
Di tempat lain, Melina pergi ke sebuah danau yang terdapat di pinggir kota. Menemui seseorang yang berdiri di tepi danau menunggunya. Seorang laki-laki berpenampilan layaknya seorang pengusaha. Setelan jas berwarna navy membalut tubuhnya, lengkap dengan sepatu hitam yang mengkilap.
Ia memandangi danau sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Melina tersenyum, berlari kecil seraya memeluknya dari belakang.
"Aku kangen sama kamu, udah lama nunggu aku?" ucapnya dengan manja. Ia menempelkan wajah pada punggung laki-laki itu, mengendus aroma tubuhnya yang segar dan memabukkan.
Tangan laki-laki itu mengelus kulit Melina yang melingkar di perutnya. Menariknya ke depan, seraya mendekap tubuh itu dan mengecup dahinya.
"Mau ngomong apa?" tanyanya sambil menatap wajah Melina.
"Duduk dulu, aku punya kejutan buat kamu," katanya dengan lembut menyentuh gendang telinga.
Laki-laki itu menurut, duduk di atas rerumputan dengan berselonjor kaki. Di pangkuan Melina ia tertidur, memeluk pinggang wanita yang berstatus masih istri orang lain itu.
Melina mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, bukti laporan dari rumah sakit yang menyatakan dia hamil.
"Aku hamil. Kata dokter usia kandunganku baru masuk dua Minggu. Itu nggak mungkin anaknya mas Amir karena laki-laki itu udah nggak pernah nyentuh aku semenjak punya istri baru. Ini anak kamu, Mas," ucap Melina sembari membelai rambut laki-laki itu setelah menyerahkan surat tersebut.
"Kenapa kamu bisa yakin kalo ini adalah anak aku, bukan anak suami kamu?" tanyanya ragu.
Ia membaca hasil laboratorium tersebut dengan seksama. Memeriksa setiap huruf yang tertuang di dalamnya. Melina menghela napas, mengingat-ingat kembali hubungannya bersama Amir dari sejak menikah.
"Bukannya kamu tahu, Mas, gimana hubungan aku sama dia? Dari sejak menikah dulu, kami jarang tidur sama-sama. Kalo dia memperlakukan aku seperti orang lain memperlakukan istrinya, nggak akan mungkin aku cari pelarian lain. Kita juga nggak akan ketemu, terlebih saat dia membawa istri barunya ke rumah. Aku nggak dianggap lagi, ibu mertua juga lebih sayang sama dia. Aku nggak bisa lagi nahan diri, secepatnya aku mau mengurus perceraian," ungkap Melina dengan sedih.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum, menyimpan surat tersebut ke dalam tas Melina lagi. Ia beranjak duduk, menarik tubuh Melina untuk merebah bersamanya.
"Kamu nggak keberatan kalo kita melakukan tes DNA untuk anak ini? Bukan apa-apa, aku cuma mau mastiin aja, dan juga supaya hati aku yakin kalo anak ini emang anak aku." Ia memiringkan tubuh, menatap Melina. Setengah badannya menimpah bagian bawah wanita itu.
Melina menghela napas, menjatuhkan pandangan pada manik lelaki yang mampu memberinya nafkah batin itu.
"Aku nggak keberatan, karena aku yakin kalo ini anak kamu. Aku kira mas Amir itu mandul, karena beberapa bulan pernikahan aku nggak hamil-hamil, tapi tiga bulan berhubungan dengan kamu aku langsung hamil. Bukannya ini yang kamu mau? Aku hamil," ucap Melina sambil mengusap pipi lelakinya.
Ia merengkuh leher laki-laki itu, menariknya ke dalam pelukan. Tak apa menjadi simpanan ataupun istri keduanya, yang penting bagi Melina dia merasa bahagia dan tidak hidup tersiksa.
"Kamu urus saja perceraian kamu, setelah itu aku akan menikahi kamu. Kamu nggak keberatan jadi istri kedua aku?" janjinya terdengar manis di telinga Melina.
