
"Nggak perlu! Suratnya ada di sini!"
Sebuah suara berat khas seseorang yang mereka kenal, menyentak keduanya. Melina mematung di anak tangga yang ketiga. Sementara sang ibu mertua terus berbalik dan mengernyit seketika.
Ketukan langkah bukan milik satu orang itu membuat Melina penasaran ingin berbalik. Mulutnya terbuka lebar melihat dua orang bergandengan mesra memasuki rumah. Matanya berkedip-kedip memanas, menggenang air di pelupuk.
Dengan cepat menghampiri Amir yang berdiri di hadapan sang ibu bersama seorang wanita.
"Siapa dia, Amir?" tanya sang ibu menunjuk wanita di samping anaknya tak senang. Bertambah lagi beban, berkurang lagi jatah untuknya.
"Saya Alin, Tante," ucap wanita itu sembari menyalami ibu Amir dengan sopan.
Tingkahnya yang lemah lembut, menerbitkan harapan di hati tua wanita itu.
"Siapa dia, Mas? Kenapa kamu datang sama dia?" bentak Melina menunjuk wanita yang bersama Amir dengan marah.
"Siapa dia? Apa peduli kamu?" sengit Amir mengejek istrinya itu.
"Brengsek kamu, Mas." Melina meradang, pandangannya beralih pada wanita yang tersenyum sinis ke arahnya.
Ia melengos ketika Melina memperhatikan, jelas-jelas mencibir istri Amir itu.
"Dasar perempuan j*l*ng! Perebut suami orang kamu!" Melina menggeram, menjulurkan tangannya menjambak rambut pendek wanita yang bersama Amir itu.
"Argh!"
"MELINA!" bentak Amir sambil menarik tangan Melina dan melepaskannya dari rambut wanita itu.
"Apa-apaan kamu!" Amir menghempaskan tangan Melina hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai.
Jatuh air mata Melina, mulutnya menganga tak percaya.
"Tega kamu, Mas? Demi dia kamu tega berbuat kasar sama aku!" hardik Melina tak terima dengan perlakuan Amir.
__ADS_1
Laki-laki itu tak peduli lagi padanya, dia lebih mementingkan wanita itu daripada Melina.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya Amir sambil mengusap-usap kepala wanita bernama Alin.
Melina menggeram, emosi bergejolak dalam dada. Siapapun wanita itu, Melina tidak suka dia dekat-dekat dengan Amir. Ia gegas berdiri dan kembali hendak menyerang Alin.
"Dasar maling! Kamu pelakor, wanita kotor!" umpat Melina tangannya menggapai-gapai sesuatu hendak direnggut.
Namun, tangan besar Amir mencegahnya, mendorong tubuh Melina cukup kuat hingga untuk kedua kalinya dia jatuh kembali.
"Lancang! Jaga sikap kamu, Melina!" hardik Amir melayangkan tatapan benci pada istrinya itu.
"Mas! Aku ini istri kamu, aku lagi hamil anak kamu, Mas. Kenapa kamu tega kayak gini sama aku?" ratap Melina berpura-pura menangis sedih.
Ia berakting memegangi perutnya, lengkap sambil meringis palsu. Amir mencebik, mendengus tak suka padanya.
"Jangan sok berpura-pura kamu, Melina!" Amir membentaknya tanpa perasaan.
"Bu! Bilang sama Mas Amir jangan kasar sama aku. Gimana kalo aku keguguran nantinya?" iba Melina sambil menatap sang ibu mertua meminta pembelaan.
Wanita tua itu gelagapan, mendengar kata keguguran. Ia berubah menjadi panik.
"Benar, Nak. Jangan kasar, bukannya kamu pengen cepet punya anak?" sahut sang ibu melihat Amir yang masih bergeming dengan garis wajahnya yang keras.
"Ibu jangan percaya sama dia. Dia pembohong, Bu. Dia nipu kita dengan berpura-pura hamil supaya bisa nikah sama aku." Amir menuding tanpa perasaan pada istrinya itu.
Wanita yang bersamanya mencibirkan bibir, mengejek Melina dengan nyata. Wanita malang itu menggelengkan kepala, meminta belas kasih kepada ibu juga Amir.
