Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 112


__ADS_3

"Kenapa dia di ruangan kamu, Mas?"


Raja terhenyak mendengar pertanyaan sang istri, kerutan di dahinya muncul ketika melihat Mayang menatap curiga pada gadis di depan meja kerja itu.


"Kenapa kamu ada di ruangan suami saya?" tanya Mayang pada gadis yang menundukkan wajah itu.


Tangannya saling bertaut gugup, seolah-olah ia kedapatan akan mencuri.


"Sayang. Kamu salah faham," ucap Raja sembari menarik tangan Mayang dan memeluk pinggangnya.


Mata Mayang tak beralih dari gadis itu, wajahnya masam dan menghitam. Bayangan Melina yang merusak rumah tangganya dulu kembali melintas menjadi mimpi buruk dalam kehidupan Mayang.


"Kamu pergi!" usir Raja pada gadis tersebut.


Ia mengangguk pada keduanya seraya berbalik dan pergi keluar dari ruangan sang atasan.


"Kenapa kamu usir dia? Kamu takut ketahuan kalo dia itu godain kamu?" selidik Mayang memalingkan wajahnya dari sang suami.


Raja terkekeh, tangannya membalik dan menarik tubuh Mayang untuk duduk di pangkuan. Di dekapnya dengan erat tubuh itu, dipandangi dengan penuh cinta.


"Dia karyawan Mas," ucap Raja meluruskan pemikiran Mayang.


"Terus kalo dia karyawan kamu, dia nggak mungkin godain kamu, gitu?" sungut Mayang.


Api cemburu berkilat-kilat di kedua matanya. Bukan hanya itu, ketakutan pun jelas terlihat memancar dari sana. Raja yang tahu seperti apa kisah masa lalu Mayang, memaklumi sikap istrinya itu.


"Dia datang cuma ngasih laporan. Mau bantu Mas memeriksanya? Supaya kamu nggak nganggep kalo kerjaan Mas itu enteng," jawab Raja menunjukkan berkas laporan yang diserahkan pegawai tadi.


Mayang menyelidik manik hitam di depannya, manik menghanyutkan dan selalu membuatnya mabuk. Raja menyematkan senyum, kedua tangannya melingkar di tubuh Mayang.


"Kamu nggak bohong, 'kan? Soalnya dulu mas Amir juga tergoda sama sekretarisnya. Aku takut kamu juga kayak gitu," lirih Mayang bergetar sambil membuang pandangannya dari Raja.


Laki-laki itu meletakkan telunjuk di dagu Mayang, memutar wajah sang istri agar menghadapnya.


"Jangan samakan suamimu ini sama dia!" bisik Raja sembari menilik penampilan Mayang, ia ingat itu pakaian yang dipesannya tadi malam.


"Kamu udah lihat hadiahnya? Gimana? Suka?" tanya Raja sambil menelisik wajah istrinya yang secara perlahan merona.


"Kenapa Mas beli baju kayak gitu? Lihatnya aja aku malu, apalagi makenya?" Mayang bersungut-sungut sambil memukul manja dada suaminya.


Raja kembali terkekeh, gemas dengan tingkah sang istri.


"Tapi Mas mau kamu pakai itu nanti malam. Jangan pakai piyama lagi," pintanya sembari mendekatkan wajah mereka.

__ADS_1


Dipagutnya bibir itu, dilahapnya dengan lembut. Raja tak sabar ingin melihat tubuh Mayang berbalut lingerie yang dibelinya secara khusus. Tangannya tak henti merayap, membuat Mayang tanpa sadar mendesah.


Mereka melepas pagutan, menyatukan dahi sambil memburu udara karena keinginan terus memuncak.


"Rasanya nggak pernah puas, aku selalu pengen lebih dan lebih." Raja berdesis. Ia meneguk saliva menahan keinginannya untuk melahap sang istri.


Mayang tidak menyahut, perlahan menjauhkan wajah mereka dan membentuk jarak yang tak seberapa.


"Apa kamu keberatan melayani Mas, sayang? Kalo kamu keberatan ataupun capek, kamu bilang aja. Jangan sungkan," ucap Raja sembari membelai pipi Mayang.


Mayang menggelengkan kepala, sama sekali tidak merasa keberatan melayani suaminya.


"Nggak sama sekali. Kenapa harus keberatan kalo aku sendiri suka?" sahut Mayang. Kedua pipinya kembali merona, merasa malu dengan jawabannya sendiri.


"Yah, aku suka." Raja memeluk tubuh itu, kemudian mengajaknya beranjak untuk duduk di sofa.


