Ketika Cinta Datang Dan Pergi

Ketika Cinta Datang Dan Pergi
Episode 83


__ADS_3

Dua Minggu telah berlalu, libur sekolah pun telah usai. Mayang dan Ambu kembali tinggal berdua selepas kepergian Ratna dan Risya ke kota. Hari-hari kemarin mereka rindukan, rindu kebersamaan juga keceriaan. Rindu bercerita, saling mencurahkan isi hati.


"Sepi lagi, Ambu." Mayang menghela napas, menurunkan bahunya dengan lesu.


Rindu sikap manja Risya, sikap keibuan Ratna.


"Iya, sabar, Nak. Tunggu dua bulan lagi, masa iddah kamu selesai. Abis itu kamu udah jadi perempuan bebas lagi, bukan punya siapa-siapa," ujar Ambu sembari merapikan hateup yang akan dijemput pengepul.


Mayang menjatuhkan kepala pada tiang amben, memeluk sebatang kayu itu menahan kerinduan.


"Kamu yakin udah nggak mau ngajar lagi di sekolah itu?" tanya Ambu ketika melihat anak-anak berseragam sekolah melintas di tepi sungai.


"Nggak, Ambu. Mayang nggak mau balik ngajar lagi di sana." Mayang kembali menghela napas, teringat pada sikap Rani yang mendiamkannya.


Baru sekarang dia tahu, sikap Rani itu karena dia dijodohkan dengan Raja. Yang Mayang sesali kenapa dia tidak berbicara langsung kepadanya.


"Coba cerita sama Ambu gimana kamu bisa ketemu sama Raja?" pinta Ambu teringin tahu kisah sang anak yang menjadi wasilah pertemuannya dengan Ratna.


Mayang tersipu, kemudian menceritakan kronologis pertemuannya dengan Raja. Mulai dia mengira mobil yang dibawanya adalah taksi online sampai harus menahan malu karena kopernya tertinggal. Lalu, semakin dekat sampai semua perkara selesai hingga bisa bertemu dengan Ratna dan semua rahasia terbongkar.


Keduanya tertawa ringan, merasa lucu dan gemas dengan kisah yang dilalui Mayang dan Raja. Seperti itu saja sudah membentuk rona merah di pipi.


****


Hari pertama sekolah, anak-anak berduyun-duyun pergi mengenakan seragam dengan penuh semangat. Termasuk di dalamnya Zalfa. Gadis kecil itu tersenyum sambil memegangi tas baru yang dibelikan Mayang meskipun ibu angkatnya tidak kembali mengajar di sekolah tersebut.


"Nggak apa-apa, yang penting aku masih bisa berhubungan dengan ibu," gumamnya berbohong pada diri sendiri. Yang sebenarnya adalah dia sedang menahan rindu yang berat terhadap wanita itu.


"Zalfa?" tegur Tsabit yang muncul dari belakangnya.


Zalfa berbalik, tersenyum seraya menyalami laki-laki itu dengan takzim.

__ADS_1


"Kamu sendiri?" tanyanya mencari-cari sesuatu.


Zalfa menganggukkan kepala.


"Bu Mayang?"


Gadis kecil itu menggelengkan kepala, sekilas terlihat sendu, tapi kemudian kembali tersenyum.


"Ibu udah nggak ngajar lagi di sini, Pak. Ibu ada di desa dan nggak akan kembali ke kota ini." Zalfa bergetar, menundukkan kepala mengingat sosok Mayang. Entah kapan mereka akan bertemu? Ia tak tahu.


"Jadi benar, ya. Kamu nggak apa-apa?" Tsabit melihat kesedihan di wajahnya, ia berjongkok mengusap kedua bahu gadis kecil itu.


"Zalfa kangen sama ibu, Pak. Zalfa pengen ketemu sama ibu," ratapnya berderai air mata.


Tsabit terenyuh melihat air matanya, ia menarik tubuh Zalfa ke dalam pelukan. Mengusap punggungnya yang bergetar. Bukan hanya Zalfa yang merindukan Mayang, tapi dia sendiri pun ingin bertemu dengannya. Mereka berpisah tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.


"Yang sabar, ya. Nanti kita ngomong sama calon suami bu Mayang, supaya mengajak kamu sekalian kalo mau ke sana. Udah, jangan nangis lagi," ucap Tsabit terpikirkan akan Raja yang sudah pasti tahu di mana desa Mayang.