"A-apa? Jadi, benar kamu itu cuma nipu?" Jantung wanita tua itu sakit terasa, diremasnya sedikit kuat agar tidak terlalu sesak. Ia meringis.
"Nggak, Bu! Itu bohong, aku nggak nipu kalian," rengek Melina sambil menangis tersedu-sedu.
Ibunya Amir menggelengkan kepala, jantungnya terus berdenyut sakit. Air matanya jatuh, menyesal karena terlalu percaya pada waktu ular seperti Melina.
__ADS_1
"Surat ini aku udah cek ke rumah sakit yang tertera, tapi dari pihak sana nggak ada yang mengaku pernah mengeluarkan hasil tes atas nama Melina. Apalagi kalo bukan nipu namanya?" Amir membanting keras amplop di tangannya.
Kesal bukan main, karena dipermainkan oleh wanita itu. Melina menggelengkan kepala, terbongkar sudah kebohongannya. Kini, dia harus menerima kenyataan diusir dan dicampakkan Amir.
"Aku tahu, aku emang salah, Mas. Aku ngelakuin itu karena aku cinta sama kamu, Mas. Aku nggak mau pisah sama kamu," rintih Melina yang mendapat cibiran dari wanita di samping Amir.
"Aku nggak butuh istri tukang tipu kayak kamu, Melina. Ini Alin, dia istriku. Dua Minggu lalu kami menikah, dan sekarang dia lagi hamil anak aku," ucap Amir memperkenalkan wanita yang datang bersamanya.
Melina menengadah dengan mata membelalak lebar. Begitu pula dengan ibunya Amir, rasa sakit karena dibohongi perlahan tergantikan oleh kenyataan yang diucapkan Amir.
"Nggak, Mas! Kamu bohong! Kamu nggak mungkin nikah lagi, Mas. Kamu nggak boleh punya istri lagi, Mas." Melina masih meratap, tapi Amir tak acuh padanya.
"Mulai sekarang-"
"Nggak, Mas! Aku nggak mau cerai sama kamu, aku nggak mau cerai!" tolak Melina dengan cepat.
"Mau gimana lagi? Aku udah punya istri yang nggak berpura-pura hamil kayak kamu. Dia akan tinggal di rumah ini menggantikan kamu. Jadi, pulanglah, Melina. Pulang ke rumah orang tua kamu. Aku nggak mau lagi melanjutkan pernikahan kita," ujar Amir tanpa perasaan.
Melina menggelengkan kepala, sungguh ia tak ingin meninggalkan kemewahan yang diberikan Amir kepadanya.
"Aku nggak mau, Mas. Tolong jangan usir aku, jangan ceraikan aku, Mas. Biarin aku tetap jadi istri kamu," pintanya dengan sangat.
Amir meraup wajah, frustasi dibuat Melina. Ia menatap wajah wanita itu. Bagaimanapun, dia pernah memberikan kenikmatan surgawi padanya. Dia pernah meneguk manisnya madu bersama wajah itu.
Ibu tidak tega melihat Melina yang memelas memohon pada anaknya.
"Udah, Nak. Nggak apa-apa. Kasihan dia, jangan ceraikan dia, ya. Biarin dia tinggal di rumah ini," ujar sang ibu memberi pembelaan untuk Melina.
Amir menghela napas, melirik tak suka pada istrinya itu.
"Ya udah. Kalo kamu emang tetap mau tinggal di sini, silahkan, tapi jangan nuntut apa-apa dari aku karena aku nggak bisa kasih apa-apa. Jatah bulanan kamu akan dibagi sama Alin, punya Ibu juga karena Alin lagi hamil. Jadi, kebutuhannya lebih banyak daripada kalian." Amir memutuskan, mau tidak tahu mereka harus menerimanya.
Amir mengajak Alin menapaki anak tangga menuju lantai dua. Keduanya masuk ke kamar Amir yang bahkan Melina sendiri belum pernah memasukinya. Dia menggeram dalam hati, merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keangkuhan wanita yang datang bersama Amir itu. Dia merusak semua yang Melina perjuangkan.
__ADS_1