
Perjalanan menuju sekolah Zalfa terasa lebih ringan dan menyenangkan. Seperti halnya pasangan pengantin baru, tangan keduanya saling bertaut tak terlepaskan. Senyum di bibir mereka berkembang sempurna.
"Kamu nggak apa-apa nanti ketemu sama dia di sana?" tanya Raja sembari melirik sang istri di sampingnya.
Mayang menghendikan bahu, menghela napas panjang sekali.
"Aku, sih, biasa aja karena nggak ngerasa punya masalah. Mungkin dia ... nggak tahu juga." Mayang tak dapat membayangkan akan seperti apa pertemuan mereka nanti di sekolah.
Keduanya terus hening, sampai mobil memasuki parkiran sekolah yang sudah dipadati kendaraan. Kenangan-kenangan yang pernah tercipta di tempat tersebut, satu per satu bermunculan ke permukaan.
Ada senyum, canda tawa, keharmonisan, kasih sayang, cinta, dan persahabatan, juga perjuangan. Mayang tersenyum, semua itu tak akan pernah terulang lagi. Mereka tidak akan pernah sama lagi.
"Ayo! Udah sampe. Tuh, liat! Zalfa udah nungguin di depan kelas," ucap Raja menunjukkan keberadaan Zalfa yang berdiri seorang diri menunggunya.
"Astaghfirullah, Zalfa!" Mayang memekik seraya keluar dari mobil disusul Raja.
"Ibu!" Gadis kecil itu berteriak senang, berlari menghampiri Mayang dan memeluknya.
"Apa Ibu terlambat?" tanya Mayang sambil mengusap rambutnya.
Zalfa melepas pelukan, mendongak menatap wajah Mayang sambil tersenyum.
"Belum, Bu. Acaranya baru aja mau dimulai," jawab Zalfa memberitahu.
"Ternyata begini rasanya menghadiri acara sekolah anak," celetuk Raja sambil menatap gedung sekolah.
Zalfa tersenyum lebih lebar ketika telinganya mendengar suara Raja. Gadis kecil itu melirik ke belakang tubuh Mayang, dan menghampirinya.
"Ayah!" Ia memeluk Raja dengan senang.
"Ah ... begini rupanya jadi ayah. Hatiku tiba-tiba menghangat," racaunya lagi sambil tersenyum haru.
Mayang mengulurkan tangan kepada Zalfa, masuk ke dalam aula bergandengan tangan dengan Zalfa yang berada di tengah. Guru-guru berada di barisan paling depan, anak-anak dan orang tua mereka berada di belakangnya. MC baru saja memulai acara, membacakan susunan acara satu demi satu.
__ADS_1
Mayang melambaikan tangan dari tempat duduk ketika Tsabit yang mengatur jalannya acara menoleh ke arah mereka. Laki-laki itu tersenyum senang sampai-sampai wajahnya merah merona.
Ia melimpahkan tugasnya kepada seorang guru asing di mata Mayang, kemudian berlari menghampiri Mayang dan Raja.
"Hai!" Ia menyalami Raja, dan menangkupkan kedua tangan di dada kepada Mayang.
"Calon ayah semangat sekali!" celetuk Mayang menggoda.
Tsabit terkekeh, menarik sebuah kursi kosong dan duduk bersama mereka. Melihat kedatangan Mayang rasanya seperti bernostalgia dengan teman lama. Senang bukan main.
"Yah, gitulah. Kalian sendiri gimana? Udah ada calon jagoan?" tanyanya melirik Raja yang tersipu.
"Doanya aja, ya. Mudah-mudahan bisa cepat dikasih. Kalo usaha, sih, nggak berhenti. Siang malam pokoknya," sahut Raja disambut cubitan Mayang di pinggangnya.
Kedua laki-laki itu tertawa, tapi Mayang yang harus menanggung malunya.
"Luar biasa, pengantin baru. Ya nggak?" Tsabit memainkan alisnya kepada Raja, Mayang mendesah sambil menutupi wajahnya.
Acara berjalan lancar, penampilan-penampilan semua siswa dinikmati semua yang hadir. Patutlah para orang tua di sana merasa bangga terhadap anak mereka karena Mayang sendiri pun tersenyum bangga melihat Zalfa naik ke panggung untuk pentas.
