Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 96


__ADS_3

Laki-laki itu duduk di sofa sambil membolak-balik halaman demi halaman majalah yang disediakan butik. Di dalam sana, Mayang mencoba gaun pengantin yang akan dikenakannya pada acara resepsi nanti. Dibantu Risya yang begitu antusias menyiapkan semuanya.


"Wah! Kakak cantik banget! Kenapa bisa pas kayak gini, ya? Ayo, kita liatin sama kakak di depan," ajaknya penuh semangat.


"Tapi Kakak malu, Risya. Udah, ya. Nggak usah, nanti dia lihat juga, 'kan. Buka lagi, ya," sahut Mayang yang wajahnya berubah merah karena malu.


"Di mana-mana, kalo calon pengantin perempuan mencoba baju, itu harus dilihatin sama calon pengantin laki-laki. Udah, nggak usah malu. Nanti calon suami kakak bosan nungguinnya," ujar Risya yang segera menarik tangan Mayang keluar dari ruang ganti.


Suara ketukan langkah yang terdengar tak tenang menyusul derit pintu yang terbuka, mengalihkan pandangan Raja dari majalah yang sedang dibacanya. Ia mengangkat wajah, mengerutkan dahi, menunggu seseorang muncul dari pintu yang terbuka itu.


Ia melihat Risya yang tengah berbicara pada seseorang. Mungkin itu Mayang yang enggan keluar karena malu.


"Ayo, Kak!"


"Malu, Risya. Aku nggak pernah pake kayak gini."


Terjadi tarik-menarik antara adik Raja juga calon istrinya. Hal tersebut mengundang rasa penasaran di hati laki-laki itu. Ia beranjak dari sofa, melangkah pelan tanpa suara. Kemudian memasukkan sedikit kepalanya untuk memeriksa mereka berdua.


Tangan besarnya sigap membuka pintu lebih lebar, memperlihatkan Mayang yang tampak memukau dengan balutan gaun pengantin bertabur mutiara.


Raja tercenung, meski kepala dibalut hijab dia tetap cantik. Apatah lagi nanti ketika wajahnya dipoles make-up. Pesona sang calon istri akan bertambah. Mata laki-laki itu membelalak, sama sekali tidak berkedip.


Hal tersebut membuat Mayang salah tingkah. Ia menunduk sambil meremas sedikit gaun bagian depan. Digigitnya bibir karena gugup, melihat Raja yang ternganga dengan penampilannya.


"Kak, iler Kakak jatoh," bisik Risya di telinga sang kakak.

__ADS_1


Raja terhenyak, buru-buru memeriksa bibirnya yang terdapat cairan kental hampir menetes. Ia tersipu, dan tanpa berkata-kata kembali keluar sambil menutup pintu. Raja menyandarkan punggung pada daun pintu, memejamkan mata sambil memburu udara.


Melihat Mayang dengan balutan gaun putih tadi, membuat jantungnya berdetak tidak normal.


"Pak!" tegur sang asisten merasa heran melihat atasannya yang tersenyum-senyum sendiri sambil terpejam, "hati-hati. Nanti orang-orang ngira Bapak gila. Untung cuma ada saya," lanjut sang asisten seraya duduk di sofa setelah menyindir Raja.


Pemuda itu mendengus, membuka mata lebar-lebar memelototi laki-laki paruh baya di sofa. Kemudian menegakkan tubuh, membenarkan jas dan mendekati sofa juga. Duduk berdampingan sebagai atasan dan asisten.


Sementara di dalam sana, keributan kecil terjadi. Mayang yang malu, terus mengajak Risya untuk melepas semua yang dikenakannya.


"Tunggu, Kak. Aku foto dulu, ya." Risya mengeluarkan ponselnya. Ia meminta Mayang berpose, dan sesuai arahan darinya Mayang tak kalah cantik dari model sampul majalah yang disediakan butik.


Beberapa gaya diambil Risya. Mayang terlihat kaku, tapi tidak mengurangi aura kecantikannya. Remaja itu tersenyum puas dengan hasil jepretannya sendiri. Ia menunjukkan kepada Mayang, keduanya tertawa ringan.


