
Amir duduk di sebuah warung pinggir jalan, sekedar menyeruput secangkir kopi untuk menenangkan hatinya. Berkali-kali menghela napas, tapi rasa sesak tak kunjung pergi. Dia sudah kalah, dikalahkan keangkuhannya sendiri.
"Hancur semuanya, hancur semua. Aku hancur," keluhnya sambil menjatuhkan kepala di atas meja.
Sang pemilik warung menggelengkan kepala, sudah sering menjumpai orang seperti Amir di warungnya.
"Berapa, Bu?" Amir mengangkat kepala lesu, memandang pemilik warung yang sibuk melayani pembeli lain.
"Nggak usah, deh. Gratis buat kamu," jawab si Pemilik Warung merasa kasihan melihat kondisi Amir.
"Beneran, Bu?" tanyanya tak percaya.
"Iya. Udah nggak apa-apa, tapi jangan lama-lama duduk di situ. Yang mau makan nanti nggak kebagian kursi," ujar wanita paruh baya tersebut secara tidak langsung mengusir Amir dari warungnya.
Laki-laki itu menghela napas, beranjak dengan malas.
"Ya udah. Makasih, Bu." Ia pergi begitu saja.
Berjalan gontai dengan jas yang tersampir dan bahu kiri. Beruntung, Amir masih memiliki sisa uang gaji bulan lalu. Ia berdiri di pinggir jalan, menunggu ojek online yang dipesannya.
"Kenapa hari ini sial banget? Aku nggak tahu kalo si Raja itu pemilik perusahaan. Itu artinya Mayang ... argh! Ternyata hidupnya sekarang bahkan lebih baik daripada waktu dulu sama aku," gumam Amri menurunkan tangan dari bahu dengan lesu.
Ia menengadah sambil memejamkan mata, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-paru yang mengering.
"Pak Amir?" tegur seseorang yang berhenti di depan Amir.
Laki-laki itu membuka mata, menurunkan kepala menatap tukang ojek yang menegurnya.
"Iya, Pak. Langsung aja, ya," ucap Amir seraya duduk di jok belakang tak sabar ingin segera tiba di rumah.
Motor itu melaju membawa laki-laki yang sudah kehilangan gairah hidup. Namun, belum sampai di rumah, Amir dikejutkan oleh dua sosok yang berdiri di luar gerbang sambil menatap rumah mereka.
"Ibu!" gumam Amir seraya menepuk punggung si Tukang Ojek.
Motor berhenti sedikit jauh, Amir berlari setelah membayar ongkos. Hatinya bertanya-tanya melihat dua buah koper ukuran besar ada di dekat keduanya.
"Ibu? Kenapa kalian di luar? Terus apa ini? Kenapa koper aku ada di sini?" tanya Amir kebingungan.
Mereka berdua menoleh serentak, Bibi mendorong kursi roda Ibu mendekati Amir. Menyerahkan tanggung jawab kepengurusan wanita itu kepadanya.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Tadi ada pihak dari perusahaan yang mengusir Ibu dari rumah. Katanya, sampai ada bukti kuat yang membuktikan Bapak nggak bersalah, rumah ini nggak boleh ditempati untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh Bapak," ucap Bibi tanpa terlihat sedih sama sekali.
Ibu menangis di atas kursi roda, keangkuhan yang dulu dia banggakan sedikit demi sedikit meninggalkannya.
Amir terhenyak, napasnya terputus secara tiba-tiba. Rasa sesal semakin menyesakkan dada, tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur.
"Ini, saya serahkan Ibu sama Bapak. Saya mau berhenti bekerja sama Bapak." Bibi menyerahkan kursi roda kepada Amir.
"Bibi mau ke mana? Bibi jangan berhenti, saya janji akan tetap membayar gaji Bibi sama persis seperti sebelumnya. Ya, Bi? Kalo nggak ada Bibi siapa yang mau ngerawat Ibu? Saya harus kerja cari uang." Amir memelas pada Bibi, tapi wanita itu sudah tidak ingin bekerja padanya.
Ia tetap pergi meninggalkan keluarga itu dan memilih mencari pekerjaan lainnya. Amir mundur dan terjatuh di atas tanah. Meratapi nasibnya yang hancur sekaligus.
Ibu tak dapat berbuat apa-apa, hanya menangis merasa sedih melihat anak semata wayangnya.
"Semuanya udah hancur, Bu. Aku benar-benar hancur, sekarang saja aku nggak tahu mau ke mana. Aku nggak punya tempat tujuan, Bu." Amir menangis memeluk kaki ibunya.
