Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 103


__ADS_3

Amir memandangi istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak pucat pasi, seperti tak ada darah yang mengaliri. Ia berpaling pada ranjang yang lain. Sang ibu juga terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.


Hatinya nyeri, semakin hari bukan kebahagiaan yang ia dapati, melainkan penderitaan yang datang silih berganti setelah menceraikan Mayang.


Ia menghela napas, menjatuhkan diri di sebuah kursi sambil mengusap wajah. Sungguh ada banyak hal yang tak terduga dalam hidupnya.


Dulu, tak sehari pun senyum menghilang dari wajahnya. Bersama Mayang ada banyak kebahagiaan yang ia dapatkan. Sekarang, semuanya hilang perlahan. Menjauh darinya. Terlalu jauh hingga sulit untuk digapai kembali.


"Aku kangen kamu, Mayang. Aku benar-benar nyesel pisah sama kamu. Kenapa kamu nggak mau maafin aku, Mayang? Apa kamu emang udah nggak ada rasa cinta lagi sama aku?" gumam Amir menyayangkan sikap Mayang yang menolak rujuk dengannya.


"Apa mereka udah nikah?" Amir berharap mereka tidak akan pernah menikah. Sayang, dia memang tidak tahu soal kabar itu. Hanya mendengar bahwa CEO dari perusahaan utama menikah.


Amir menjatuhkan punggung pada sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangan sambil membayangkan kehidupannya saat bersama Mayang dulu. Mereka bahagia meskipun belum dikaruniai anak. Mayang seorang istri yang pandai memanjakan suami dalam hal apapun.


Dia tidak pernah meninggikan suara selama berumah tangga dengannya. Semua kebutuhan Amir, mulai dari pakaian hingga perut, Mayang sendiri yang menyiapkan. Amir menghela napas, berbanding terbalik dengan keadaannya yang sekarang.


Apapun keperluannya, selalu Bibi yang menyiapkan meskipun sudah ada dua istri di dalam rumah. Tak satu pun dari mereka yang memperhatikannya. Melina sibuk mengurusi diri sendiri, Alin selalu beralasan lelah karena kehamilannya. Bayi di dalam kandungan itu selalu menjadi alasan Alin untuk bermalas-malasan.


Tak seperti Mayang, yang di pagi buta sudah terbangun menyiapkan sarapan, menyiapkan air hangat untuknya mandi, juga pakaian kerja untuk hari itu meskipun dia harus berkejaran dengan waktu sebagai seorang guru.


"Bodoh, bodoh, bodoh! Kamu emang bodoh, Amir! Laki-laki bodoh!" Amir memukuli kepalanya sendiri, merutuki diri sendiri karena telah membuang berlian demi sebongkah kerikil di jalanan.


"Mas!" Alin melenguh, memanggil nama Amir. Ia membuka mata perlahan, memandangi sekitar. Bau obat-obatan seketika saja membuatnya mengerti di mana dia berada.

__ADS_1


"Mas Amir! Kamu di mana?" panggilnya lagi dengan suara serak dan bergetar.


Amir bergeming di kursi, enggan menyambut kesadaran sang istri. Duduk sambil menatap wanita yang tengah mencarinya dengan tajam.


"Mas!" Alin menangis saat melihat sang ibu mertua yang juga terbaring seperti dirinya.


"Mas Amir!" Wanita itu terisak karena Amir tak kunjung menjawab panggilannya.


"Nggak usah nangis. Semuanya udah terlanjur terjadi. Anak kita udah nggak ada, kamu emang nggak becus menjaganya!" hardik Amir dari tempatnya duduk.


Alin mengangkat kepala, pelan-pelan beranjak duduk sambil menahan nyeri di bagian perut.


"Apa maksud kamu, Mas?" tanyanya tidak mengerti. Ia menatap Amir dengan bingung, laki-laki itu melengos menghindari tatapannya.


Alin terkejut, diusapnya perut sendiri merasakan keberadaan si buah hati. Sungguh tak menduga dia akan kehilangan anaknya. Anak yang beberapa bulan ini merubah nasibnya. Dari seorang wanita malam menjadi seorang istri di rumah mewah.


"Nggak, Mas. Aku nggak mungkin kehilangan bayiku. Aku nggak mau kehilangan anak aku!" jerit Alin sambil meremas pakaian pasien di bagian perutnya.


"Aku nggak mau. Aku nggak mau kehilangan bayi aku, Mas. Aku nggak mau," ratap Alin sambil menangis sedih.