Istri Amir itu menganggukkan kepala setuju. Asal bisa terlepas dari Amir, maka dia akan dengan senang hati menerima.
"Aku kangen sama kamu, kita ke resort yang di sana, yuk. Udah lama juga kita nggak ngelakuin itu," ajaknya yang tentu saja disetujui Melina tanpa perdebatan.
Setelah satu Minggu berlalu, Amir telah membawa ibunya kembali ke rumah. Tak sehari pun Melina datang menjenguk, seolah-olah tak peduli lagi padanya. Kemarin saja dia memohon untuk tidak diceraikan. Sekarang, dia sama sekali tidak menunjukkan itikad baik untuk merubah sikapnya.
"Melina! Di mana kamu?" teriak Amir dari lantai satu rumahnya.
"Melina!" Suaranya terdengar lebih lantang dari yang pertama.
Bibi datang tergopoh-gopoh dari belakang, segera mengambil alih tas yang dibawa Amir.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Bu Melina udah satu Minggu nggak pulang. Kemarin ke sini cuma ngambil barang-barangnya aja. Katanya dia udah nggak mau tinggal di sini karena Bapak lebih peduli sama istri baru Bapak itu," ucap Bibi menyampaikan apa yang diucapkan Melina.
Amir meraup wajahnya gusar, meninggalkan ibu di lantai bawah bersama sang asisten. Ia masuk ke kamar Melina, memeriksa semua barang-barangnya.
"Kurang ajar! Ternyata dia benar-benar pergi. Apa, sih, maunya? Kemarin memohon nggak mau cerai, sekarang malah pergi gitu aja. Awas kamu, Melina. Kalo kamu sampai datang lagi, aku nggak akan pernah sudi nerima kamu!" ancam Amir dari balik giginya yang merapat.
Tak satu pun barang Melina tersisa, semua diangkutnya, bahkan semua berkas pernikahan yang beberapa bulan lalu diresmikan raib dibawa Melina.
"Sialan kamu, Melina! Perempuan nggak tahu diuntung! Bisa-bisanya kamu ninggalin aku gitu aja!" Amir meradang, menarik seprei dan melemparnya sembarangan.
Ia juga melempar bantal-bantal dan guling, hingga merusak semua yang ada. Barang-barang di kamar itu berserakan, layaknya sebuah gudang yang tak terurus. Dada Amir bergemuruh hebat, naik dan turun seiring udara masuk memburu.
"ARGH!" Dia menjerit marah. Hidupnya telah hancur setelah kepergian Mayang. Sungguh jahatnya Amir terhadap gadis desa itu, hanya karena belum bisa memberinya keturunan, dia berkhianat pada kesetiaannya.
Perempuan yang datang hanya membawa kehancuran pada hidupnya. Tak satupun dari mereka memberi kebahagiaan, mengisi hatinya dengan kedamaian. Kecuali hanya satu orang, yaitu Mayang.
"Mayang? Ya, Mayang. Aku harus berhasil mengambil hatinya lagi. Dia harus kembali jadi istriku lagi. Aku nggak akan rela kalo dia sampai menikah dengan orang lain. Nggak! Mayang harus jadi istriku. Cuma jadi istriku!" tekad Amir sembari mengepalkan kedua tangannya.
Dia berlari keluar, menyambar jaket dan kunci mobil. Terus berlari berkejaran dengan waktu. Suara teriakan sang ibu yang tak jelas tak dihiraukan Amir, dia bahkan tidak berpamitan pada wanita tua itu dan terus saja berlari keluar.
Amir masuk ke dalam mobil, melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman rumah. Berniat pergi ke desa Mayang untuk mengajak rujuk mantan istrinya itu.
"Mayang, kamu nggak boleh nolak kali ini. Aku mau kamu kembali sama aku kayak dulu lagi," ucap Amir sembari menginjak pedal gas semakin melaju di jalanan yang tak pernah sepi.
__ADS_1
****
Ke mana dia akan pergi?