
Setelah Video call usai, Ada notif di ponsel Disti, yaitu Adrian mengajak makan malam, Disti mengiyakan karena ia juga ingin menikmati Singapura sejenak.
Disti memakai baju Casual, dan denga perut yang menyembul buncit, sedangkan Adrian rapi sekali dengan kemeja lengan di liat, dengan Jam tangan ternama bertengger di tangannya.
Sesampai di Restorant tanpa sengaja bertemu dengan Kusuma yang duduk di samping wanita cantik.
Disti tak menggubrisnya karena Kusuma memang Playboy (cap Kapak)😁.
Disti memesan beberapa beberapa makanan, dan salad tentunya, sedangkan Adrian hanya memesan Menu Vegetarian.
Kusuma hanya melihat Disti sesekali dengan tatapan cemburunya, sedangkan Adrian hanya biasa saja.
Dan setelah makan malam selesai, Adrian mengajak Disti kembali tetapi Kusuma tiba-tiba menghalangi, Kusuma ingin mengajak Disti berbicara sejenak, tetapi Disti menolak, akhirnya Disti dan Adrian berlalu begitu saja.
Kusuma berusaha menguntit mereka berdua, sesampainya di Hotel, Adrian meminta pengawal berjaga di depan pintu, karena sangat peka dengan situasi Kusuma.
Kusuma pun tampak frustasi karena tidak bisa berbicara dengan Disti.
Malampun berlalu...senja mentari telah nampak, Disti telah bersiap dengan menggunakan setelan baju kerja yang ala matching, sedangkan Adrian memakai Kemeja warna Biru di padukan dengan sepatu yang oke punya.
Mereka berdua telah siap berangkat menuju Perusahaan.
__ADS_1
Di lain tempat...ada seorang yang menanti meeting tersebut dengan wajah menawanya, penampilannya membuat seluruh karyawati melting, karena sangat gagah dan super tampan.
Sesampainya di Kantor, Disti melangkah menuju ruang Meeting dengan membawa berkas di tangan kirinya...sesampai di depan Pintu ruang Meeting entah kenapa hatinya menjadi bergemuruh tak menentu.
Dan setelah membuka Pintu....Berkas berjatuhan, Disti sangat shock dengan apa yang telah si hadapannya seseorang yang di dambakan tetapi dengan sikap angkuhnya seseorang itu tidak berkata apapun hanya duduk dan membaca berkas.
Adrian pun terkaget dengan Sikap Disti...Ada apa lagi sebenarnya.
Adrian mengulurkan tangan untuk berkenalan tetapi Pemuda itu tak menjabat tangan Adrian.
Kemudian Disti dan Adrian duduk, di bantu asisten membagikan Berkas meeting.
Sosok itu adalah ALDO, Tampilan pakaian yang di pakainya pun berbeda dengan Aldo yang lalu.
Meeting tersebut Disti tidak focus sama sekali, pikirannya terpecah oleh sosok di depannya.
Adrian bahkan yang mewakili meeting tersebut sampai selesai.
Setelah usai Aldo ingin berbicara kepada Disti, Adrian ingin menemani tetapi Disti menolak secara halus.
Dan kalimat yang menohok membuat Disti berurai air mata adalah " SEPERTINYA ADA BATU DI BALIK UDANG, LELAKI SIAPA LAGI YANG BERSAMAMU, memang Wanita M*r*han ".
__ADS_1
Disti pun sontak menampar Aldo, dan berkata " Apa kau lupa, siapa yang ada di sampingmu saat kau terluka dan sakit, Dan sepertinya kau lupa Al, Kita sudah berpisah dan Adrian adalah Adik mendiang suamiku ".
Aldo hanya membelalakan matanya " dia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi, ingatanya hanyalah Hadisti Putri masih istrinya ".
Kemudian Disti meninggalkan Aldo begitu saja, sambil terisak Disti berjalan menuju ruangan kerjanya, Adrian nampak geram dan menghampiri Aldo kemudian menghadiahkan bogem mentah di Pipi Aldo.
Adrian pun berkata " Asal kamu tahu, Disti seperti tidak punya harapan hanya karena menanti kabar lelaki sepertimu, pengorbanannya tak sebanding dengan sikapmu tapi kepadanya, sudah hancur hatinya bertambah hancur "
Sambil menunjuk muka Aldo Adrian menambahkan " JANGAN USIK HADISTI PUTRI ATAU KAU KUHABISI LEBIH DULU ".
Adrian pun berlalu meninggalkan Aldo, sesampainya di depan Ruangan Kerja Disti, Adrian mengetuk pintu Disti.
Tetapi tidak ada jawaban, kemudian Adrian membuka Pintu, di lihatnya Disti sedang Menutup mukanya, dan terisak-isak.
Adrian pun tak tega melihatnya, dia ingin menenangkan Disti tetapi takut jika kedatangannya di tolak oleh Disti.
Akhirnya Adrian hanya menulis di sehelai kertas, " INGAT ADLIS MENANTI SANG MAMA YANG KUAT DAN TEGAR , Semangat ".
Kemudian Adrian berlalu meninggalkan Disti, sepeninggalnya Adrian, Disti masih terisak, suara dering handphone membuat Disti menghapus airmatanya yaitu telefon dari sang Ibu.
Bersambung Guys
__ADS_1