Tangan wanita tua itu mengusap rambut anaknya, sungguh tak berdaya oleh keadaan. Apa yang terjadi pada Amir, semua tak lepas dari perannya sebagai ibu yang telah menyeret Amir ke jurang kehancuran. Menyesal, tapi semuanya sudah terlambat.
Karir Amir hancur, harta benda yang dibanggakan hilang dan musnah. Kini, hanya tinggal diri mereka sendiri. Entah mampu ataukah tidak untuk bertahan hidup.
Beberapa saat terus meratap, Amir beranjak jua. Mendorong kursi roda meninggalkan rumah yang dulu dia banggakan. Melangkah pelan menyusuri jalanan, mencari rumah kontrakan yang mampu disewanya.
Wanita itu mengangguk pelan tanpa dapat menyahut ucapan anaknya. Pasrah, ke mana pun Amir akan membawanya pergi, dia akan menurut.
"Ibu lapar?" tanya Amir ketika melihat warung nasi di tepi jalan.
Kepala wanita itu mengangguk, sudah dari pagi tadi dia menahan lapar karena Bibi tak membuatkannya sarapan. Amir mendorong kursi roda Ibu memasuki warung sederhana yang seumur hidup belum pernah mereka datangi.
"Nggak apa-apa, 'kan, Bu, kita makan di sini?" tanya Amir lagi seraya duduk di kursi dekat ibunya.
Ia lagi-lagi mengangguk pasrah, tak ada pilihan lain lagi selain menurut pada anaknya itu. Tanpa sengaja mata Amir melihat satu sosok yang tak asing, di kejauhan dengan penampilannya yang masih sama seperti dulu.
"Melina?"
Merasa akan mendapatkan bantuan, Amir berniat menghampirinya.
"Ibu tunggu dulu di sini, ya. Amir mau ke sana dulu sebentar," ucap Amir pada ibunya.
Ia menitipkan wanita Ibu pada pemilik warung, sedangkan dia keluar untuk menemui Melina di seberang jalan.
__ADS_1
"Melina!" panggil Amir seraya melihat kanan dan kiri jalan sebelum berlari untuk menyebrang.
Wanita seksi itu mendelik, tak senang dengan keberadaan Amir. Jangankan tersenyum, melihat saja enggan. Ia melengos pergi tanpa menghiraukan panggilan mantan suaminya itu.
"Melina! Tunggu!" Amir menarik tangan Melina, tapi ditepis wanita itu dengan kasar.
"Mau apa kamu manggil-manggil aku? Kita udah nggak ada urusan lagi!" ketus Melina, kepalang tanggung, dia sudah sangat membenci Amir.
"Mel, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Kamu mau maafin aku, 'kan?" ucap Amir memelas pada wanita itu.
Melina mendengus, berpaling sambil tertawa kecil tak berniat menanggapi.
"Melina, kita balikan kayak dulu lagi, ya. Aku janji nggak akan selingkuh lagi, Mel. Tolong," Amir memegang lembut tangan wanita itu, lupa dengan perlakuannya dulu terhadap Melina.
Wanita itu menarik tangannya, menolak bersentuhan dengan Amir.
"Maaf, aku nggak bisa. Sejak kamu bawa perempuan itu ke rumah, aku udah hilang kepercayaan sama kamu, Mas. Jangan ganggu aku lagi," ucap Melina menolak kembali kepada Amir.
"Tapi, Mel. Aku udah ceraikan dia, aku lebih milih kamu. Kita kembali kayak dulu lagi, ya." Amir memelas karena cuma Melina harapan satu-satunya untuk Amir singgahi.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku nggak bisa," ucap Melina tetap keukeuh.
"Mel, aku mohon. Aku nggak tahu lagi harus ke mana. Tolong, Mel!" ucap Amir semakin mengiba.
Melina mencibir, ingin rasanya menertawakan Amir yang terlihat seperti orang bodoh.
"Kamu itu Mas, Mas. Kemarin nyuekin aku, nggak peduli sama aku karena punya istri baru. Sekarang kamu memelas sama aku supaya kembali sama kamu. Emangnya aku ini apa? Sanalah sama istri kesayangan kamu, jangan sama aku," ujar Melina sengit.
Amir tak dapat lagi berkilah, mengingat semua sikapnya terhadap Melina dulu. Ia menundukkan kepala, sedih.
"Sayang, ada apa?"
Suara laki-laki yang datang, menyentak kesadaran Amir.
"Bukan siapa-siapa. Ayo!"
Hati Amir mencelos nyeri melihat kemesraan mereka berdua.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata memindai dengan awas.
__ADS_1