Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 109


__ADS_3

Di ruang tengah rumah besar itu, duduk dua orang berlawanan jenis secara berdampingan. Wanita paruh baya di sana menatap lawan bicaranya dengan serius, sedangkan laki-laki itu tampak lebih santai menanggapi.


"Za, apa kamu yakin nggak mau tes kesuburan? Ibu takut apa yang dibilang orang itu beneran," ucap Ratna mewanti-wanti sang anak.


Raja tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. Menolak melakukan tes kesuburan karena telah melihat sendiri hasil tes milik Mayang.


"Ibu nggak usah kehasut sama omongan orang. Bukannya Ibu juga tahu ada banyak orang yang nggak suka sama Mayang, bahkan termasuk sahabat dekatnya sendiri. Ibu lupa sama bu Lina dan anaknya?" ucap Raja dengan santai.


Ratna tercenung, dia lupa pada dua orang itu karena terlalu memikirkan isi pesan tersebut. Hatinya mulai meragukan pesan itu dan berpikir merekalah pelakunya.


"Jangan sampai pesan yang nggak jelas itu merubah sikap Ibu terhadap keluarga Ibu sendiri. Kalo Ibu sampai percaya, itu yang mereka mau, Bu. Jangan biarkan mereka berhasil menghancurkan kebahagiaan keluarga kita, Bu. Jangan sampai. Mereka akan tertawa puas dan merasa menang kalo sampai itu terjadi," ingat Raja membuat Ratna semakin berpikir dalam.


Teringat pada waktu sebelum mereka menikah, bagaimana perjuangan Raja demi mendapatkan Mayang. Dia tahu, ada banyak halang rintang yang harus mereka lalui. Sampai memutuskan mengungsi sementara waktu demi menghindari gangguan.


"Yang dibilang Kakak itu benar, Bu. Mereka itu nggak suka sama kebahagiaan keluarga kita. Mereka mau kita ini hancur. Jangan sampai cuma gara-gara pesan nggak jelas itu, Ibu jadi benci sama kak Mayang. Padahal belum tentu benar. Kakak juga baru beberapa hari menikah, nggak mungkin langsung hamil," sambar Risya menimpali ucapan kakaknya.


Ia yang tak sengaja mendengar perbincangan itu, merasa tak enak hati. Bagaimana menjadi Mayang yang dulu di depan matanya dia dicaci dan dimaki. Akan tetapi, wanita itu tetap tegar dan tak tergoyahkan.


Rasa bersalah mulai datang menghampiri hatinya, semua yang diucapkan kedua anaknya itu memanglah benar. Ada banyak pihak yang tidak menyukai Mayang. Ia menghela napas, mulai menyadari kekeliruannya.


Ratna mengangkat wajah, menatap kedua anaknya yang mengapit di kanan dan kiri. Tangannya terangkat mengusap kedua pipi mereka, menangis haru sekaligus menyesal karena sempat bersikap dingin terhadap menantunya itu.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Ibu salah, Ibu udah salah karena terlalu percaya sama pesan itu. Padahal, Ibu nggak tahu kebenarannya. Ibu minta maaf," ungkap Ratna memeluk kedua anaknya itu.


Raja dan Risya tersenyum berhasil telah memenangkan hati ibu mereka kembali. Keduanya melihat ke sebuah dinding di mana Mayang bersembunyi di sana, mendengarkan.


"Alhamdulillah. Mulai sekarang kita hanya harus saling percaya satu sama lain demi kebahagiaan keluarga kita, Bu. Jangan sampai orang luar berhasil menghancurkannya."

__ADS_1


Ratna mengangguk mendengar ucapan si Sulung yang lirih. Raja melambaikan tangan meminta Mayang untuk mendekat. Seharian itu Ratna bersikap cuek terhadapnya, bahkan melihat saja dia enggan. Bertegur sapa apalagi. Hal itu membuat hati Mayang merasa sedih, baru beberapa hari mereguk kebahagiaan harus kembali berhadapan dengan kesedihan.


Wanita itu melangkah, menghampiri mereka di ruangan tersebut. Duduk berseberangan sembari memegang hasil tes di tangan. Ratna yang melihatnya melepas pelukan dari kedua kakak beradik itu, menatap Mayang yang tersenyum dengan rasa bersalah yang bersarang di hatinya.


Mayang menghela napas, meletakkan hasil tersebut di atas meja tepat di hadapan Ratna.


"Itu hasil tes milikku dan mantan suamiku dulu. Aku masih menyimpannya dengan baik dan sengaja tidak memberitahu mereka tentang itu. Ibu bisa membacanya sendiri untuk meyakinkan hati Ibu," ucap Mayang terlihat tenang seperti biasanya.