Ada banyak orang tua memberikan hadiah kepada anak-anak mereka. Termasuk Mayang yang berdiri dari kursi menyambut kedatangan gadis kecil yang baru saja turun dari panggung.
"Ibu!" Zalfa berdiri di hadapan Mayang, ia menerima buket bunga yang diberikan wanita itu padanya. Mencium aromanya, dan memeluk Mayang seperti ibunya sendiri.
Tsabit menatap kagum pada sahabatnya itu, sejak dulu tidak ada yang berubah dari sosok Mayang sekalipun saat ini ia adalah istri orang kaya nomor satu di daerah tersebut.
"Mayang sangat menyayangi anak-anak di sini. Mereka semua lebih dekat sama Mayang daripada guru kelas mereka sendiri," ujar Tsabit memberitahu Raja.
"Yah, untuk itulah aku mau punya anak sebanyak-banyaknya. Supaya rumah besar ibu nggak sepi," celetuk Raja sadar sesadar-sadarnya.
Tsabit mengangkat alis, kemudian tertawa mengaminkan harapan Raja.
"Bentuk kesebelasan, Bro. Biar rumah itu jadi lapangan bola." Mereka tertawa lagi, membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Akan sangat berantakan rumah Ratna karena ulah mereka.
__ADS_1
"Kenapa, sih, pada ketawa terus? Lagi seneng banget kayaknya," tegur Mayang ketika kembali ke kursinya.
"Biasa, ini urusan lelaki." Tsabit kembali memainkan alis kepada Raja.
Mayang mendengus, mungkin ke depannya mereka akan sering bersama untuk melakukan kesenangan. Apalagi saat musim piala dunia tiba, saatnya para ayah berkuasa di depan layar kaca.
"May, sekarang Rani benar-benar berubah. Aku kayak nggak kenal sama dia. Cuek, jarang senyum, nggak suka bercanda, pokoknya berbanding terbalik sama dulu," ucap Tsabit memberitahu Mayang tentang sikap Rani.
"Kenapa bisa kayak gitu?" Mungkin karena masalah perjodohan itu? Mayang tidak tahu.
"Aku dengar papahnya pergi dari rumah ninggalin dia sama mamahnya. Sekarang, mamahnya lebih sering ngelamun dan kadang menangis sendiri. Dengar-dengar karena mereka yang nggak mau dengar nasihatnya, dia kesal dan pergi," lanjut Tsabit bercerita.
Hati Mayang mencelos nyeri, mendengar kabar tentang Rani dan keluarganya ia merasa tidak tega. Ingin rasanya melihat keadaan mereka, tapi khawatir tidak akan diterima.
"Kamu tahu dari mana itu semua?" selidik Mayang memastikan.
"Aku nyari tahu, karena setiap aku tegur Rani selalu ketus sama aku. Dia juga bilang aku bukan sahabatnya lagi," jawab Tsabit.
Raja melirik istrinya, menelisik wajah wanita itu yang secara tiba-tiba berubah muram. Ia memaklumi karena mereka pernah sangat dekat, bahkan sudah seperti saudara sendiri.
"Apa dia ada di sini?" Mayang hanya ingin melihatnya dari kejauhan.
"Ada. Dia duduk di depan bersama kepala sekolah. Mungkin beberapa tahun lagi, dia akan naik jabatan menjadi kepala sekolah," ujar Tsabit memberitahu.
Mayang tersenyum, bersyukur setidaknya Rani tidak kehilangan karirnya.
"Syukurlah kalo gitu, aku ikut senang dengernya," ucap Mayang bersungguh-sungguh.
Ia menghela napas, dari tempatnya duduk dapat melihat sosok Rani dari belakang. Seperti itupun sudah cukup bagi Mayang dan dia tidak berharap lebih.
Acara selesai, Tsabit mengantar mereka ke ruangan kepala sekolah. Tak nyaman rasanya sudah datang, tapi tidak menemui semua orang yang sudah berbuat baik kepadanya. Bercengkrama sebentar sekalian berpamitan secara langsung kepadanya.
Hati Mayang merasa lega setelah melakukan itu. Tak ada lagi beban yang dipikul pundaknya. Lepas dan melegakan. Di dalam aula, diam-diam Rani melihat mereka. Ia sama sekali tidak berniat menemui Mayang, untuk sekedar menyapa sambil berpura-pura ataupun meminta maaf. Tidak ada.
__ADS_1