Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 106


__ADS_3

Selamat, ya. Akhirnya kamu udah punya menantu perempuan yang kamu bangga-banggain itu, tapi sayang menantu kamu itu mandul. Kamu tahu kenapa dia diceraikan suaminya yang dulu? Itu karena dia nggak bisa ngasih keturunan alias MANDUL.


****


Sebuah pesan yang dikirimkan nomor asing masuk ke ponsel Ratna. Ibu Raja terhenyak setelah membaca pesan tersebut. Hatinya terasa dicubit, mulai meragukan kesuburan Mayang.


"Apa benar Mayang itu mandul? Kalo beneran mandul nanti gimana? Aku nggak akan bisa punya cucu, dong," gumam Ratna diakhiri helaan napas panjang.


Rasa resah serta gelisah mulai merundung hati. Jarinya ragu untuk mengetik pesan balasan, mempertanyakan kebenaran berita itu.


"Balas nggak, ya? Masa aku percaya sama pesan yang kayak begini?" Ratna menghibur dirinya sendiri.


Sebagai seorang ibu yang kedua anaknya telah beranjak dewasa, ia menginginkan seorang cucu. Seorang bayi mungil dari hasil pernikahan Mayang dan Raja.


"Hhmm ... mungkin cuma terlambat aja, bukan berarti mandul. Dasar aja suaminya yang dulu itu nggak sabar." Ratna kembali bergumam tak mengacuhkan pesan tersebut.


Ia beralih mengambil remote tv, menyalakan televisi menonton acara favorit demi mengalihkan perhatian dari pesan asing tersebut.


Namun, lagi-lagi bunyi notifikasi pesan mengusik ketenangan. Ratna kembali beralih pada ponselnya, melirik takut pesan dari nomor yang sama. Digulirnya layar ponsel membuka kunci untuk melihat isi pesan kedua.


Kamu nggak percaya sama aku? Coba aja kamu cari tahu ke rumah mantan suaminya itu. Biar kamu percaya kalo dia emang beneran MANDUL. Aku cuma kasihan aja sama kamu, ngebet nikahin anak biar cepat punya cucu. Eh ... nggak tahunya punya menantu mandul. Kamu pasti kecewa karena sampai kapanpun nggak akan pernah punya cucu.


Ratna menggeram, menggenggam kuat benda pipih itu bersamaan dengan rahangnya yang ikut mengeras.


"Siapa sebenarnya orang ini? Apa dia nggak suka sama Mayang? Sampe-sampe harus ngejelekin kayak gini." Ratna menggigit bibir, rasa ragu mulai merambah hati.


"Ambu, Mayang pergi dulu, ya. Mau antar makan siang ke kantor," pamit Mayang sembari menuruni anak tangga dari lantai dua.


Mendengar suara menantunya itu, Ratna melirik. Menatap sosok Mayang dengan penuh selidik. Hatinya dipenuhi tanda tanya tentang kebenaran kabar tersebut. Ia menghela napas, membuang pandangan dari istri Raja itu.


"Nggak! Ini belum tentu bener, Ratna. Mereka baru hitungan hari menikah, nggak mungkin Mayang bisa langsung hamil," gumam Ratna pada dirinya sendiri.


Ia terhanyut dalam lamunan sehingga ketukan langkah Mayang tak tertangkap telinganya.

__ADS_1


"Bu. Mayang pamit mau ke kantor Raja. Tadi pagi pesen pengen dibawain makan siang ke kantor," pamit Mayang menyentak lamunan Ratna.


"Ah, iya." Ratna memberikan tangannya, terlihat canggung karena pesan asing tersebut.


Mayang mengernyit ketika ibu mertuanya itu menarik tangan dengan cepat. Ia juga terus berpaling wajah seolah-olah ada sesuatu yang mengusik hatinya.


"Assalamu'alaikum!" ucap Mayang meski ragu Ratna akan melihat ke arahnya.


"Mmm ... wa'alaikumussalaam!" Suara Ratna bahkan terdengar sedikit dingin dan ketus.


Mayang menghela napas, terus berpikir positif tentang sikap ibu mertuanya itu. Seorang supir utusan Raja telah menunggunya di halaman. Mayang mengucapkan terima kasih atas sikapnya yang begitu sopan.


Senyum tersemat di sepanjang perjalanan menuju kantor sang suami. Ia mendekap rantang makanan, membayangkan Raja akan memakannya dengan lahap. Mobil tiba di depan gedung tinggi menjulang.


