
Beberapa hari berlalu, Mayang dan Risya semakin akrab. Begitu pula dengan Ratna yang kerap membantu Ambu membuat anyaman hateup. Mereka seperti sebuah keluarga yang harmonis, bahagia meskipun hidup sederhana.
Lidah kota mereka kini terbiasa dengan makanan desa yang apa adanya. Tidak ada junk food di desa tersebut, apalagi makanan siap saji yang bila ingin hanya tinggal klik tombol pesan saja, maka makanan akan tiba di depan rumah.
"Ambu, ini nanti hateupnya dijual ke mana?" tanya Ratna seiring berjalannya waktu, panggilan untuk wanita itu pun berubah.
"Nanti ada tengkulak yang ambil ke rumah. Dua Minggu sekali mereka datang buat ambil hateup ini," jawab Ambu sembari menganyam daun kiray dengan lihai.
Ratna manggut-manggut mengerti, sedikitnya dia belajar bagaimana menganyam daun tersebut. Suara tawa dan celoteh kedua wanita lainnya di belakang rumah menambah rasa bahagia di hati tua mereka.
Rasanya tak ingin lagi ke kota semenjak tinggal di desa tersebut. Suasana yang sejuk lagi asri, Suara-suara burung-burung berkicau di pagi hari, juga binatang-binatang malam yang bernyanyi, ia tak ingin kehilangan itu semua.
Namun, kenyataan harus membawanya kembali, kehidupan di kota yang ia tinggalkan sedang menunggunya.
"Ambu. Nanti kalo Mayang sama Raja udah nikah, kita tinggal sama-sama di Jakarta, ya. Aku nggak tega ninggalin Ambu sendirian di sini, sedangkan aku hidup enak di kota," ujar Ratna setulus hatinya.
Ambu terenyuh, pada hakikatnya ia pun sudah tidak sanggup hidup seorang diri. Di hari tuanya Ambu ingin berkumpul dengan anak satu-satunya. Ia mengangguk setuju, tidak ingin membuat cemas Mayang juga Ratna.
Ratna memeluk Ambu, senang bukan main karena ia menemukan kembali sosok sandaran hidupnya yang hilang.
****
Meninggalkan mereka yang berbahagia di desa, Amir melangkah gontai di halaman rumahnya. Wajahnya tampak kuyu, lesu dan tak bercahaya. Penampilannya yang dulu selalu rapi dan sempurna, kini terlihat biasa-biasa saja bahkan janggut tipis mulai menghiasi dagunya.
Ia ambruk di kursi teras, menyandarkan tubuhnya yang lelah. Memejamkan mata malas, percuma kembali ke rumah. Bukannya mendapat ketenangan, malah menambah ruwet pikiran.
Ketukan langkah yang mendekat, tak ia pedulikan datangnya. Melina keluar dengan penampilannya yang serba terbuka. Wajah dipoles make-up tidak normal, rambut digerai menutupi bagian punggungnya yang sangat terbuka.
__ADS_1
"Mas? Tumben pagi-pagi udah di rumah? Ke mana aja selama tiga hari ini?" cecar Melina bernada curiga.
Ia menilik penampilan suaminya, mencibir jijik karena tak terurus sama sekali.
"Kamu nggak mandi berapa hari, Mas? Bau badan banget," celetuk Melina sembari mengibaskan tangan di depan wajah.
Amir berdecak, tanpa melihat istrinya dia beranjak masuk ke dalam. Selama tiga hari mengelana, menjelajah berbagai macam wanita, membuatnya tak menyenangi Melina.
"Mas!" panggil wanita itu dengan kesal.
Ia menghentakkan kaki mengikuti langkah Amir memasuki rumah. Ambruk di sofa sembari melipat kedua tangan. Dia tidak peduli lagi pada Amir, meskipun diceraikan, Melina tak akan mempermasalahkannya.
Di kamar mandi, Amir memandangi pantulan dirinya di dalam cermin, membalik wajah ke kanan dan kiri yang nampak menjijikkan. Ia mengambil alat untuk membersihkan bulu-bulu yang tumbuh di dagunya. Merapikan kembali tampilan demi menggaet wanita-wanita di luar sana.