Ia beranjak sambil menghela napas, ketiadaan Mayang membuat sekolah jadi berbeda. Sepi dan hampa, tak ada lagi guru olahraga wanita yang akan memainkan bola di lapangan.


Laki-laki itu berbalik hendak menuju ruang guru, tapi langkahnya terhenti ketika satu sosok berdiri menatapnya sambil tersenyum. Kening Tsabit mengernyit, tidak biasanya Rani tersenyum aneh seperti itu.


"Gimana kabar kamu?" tanya Rani berbasa-basi dengan sahabatnya itu.


Tsabit mengulas senyum, melangkah perlahan mendekatinya.


"Alhamdulillah, baik. Cuma ngerasa aneh aja karena nggak ada Mayang di sini. Apa kamu udah tahu soal Mayang?" Tsabit menilik wajah gadis itu, menatapnya dengan saksama tak ingin kehilangan ekspresi wajahnya barang sedetik pun.


Senyum Rani lenyap beberapa saat, tapi kemudian kembali terukir meski terkesan dipaksakan. Ia menggelengkan kepala, tidak tahu soal kabar Mayang. Namun, sejak kedatangannya ke sekolah, Rani belum melihat sosok guru olahraga itu.


"Mayang udah nggak ngajar lagi di sini. Dia tinggal di desa dan kemungkinan nggak akan kembali untuk waktu yang lama," beritahu Tsabit diakhiri helaan napasnya yang berat.

__ADS_1


"Aku baru tahu. Kemarin aku kirim pesan sama Mayang, tapi nggak dibales sampe sekarang. Mungkin dia marah sama aku. Kamu benar, yang aku lakukan kemarin-kemarin itu cuma ngerusak persahabatan kita dan juga nyakitin diri aku sendiri," ungkap Rani sedikit menyesali tindakannya yang terlalu egois.


Tsabit senang mendengar itu, pada akhirnya Rani menyadari kekeliruannya dalam memperjuangkan perasaan.


"Jadi, kamu udah menyadari semuanya?" tanya Tsabit memastikan keadaan hati Rani.


Gadis itu tersenyum, mengangguk malu. Rona merah di pipinya menyembul ketika Tsabit menatapnya lekat-lekat.


"Aku memutuskan untuk berhenti dan akan mengejar cinta yang lain," ujarnya sembari melirik laki-laki di hadapan dengan tatapan yang tak biasa.


Beruntung, Tsabit memiliki kepekaan yang tinggi. Ia tersenyum kecil, menghela napas panjang. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya.


"Ini, buat kamu. Buat guru-guru yang lain juga ada," ucap Tsabit memberikan sesuatu tersebut kepada Rani.


"Undangan? Siapa yang mau nikah?" gumam Rani dengan jantung yang berirama tak karuan.


"Aku. Acaranya Minggu depan nanti, kamu datang, ya. Sayang, Mayang nggak bisa dateng karena dia nggak ada di sini. Aku pengen kalian jadi tamu istimewa di pesta pernikahan kami nanti," cetus Tsabit sambil tersenyum kepada Rani.


"Ya udah. Aku duluan, ya," pamitnya seraya berjalan lebih dulu menuju ruang guru.


Rani bergeming, memandangi kertas undangan di tangan. Matanya memanas, tanpa terasa air jatuh menghujani pipi. Tsabit juga?


Rani meremas kertas tersebut dengan kesal, air matanya semakin menganak sungai tak terbendung. Ia melemparnya ke dalam tong sampah, seraya berlari keluar sekolah. Rani masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan kasar. Menangis sekeras-kerasnya di dalam sana.


"Kenapa semua orang pergi ninggalin aku? Kenapa nggak ada yang peduli sama perasaan aku? Kenapa?" jeritnya menggema di dalam mobil.


Rani membentur-benturkan kepala pada kemudi, merutuki takdir cinta Yang tidak memihak padanya.


Ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, tak ingin berada di sekolah setidaknya untuk hari ini saja atau sampai hatinya bisa 'menerima takdir hidup yang harus ia jalani.


Rani turun dari mobil sambil membanting pintu. Terus menerobos masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya sendiri. Dibantingnya pintu kamar tersebut, kemudian menjatuhkan diri di ranjang. Menumpahkan semua emosi.

__ADS_1


__ADS_2