Secara kebetulan, Raja muncul bersama sang asisten. Ia berdiri menunggu Mayang keluar dari mobil. Kaki jenjangnya melangkah pelan, semu merah muncul di kedua pipi seiring langkah mendekati sosok laki-laki tinggi besar itu.


"Assalamu'alaikum!" ucap Mayang seraya mengulurkan tangan kepada Raja.


"Wa'alaikumussalaam!" Raja menyambut uluran tangan tersebut, dikecup Mayang dengan takzim.


"Jangan mengikutiku. Pergi sana makan siang! Aku mau makan siang di ruanganku," titah Raja pada sang asisten.


Mayang menatap tak enak karena wajah murung asisten Raja itu. Diam-diam melirik rantang makanan di tangan Mayang, merindukan masakan rumah.


"Nggak apa-apa, ini banyak, kok. Kamu bisa makan bareng-bareng sama Paman," ujar Mayang menerbitkan senyum di bibir laki-laki paruh baya itu.


"Nggak! Aku sanggup habisin itu semua. Ayo, dia bisa makan di restoran sendiri," tolak Raja seraya merangkul bahu Mayang untuk kembali melanjutkan langkah memasuki lift.


"Ini kantor kamu?" tanya Mayang menatap kagum gedung tersebut.


"Mmm ... bukan. Ini perusahaan keluarga. Aku cuma penerus aja di sini, sayang kalo nggak ada yang ngurus," jawab Raja diangguki Mayang.


Laki-laki itu menarik tubuh sang istri agar semakin merapat padanya. Pengantin baru, dan sudah halal untuk disentuhnya. Raja tak akan segan melakukan apa yang dia inginkan meski di tempat terbuka sekalipun.

__ADS_1


"Ruangan kamu di lantai berapa?" Mayang melirik tombol di dalam lift.


"Di lantai puncak." Raja mendekatkan wajah pada ceruk leher sang istri. Mengendusnya, kemudian menggigit daun telinga Mayang yang tertutupi kerudung.


"Ini di kantor, gimana kalo ada yang lihat?" bisik Mayang dengan wajah merona malu.


"Ini kantorku, nggak ada yang berani menegurku di sini." Raja berbisik di telinga Mayang, membuat tubuhnya meremang.


Lift terbuka, Raja bersikap normal dan keluar menuju ruangannya. Ada banyak pasang mata mengarah pada mereka, utamanya pada sosok istri sang CEO yang terlihat sederhana.


Tidak seperti kebanyakan istri-istri konglomerat lainnya, di mana mereka akan berdandan menunjukkan kasta mereka. Akan tetapi, istri CEO mereka berbeda. Dia terlihat percaya diri dengan pakaian dan tas sederhana yang dikenakannya.


"Itu istri Pak Raja? Dia cantik, ya. Padahal make-upnya biasa aja."


Bisik-bisik mulai terdengar saat Mayang telah melewati mereka dan masuk ke dalam ruangan Raja.


"Wah, ini kayak di rumah. Ada sofa empuk juga. Apa kantor orang-orang penting semuanya seperti ini?" tanya Mayang sembari mendaratkan bokong di sofa ruangan tersebut.


Raja tersenyum, membanting diri di samping Mayang seraya merebahkan tubuh di pangkuan istrinya itu.


"Bukannya mantan suami kamu itu dulu manager? Apa kamu nggak pernah datang ke kantornya?" tanya Raja. Tangannya yang jahil memainkan kerudung sang istri, meraba bagian dalamnya membuat Mayang reflek memukul tangan itu.


"Dulu, ya. Aku nggak pernah diajak ke mana-mana apalagi ke kantor. Ada pergi-pergi kalo ada kompetisi olahraga antar sekolah. Selebihnya, cuma diam di rumah aja," jawab Mayang yang sebenarnya tak ingin mengingat kejadian dulu lagi.


"Katanya lapar. Aku suapin, ya," ucap Mayang seraya membuka rantang makanan.


"Aku mau ini." Raja membuka kancing kemeja Mayang bagian atas.


Secepat kilat, tangan Mayang mencekalnya. Raja terkekeh melihat mata wanita itu melebar. Ia beranjak duduk, menerima suapan demi suapan dari tangan wanitanya.


Asik melahap makanan itu, sebuah pesan masuk di ponsel Raja datang mengganggu.


"Siapa?" tanya Mayang.

__ADS_1


"Ibu."


__ADS_2