Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 98


__ADS_3

"Sialan! Brengsek! kurang ajar! Awas aja kamu, Raja. Aku nggak bisa terima kamu giniin," umpat Rani menyumpah-serapahi Raja yang telah menggiringnya hingga keluar kota dan tersesat karena sistem yang ditanyainya menunjukan jalan yang salah.


Seharian penuh mereka berada di jalan yang tak mereka kenali. Bolak-balik bertanya pada setiap warga jalan menuju Jakarta.


"Mamah harus kasih teguran sama si Ratna supaya nggak seenaknya si Raja itu memperlakukan kita. Emang apa yang udah kita lakuin? Cuma ngikutin aja, kok," sungut Lina sembari merapatkan giginya.


Senja telah terlewati, malam pun datang menggantikan siang. Akan tetapi, mereka masih terlunta di jalanan.


"Duh, Mah, mana bensinnya udah mau abis. Gimana ini?" keluh Rani mulai mencemaskan mobilnya.


Sepanjang perjalanan mereka belum menemukan adanya pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobil mereka. Namun, nasib masih memihak pada mereka sehingga akhirnya menemukan mini pom di pinggir jalan.


****


Kedua manusia itu akhirnya bisa bernapas lega saat mobil mereka tiba di perbatasan kota Jakarta. Lelah, itulah yang dirasa Rani karena seharian mengemudi tanpa arah tujuan.


Dia membanting diri di kasur setibanya di rumah, tak mampu melakukan kegiatan apapun lagi. Hanyut begitu saja di alam mimpi yang tak nyata.


"Dari mana aja kalian, Mah? Malam-malam begini baru sampe rumah. Kamu tahu nggak tadi bu Ratna datang ke sini, bilang sama Papah supaya minta kamu dan Rani mengganggu kehidupan anaknya terus. Emang apa yang kalian lakukan terhadap anak bu Ratna?" cecar sang suami tak senang dengan perbuatan yang dilakukan Lina juga Rani.


Ia sudah berulangkali memberi nasihat agar mereka berhenti memaksakan keinginan. Akan tetapi, keduanya tak mau mendengar dan terus menerus membuat ulah.


"Siapa yang gangguin anaknya? Kepedean si Ratna. Udahlah, lagian Papah percaya aja yang dia omongin, tapi sama istri sendiri nggak percaya," gerutu Lina tidak terima sikap tak adil suaminya.


Ia merajuk dengan wajah cemberut, bahkan enggan menatap sang suami yang berdiri di hadapannya. Lina terus membaringkan tubuh, mencoba meraih alam mimpi. Laki-laki itu menggelengkan kepala, keluar dari kamar untuk mencari ketenangan.


Duduk di teras sambil membayangkan sosok Ratna yang datang ditemani sang supir siang tadi. Ratna sigap mendatangi rumah Lina begitu menerima kabar bahwa anaknya membuntuti Risya.


****

__ADS_1


Flashback.


Tengah hari itu, papah Rani sedang duduk di depan televisi menikmati acara keluarga yang seharusnya mereka tonton bersama. Akan tetapi, Lina dan Rani memilih pergi tanpa berpamitan padanya. Entah ke mana keduanya pergi.


Sebuah suara mengucapkan salam dari teras rumahnya terdengar penuh emosi. Ia beranjak dan berjalan menuju teras.


"Wa'alaikumussalaam! Ya, siapa?" tanyanya saat melihat punggung seorang wanita yang membelakangi.


Ratna berbalik sambil bersedekap dada, menatap nyalang pada laki-laki yang berstatus ayah Rani itu.


"Di mana Lina sama Rani?" tanya Ratna yang tak lagi bersikap ramah seperti biasanya.


Papah Rani mengernyit bingung, tahu betul siapa Ratna untuk istrinya.


"Maaf, tapi mereka nggak ada di rumah. Pergi nggak tahu ke mana," jawab laki-laki itu yang terlihat jujur dan apa adanya.


"Kamu nggak bohong, 'kan, sama saya?" tegas Ratna mempertajam matanya menghujam manik laki-laki itu.


"Ya udah. Saya minta maaf sebelumnya karena harus bilang yang sejujurnya sama kamu." Ratna menatap kedua manik itu.


"Iya, silahkan duduk!"


