Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 97


__ADS_3

"Mayang!"


Sebuah teguran dengan suara yang bergetar membuat senyum Mayang raib. Kedua wanita itu menengadah melihat sesosok perempuan berpakaian seksi dengan mata yang sembab. Terlihat amat menyedihkan, tapi tak membuat Mayang bersimpati kepadanya.


"Melina?" lirih Mayang tak percaya.


Sungguh sebuah kejutan melihat Melina berada di sana. Terlebih dengan penampilannya yang tak pernah berubah. Hanya saja, ia terlihat tidak bahagia.


"Mayang!" Melina merengek, ia duduk di kursi samping Mayang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Memegang tangan wanita itu dengan lancang.


"Ah ... maaf!" ucap Mayang tak enak sembari menarik kembali tangannya. Ia juga membawa kursinya menjauh, membuat jarak dengan wanita yang telah menghancurkan hidupnya.


Melina tercenung, air matanya luruh begitu saja mendapat penolakan dari Mayang. Ia menunduk sambil mengusap sudut mata, berharap belas kasihan dari wanita itu.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Mayang tak senang dengan kehadirannya, tapi ia menyembunyikan semua perasaannya itu.


"Aku mau minta maaf sama kamu, Mayang. Aku ... aku benar-benar nyesel," ucap Melina sedih.


Mayang mendengus sambil tersenyum getir, sungguh apa yang dia lakukan tidak dapat dimaafkan begitu saja. Akan tetapi, Mayang menekan semua itu dan akan mencoba menerima maaf Melina.


"Apa yang kamu sesali? Bukannya sekarang kamu bahagia karena udah nikah sama mas Amir? Kalian sebentar lagi juga punya anak, 'kan? Udahlah, nggak usah lagi mikirin aku apalagi minta maaf segala. Urusan kita udah selesai semenjak hakim menjatuhkan kata talak. Aku udah nggak mau berurusan dengan kalian lagi," tegas Mayang sejujurnya.


Melina terisak, tapi tidak membuat Mayang merasa iba.


"Aku tahu, aku udah salah karena ngerebut mas Amir dari kamu. Kamu harus tahu, Mayang. Aku nggak bahagia sama dia. Mas Amir masih cinta sama kamu, dia masih terus mikirin kamu. Dia juga udah nikah lagi sama perempuan lain, dan perempuan itu juga lagi hamil. Dia ... dia jahat, Mayang," keluh Melina semakin tergugu sambil menutup wajahnya.


Mayang melirik Risya, remaja itu mencibirkan bibirnya tak senang dengan kehadiran Melina.


"Terus apa hubungan sama Kak Mayang? Itu urusan kamu, bukan lagi urusannya Kak Mayang. Nggak usah ngadu-ngadu soal suami kamu. Udah tahu tukang selingkuh, masih mau aja dikibulin," ketus Risya sembari mendelik ketika Melina melihat ke arahnya.


Kesal bukan main, setiap kali teringat pada saat Melina menghina Mayang di malam itu. Di mana ia sedang membantu calon kakak iparnya berjualan keripik di taman. Risya benar-benar tidak akan melupakannya.


Melina semakin tergugu, semua yang terjadi padanya itu adalah balasan atas apa yang dia lakukan dulu terhadap Mayang.

__ADS_1


"Selingkuh itu penyakit yang nggak ada obatnya. Sekali udah selingkuh, maka dia akan terus selingkuh. Aku nggak bisa ngelakuin apa-apa buat kamu karena itu rumah tangga kamu. Harusnya cuma kamu yang tahu, dan carilah solusi terbaiknya," ujar Mayang sama sekali tak tersentuh dengan cerita Melina.


Raja melirik pada meja mereka, gelisah hatinya ingin segera menyelesaikan pertemuannya. Ia tak suka perempuan jahat itu berada di sekitar Mayang.


Mau apa perempuan itu? Jangan sampai dia ngomong yang macem-macem sama Mayang.


Melina menunduk semakin dalam, kedua bahunya terguncang cukup keras. Apapun yang dia lakukan itu semua tak akan merubah sikap Mayang terhadapnya.


"Maaf. Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Mayang. Aku nyesel," mohon Melina menatap Mayang dengan mata merah lagi basah.


Mayang menghela napas, ia menyingkirkan egonya untuk memaafkan Melina.


