
Prok-prok-prok!
Suara tepuk tangan seseorang yang datang dari belakang tubuh Amir menghentikan perdebatan mantan suami istri itu. Mayang tersenyum saat beradu tatap dengan suaminya.
"Mas!" panggil Mayang yang segera berlari ketika Raja merentangkan sebelah tangannya.
"Kamu nggak apa-apa? Apa dia nyakitin kamu?" tanya Raja sembari menelisik tubuh sang istri. Tangan kirinya mendekap pinggang Mayang posesif.
"Nggak apa-apa." Mayang menggelengkan kepala.
Amir menghela napas, berbalik kemudian. Dahinya mengernyit melihat penampilan Raja yang lain dari biasanya. Ia tersenyum mencibir, bertolak pinggang dengan angkuh. Sang asisten bersama direktur perusahaan cabang membelalak dengan sikap Amir yang tak sopan.
"Luar biasa. Kamu tahu juga menempatkan diri. Datang melamar kerja pake setelan jas dan rapi, udah kayak bos aja kamu." Amir tertawa geli.
"Pak Amir! Saya harap Anda bersikap sopan terhadap Pak Al. Anda tahu siapa yang sedang Anda rendahkan?" Direktur menatap tak senang kepada Amir.
Amir memicingkan mata, ia menurunkan tangan dari pinggang seraya berjalan mendekat.
"Pak Direktur. Apa Bapak tahu siapa laki-laki ini? Dia penipu, Pak. Saya kenal sama dia. Dia ini supir taksi online yang udah ngerebut istri saya, dan perempuan ini adalah mantan istri saya yang dia rebut. Anda jangan tertipu oleh penampilannya, Pak," racau Amir sungguh tak tahu malu.
"Ck, ck, ck ... luar biasa tajamnya lisan kamu, Amir. Aku nggak menduga, perusahaan bisa merekrut orang seperti dia." Raja berdecak, kemudian menggelengkan kepala.
Sang direktur merasa malu karena memiliki karyawan angkuh seperti Amir. Ia menunduk geram, mengancam Amir dalam hati.
"Itu benar, 'kan? Kamu memang merebut Mayang dariku!"
"Tutup mulut kamu, Amir! Kamu tahu siapa beliau ini? Beliau CEO di perusahaan tempat kita mencari makan. Kamu benar-benar keterlaluan, berani-beraninya merendahkan seorang pemilik perusahaan tempat kamu sendiri bekerja!" bentak sang direktur yang wajahnya memerah padam.
Amir membelalak, masih tak percaya dengan kenyataan yang didengarnya. Ia meneguk ludah susah payah, wajahnya memucat seketika.
"Ja-jadi, di-dia Pak Al? CEO perusahaan ini?" ulang Amir terbata-bata.
Mayang tersenyum mencibir, sekarang laki-laki itu sadar di mana posisinya.
"Benar, dan Anda sudah berani merendahkan beliau juga istrinya. Saya tidak bisa mentolerir sikap Anda yang sudah diluar batas ini," ujar sang asisten dengan tegas.
Bibir Amir berkedut-kedut, raut gelisah tercetak jelas di wajahnya. Sungguh, diluar dugaan orang yang selama ini dia hina memiliki derajat lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mas, aku mau dia naik jabatan," ucap Mayang menunjuk gadis resepsionis yang tadi berbincang dengannya.
Gadis tersebut mendongak dengan mata yang melebar.
"Alasannya?" tanya Raja menyelidik.
"Dia jujur, dia juga nggak suka ngerendahin orang lain. Aku yakin, perusahaan lebih membutuhkan dirinya daripada yang lain," jawab Mayang sembari tersenyum pada gadis itu. Matanya melirik Amir, mendelik tak senang.
Penjaga resepsionis itu meneguk ludah, sungguh hal yang tak pernah ia duga akan mendapatkan promosi langsung dari istri bosnya.
Amir membelalak, membalas tatapan tak suka pada Mayang karena merasa wanita itu sedang merendahkannya.
"Pak, sa-saya minta maaf. Tolong maafkan kebodohan saya, Pak. Saya benar-benar nggak tahu kalo Anda CEO di perusahaan ini," tutur Amir tiba-tiba. Rela merendahkan dirinya di hadapan sang mantan.
Raja melirik ke arahnya, tak berniat menanggapi permintaan maaf Amir.
"Posisi apa menurut kamu yang cocok sama dia?" tanya Raja menambah kesal di hati Amir.
Mayang tersenyum kembali, memandang sang gadis penjaga itu.
