Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 119


__ADS_3

Wanita tua di seberang jalan menatap Amir dengan sedih. Satu per satu meninggalkan anaknya, termasuk harta kekayaan mereka. Tak ada lagi yang bisa dibanggakan, semuanya telah hilang dan musnah. Karir Amir hancur, kehidupan rumah tangganya pun ikut hancur.


Seandainya dulu aku nggak nyuruh Amir selingkuh, semua ini nggak akan pernah terjadi. Mayang perempuan yang baik dan berbudi. Kehidupan Amir selalu terlihat bahagia saat bersama Mayang. Semua ini salahku, memang salahku yang nggak bisa nerima Mayang karena dia cuma gadis desa.


Hatinya bergumam perih, mulai menyadari penyebab kehancuran yang terjadi. Ia berharap Amir dapat kembali kepada Mayang, dan hidup berbahagia seperti dulu lagi.


Lama Amir menatap kepergian Melina bersama seorang laki-laki asing. Hatinya perih, tapi tak seperih saat melihat Mayang yang berbahagia bersama Raja. Ia berbalik, mencoba untuk menerima takdirnya, hidup sendiri.


Amir membelalak ketika melihat ibunya di depan warung nasi, segera berlari dan mengajak wanita tua itu pergi usai membayar makanannya.


"M-ma-ma-y-a-ng ...?" Suara Ibu terbata-bata, terdengar tak jelas, tapi Amir tahu ia berkata apa.


"Apa maksud Ibu Mayang?" Amir memperjelas ucapan Ibu.


Wanita tua itu mengangguk, meluruskan dalam hati.


Di mana Mayang? Apa kamu nggak cari dia?


Seperti itu hatinya bergumam. Amir menghela napas, terus mendorong kursi roda Ibu mencari kontrakan termurah.


"Dia udah nikah, Bu. Sama bos tempat Amir kerja. Amir nyesel udah ngerendahin dia sama suaminya. Itu karena Amir pengen dia kembali sama Amir, tapi ternyata dia malah benci sama Amir dan Amir nggak tahu kalo suaminya yang Amir hina itu CEO di perusahaan," jawab Amir lesu.


Hatinya mencelos nyeri saat bayangan Mayang yang dipeluk posesif oleh laki-laki itu melintas dan sangat menganggu. Bukan hanya itu, hal tersebut juga amat mengguncang hati Amir.


Ibu menitikan air mata, semua itu terjadi karena kesombongan mereka. Sikap mereka yang terlalu angkuh dan suka merendahkan orang lain, yang perlahan menghancurkan kehidupan mereka sendiri.


Semua ini memang salahku, aku yang terlalu sombong dan suka menghina orang lain. Ya Allah, ampuni dosaku.


Batin wanita tua itu meratap, memohon ampunan kepada Yang Kuasa.


****

__ADS_1


Di ujung jalan yang lain, Melina tengah berdiri di depan sebuah minimarket menunggu laki-laki yang bersamanya di dalam. Sambil memainkan ponselnya, sesekali ia akan tersenyum.


"Bodoh, siapa juga yang takut sama ancaman dia. Aku nggak akan ninggalin ladang uangku gitu aja." Ia senyum-senyum sendiri, membayangkan hidupnya kini berlimpah dengan uang.


Melina tak sadar bahaya sedang mengintai, masih asik dengan benda pipih di tangan sambil sesekali menoleh ke belakang tubuh memastikan laki-laki yang bersamanya masih di dalam sana.


"Lama banget, sih." Dia mulai menggerutu kesal.


Melina menengadah ketika sebuah sepeda motor melintas di depannya. Di saat itu pula, sebuah cairan kimia disiramkan ke wajahnya.


"Argh!" Melina menjerit, tubuhnya terdorong mundur secara refleks menjauh sambil menutupi wajahnya yang terasa perih dan panas, bahkan sedikitnya ada cairan yang masuk ke dalam mulut hingga tertelan.


"Argh!" Melina menjerit-jerit sangat kuat, tubuhnya terguncang hebat.


Warga yang melintas dan yang berada di dalam toko, segera berhambur mendekat. Begitu pula dengan laki-laki yang bersamanya.


"Melina!" serunya sembari memegang tubuh wanita itu.


"Ambulan! Tolong, siapa saja panggilkan ambulan!" pintanya menatap semua orang yang berkerumun mengelilingi Melina.


"Melina! Melina!" Laki-laki itu mengguncang tubuh Melina yang lunglai tak sadarkan diri.


