Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 101


__ADS_3

Malam telah mencapai puncak, kemeriahan pesta pun telah berakhir. Para tamu kembali ke kediaman mereka masing-masing, sanak keluarga berkumpul di rumah besar Ratna. Menyisakan para pegawai hotel yang bahu membahu membersihkan ballroom dari segala macam kekacauan.


Pun dengan pasangan pengantin baru yang menginap di hotel tersebut. Ranjang bertabur kelopak bunga dengan kelambu merah melambai-lambai tertiup angin. Cahaya lilin yang temaram, menjadikan malam semakin romantis.


Gemericik air di kamar mandi, terdengar seperti bunyi gelang kaki yang dikenakan para penari India. Sang pengantin terbaring lelah di ranjang, membiarkan tubuhnya dipenuhi taburan bunga mawar. Dia terlelap, mungkin karena lelah melayani para tamu sejak siang.


Pintu kamar mandi terbuka, Raja keluar hanya berbalut handuk di bagian bawah tubuhnya. Ia mendekati ranjang, menatap wajah damai sang istri yang belum dibersihkan, bahkan hijab masih menutupi kepalanya.


"Kamu itu tidur aja cantik, Yang. Pasti capek banget, ya." Ia bergumam, tersenyum gemas.


Matanya berpindah turun pada bibir ranum milik wanita itu. Ia meneguk saliva, sudah lama ingin mengecap rasanya. Perlahan Raja membungkuk, mendekatkan wajahnya pada Mayang.


Mengecup singkat bibir itu, singkat saja, tapi tak puas rasanya. Raja menggigitnya sedikit, membuat tubuh Mayang menggeliat. Merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, Mayang mengernyit. Membuka mata takut-takut, dan secara spontan mendorong tubuh Raja hingga menjauh.


"Mau apa kamu?" Dia lupa bahwa mereka sudah menikah.


Raja menatapnya sendu, menyedihkan.


"Mau kamu," katanya lirih.


Mayang memandangi tubuhnya, kemudian sekeliling ruangan. Ia tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri.


"Maaf. Aku lupa kalo kita udah nikah," katanya tersipu malu, "kamu kenapa nggak pake baju?" Mayang menunjuk tubuh Raja tanpa melihat ke arahnya.


Laki-laki itu melirik tubuhnya sendiri, kemudian mendekat dan duduk di bibir ranjang sambil menatap ke arah sang istri.


"Apa aku boleh minta hak-ku? Kamu tahu, 'kan, aku udah menahan diri selama ini. Biar aku yang kerja, kamu cukup diam aja," pinta Raja dengan suara yang parau.


Keinginannya sudah mencapai puncak hingga tanpa sadar wajah mereka kembali mendekat. Bibir mereka bertemu satu sama lain, saling memagut mesra. Mayang bukanlah seorang gadis yang tidak tahu apa itu ritual malam pertama. Pengalaman mengajarkan bagaimana caranya membahagiakan pasangan.


Di sela-sela aktivitas mereka, Mayang tiba-tiba menjauh saat teringat sesuatu.


"Ada apa?" tanya Raja bingung.


"Aku lupa belum sholat. Boleh aku ...?" Mayang berkedip, tapi Raja tidak membiarkannya pergi.

__ADS_1


"Boleh aku membuka kerudung kamu?" Raja menatap sendu manik sang istri.


Mayang mengangguk malu-malu, menunduk sambil menutup wajah. Ini untuk pertama kalinya dia menunjukan aurat di depan Raja. Tangan besar laki-laki itu membuka perlahan penutup kepala sang istri, mengurai tangan Mayang agar terlepas dari wajahnya.


Ia menyimpan kerudung tersebut di atas nakas, mengurai rambut panjang Mayang hingga bagian kepalanya dapat ia lihat dengan jelas.


"Kenapa kamu bisa secantik ini? Menggodaku, mencuri hatiku, membuatku tergila-gila. Aku mencintaimu, Mayang. Sangat mencintaimu, istriku," ujar Raja sembari merengkuh tubuh Mayang.


Tubuh yang dulu tak tersentuh olehnya, hanya dapat dilihat sambil menahan keinginan yang tak dapat terpenuhi. Kini, dengan bebas ia jelajahi setiap incinya tanpa segan lagi.


Pergulatan panas pun terjadi tanpa dapat mereka cegah, ritual malam sakral terlewati dengan penuh rasa bahagia. Garis-garis kepuasan terpancar di kedua wajah insan yang dimabuk api asmara itu.


Hingga Raja menuntaskan keinginannya, ia beranjak mengecup ubun-ubun sang istri seraya berucap, "Maaf. Aku nggak denger permintaan kamu. Aku nggak bisa nahan diri sampai-sampai isya kita terlewat."