"Tadi kamu bilang kamu lulusan management, 'kan?" tanya Mayang menunjuk dirinya.
"I-iya, Bu," sahutnya lirih dan gugup.
Mayang mengalihkan pandangan pada suaminya lagi, sebuah ide melintas dalam benaknya.
"Aku mau dia menduduki kursi manager menggantikan laki-laki itu. Pendidikannya tak jauh beda dengan dia, tapi dia memiliki kejujuran. Aku yakin kursi itu membutuhkan orang seperti dia," ujar Mayang sukses membuat kedua mata Amir membelalak lebar.
Begitu pula dengan gadis resepsionis itu, ia berkali-kali meneguk ludah demi membasahi tenggorokan yang tiba-tiba mengering.
"Nggak, Pak. Jangan gantikan saya. Saya minta maaf telah menyinggung Anda. Tolong jangan ambil posisi saya, Pak," mohon Amir.
Hatinya panik dan cemas, memikirkan ibu yang membutuhkan biaya untuk berobat. Belum lagi kebutuhan lain yang memerlukan uang tidak sedikit.
Lagi-lagi Raja tak mengindahkannya, ia justru menatap sang istri untuk kemudian beralih pada direktur.
"Anda dengar, Pak. Lakukan apa yang istri saya bilang, dan segera selesaikan semuanya," titah Raja melirik Amir dengan tajam.
__ADS_1
"Siap, Pak!"
Gadis resepsionis itu tersenyum haru, ia bahkan meneteskan air mata karena tak kuasa menahan haru di dalam hati. Bibirnya bergerak mengucapkan kata terima kasih tanpa suara.
Mayang menganggukkan kepala, senyum ramahnya benar-benar menenangkan hati.
"Ayo, sayang. Tugas kita sudah selesai," ajak Raja menggandeng tangan Mayang untuk keluar dari gedung tersebut.
"Pak! Tunggu, Pak. Mohon pertimbangkan lagi keputusan Anda, Pak. Saya tahu saya bersalah, dan saya menyesalinya. Tolong kasih saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Pak. Saya mohon!" mohon Amir tanpa sadar mencekal tangan Raja dengan lancang.
"Jangan kurang ajar kamu!" Sang direktur menepis tangan Amir dengan spontan.
"Urusan kamu bukan sama saya, tapi sama Pak Direktur," ucap Raja seraya melanjutkan langkah lagi tanpa peduli pada rengekan Amir.
"Pak! Tolong!"
"Cukup! kamu ke ruangan saya sekarang juga!" tegas sang direktur seraya berbalik menatap gadis resepsionis itu.
Ia menghela napas, memberikan secarik kertas kepadanya.
"Umumkan nama-nama mereka dan pinta mereka untuk datang ke ruangan saya sekarang juga!"! Dia kembali memerintah dengan tegas.
"Baik, Pak!"
Melengos sambil melayangkan tatapan tajam pada mantan suami Mayang itu. Dengan semangat menggebu, si Gadis Resepsionis mendekatkan bibirnya pada mikrofon dan mulai menyebutkan nama mereka satu per satu. Salah satu diantara mereka adalah nama Amir.
Amir masuk ke ruangan sang direktur bersama tujuh orang yang lain. Termasuk sekretarisnya. Di atas meja, di hadapan mereka, berserak bukti-bukti penggelapan dana perusahaan.
"Aku nggak pernah nyangka ada koruptor di perusahaan ini. Mulai sekarang kalian semua dipecat, fasilitas kalian akan dicabut dan kalian nggak akan mendapatkan pesangon untuk mengganti rugi uang yang sudah kalian gunakan. Pergi, dan kemasi barang-barang kalian dari kantor ini!" titah sang direktur tanpa ingin dibantah.
Mereka tak dapat mengelak, juga membela diri. Keluar dari perusahaan dengan hati lesu tak berdaya. Amir berjalan gontai ke parkiran, menuju mobilnya sendiri.
"Pak Amri!"
Amir menoleh ketika seseorang memanggilnya. Dia satpam di gedung tersebut, berjalan menghampiri mantan suami Mayang.
"Ada apa, Pak?" tanyanya jengah.
__ADS_1
"Mohon maaf, tapi perusahaan meminta Anda untuk mengembalikan mobil itu. Silahkan berikan pada saya kuncinya," pinta satpam tersebut sambil mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Amir.
Amir menjegil, jantungnya berdegup-degup tak karuan. Dengan terpaksa dia memberikan kunci mobil itu kepada penjaga gerbang.