
"Bu, persiapan buat nikah kakak udah selesai semuanya, 'kan? Apa masih ada yang kurang lagi?" tanya Risya pada Ratna yang juga sibuk menyiapkan acara resepsi pernikahan untuk Raja.
"Ibu nggak tahu, coba kamu tanya orang yang ngurusin semuanya. WO-nya itu, udah selesai semuanya belum?" saran Ratna sambil memeriksa jumlah undangan yang akan ia sebar.
Risya megambil ponsel, mengubungi WO yang menangani pernikahan sang kakak. Sementara Ratna, tertegun melihat satu buah surat undangan bertuliskan nama sahabatnya, Lina.
Ia menghela napas, ragu mengirimkan surat tersebut. Pasalnya, dari sejak penolakan itu hingga kini mereka belum sekalipun berkomunikasi.
"Kalo bukan karena Mayang yang minta, rasanya aku nggak mau ngundang mereka. Nggak tenang, takutnya bikin masalah," gumam Ratna sembari memisahkan surat tersebut dengan yang lainnya.
"Siapa, Bu?" tanya Risya yang samar mendengar gumama sang ibu.
"Ini, bu Lina sama anaknya. Ibu takut mereka bikin masalah saat acara nanti." Ratna menjawab sambil kembali memeriksa undangan bersama asisten rumah tangganya.
"Kalo Ibu takut, nggak usah dikasihin aja, Bu." Risya mengusulkan.
"Yah, Ibu yang nggak enak nantinya sama Mayang. Ini, 'kan, dia yang minta supaya ngundang mereka. Mau gimana lagi? Mudah-mudahan aja nggak ada masalah," sahut Ratna sembari menghela napas.
"Udah rampung semua katanya, Bu. Tempat juga udah beres, baju pengantin tinggal dicoba aja sama kak Mayang nanti," beritahu Risya disambut ucapan syukur oleh Ratna.
Hari itu Raja pergi bersama sang asisten untuk menjemput Ambu dan Mayang di desa. Ratna tidak mengizinkannya pergi sendiri karena khawatir terlalu lelah di perjalanan.
"Ibu denger kakak kamu pergi sama anak angkatnya Mayang, ya?" tanya Ratna.
"Iya, Bu. Dia nangis aja katanya pengen ketemu sama kak Mayang. Jadi, diajak sama kakak," jawab Risya sambil memainkan ponselnya.
"Oh, makanya dia bawa mobil rumahnya itu?"
"Iya."
Mobil yang dulu sering digunakan Raja untuk berkemah. Rumah kedua baginya yang akan digunakan saat bosan dengan pekerjaan. Karena perjalanan ke desa Mayang tidaklah sebentar, dan Raja ingin membuat Zalfa merasa nyaman. Ia membawa mobil tersebut.
Meninggalkan Ratna dan Risya yang sibuk mempersiapkan acara, Raja baru saja tiba di gang menuju rumah Zalfa. Gadis kecil itu sudah menunggunya di sana bersama sang nenek.
Ia membuka pintu, dan meminta Zalfa untuk naik. Raja memilih duduk di samping sang asisten, dan Zalfa sendiri di belakang asik menonton televisi.
****
Di desa.
__ADS_1
Sudah dua bulan berlalu, dan selama itu juga tidak ada kegiatan yang dilakukan Mayang di desa. Ambu bahkan melarangnya untuk pergi ke sungai walau hanya sekedar mencuci. Bosan. Satu kata itu yang menjelaskan wajah Mayang sekarang.
Anyaman hateup sudah tidak mereka kerjakan lagi, padahal dua hari yang lalu seorang tengkulak datang untuk mengambil hateup yang dibuat Ambu dan Mayang. Di atas amben, wanita itu duduk, memeluk sebuah kayu dengan kedua kaki berayun-ayun.
Kepalanya dijatuhkan di atas kayu tersebut, pandangan menerawang entah apa yang dilihatnya.
"Bosen banget, nggak bisa ke mana-mana. Gara-gara makhluk asing itu aku jadi kena imbasnya. Lagian Ambu nurut banget sama si Raja," gerutunya memanyunkan bibir kesal.
Melihat warga lainnya datang dan pergi ke tepi sungai, membuat Mayang merasa iri ingin melakukan hal yang sama. Jika saat kecil dulu, dia akan pergi meski tanpa izin sang Ambu. Namun, sekarang semuanya berbeda, ia sudah dewasa dan tak seharusnya menyusahkan orang tua.
"Chu! Pergi ke warung, ya. Beli beras. Ini udah abis," titah Ambu yang membuat Mayang sedikit berbinar.