Raja tersenyum, beralih tempat duduk ke samping sang istri. Mendekap pinggang Mayang, mengecup pelipis wanita itu. Dia bahkan menjatuhkan kepalanya pada pundak Mayang dengan manja. Terlihat bahagia di mata Ratna, dia menyesal karena hampir saja menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri.


Dengan tangan gemetar Ratna mengambil kertas tersebut, membukanya bersama Risya yang juga ingin tahu isi di dalamnya. Ratna menutup mulut senang, air mata penyesalan jatuh tak dapat ia tahan.


"Bukan Kak Mayang yang mandul, tapi mantan suaminya itu. Mereka terus saja menuduh Kakak yang nggak bisa punya anak, ternyata dia yang nggak subur," pekik Risya kegirangan.


Ratna melipat kertas tersebut dan meletakkannya di atas meja kembali. Memandang Mayang dengan matanya yang basah, sungguh dia amat menyesal.


Mayang tetap tersenyum, ini semua hanya kesalahpahaman yang tak seharusnya berlarut.


"Nggak gak apa-apa, Bu. Lupain aja soal itu, jangan pernah dibahas lagi. Kita nggak tahu pihak mana yang ingin keluarga kita hancur. Aku ngerti gimana perasaan Ibu waktu menerima pesan itu. Aku bisa ngerti dan memaklumi sikap Ibu," sahut Mayang semakin membuat Ratna merasa bersalah.


Ia menganggap Ambu sebagai ibu sendiri, tapi justru menyinggung anaknya.


"Makasih, ya. Lain kali Ibu akan lebih hati-hati, supaya nggak ada yang bisa membuat keluarga kita hancur," ucap Ratna diangguki semua orang.


Mereka semua tersenyum, kebahagiaan kembali datang mengisi hati Mayang. Raja merebahkan tubuh di pangkuan sang istri tanpa segan. Bermanja dengannya meski di hadapan ibu dan adiknya.


"Kalian nggak pergi bulan madu? Bukannya dapet tiket gratis dari paman kamu, Za," tanya Ratna teringat pada hadiah tiket berlibur dari pamannya.

__ADS_1


"Belum, Bu. Hari Minggu nanti rencananya baru mau berangkat," jawab Raja yang tak lupa dengan hadiah itu. Ia memainkan ujung kerudung milik Mayang, sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri dan meletakkannya di atas dada.


Melihat itu, Ratna berinisiatif mengajak Risya untuk pergi ke kamar mereka. Dengan alasan sudah malam dan mereka harus beristirahat, keduanya pergi meninggalkan sepasang pengantin baru yang asyik masyuk di sofa itu.


"Emangnya itu liburan ke mana, sih? Nggak jauh-jauh, 'kan?" tanya Mayang sambil mengusap-usap kepala suaminya.


"Kayaknya, sih, ke luar negeri. Aku belum lihat detailnya. Kamu udah pernah diajak ke luar negeri sebelumnya?" tanya Raja menatap wajah Mayang.


Wanita itu mendesah, menjatuhkan punggung pada sandaran kursi sambil mengingat-ingat kembali, pernahkah?


"Maksud kamu sama dia?" Mayang menurunkan pandangan melihat Raja.


Laki-laki menganggukkan kepala, memang dia maksudnya.


"Jangankan keluar negeri, keluar rumah aja paling diajak ke mal. Nggak pernah ke mana-mana. Aku belum pernah ikut kerja ke luar kota sama dia. Sekalipun dia nggak pernah ngajak aku," ungkap Mayang sejujurnya.


Raja merasa iba, berbalik menelusupkan wajah pada perut istrinya. Sungguh keterlaluan si Amir itu, dia sering bepergian untuk tugas dari kantor keluar kota, tapi tidak berinisiatif mengajak istrinya.


"Emangnya kamu mau pergi ke mana?" tanya tanyanya, suaranya redam karena wajah itu menempel pada perut Mayang.


Ia berpikir ke mana ingin pergi, daerah mana yang ingin dia kunjungi.


"Aku sering lihat di tv, orang-orang liburan ke Raja Ampat. Kayaknya tempat itu bagus kalo dilihat dari tv. Apa emang sebagus itu?" ucap Mayang membayangkan apa yang dilihatnya di televisi.


Raja terkekeh, seraya menyahut, "Nanti aku ajak ke sana. Sekarang, aku mau ngajak kamu bikin adonan."


Dahi Mayang terangkat tak mengerti tentang ucapan Raja.

__ADS_1


"Adonan anak maksudnya. Ayo!"


__ADS_2