****


Risya mengangguk pasti, membuntuti Raja keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil. Duduk berdua di kursi belakang sambil bercengkerama asik tanpa menghiraukan dua laki-laki di depannya.


"Kak, coba lihat! Udah kayak model beneran, ya?" Risya menunjukkan gambar-gambar Mayang yang diambilnya tadi.


Diam-diam Raja tersenyum, menggulir satu per satu foto-foto tersebut untuk melihat semua. Tanpa sepengetahuan keduanya, ia mengirimkan gambar-gambar itu ke ponselnya sendiri.


"Iya, cantik, tapi nggak cocok jadi model," komentar Raja.


"Kenapa?" Dahi kedua wanita itu terlipat tak senang.

__ADS_1


"Yah, karena Kakak nggak suka dan nggak mau kecantikan istri Kakak terekspos ke dunia publik, terus dilihat banyak laki-laki, akhirnya mereka menyebut diri mereka itu fans. Padahal ada udang dibalik batu." Raja tertawa mencibir, sambil menyerahkan ponsel Risya kembali ia melirik Mayang yang tertegun.


"Kecantikan wanita ini cuma buat Kakak!" tegasnya sambil menatap penuh cinta pada manik Mayang.


Wanita itu tersipu, menunduk kemudian. Ia memainkan ujung kerudung untuk mengusir gugup yang datang melanda.


"Ugh! Sooo ... awet!" Risya mengangguk-anggukkan kepalanya. Bak kisah cinta Romeo dan Juliet, atau sang pangeran berkuda putih dengan Cinderella, kisah cinta sang kakak tak kalah menarik dan romantis. Dibumbui dengan pujian, indah tanpa harus saling menyentuh.


Risya menatap keduanya yang saling memandang satu sama lain. Cemburu karena ia sendiri belum menemukan pengganti cinta pertamanya. Bila cinta pertama seorang gadis jatuh pada sang ayah, maka Risya Raja-lah cinta pertamanya.


Ia membuka tangan lebar-lebar, menutup wajah kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu. Menjauhkannya satu sama lain, agar tidak tergoda setan. Kata orang, bila seorang laki-laki dan perempuan duduk berdua, maka yang ketiganya setan. Biarlah dia menjadi setan yang mengganggu keasyikan dua sejoli itu.


"Kayak nggak ada orang lain aja. Dosa tahu, belum jadi mahram. Nanti aja kalo udah nikah, kalian bisa puas saling menatap. Guling-guling juga nggak apa-apa." Risya melipat kedua tangannya di perut.


Bukan ia tak senang, tapi hatinya merasa cemburu dan iri. Dia berharap kelak di masa depan, akan seberuntung Mayang yang dihujani dengan taburan cinta juga perhatian oleh sang kakak.


Mayang berpaling pada jendela, mengigit bibir karena keadaan jantung yang tak bisa diajak kompromi. Begitu pula dengan Raja, wajahnya memerah malu. Sang asisten mencibirkan bibir, memutar bola mata malas dengan tingkah sang pemuda yang baru mengenal cinta.


Setibanya di restoran, Raja meminta Risya untuk membawa Mayang duduk di sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya melakukan pertemuan. Asik memilih menu, dan Raja sesekali akan melirik sambil mendengarkan penjelasan rekan bisnisnya.


Risya memberikan buku menu tersebut kepada pramusaji yang menunggu. Ia melirik Raja karena wajah Mayang berubah memerah. Lalu, menggeser tempat duduk, menghalangi Raja dari memandang wajah Mayang.


Laki-laki itu mendengus kesal. Tingkahnya membuat sang asisten jengah, dengan sengaja diinjaknya kaki Raja untuk menarik laki-laki itu dari alam hayal yang memabukkan.


Raja mendelik tak senang, rasanya sakit dan dia harus menahan diri agar tidak meringis. Dalam hati mengancam sang asisten, ingin rasanya pertemuan itu cepat selesai agar dia bisa membalas dendam.

__ADS_1


Kembali pada Mayang, yang berbincang dengan Risya. Semua hal remeh mereka diskusikan, mulai dari kebutuhan rumah tangga dan juga masalah anak.


"Mayang!"


__ADS_2