Keduanya duduk di bangku teras, melihat laki-laki itu yang tak tahu apa-apa membuat Ratna menurunkan emosi.


"Tolong bilang sama Lina juga Rani, untuk nggak mengganggu kehidupan kami terus. Perjodohan itu Lina yang mau, sedangkan saya nggak bisa memutuskan waktu itu. Saya cuma menghargai dia sebagai sahabat makanya saya setuju mempertemukan anak saya sama Rani, tapi nggak berarti saya setuju dengan perjodohan mereka."


Ratna menghela napas, mengingat rumitnya hubungan mereka sekarang. Papah Rani mengernyit, dia tidak tahu apa-apa soal perjodohan itu.


"Saya sendiri nggak tahu apa-apa soal perjodohan itu. Lina nggak pernah mengatakan itu sama saya." Dia kecewa, sangat menyayangkan tindakan Lina yang semaunya sendiri.

__ADS_1


"Yah, saya bisa mengerti, tapi saya minta tolong sama kamu. Bilang sama mereka jangan ganggu anak saya dan calon menantu saya. Kamu tahu, apa yang mereka lakuin hari ini terhadap calon menantu saya?" Ratna memiringkan kepala dengan mata tegas menatap.


Laki-laki itu menggeleng tak tahu. Dia benar-benar dibodohi anak dan istrinya sendiri.


"Mereka mengikuti calon menantu saya dengan maksud dan tujuan yang saya juga nggak ngerti. Bisa aja mereka nekad dan mencelakakan mereka. Saya merasa diteror cuma karena perjodohan itu nggak saya terima," ucap Ratna dengan kesal.


Membelalak kedua mata laki-laki itu, sungguh tak menduga anak dan istrinya berbuat nekad seperti tadi.


"Astaghfirullah al-'adhiim. Maafkan saya, Bu Ratna. Saya benar-benar nggak tahu soal itu. Nanti saat mereka pulang, saya akan menegur mereka. Sekali lagi saya minta maaf," ucap papah Rani penuh penyesalan.


Rasa kecewa jelas tercetak di wajahnya yang sudah mulai keriput. Ratna bisa mengerti ketidaktahuan laki-laki itu. Ia memakluminya, dan semoga saja setelah perbincangan ini Lina dan Rani tak lagi menganggu mereka.


"Ya udah, kalo gitu saya pamit. Tolong sampaikan hal tersebut kepada Lina dan Rani. Untuk berhenti mengganggu anak saya," tegas Ratna sekali lagi.


Ia berpamitan dan pergi meninggalkan rumah besar itu. Papah Rani mengusap wajah kasar, kesal sekaligus malu dengan perbuatan yang dilakukan istri juga anaknya.


"Aku harus gimana, ya Allah! Udah berulang kali aku bilang jangan macem-macem, tapi mereka nggak denger. Aku berdosa, ya Allah," keluhnya membentur-benturkan kepala pada lutut.


****


Laki-laki itu merenung, memikirkan cara untuk dapat membuat kedua wanita itu mengerti. Ia menghela napas panjang, memutuskan untuk memberi mereka pelajaran.


Sementara Raja, memeriksa gedung hotel tempat diselenggarakannya acara resepsi pernikahan mereka. Ia juga memutuskan untuk menginap di sana. Semua persiapan telah rampung, besok pak Tohir dan rombongan akan tiba di Jakarta. Raja telah menyiapkan sambutan untuk mereka.


Ia tersenyum, menatap gambar-gambar Mayang di ponselnya dengan balutan gaun pengantin. Tampak cantik dan mempesona.


"Mudah-mudahan nggak ada hambatan pas acara nanti." Ia menghela napas, tak sabar menunggu hari 'H' di mana dia akan mengucap ijab qabul bersama wali Mayang.


"Kamu cantik banget, Yang. Pantas aja banyak laki-laki yang mau sama kamu." Ia memuji kecantikan sang calon istri, tapi bukan itu yang membuatnya jatuh cinta. Kesederhanaan Mayang, dia yang apa adanya telah berhasil meluluhkan hati Raja.

__ADS_1


Ia mendekap ponselnya sendiri, berguling sambil tersenyum dengan mata terpejam. Hatinya berbunga-bunga, bertabur warna seperti pelangi di langit.


__ADS_2