Dia beranjak dengan cepat, menyambar uang yang disodorkan Ambu padanya. Membawa serta ponsel di saku, sekalian mencari signal untuk mengusir rasa bosan.
Mayang duduk sebentar di warung untuk menjelajah medis sosial atau membalas pesan yang masuk. Ia tersenyum saat Risya mengiriminya gambar gaun pengantin yang harus dicobanya.
"Nak Mayang, nggak balik lagi ke Jakarta?" tanya pemilik warung setelah meletakkan beras pesanan Mayang.
"Balik kayaknya, Teh. Nanti paling kalo udah nikah, ikut sama suami," jawab Mayang sambil tersenyum.
"Wuih, cepet banget dapat gantinya. Maklum, orang cantik, mah, cepet lakunya, ya." Ia tersenyum kepada Mayang.
"Iya. Kamu bener, Mayang. Teteh juga kalo bukan karena kebutuhan nggak mau nikah lagi, tapi lihat keadaan susah butuh pendamping buat menuhin isi perut," keluh pemilik warung tersebut teringat pada kehidupannya dulu.
"Itulah hidup, Teh. Apalagi di Jakarta, apa-apa serba beli. Kencing aja harus bayar," ucap Mayang sambil terkekeh.
Ia tengah asik berbincang dengan pemilik warung, juga bergerilya di media sosial saat sebuah mobil memasuki desa. Terus melaju ke perkampungan Mayang dengan angkuhnya.
"Eh, May. Calon suami kamu yang ini orang Jakarta juga?" tanya pemilik warung tersebut.
Mayang mengangkat wajah, melihat ke arahnya.
"Iya, Teh. Mungkin udah jodohnya kali Mayang nikah sama orang Jakarta juga," jawab Mayang mengingat Amir pula dari Jakarta.
Keduanya asik berbincang sampai satu pesan masuk ke ponselnya. Pesan yang membuat Mayang membeliak senang.
Ibuzalfalagidijalanmaukerumahibu. Zalfakangensamaibu.
(Ibu, Zalfa lagi di jalan mau ke rumah Ibu. Zalfa kangen sama Ibu.)
__ADS_1
Mata Mayang memanas membaca deretan huruf yang ditulis Zalfa tanpa spasi. Ia mendekap ponsel, menengadah menahan air agar tidak terjatuh dari mata. Mayang menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan gejolak yang membuncah.
Dengan cepat dia menekan tombol panggilan menghubungi anak angkatnya itu.
"Ibu!" Suara lengkingan Zalfa menyapa telinganya.
"Zalfa mau ke rumah Ibu sama siapa?" tanya Mayang ingin tahu.
Terdengar bisikan dari seberang sana, tapi tak jelas di telinga Mayang.
"Ibu Zalfa udah masuk perkebunan karet, katanya bentar lagi sampe rumah Ibu," sahut Zalfa tidak menjawab pertanyaan Mayang sebelumnya.
Kedua mata Mayang membelalak. Dia tidak memiliki persiapan apapun untuk menyambut kedatangan mereka.
"Katanya Ibu nggak usah repot buat masak, tadi Zalfa udah beli makanan di jalan. Kita makan sama-sama di rumah Ibu, ya," ucap Zalfa lagi yang diajari Raja secara berbisik.
Mayang menyadarkan dirinya dari lamunan, larut memikirkan bersama siapa dia datang.
"Iya, tapi kamu sama siapa ke rumah ibunya?" tanya Mayang penasaran.
Suara bisikan lagi-lagi terdengar di telinga Mayang.
"Sama calon ayah Zalfa, Bu. Katanya mau jemput Ibu sama Nenek," jawab Zalfa.
Mayang tercenung, memikirkan dua kata tadi. Calon Ayah? Otaknya berputar mencari-cari sosok siapa yang dimaksud oleh anak tersebut. Belum sempat menemukannya, sebuah teriakan memanggil nama Mayang mengalihkan perhatiannya.
"Mayang! Mayang! Ambu ... Ambu kamu!"
"Ambu!" Tubuh Mayang berdiri dengan cepat, rasa gelisah terus datang merundung hatinya.
"Kenapa sama Ambu!" tanya Mayang sedikit memekik.
Di seberang telepon sana, Raja mengernyit. Zalfa pula terdiam, mendengarkan suara kepanikan Mayang.
"Itu, ada perempuan yang marahin Ambu. Dia maki-maki Ambu kamu, Mayang. Cepat pulang! Kasihan Ambu!" ucapnya.
Napas Mayang tercekat, tanpa mematikan telepon. Dia menyambar beras dan berlari meninggalkan warung. Di seberang telponnya, Raja ikut menegang. Meminta sang asisten untuk mempercepat laju mobil.
Siapa yang datang?
__ADS_1