
Tiga bulan berlalu sejak pernikahannya, Mayang mulai terlihat tidak biasa. Sering merajuk dan lebih sensitif. Terkadang bersikap sangat manja kepada Raja.
"Yang, udah sore. Kamu nggak mandi?" tanya Raja sepulangnya dari kantor.
Ia menatap Mayang yang berdiri di depannya menyambut hanya mengenakan daster rumahan, penampilan yang tak pernah ia lihat selama pernikahan.
"Aku nungguin kamu, Mas. Males mandi sendiri," sahut Mayang dengan manja, tangannya mengambil alih tas kerja Raja dan merangkul lengan laki-laki itu.
Ia mengendus tubuh suaminya, menikmati aroma yang setiap hari ia hirup.
"Kenapa kamu jadi aneh kayak gini?" celetuk Raja melirik heran pada istrinya.
Mayang menghendikan bahu, merasa biasa saja.
"Biasa aja tuh. Ayo, mandi. Aku mau mandi sama kamu," rengeknya sembari menarik tangan Raja untuk segera ke kamar mereka.
Laki-laki itu menggelengkan kepala, tapi tetap menurut. Mengikuti tarikan tangan sang istri sambil tersenyum-senyum senang.
"Apa aku boleh melakukan apa yang aku mau?" bisik Raja di telinga istrinya.
Langkah Mayang berhenti tiba-tiba, dengan mata yang memicing menatap suaminya tajam.
"Maksud kamu?" Bibir seksi yang sedikit maju itu, begitu menggoda Raja. Ia meneguk ludah kepayahan, tak sabar ingin mereguk manisnya benda kenyal itu.
Tanpa menjawab, ia mengangkat tubuh Mayang ke dalam gendongan. Siapa salah? Sudah menggoda, dan mengajaknya mandi bersama.
"Mas! Turunin, aku malu," pekik Mayang sembari melingkarkan tangan ke leher suaminya.
"Kamu sudah menggodaku, dasar nakal." Raja tak berniat menurunkan Mayang dari gendongan, melainkan terus membawanya ke kamar hingga masuk ke kamar mandi.
"Aku masih pakai baju, Mas!" Mayang kembali memekik ketika Raja memasukkannya ke dalam bathub dalam keadaan berpakaian.
"Nggak masalah!" Raja mengendurkan dasi dan melepasnya. Melempar jas, kemudian membuka kancing kemeja hingga hampir semua yang melekat pada tubuhnya tertanggal.
"Mas! Aku cuma mau mandi, lho," ucap Mayang meringis sambil menggigit bibir. Salah lagi.
"Tapi Mas mau lebih."
Maka terjadilah peperangan tanpa harus kalian tahu.
****
"Risy, kakak kamu udah dateng?" tanya Ratna setelah keluar dari kamarnya.
"Udah, Bu. Tadi Risya dengar suara kakak soalnya," jawab Risya, tangannya tetap sibuk bermain benda pipih.
"Cuma denger suaranya? Nggak lihat orangnya?" Ratna memastikan.
__ADS_1
Risya tertegun, mulai meragukan pendengarannya sendiri.
"Coba kamu lihat mobilnya, udah ada belum?" Risya bergegas menuju teras, ia mendesah ketika mobil sang kakak terparkir di halaman.
"Udah, Bu. Itu mobilnya udah ada," ucap Risya sambil membanting tubuhnya kembali di sofa.
"Terus kenapa belum keluar juga, ya? Apa dia lupa?" Ratna bergumam sendiri, wajahnya menengadah menatap jam di dinding.
Sudah hampir pukul lima sore, ia menghela napas.
"Bentar, aku ingetin dulu, Bu." Risya kembali berdiri dan berlari menuju lantai dua, kamar sang kakak.
Tok-tok-tok!
"Kak! Kakak nggak lupa, 'kan, hari ini kita mau ke mana?" tanya Risya setelah mengetuk pintu kamar sang kakak.
Di dalam, Raja tercenung mendengar suara adiknya. Kedua manusia itu baru saja keluar dari kamar mandi, asik sendiri. Ia menepuk dahi, hampir terlupa janji sore itu.
"Iya, sayang. Tunggu! Kakak baru selesai mandi," jawab Raja terburu-buru mengajak Mayang untuk berpakaian.
****
"Lama banget, sih!" cetus Risya kesal menunggu mereka di teras.
Raja mengusap tengkuk salah tingkah, Mayang menunduk resah. Ia menggigit bibir menahan gugup dan malu sekaligus.
Mobil meninggalkan halaman dengan Raja sendiri sebagai supirnya. Mereka berniat ke makam ayah Raja untuk berziarah.
****
"Mas, udah selesai belum? Kepala aku tiba-tiba pusing," keluh Mayang sambil menyenderkan kepalanya pada bahu Raja, tangan yang lain memijit-mijit pelipis yang terasa berdenyut nyeri.