Mayang menjatuhkan kepala di dada bidang suaminya, kulit tanpa sehelai benang pun saling bersentuhan tanpa batas.


"Ayo! Kita bersihkan diri, abis itu kita shalat isya jamaah," ajaknya seraya membalut tubuh Mayang mengunakan selimut.


Keduanya membersihkan diri, kemudian menunaikan kewajiban sebagai hamba secara berjamaah.


"Tidur?" Bukan memerintah, ataupun meminta, melainkan bertanya seolah-olah memerlukan persetujuan.


"Sekali lagi, boleh?" bisik Raja membuat tubuh Mayang seketika menegang. Maklum pengantin baru, apalagi Raja yang baru merasakan sensasi malam pertama.


Meskipun Mayang bukan seorang gadis, ia tetap bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya. Mayang menunduk malu, apakah dia harus menjawab?


Aku rasa nggak perlu menjawab karena aku juga menginginkannya.


Raja mengangkat tubuh Mayang tanpa izin, merebahkannya di ranjang seraya membuka ruku yang menutupi seluruh tubuhnya secara perlahan. Dibelainya kulit pipi sang istri, terasa lembut dan mulus tanpa cacat.


"Boleh, ya?" lirihnya di telinga Mayang. Digigitnya daun telinga sang istri, berdesir seluruh darah dalam tubuh bergolak panas.


"Apa aku harus menjawabnya? Itu hak kamu sebagai suami," sahut Mayang dengan lirih pula. Maka pertempuran kedua pun terjadi lagi, semakin panas karena Raja tak lagi menahan permainannya.


Suara mendesah dan melenguh saling bersahut-sahutan, keringat menjadi satu dalam penyatuan yang nyata. Benih bertaburan ke dalam induknya, berlomba untuk menjadi sang juara. Siapakah pemenangnya?

__ADS_1


****


Hangat sinar mentari pagi yang menerpa wajah begitu menyilaukan. Sampai-sampai membuat dia yang masih terpekur di alam mimpi mengernyit tak tahan.


Ia melenguh, berbalik memunggungi jendela. Menarik selimut bergelung di dalamnya.


"Pagi!" Tarikan secepat kilat itu menampakkan perwujudan dari seorang bidadari yang nyaris tanpa sehelai benangpun.


"Argh!" Mayang terpekik, terlonjak duduk dari tidurnya.


Ia merebut dengan kasar selimut dari tangan suaminya. Menutupi tubuh yang hanya terbalut pakaian dalam.


"Astaghfirullah! Udah siang! Kenapa nggak bangunin aku!" sungut Mayang seraya beranjak turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi.


Raja terkekeh melihat rona merah di pipi istrinya, ia merapikan sprei saksi bisu pergulatan panas malam tadi. Meraba permukaan ranjang, mengendus harum aroma tubuh Mayang. Dia dimabuk kepayang.


Raja menjatuhkan tubuh dengan kedua tangan terbuka lebar, bibirnya tersenyum puas, mata terpejam membayangkan kenikmatan semalam. Sungguh luar biasa, nikmat yang tiada tara.


Sementara Mayang menggerutu di dalam kamar mandi, kesal karena subuhnya terlewati. Terburu-buru membersihkan diri, dan keluar untuk menunaikan ibadah dua rakaat meski terlambat.


"Kenapa nggak bangunin aku?" Mayang merajuk pada suaminya.


Laki-laki itu telah rapi dengan setelan jas melekat di tubuh. Mayang mengernyit, tak senang karena harus ditinggal pergi.


"Aku udah bangunin, tapi tidur kamu pules banget. Jadi nggak tega buat bangunin," ucapnya seraya beranjak duduk dan memandangi sang istri.


"Kamu mau ke mana? Kok, udah rapi aja?" tanya Mayang sedikit sedih.


Raja menghela napas, beringsut turun mendekati sang istri. Dibelainya pipi Mayang dengan lembut, dikecupnya dahi itu dengan mesra.


"Kita pulang ke rumah, emang mau ke mana?"


Hembusan napas Raja yang hangat membangunkan bulu-bulu di wajahnya. Aroma mint yang menguar dari mulutnya membuat Mayang mabuk kepayang.


"Aku kira kamu mau kerja terus ninggalin aku." Mayang mengelus tangan suaminya. Hati merasa sedih oleh pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Hari ini nggak, aku mau menghabiskan waktu sama istriku. Di rumah, bukan di sini," katanya seraya membantu Mayang beranjak.


Mereka akan kembali ke rumah lama Ratna yang dulu ditinggalkan karena menghindari gangguan Rani dan Lina.


__ADS_2