memegangi tangannya yang memerah.


Mayang buru-buru menghampiri Ambu, membantu wanita tua itu untuk bangkit dan mendudukkannya di amben. Ia memeriksa tubuh renta Ambu khawatir ada tulang yang patah.


"Ambu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Mayang sembari menatap wajah Ambu.


Ambu menggelengkan kepala, mengusap wajah Mayang yang berair.


"Aku nggak terima! Sampai kapanpun Raja itu punyaku, dia harus nikah sama aku. Bukan sama kamu, Mayang!" teriak Rani.


Ia menatap sekeliling, pada warga yang berkumpul menonton keributan itu.


"Kalian semua denger! Dia, udah ngerebut calon suami aku. Dia bukan perempuan baik-baik, dia penggoda suami orang. Kalian harus tahu itu!" Seperti orang gila, Rani berteriak pada semua orang memfitnah Mayang.

__ADS_1


Ambu memeluk anaknya, memintanya untuk tidak terpancing emosi. Mayang menangis tergugu dalam dekapan hangat wanita tua itu. Desas-desus mulai terdengar, warga di desa itu sedikit terhasut oleh ucapan Rani.


"Tukang fitnah! Kamu perempuan menjijikkan yang pernah aku temui."


__ADS_2