"Aku punya uang, buat apa mikirin yang udah pergi. Sekarang, waktunya untuk membahagiakan diri sendiri." Dia bergumam memuji dirinya sendiri.
Tak akan lagi memikirkan Melina yang suka semaunya sendiri, tak akan lagi memikirkan ibu yang selalu meminta uang. Dia hanya akan memikirkan dirinya sendiri.
"Mau makan, Pak?" tanya asisten yang sedang merapikan dapur.
"Iya, Bi. Siapin, ya," pinta Amir sembari menarik kursi dan duduk bersiap untuk makan.
Ia makan dengan lahap, mengisi perutnya yang beberapa hari terakhir hanya diisi oleh makanan di luar, ditambah alkohol yang kini menjadi candu jika tak menenggaknya.
"Mas, kamu mau pergi lagi?" tegur Melina yang datang menghampiri.
Wanita itu melirik curiga melihat penampilan Amir yang sungguh berbeda. Rasa cemas pun mulai menghinggapi hatinya, ia duduk sedikit membanting tubuh di kursi.
__ADS_1
"Iya, aku ada urusan di luar. Kamu nggak usah nungguin aku pulang, aku juga nggak tahu pulang apa nggak," ucap Amir tanpa melihat ke arah istrinya.
Melina membelalak, ia mendekat dan menempel pada tubuh Amir. Merayu agar laki-laki itu tak pernah bermain-main di belakangnya.
"Mas, aku pengen liburan. Udah lama kita nggak pergi liburan. Sekalian bulan madu kedua," pinta Melina berbisik di telinga Amir.
Dengan nakal dia menggigit daun telinga laki-laki itu, menghentikan gerakan tangan Amir yang hendak menyuapkan nasi ke mulut. Laki-laki itu terpancing, memejamkan mata menahan segala h*sr*t yang tiba-tiba memuncak.
Melina tersenyum sinis, merasa berhasil meluluhkan hati Amir. Namun, ia tersentak ketika laki-laki itu justru membanting sendok dan dengan secepat kilat berdiri dari duduknya.
"Aku harus pergi," katanya seraya menenggak air di kelas dan pergi begitu saja.
Melina mendengus sebal, menatap Amir dengan tajam. Ia berdiri meninggalkan ruang makan dan masuk kembali ke kamarnya. Memukul ranjang dengan kesal, menggeram sembari mengepalkan kedua tangan.
Semakin hari, pernikahan bahagia yang dia inginkan semakin jauh terasa. Sulit untuknya menggapai pernikahan impian seperti kebanyakan orang menginginkannya.
Meninggalkan Melina dengan perasaannya yang bergejolak, di rumah besar lainnya, seorang gadis pun tengah mematung di depan cermin. Memandangi dirinya yang terlihat sedikit lesu karena memikirkan perjodohan yang tak terlaksana sesuai keinginannya.
Ia mengeluh, sepertinya memang harus menyerah dengan cinta yang dia perjuangkan. Setelah melihat sendiri bagaimana kedekatan Mayang dengan adik Raja juga ibunya, Rani merasa putus asa sendiri.
"Mungkin aku harus menyerah. Benar yang dibilang Tsabit, semakin memperjuangkan semakin sakit hatiku, tapi aku nggak rela kalo dia nikah sama Mayang. Aku nggak terima." Rani menjatuhkan kepala di atas meja rias, bersedih hati seorang diri.
Media sosial Mayang dipenuhi foto-foto kebersamaan mereka yang diunggah Risya dengan menandai dirinya. Setiap hari selalu berseliweran gambar mereka, membuat hatinya memanas.
Pikirannya mengelana pada Tsabit, laki-laki yang pernah singgah di hatinya sebelum Raja.
"Apa aku kejar cinta Tsabit aja, ya?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Tsabit tidak lebih buruk dari Raja, dia pemuda yang mapan dengan pekerjaan tetap yang tidak diragukan lagi. Memiliki usaha di bidang kuliner yang sukses merambah dunia bisnis.
Rani tersenyum, mulai menyusun rencana baru untuk mengejar hati Tsabit.