Aset satu-satunya yang selama ini ia jadikan senjata untuk menguasai Amir, telah hilang. Lalu, akan seperti apa kehidupannya setelah ini. Dia tidak dapat memprediksikannya.


Bukan rasa simpati yang didapat Alin dari suaminya itu, melainkan kebencian yang jelas terpancar dari kedua matanya. Amir tak senang, hatinya kembali mengeras, merasakan kekecewaan yang mendalam.

__ADS_1


"Aku udah nggak sudi lagi sama kamu. Mulai hari ini aku talak kamu, Alin. Kamu bebas pergi ke mana aja yang kamu mau. Bebas sama laki-laki yang mana aja yang mau kamu tidurin. Aku kecewa sama kamu, aku kira kamu akan berubah dan mau ngerawat anak aku dengan baik. Ternyata kamu sama aja sama Melina, sama-sama cuma mau harta aku!" ucap Amir tak segan menjatuhkan talak pada Alin.


Wanita itu menggelengkan kepala, memohon agar Amir tidak menceraikannya.


"Nggak, Mas. Jangan talak aku, aku mohon. Aku nggak mau balik lagi ke tempat itu, Mas. Aku mau hidup sama kamu. Tolong jangan ceraikan aku, Mas!" mohon Alin menangis semakin histeris.


Namun, hati Amir telah mengeras, tak luluh hanya karena melihat air mata Alin yang berderai. Sakit fisiknya usai mengalami pendarahan, sakit pula batinnya karena kehilangan anak dan diceraikan suaminya.


"Jangan kamu pikir, dengan kamu menangis seperti itu aku akan bersimpati sama kamu. Nggak akan, Alin. Aku udah kecewa sama kamu. Jangan lagi kamu datang ke rumah karena aku udah nggak sudi lagi sama kamu!" tegas Alfin tidak main-main semakin membuat hati Alin teriris karenanya.


Sungguh tega lelaki itu, seorang suami harusnya memberi motifasi kepada istri yang baru saja kehilangan anaknya, menjadi penguat dalam keadaan lemah seperti yang dialami Alin. Memberikan bahunya yang kokoh untuk menjadi sandaran kesedihan istri. Bukan malah melimpahkan segala kesalahan padanya apalagi sampai menjatuhkan talak.


Kejam memang, tapi Amir menganggap takdir lebih kejam terhadapnya. Ia sudah tidak mempunyai hati nurani, hilang rasa kemanusiaan di dalam diri. Amir benar-benar akan menyesalinya.


"Maafin aku, Mas. Tolong jangan ceraikan aku. Aku nggak tahu lagi harus ke mana? Aku nggak punya rumah juga keluarga. Aku juga nggak mau balik lagi ke tempat itu. Tolong, jangan ceraikan aku, Mas. Bukannya kita bisa membuatnya lagi? Aku janji akan lebih hati-hati, kasih aku kesempatan sekali lagi, Mas," mohon Alin dengan segala kerendahan hatinya.


Alin mendekap tubuhnya sendiri, sebentar saja Amir membawanya terbang ke langit tinggi. Untuk kemudian dijatuhkan hingga hancur berkeping-keping. Alin tak pernah menduga, pertemuannya dengan Amir di rumah hiburan itu akan membuatnya dapat merasakan posisi sebagai nyonya rumah. Namun, ia harus rela kembali ke lembah nista itu, karena Amir sudah tidak menginginkannya lagi. Apakah garis hidup memang seperti ini?


"Aku nggak sudi kasih kamu kesempatan. Aku terlanjur kecewa sama kamu, Alin. Mulai sekarang jangan pernah mencariku. Kita udah bukan siapa-siapa lagi." Amir berdiri dan berjalan keluar ruangan meninggalkan Alin yang menangis sendirian.


"Kamu tega, mas Amir. Kamu emang kejam, nggak punya perasaan. Kenapa aku bisa ketemu laki-laki kayak kamu?" keluh Alin semakin kuat mendekap tubuhnya sendiri.


Ia menoleh ke samping tubuh, melihat sang ibu mertua yang telah terbangun dan mendengar semua perdebatan mereka, bahkan wanita yang saat ini stroke itu pun menatapnya dengan tajam. Tak lagi ramah seperti sebelum kejadian ini menimpa.

__ADS_1


Berselang, para tenaga medis masuk dan memindahkan ibu Amir ke ruangan lain. Tinggallah Alin sendiri, meratapi nasib buruk yang menimpa diri.


__ADS_2