Darah mulai merembes dari sela-sela kakinya, semakin panik ia melihat itu. Dia berteriak meminta siapa saja untuk membantunya membawa Melina.


Melihat kondisi wajah wanita itu yang terus melepuh, membuat sebagian orang bergidik ngeri sekaligus jijik. Berselang sirine ambulan berbunyi, sigap laki-laki itu mengangkat tubuh Melina yang sudah bersimbah darah.


Sungguh malang nian nasibmu, Melina!


****


"Apa, Dok?! Jadi, bayi kami keguguran?" pekik laki-laki itu begitu dokter yang menangani Melina mengajaknya ke ruangan untuk membahas kondisi wanita tersebut.

__ADS_1


"Benar, Pak. Bukan hanya itu yang ingin kami sampaikan, tapi ada hal lain yang harus Bapak tahu. Pita suara istri Bapak rusak sehingga dia mengalami kebisuan, juga rahimnya yang ikut rusak terpaksa harus kami angkat." Dokter tersebut menatap lekat wajah laki-laki yang mengaku suami Melina itu.


"Nggak! Nggak mungkin!" Ia menjambak rambutnya sendiri, frustasi oleh sebab kehilangan anaknya. Anak yang sudah lama dia inginkan yang tak bisa ia dapatkan dari istrinya.


"Kami mohon maaf, Pak. Mungkin kabar ini sangat memukul Bapak dan keluarga, tapi inilah jalan terbaik yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan nyawanya," ucap dokter itu lagi bersimpati padanya.


Laki-laki itu menangis, menarik-narik rambutnya serta mengusap wajahnya sendiri. Napasnya terasa sesak, rongga dada kian terhimpit, harus menerima kenyataan pahit itu.


Dia mencoba menenangkan diri setelah dibiarkan menangis oleh dokter. Menghela napas, seraya mengusap pipinya yang basah.


"Ya sudah, Dok. Terima kasih. Kalo gitu saya permisi," ucapnya kemudian berdiri dan keluar dari ruangan.


Ia mendatangi ruangan Melina, wanita itu masih terbaring tak berdaya. Dia tahu siapa pelakunya? Sudah pasti istri yang tak mampu memberinya keturunan itu, tapi dia bisa apa? Hidup bergantung padanya, tak seperpun dia memiliki kekayaan.


"Maafkan aku, Melina. Ini semua salah aku," gumamnya sembari berpaling muka dari wanita itu.


Ia berbalik dan pergi untuk tidak kembali lagi.


****


"Argh! Sial! Kenapa mereka bisa berbahagia di atas penderitaan aku? Aku nggak bisa terima. Mayang, aku benci sama kamu. Aku nyesel pernah jadi sahabat kamu, aku nyesel!" teriak Rani di dalam kamarnya sendiri.


Sepulang dari acara sekolah, Rani tak lagi keluar kamar. Makan tak mau, berbicara juga tidak. Membingungkan Lina yang sedang frustasi. Masalah suaminya yang pergi dan tidak ada kabar sampai saat itu, belum menemukan titik terangnya. Sekarang, ditambah permalasahan Rani yang sejak kedatangannya terus berteriak seperti orang tidak waras.


Lina hanya bisa menangis di depan kamar anaknya, mendengarkan Rani yang tak henti meracau tentang kebahagiaan Mayang dan Raja.


"Mereka memang pantas bahagia, Rani. Kenapa kamu nggak bisa mengikhlaskan semuanya? Kamu juga bisa bahagia, setiap orang sudah diberi jatah kebahagiaannya sendiri-sendiri. Sayang, dengerin Mamah kali ini. Kamu nggak boleh tenggelam dalam kebencian kamu, Rani. Bebaskan, ikhlaskan, semua itu bukan bagian kamu."


Lina mencoba menasihati anaknya, tapi tak ada sahutan dari dalam kamar. Entah apa yang sedang dilakukan Rani di dalam sana? Lina hanya berharap semoga anaknya itu tidak berbuat yang macam-macam.


Ia menangis kembali, menjatuhkan tubuhnya di depan kamar Rani. Menyadari semua yang terjadi adalah karena dirinya yang terlalu memanjakan gadis itu. Semuanya sudah terlanjur, ajaran yang ditanamnya sejak kecil sudah mendarah daging di dalam diri Rani. Kini, hanya tinggal penyesalan yang tiada akhir.

__ADS_1


__ADS_2