Raja terhenyak, segera berbalik dan mengangkat kepala Mayang. Wajah pucat wanita itu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Ya Allah, kamu pucet banget, sayang. Kita ke rumah sakit," ucap Raja panik.
Sontak ketiga orang lainnya tersentak dan segera menoleh saat mendengar kepanikan Raja.
"Ayo, Za. Cepat bawa ke rumah sakit, keburu malam," ujar Ratna seraya membantu Ambu beranjak.
Dengan dipapah suaminya juga Risya, mereka pergi ke parkiran dan segera menuju rumah sakit terdekat. Kali ini, Risya yang mengemudi dan Raja membiarkannya. Ia mendekap tubuh Mayang yang terasa lemas, entah apa yang terjadi.
"Nggak apa-apa, Nak. Mayang nggak apa-apa, jangan panik," ucap Ambu yang duduk di samping lain Mayang sambil mengusap-usap tangan anaknya.
"Iya, Mas. Aku cuma pusing aja, kok. Paling masuk angin," timpal Mayang sembari menatap wajah Raja dan mengelus dada laki-laki itu.
Namun, ucapan mereka berdua tidak membuat hatinya seketika tenang. Peluh sebesar-besar biji jagung bermunculan di dahi, bahkan ada yang menetes hingga ke leher. Ia tidak menyahut, rasa panik membuatnya tak ingin mendengar kalimat 'baik-baik saja'.
__ADS_1
Raja sigap menggendong tubuh Mayang begitu mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Hari menjelang malam, waktu Maghrib sebentar lagi akan sampai.
"Mas! Aku bisa jalan sendiri. Malu digendong kayak gini," ucap Mayang yang tentu saja tak didengar oleh Raja.
Ia membawa istrinya menuju IGD, berteriak memanggil para tenaga medis untuk segera menolongnya. Mayang berdecak, tapi tersenyum dalam hati. Selama ini, tidak ada yang pernah sepanik Raja ketika dia sakit.
Raja tak ingin menunggu di luar seperti yang lainnya, ia memaksa untuk menemani Mayang diperiksa.
"Gimana, Dok?" tanya Raja begitu dokter membuka stetoskop dari telinga.
Dokter tersebut menatap Raja juga Mayang secara bergantian. Menebak bahwa mereka adalah pasangan suami istri baru.
"Istri Bapak nggak apa-apa. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Cuma-"
"Cuma apa, Dok?" sela Raja semakin panik. Pikiran-pikiran buruk telah datang berseliweran di kepalanya. Rasa takut dan panik, jelas terlihat di kedua mata hitam itu.
Dokter tersebut menghela napas, tersenyum kecil melihat kepanikan Raja.
"Tenang, Pak. Kondisi istri Bapak benar-benar sehat, nggak ada yang salah. Sesuai dengan pemeriksaan saya ... emm, maaf. Kapan terakhir tamu bulanan Anda datang?" ucap dokter melirik Mayang saat bertanya padanya.
Mayang berpikir mengingat-ingat kapan terakhir ia mendapat tamu bulanan. Matanya melebar saat sadar bahwa waktu yang seharusnya telah terlewati.
"Seharunya tiga hari yang lalu, Dokter, tapi sampai sekarang ... aku bahkan tidak mendapat tamu bulanan sejak hampir dua bulan ini," sahut Mayang sembari menerka-nerka ke mana arah tujuan pembicaraan dokter.
"Apa jangan-jangan ...."
"Ya, Anda benar." Dokter menyela dengan cepat.
Mayang menganga lebar, kedua matanya berbinar terang, tapi tidak dengan Raja. Dia terlihat bingung saat mendengar tamu bulanan.
"Mas!" panggil Mayang bergetar.
"Apa? Apa yang kalian maksud dengan tamu bulanan?" tanya Raja menatap sang istri dengan bingung.
Mayang terkekeh, menarik tangan Raja dan meletakkannya di perut.
"Sejak kita menikah aku nggak inget kapan aku haid, tapi seingatku tamu bulanan itu belum datang sampai sekarang. Kemungkinan aku hamil, Mas." Mayang meremas tangan Raja yang menyentuh perutnya.
Tubuh laki-laki itu menegang, tercenung seperti orang bodoh. Matanya bergulir pada dokter, laki-laki berseragam putih itu menganggukkan kepala.
"Ja-jadi, ka-kamu ha-hamil? Istri saya hamil, Dokter?" Lidah Raja kelu, terbata dia bertanya.
"Benar, Pak. Istri Anda hamil, kalo tidak salah saya memeriksa sudah hampir satu bulan. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa membawa istri Anda ke dokter spesialis kandungan," jawab sang dokter.
Raja terkagum pada dirinya sendiri yang berhasil mencetak adonan tak lama setelah pernikahan. Ia menengadah, mengucap hamdalah, mengusap wajahnya yang perlahan menitikan air mata.
"Alhamdulillah, ya Allah."
__ADS_1
Ia menjatuhkan tubuh, sujud tersungkur dalam rasa syukur yang mendalam.