"Yang, abis makan nanti ikut Mas, ya. Ada pertemuan sama klien," ajak Raja sambil melahap makan siangnya.


"Apa nggak apa-apa aku ikut, Mas?" tanya Mayang merasa tak perlu karena dia memang tidak mengerti.


"Ya, nggak apa-apa, dong. Siapa yang mau melarang. Kamu cuma temenin Mas," sahut Raja.


"Pelan-pelan makannya. Nanti keselek," ingat Mayang ketika melihat Raja makan dengan sangat lahap.


Mayang mendekat, menjatuhkan dagu di pundak suaminya yang asik makan.


"Cinta. Rahasianya ada cinta di setiap masakan yang aku suguhkan buat suamiku," tuturnya sedikit berbisik di telinga Raja.


Raja berhenti mengunyah, tersenyum kemudian. Lalu, melanjutkan lagi makannya sampai tak tersisa.


****


Pertemuan dilakukan di sebuah ruang privat di cafe yang cukup terkenal di Jakarta.


Lima orang mengadakan pertemuan dengan Mayang yang duduk di tempat lain karena tak ingin mengganggu jalannya acara meeting. Sambil memainkan ponsel, ia mendengarkan perbincangan yang membahas soal iklan dan konsepnya.


Mayang mengernyit mendengar konsep yang dibahas dalam pertemuan mereka. Teringat akan pertemuannya waktu lalu dengan seorang klien bersama Amir dan Melina. Ia mengeluarkan sebuah ide yang diterima dengan baik pada pertemuan dulu.


Selama hampir dua jam lamanya, ia menunggu dengan sabar tanpa ikut campur sampai pertemuan tersebut berakhir Mayang masih duduk di kursi lain menunggu Raja memanggil.


"Yang! Sini!"


Panggilnya Raja membuat Mayang beranjak dan menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Mas, kayaknya aku tahu salah satu dari mereka tadi." Mayang mengutarakan isi hatinya.


"Oya? Ketemu di mana?" selidik Raja menilik wajah sang istri.


"Yang tadi ngomongin soal konsep iklan itu. Aku nggak tahu lupa namanya, dia pernah ketemu sama mas Amir waktu itu buat ngebahas konsep iklan yang dibuat Melina. Aku nggak sengaja ada di sana dan ikut duduk." Mayang mengingat-ingat, itu adalah awal kehancuran rumah tangganya bersama Amir.


"Oya? Terus kenapa kamu tadi malah duduk sendiri aja di sana?" tanya Raja.


Mayang menghendikan malu.


"Aku malu, kalian laki-laki semuanya dan cuma aku perempuan. Malu, Mas," ucap Mayang sejujurnya.


Raja meraih bahu sang istri, mengecup pelipisnya dengan mesra. Begitulah seharusnya.


"Mmm ... jadi ide yang dari aku itu yang akan dipake buat iklan produk baru perusahaan kamu, Mas? Eh ... tunggu dulu!" Mayang terhenyak saat menyadari sesuatu.


"Ada apa?" Raja mengernyit bingung.


"Kalo itu perusahaan kamu, berarti mas Amir itu bawahan kamu, Mas?" pekik Mayang membesarkan kedua biji matanya.


Raja terkekeh, mengangguk pasti untuk menjawab teka-teki sang istri.


"Iya. Dia kerja di kantor cabang, bagian pemasaran," ujar Raja.


Mayang menahan napasnya, kebetulan yang tak terduga.


"Tapi kenapa dia mengejek kamu, Mas? Terus kamu juga diem aja. Padahal dia bawahan kamu, 'kan?" ucap Mayang masih tak percaya.


Raja tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang istri.


"Itu karena Mas dulu nggak pernah ada di kantor. Mas nggak terlalu suka duduk di kursi. Semua pekerjaan Mas, paman yang handle. Makanya dia nggak kenal Mas sebagai atasan, dan Mas juga baru tahu kemarin-kemarin kalo dia kerja di perusahaan cabang," terang Raja disambut anggukan kepala oleh Mayang.


"Tadi kamu bilang itu ide kamu?" tanya Raja mengingat Mayang mengatakan tentang idenya.


"Iya. Itu iklan buat ramadhan nanti, 'kan?" tanya Mayang.


"Iya. Kalo gitu kenapa disitu nggak ada nama kamu? Harusnya kamu dapet bagian dari proyek ini," ujar Raja memberitahu Mayang.


Wanita itu menghendikan bahu tak tahu.


"Aku nggak tahu. Waktu itu cuma asal ngomong aja, sih. Nggak nyangka akhirnya dipake juga," ujar Mayang tak acuh.


Raja menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2