"Gini aja, sebenarnya aku udah nggak mau inget-inget lagi masa lalu. Aku akan mencoba memaafkan kamu, tapi satu syarat dariku jangan muncul lagi di depan aku. Kalo kita ketemu di mana aja, anggap aja kita nggak saling kenal." Mayang tersenyum tegas saat Melina menatapnya.


Tak ada keragu-raguan di kedua maniknya yang coklat. Melina menggigit bibir, hatinya merasa tercubit dengan perkataan Mayang yang menohok jantungnya.


Ia menganggukkan kepala tanda setuju meskipun sebenarnya hati merasa berat. Mungkin sudah takdirnya harus menerima semua itu sama seperti saat dirinya yang menghina Mayang tanpa perasaan.


"Nggak apa-apa, udah dimaafin aja aku udah seneng. Makasih, Mayang." Melina lagi-lagi hendak menyentuh tangan Mayang, tapi mantan Amir itu segera menarik tangannya dan memegang gelas minuman miliknya.


"Ya udah, kalo gitu aku pamit dulu. Makasih karena kamu udah maafin aku," ucap Melina berpamitan pada Mayang.


Ia berdiri, beberapa saat lamanya menatap wajah Mayang yang tak melirik ke arahnya. Mayang hanya menganggukkan kepala tanpa menyahut dengan kata.


Melina berbalik, dan pergi dengan hati yang menahan kecewa. Mayang baru mengangkat wajahnya, dan menghela napas panjang. Hatinya merasa sakit setiap kali melihat wanita itu.


"Buat apa coba dia cerita kayak gitu sama Kakak? Pengen dikasihani kali. Lihat mukanya aja udah nggak enak," umpat Risya setelah kepergian Melina.


"Nggak tahu. Udahlah, itu bukan urusan Kakak lagi. Kakak juga udah nggak mau ketemu sama mereka lagi apalagi sampe berurusan." Mayang bergidik.


Risya tersenyum, menggenggam tangan Mayang dengan hangat. Berselang, makanan yang mereka pesan datang dan dihidangkan di atas meja. Mayang berbinar, semua makanan itu menggugah selera makannya.


Berdua mereka menyantap makanan itu dan melupakan kejadian tadi hingga tidak menyadari kedatangan Raja yang sudah duduk bergabung bersama mereka.

__ADS_1


"A ... aku juga lapar," katanya berbisik di telinga Mayang.


Uhuk-uhuk!


Tersedak Mayang karenanya, ia membungkuk sambil terbatuk. Nyeri di hidung dan tenggorokan karena makanan yang salah memilih jalan.


"Astaghfirullah! Minum, Yang. Duh, maaf," ucap Raja panik. Ia memberikan minum kepada Mayang dan menepuk-nepuk punggungnya.


Mayang menengadah dengan mata yang sudah berair. Laki-laki itu meneguk saliva merasa bersalah karena telah membuat Mayang kesakitan.


"Maaf," katanya lagi memelas.


Mayang mengibaskan tangan, menepuk-nepuk pelan dadanya. Ia tak sanggup untuk berbicara beberapa saat karena rasa sakit di tenggorokan.


"Kakak nggak apa-apa?" tanya Risya ikut merasa panik.


Remaja itu mendelik pada kakaknya, membuat Raja semakin merasa bersalah.


"Ekhem ... sakit!" keluh Mayang. Suaranya berubah serak, ia juga memegangi lehernya yang terasa perih.


"Maaf."


"Mmm ... nggak apa-apa. Udah nggak apa-apa, kok, tapi kayaknya jadi sakit nelennya. Hidung aku perih," ucap Mayang mengeluhkan rasa sakitnya.


Raja sungguh menyesal, menunggu beberapa saat sampai Mayang dapat melanjutkan makannya lagi.


"Makanya jangan suka ngagetin orang yang lagi makan. Udah tahu Kak Mayang lagi makan malah dikagetin. Keselek, 'kan," ketus Risya menyalahkan kakaknya itu.


Raja menggaruk kepalanya yang tak gatal, salah tingkah karena perbuatannya.


"Udah, udah. Ini a ... aku siapin," ucap Mayang sembari mengangkat sendok ke depan mulut Raja.


Keduanya terlihat bahagia, saling menyayangi dan saling memberi perhatian.

__ADS_1


Diam-diam Melina memperhatikan dari jarak yang sedikit jauh, hatinya merasa iri melihat kebahagiaan mereka.


__ADS_2